
Sepuluh menit sudah peserta pasangan itu mempertahankan keseimbangan tubuhnya. Sudah dua orang tumbang dan tentu gagal dalam babak tersebut. Tersisa tiga pasangan lagi yang masih bertahan. Dengan posisi gendongan didepan ala brigde style membuat para pria tak sanggup menopang bobot tubuh gadisnya yang tak seramping dan semungil Kia. Beruntungnya Rei, karena sang kekasih paling kecil diantara para gadis disana.
"Udah om, kita nyerah aja. Aku gak tega lihat om kek gini." Ucap Kia khawatir. Melihat keringat yang mulai bercucuran dari dahi sang pacar membuat Kia benar-benar tak tega.
"Gak papa de, om kuat kok. Baru juga gendong kamu, om siap kok buat gendong kesebelasan anak-anak kita." Balas Rei tersenyum.
Blush
Merah sudah wajah cantik itu. Kia sampai nenggigit bibir bawahnya menahan jeritan didalam hatinya. Memikirkan penuturan sang om tentang anak, tentu membuat hatinya kian menghangat. Benarkah mereka bisa menikah dan membuat anak bersama? Sungguh bayangan tentang hal itu membuat jantungnya berdegup kencang.
Ia meraih sesuatu dari saku jeansnya. Sehelai kain putih dengan bordir kecil berbentuk love begitu manis terlihat. Ia usapkan benda itu pada dahi sang pacar. Menyeka butiran air yang hampir mengenai hidung mancung dan matanya. Dengan telaten Ia terus mengelap seluruh wajah sang pacar.
Rei tersenyum mendapat perlakuan sayang dari sang pacar. Ia kian semangat untuk memenangkan babak tersebut. Mempertahankan tangan dan kakinya agar tetap seimbang.
Tentu interaksi pasangan ini menjadi tontonan gratis untuk para penonton. Banyak yang mengabadaikan moment itu. Bahkan mungkin mempostingnya.
Begitupun dengan pemuda yang tadi mengajak Kia berkenalan. Ia masih bertahan dengan posisinya mempertahankan gadis digendongannya. Hingga tinggal kedua pasangan itu yang masih bertahan. Ia terus memperhatikan keduanya dengan tatapan yang membuat gadisnya kesal.
"Sayang! Kamu tuh kenapa sih? Kok malah ngelihatin mereka terus?" Tanyanya kesal.
"Lu bisa diem gak sih? Mau menang gak?" Tanyanya pelan namun penuh penekanan. Dan hal itu membuat gadisnya kian memberenggut.
Tiga puluh menit sudah. Kedua pasangan itu masih bertahan. Teriakan dan sorak sorai dari para penonton membuat mereka kian goyang dalam posisinya.
"Mana dukungannya buat kedua pasangan penomenal kita ini?" Teriak sang MC membuat suasana kian riuh.
"Mana suaranya buat pasangan nomor empat belas?" Tanyanya menunjuk pasangan Azril dan Sella, tepuk tangan riuh untuk pasangan itu.
"Mana suaranya buat pasangan bucin nomor dua puluh satu?" Tanyanya lagi menunjuk pasangan Rei dan Kia. Ternyata tepuk tangan lebih riuh dari pasangan sebelumnya. Sorak sorai dan suitan dari penonton mereka berikan pada pasangan yang sudah jelas terlihat bucin itu.
Hingga keduanya sudah goyang-goyang dan hampir jatuh bersama.
__ADS_1
Brukk!!!
Semua orang nampak terkejut melihat kedua pasangan yang sudah ambruk. Tangan Azril sudah tak mampu lagi menopang berat bobot tubuh gadisnya. Hingga Sella menjatuhkan kakinya kelantai dan berdiri.
Berbeda dengan pasangan itu. Rei ambruk saat sebelah kakinya tiba-tiba kram dan menekuk ke lantai. Namun Kia sama sekali tak jatuh dan masih dalam posisinya, dengan memeluk leher sang pacar begitu erat. Menyembunyikan wajahnya didada bidang pacarnya.
Tepuk tangan begitu riuh dari semua penonton, Kia yang sudah menutup matanya kembali membukanya pelan-pelan. Ia masih enggan melepas pelukannya, dengan hati terus berdoa untuk menang. Begitupun tangan Rei yang masih anteng memangku tubuhnya.
"Jadi kita udah tentuin, siapa pemenangnya ya." Ucapnya menjeda sebentar kalimatnya. "Pemenangnya adalah pasangan nomor," Ia kembali menjeda kalimatnya. Hingga suasana pun dibuat tegang karenanya.
"Dua puluh satu."
Seketika Kia memekik kegirangan Ia semakin mengeratkan pelukannya didileher sang om. Lalu menciumi pipinya. Perlakuan itu membuat Rei terpaku sejenak, kemudain tanpa aba-aba Ia pun menyambar bibir ranum gadisnya. Menyesapnya sebentar. Hingga Kia dibuat terpaku diiringi sorak sorai dari para penonton.
Sepasang sejoli itu pun kembali berdiri tanpa melepaskan pelukannya.
"Selamat untuk pemenang game pasangan spesial valentine kita kali ini." Ucapnya.
"Ini juga ada sedikit kenang-kenangan juga dari kami." Lanjutnya menyerahkan sebuah paperbag yang kembali diterima gadis cantik itu.
"Selain dapat julukan pasangn terkompak, kalian juga dapat julukan pasangan terbucin tahun ini dari para penonton." Lanjutnya lagi dan diteriaki semua penonton.
Kia meminta untuk turun, hingga Ia pun berdiri disamping sang pacar. Wajah bahagia begitu nampak dari keduanya.
"Selamat ya!" Sang MC mmeberi selamat seraya menyodorkan tangannya dan disambut oleh Rei.
Hingga suara seseorang mengagetkan mereka. "Ini gak sah!" Ucapnya hingga atensi mereka mengarah padanya.
Pemuda yang tadi kalah mendekat kearah mereka dengan kedua tangan yang Ia masukan kedalam saku celananya. Kia dibuat tercengang dengan kelakuan pemuda yang tadi sempat bertengkar didepan matanya dengan kekasihnya itu. Begitupun Rei, Ia menaikan satu alisnya melihat pria yang kemungkinan lebih muda darinya dengan seringai kecil diujung bibirnya.
"Maaf mas. Ini sudah keputusan mutlak. Anda harus sportif dan harus terima kalo mereka pemenangnya." Tutur sang MC yang siap memisahkan mereka.
__ADS_1
"Oh ya?" Tanyanya seolah tak percaya, dengan semakin mendekat kearah Kia.
Kia yang merasa risih semakin mengikis jarak dengan sang pacar dan masuk kedalam dekapannya.
Azril tersenyum sinis melihat itu. "Seorang gadis memanggil pacaranya om. Apa kalian yakin, kalo mereka pasangan kekasih?" Tanyanya hingga membuat para penonton shok dan saling berbisik.
Kia membola mendengar penuturannya. Namun berbeda dengan Rei yang masih santai menanggapinya dengan mata menatap sang pemuda.
"Bukannya acara ini dikhususkan untuk pasangan? Atau keluarga?" Tanyanya dengan seringai diwajahnya.
Rei tersenyum menanggapi itu, membuat semua orang keheranan. Begitupun Azril, Ia menaikan sebelah alisnya melihat tanggapan itu.
"Menurutmu itu salah?" Tanya Rei kembali tersenyum. Ia rangkul posesif bahu gadisnya dan menatap pada para penonton.
"Apa menurut kalian ini salah?" Tanyanya. "Dia memang memanggilku om. Apa itu salah?" Jelasnya dan dijawab senyum sinis oleh Azril.
"Menurutku gak ada yang salah dari sebuah panggilan. Kami nyaman dengan panggilan kami sendiri. Mungkin memang terdengar aneh untuk sebagian orang. Namun itu gak penting bagi kami." Tutur Rei.
Ia melihat kearah sang gadis, begitupun sebaliknya. "Karena yang terpenting buat kami, cinta itu tak pernah salah dan cinta tau kemana Ia harus pulang." Tuturnya membuat lengkungan dari bibir sang gadis terukir manis.
Rei mengecup sayang dahi yang tertutup poni itu, hingga keduanya memejamkan mata. Sorak sorai kembali terdengar dari para penonton, hingga Rei kembali menjauhkan wajahnya.
Rei beralih menatap pemuda didepannya. Lalu tersenyum manis. "Apa kau sendiri sudah menemukan itu? Kurasa belum." Tuturnya.
"Perlu kalian ketahui, dia memang keponakanku sekaligus kekasihku." Ucapnya. Hingga membuat mereka riuh kembali.
"Jika memang ini tidak disahkan. Itu tak jadi masalah untuk kami. Yang penting kami tau." Ucapnya menjeda kalimatnya dengan kembali menatap gadisnya.
"Kami selalu ada dan saling melengkapi." Lanjutnya dengan senyuman manisnya.
****************
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya gaisss🤗