Love Abang Duda

Love Abang Duda
ILU OM! Pacaran?


__ADS_3

Wajah Kia masih saja menekuk sempurna. Dari semenjak pulang dari taman, sampai makan amlan berakhir. Ia sama sekali tak mengeluarkan senyuman ataupun kata-kata apapun. Hingga dengan sabar sang om terus membujuknya untuk berbicara.


"De!" Sapanya seraya mendudukan diri disebelah sang gadis yang tengah menonton tv. Namun dengan kenyataan tv lah yang tengah menontonnya.


"De, lihat om!" Titahnya seraya menggenggam tangan sang gadis. Namun ditepis olehnya.


"Apasih. Udahlah! Gak papa om gak mau nikahin aku. Biar aku nikah aja sama cowok yang gak jelas itu." Tuturnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"De. Dengerin om. Bukan itu maksud om!" Balasnya.


Ia raih kedua bahu sang gadis dan mengarahkan padanya. "Lihat om. Pernikahan itu bukan hal main-main. Gak ada yang namanya kawin lari." Ucapnya.


"Semua kawin itu tidur." Lanjutnya. Hingga kedua alis Kia menekuk tajam.


"Kok tidur?" Tanyanya heran.


"Tuh!" Rei menunjuk dengan dagunya kearah kedua kucing yang tak tau malunya tengah bergulat dihadapan mereka didepan meja tv.


Kia membelakakan matanya seraya menutup mulutnya. "Astagfirulloh! Om, mereka ngapain?" Pekiknya dengan menundukan wajahnya, enggan melihat adegan dua satu plus plus yang tengah dilakukan pasangan siempus disana. Dan hal itu membuat sang om terkekeh.


"Mereka lagi kawin. Jelas kan, gak ada yang namanya kawin lari." Penuturan sang om sukses mendapatkan pukulan dari gadisnya.


"Issshhh om ya! Bukan itu maksudku." Protesnya membuat sang om tertawa.


"Kalo yang itu, mana bisa lari-lari. Gak bisa nikmatin dong!" Lanjutnya dan langsung dapat usekan dikepalanya dari sang om.


"Maksudnya tuh nikah yang tak dapat izin dari orang tua gitu, om! Ihh gak ngerti-ngerti." Omelnya.


Rei tersenyum mendengar sang gadis yang kembali bicara. Ia bukan tak mengerti, namun tak ingin mendengar omong kosong yang diucapkan oleh gadisnya. "Udah jangan mikir yang mustahil. Pake jalur aman kan bisa." Balasnya.


Kia menautkan alisnya mendengar hal itu. "Maksudnya?"

__ADS_1


Rei menggembuskan napasnya pelan. "Kamu sendiri kan yang bilang tadi. Kenapa kita gak mencobanya?" Tanyanya membuat Kia melongo kurang ngeuh dengan penuturan sang om.


Rei tersenyum melihat itu. Ia rangkul pundaknya, mendekapnya dari samping. "Kita akan mencobanya dalam seminggu ini. Gimana?" Tanyanya.


Namun sepertinya otak Kia tak bekerja dengan baik. "Mencoba seperti." Ucapnya seraya menatap kedepan dengan otaknya yang traveling entah kemana. Matanya membola melihat si empus yang tengah indehoy dengan binik nya.


Rei mengikuti tatapan gadisnya hingga Ia ikut membolakan matanya melihat apa yang gadisnya lihat. Dengan segera Ia menutup mata sang gadis dan menggiringnya menjauh dari pemandangan lucknut itu.


Rei membawa Kia sampai dikamar sang gadis. Ia mendudukan gadisnya ditepi ranjang. "Udah jangan banyak pikiran, ntar kamu sakit. Sekarang kamu tidur ya, udah malam!" Titahnya seraya mengusek pucuk kepalanya.


Rei hendak berlenggang pergi namun tangannya dicekal sang gadis. "Om!"


"Hem!" Balasnya seraya membalikan kembali tubuhnya.


"Om belum jelasin yang tadi." Ucapnya seraya menunduk, menyembunyikan rona pipi yang tiba-tiba saja muncul diwajahnya.


Rei tersenyum melihat ekspresi itu. Ia mendudukan diri disisi sang gadis. Ia belai lembut rambut pirang kemerahan itu dengan lembut. "Kamu sendiri kan yang meminta kesempatan itu. Jadi kita coba." Ucapnya.


Kia mendongak menatap wajah sang om hingga ikut tertular senyuman manisnya. "Jadi kita pacaran om?" Tanyanya girang.


"Ck! Udah jangan banyak mikir. Intinya kita pacaran. Aku pacar om. Om pacar aku. Jadi panggilannya om pacar! Dede pacar!" Cerocos Kia seraya menggerakan tangannya menunjuk dirinya dan sang om bergantian.


Seketika Rei tergelak mendengar penuturan sang gadis, seraya mengacak-ngacak rambutnya gemas. Pacaran? Tentu terdengar aneh di indera pendengarannya. Sampai saat ini Ia tak tau apa itu pacaran. Tak ada waktu untuknya mengenal cinta. Bahkan Ia hanya menghabiskan waktu bersama sang gadis, kala waktu senggangnya.


"Ya deh terserah kamu. Sekarang tidur ya udah malam!" Titahnya. "Bukannya besok ada kuis pagi ya?" Tanyanya dan dijawab anggukan gadisnya.


Rei hendak berdiri dan kembali lengannya dicekal sang gadis. "Om!" Panggilnya.


Rei kembali menoleh. "Apalagi. Hem?" Tanyanya.


"Mmm.. Selamat malam, om pacar!" Ucapnya dengan senyuman yang begitu manis.

__ADS_1


Rei ikut tersenyum mendengar panggilan barunya itu. Ia usap sayang rambut yang sempat Ia berantakin tadi. "Iya. Selamat malam juga," Ucapnya.


Kia sedikit tertunduk dengan senyum tertahan, ada rasa kecewa karena tak dapat balasanyang diinginkannya dari sang om. Namun ucapan sang om berikutnya membuat Ia mendongak dengan senyuman yang begitu manis.


"Dede pacar!"


Blush


Merah sudah kedua pipinya mendengar dua kata itu. Ia sampai menggigit bibir bawahnya menahan jeritan bahagia dihatinya. Dan hal itu membuat sang om gemas. Ingin Ia raup bibir manis itu, namun sekuat mungkin Ia harus bisa menahannya.


Ia meraih kepala sang gadis, lalu mencium keningnya sayang. Kia sampai memejamkan matanya merasakan kehangatan yang diberikan sang om. Meski ini bukan kali pertama Ia mendapatkan kecupan didahinya, namun kali ini kecupan itu terasa begitu berbeda. Hal itu mampu membuat darahnya berdesir hebat dan hatinya yang ikut bergetar.


Rei membelai rambutnya kembali. "Tidur ya! Mimpi indah." Ucapnya dan dijawab anggukan Kia.


"Iya. Om juga." Balasnya.


Rei pun berlenggang keluar dari kamar sang gadis. Ia tutup pintu itu, namun Ia masih terdiam didepannya. Ia raba dadanya untuk merasakan degup jantungnya yang berdetak tak beraturan, seraya menyandarkan diri ditembok samping pintu tersebut.


Lengkung dibibirnya kembali terbentuk begitu sempurna. "Baiklah! Aku gak akan menghindar lagi. Kia!" Gumamnya dengan memejamkan mata.


*


Sementara didalam kamar, Kia tengah menyembunyikan wajahnya didalam bantal. Kakinya trus bergerak menendang dengan posisi tubuhnya yang tengkurap. Sungguh ini kebahagiaan yang tak dapat Ia sembunyikan. Hal yang sudah lama Ia nantikan akhirnya terwujud juga. Ia sampai melupakan perkataan timomnya tadi karena kebahagiaan yang tak terduga itu. "Om pacar!" Pekiknya tertahan.


Senyuman terus terukir dari bibir keduanya. Kebahagiaan begitu terlihat jelas dari wajah mereka. Hingga entah dijam berapa keduanya dapat memejamkan matanya.


"Tak ada yang salah untuk memulai suatu hubungan. Selagi itu cinta, tak ada yang dapat disalahkan."


***************


Ayo ramaikan! Minta PJ jadian nih buat pasangan yang siap bucin ini😂 kembang sekebon boleh lah🙈

__ADS_1



Dede Kia yang lagi ngambek minta kawin lari😁 Dibujuk sama si Om pacar🙈


__ADS_2