Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 56 Perpisahan


__ADS_3

Hari ini Siska dan bang Age akan pulang ke kota. Dua minggu sudah mereka tinggal dirumah ibu. Selama itu juga pekerjaan bang Age terbengkalai. Rencana hanya meminta cuti satu minggu, kenyataan tak sesuai ekspetasinya. Untung saja sang bos adik iparnya sendiri. Jadi semua bisa diatur.


"Kenapa mesti pindah sii bu? Kenapa gak disini aja?" Tanya Siska, selagi tangannya tengah melipat baju dan ibu yang memasukannya kedalam koper.


"Ya kek kamu. Ibu juga harus ikut suami." Jawab ibu.


Selain Siska dan bang Age yang akan pulang. Ibu juga akan pindah ke kediaman suaminya hari ini juga. Jadi kedua wanita generasi itu akan meninggalkan rumah sederhana dengan sejuta kenangannya disana. Dan entah kapan lagi keduanya bisa menyambangi rumah itu.


Siska tersenyum. "Apa ibu bahagia?" Tanyanya.


Ibu ikut tersenyum menanggapi pertanyaan putrinya. Bahagia? Setiap hari bersama putrinya dan melihatnya tersenyum adalah kebahagiaan dihidup seorang ibu yang sudah tak memiliki siapa-siapa lagi selain dirinya itu.


Dan sekarang keduanya harus berjauhan, tentu ada sedikit ragu dihatinya. Bisakah Ia bahagia tanpa putri satu-satunya itu? Tak pernah sedikitpun terbesit dikepalanya akan memiliki kehidupan masing-masing sepeti ini dengannya.


"Selagi kamu bahagia, ibu akan selalu bahagia." Tuturnya membuat Siska berdecak.


"Bukan itu maksudnya bu. Makdudnya tu ibu bahagia gak sama Ayah kades?" Tanya Siska.


"Isshhh! Itu kadesnya gak usah dibawa-bawa." Protes sang ibu, hingga membuat Siska tergelak. Dan hal itu tak ayal membuat ibu tersenyum juga.


"Iya deh iya, bu kades!" Ledek Siska membuat kedunya tergelak.


Ia menarik tubuh sang putri kedalam dekapannya. "Ibu bahagia Sis. Ayah baik sama ibu! Kamu harus janji satu hal ya sama ibu!" Tutur ibu dengan melerai pelukannya.


"Apa?"


"Kamu harus bahagia dimanapun itu dan selalu inget pesan ibu!"


"Iya. Diinget. Pakai masker kan bu?" Canda Siska cekikian hingga sukses mendapat tabokan dilengannya dari sang ibu.


"Isshh kamu tu. Bukan yang itu. Semua nasehat ibu untuk tetap patuh dan berbakti sama suami kamu! Diinget, ikutin semua perintahnya! Jangan pernah membantah! Yah." Tuturnya dan dijawab anggukan Siska.


"Jadi kalo abang maen serong, aku iyain aja gitu?" Tanya Siska dan sukses dapat cubitan dilengannya dari sang ibu.


"Aww aww sakit bu!" Ringisnya mengusap lengan yang kena cubitan maut sang ibu.


"Lagian kamu. Ngomong asal jeplak aja! Jangan kek gitu, omongan itu doa. Mau abang kamu kek gitu?" Omel sang ibu dan langsung dapat gelengan cepat dari Siska.


Bahkan Siska mengetuk kepalanya dan kasur bergantian. "Amit-amit! Jabang bayi. Jauh-jauh!" Ucapnya bergidik ngeri.

__ADS_1


Ia menadahkan tangan seraya berdoa. "Suami aku setia sampai mati. Hanya cinta sama aku seorang. Aminn!!" Ucapnya lagi membawa kedua tangannya, mengusapkannya pada wajahnya.


Ibu tertawa melihat tingkah putrinya itu. Ternyata putrinya masih tetap anak kecil yang selalu menuruti ucapan dirinya. Bahkan kata 'pamali', masih Ia terapkan. Seolah sudah mendarah daging didirinya.


"Tapi kalo abangmu mau macem-macem biarin aja!" Titahnya membuat dahi Siska berkerut.


"Kok biarin sih bu?" Tanya Siska heran.


"Ya biarin. Biarin dia puasa! Jangan kamu kasih makan abang juniornya!" Tuturnya membuat keduanya tergelak.


Ternyata interaksi keduanya membuat seseorang diambang pintu tersenyum. Ia ketuk pintu kamar yang memang sudah terbuka itu. Membuat kedua penghuninya menoleh, melihat siapa yang mengganggu acara reunian sang Ibu dan putrinya.


Pak kades masuk menghampiri keduanya. "Udah siap?" Tanyanya.


"Udah Yah!" Jawab ibu. Siska hanya terdiam tak mengeluarkan katanya membuat pak kades tersenyum, tau apa yang menjadi kegundahan putri sambungnya itu.


Ia duduk disamping Siska, hingga membuat Ia menoleh. Siska mencoba tersenyum sebiasa mungkin.


"Ada yang ingin kamu katakan sama Ayah?" Tanya Pak kades pada Siska.


"Aku hanya titip ibu sama Ayah Dedes." Tutur Siska membuat pak kades dan ibu melipat bibir dan saling lirik mendengar panggilan baru Siska pada dirinya.


"Isshhh ibu sendiri kan yang bilang, jangan panggil pak kades! Ya udah aku panggil Ayah Dedes aja. Enak juga tuh panggilannya." Timpal Siska dan membuat sang ayah tersenyum.


Ia begitu senang mendapatkan seorang putri dari istrinya. Ia yang dikaruniai dua anak laki-laki, belum merasakan bagimana rasanya memiliki anak gadis.


"Terserah kamu aja. Mau panggil apa aja boleh, senyamannya aja! Ayah seneng, kamu bisa menerima ayah sebagai ayah kamu." Tutur sang Ayah Membuat Siska tersenyum.


"Kamu tenang aja! Ayah akan jaga dan bahagiain ibu kamu, semampu Ayah!" Lanjutnya lagi seraya mengusap rambutnya. Hal yang baru pertama kali Ia lakukan pada anak gadis.


Siska tersenyum, mendapat kembali kasih sayang dari seorang ayah yang sudah lama tak Ia rasakan. Serasa mendapat kembali keluarga utuhnya. Ia hanya berharap, keluaraga mereka selalu bahagia selamanya.


Setelah drama perpisahan dengan sang ibu, dari mulai ikut packing sampai mengantar keduanya. Kini kedua manusia itu sudah dalam perjalanan menunju kota.


Papih dan Mamihnya sudah lebih dulu pulang bersama putranya juga. Perjalanan terasa semakin jauh. Bukan memasuki jalanan yang biasa mereka lewati. Hingga membuat Siska bertanya-tanya.


"Bang! Perasaan kok kita gak nyampe-nyampe? Apa kita nyasar?" Tanya Siska membuat bang Age tersenyum.


"Nggak! Ntar juga nyampe." Jawabnya enteng.

__ADS_1


"Tapi kok ya, perasaan jalannya gak kesini deh?" Tanya Siska.


"Oh ya? Emang kemana?" Tanya bang Age melipat bibirnya.


"Ke hati abang!" Jawab Siska membuat keduanya tergelak. Alih-alih Bang Age ingin menggodanya. Eh malah dia sendiri yang kena gembelan receh sang istri.


Ia useuk pucuk kepalanya gemas. "Kamu tuh ya, bikin meleyot." Tuturnya disela tawanya.


**


Akhirnya mobil terparkir disebuah gedung tinggi, bang Age turun dan membukakan pintu untuk sang istri. Keduanya turun dan memasuki gedung itu.


Setelah melewati bagian depan, kini keduanya dipersialhkan menuju sebuah ruangan. Hingga mereka bertemu dengan seorang wanita berpakaian serba putih tengah duduk dimejanya.


"Selamat siang dok?" Sapa bang Age.


"Siang! Silahkan duduk pak Agung dan bu?" Sang dokter tak meneruskan ucapannya merasa belum kenal dengan gadis disamping pria dihadapnnya.


"Siska dok!" Jawab abang Age.


"Oh ya maaf bu Siska, saya belum tau nama ibu." Tuturnya dan hanya dijawab anggukan Siska dengan senyum ramahnya.


Dokter pun menanyakan perihal keluhan pada pasiennya dan bang Age pun menjelaskan keadaan sang istri semuanya secara detail. Hingga pemeriksaan pun selesai.


Setelah menebus resep obat dari sang dokter, keduanya sudah kembali memasuki mobil. Hingga mobil pun berlalu meninggalkan gedung tinggi itu.


Namun Siska krmbali dibuat penasaran lagi, karena tempat yang mereka tuju semakin menjauh.


"Bang kita mau kemana lagi?" Tanya Siska.


"Ke suatu tempat." Balas bang Age.


"Kemana?" Tanyanya lagi.


"Tempat nikmat untuk berbuka puasa." Balasnya menyeringai, hingga membuat Siska menelan salivanya susah payah.


*****************


Ayo goyang jempolnya, mau di up satu lagi😊 Agak malaman yaa, biar agak hareudang🤣 Yuk ramaikan komentarnya! Enaknya dikopian nih biar melek🤭

__ADS_1


__ADS_2