
"Owheekk! Owheek!"
Bang Age yang mendengar sang istri muntah-muntah segera megambil kaos yang sudah Ia banting sampai mendarat diatas meja rias. Ia pakai kaosnya dan berlenggang mendekati sang istri dikamar mandi.
"Sayang kenapa?" Ia pijit pelan tengkuk sang istri yang tengah menunduk mengeluarkan isi perutnya. Hingga semua makanan yang tadi masuk keperutnya keluar tak tersisa. Membuat Siska benar-benar lemas tak berdaya.
Bang Age memegang pundaknya untuk berdiri tegak, namun sepertinya sang istri sudah tak memiliki sisa tenaga lagi. Akhirnya bang Age menggendongnya ala brigde style, mebawanya menuju ranjang.
Bang Age mengambil air diatas nakas dan memberikannya pada sang istri dengan membantu membangunkannya. Setelah selesai, Ia ambil piyama sang istri dengan benda berbentuk kacamata yang sempat Ia tanggalkan dari tubuh istrinya, yang tersangkut dikaki ranjang. Lalu memakaikan kembali pada tubuh istrinya.
Ia tarik selimut untuk menutupi tubuh lemah sang istri sampai dada, mengusap sisa kebasahan didahi dan wajahnya. Menciumnya sayang.
"Maafin abang ya! Abang terlalu memaksakan kamu. Jadinya kamu masuk angin." Tutur sang abang membelai lembut pipi mulusnya.
Siska tersenyum dan memegang tangan yang bertengger dipipinya. "Gak bang! Bukan salah abang. Ini cuma kebetulan aja." Ucapnya.
Bang age kembali mendaratkan bibirnya didahi sang istri. "Abang ambilin obat dulu, sama makanan! Kamu mau makan apa?" Tanyanya.
"Emm kek nya, kalo ubi bakar enak tuh bang!" Usulnya membuat sang abang mengerenyitkan dahinya tak mengerti.
"Ubi? Ubi apa?" Tanya bang Age.
"Ihh ubi bakar. Masa abang gak tau ubi?" Protes Siska membuat bang Age kembali berfikir.
"Udah abang tanyain aja sama ibu! Biasanya suka ada ubi didapur. Suruh ibu bikinin!" Titahnya.
Bang Age pasrah menuruti keinginan sang istri dan berlenggang keluar kamar. Saat memasuki dapur, ternyata sang ibu tengah mengambil air minum dilemari es.
"Bu!"
"Astagfirulloh. Kamu ngagetin ibu aja!" Protes sang ibu terkejut seraya menutup kembali lemari es nya. Membuat bang Age tersenyum.
"Maaf bu!" Sesalnya.
"Ada apa? Kamu butuh sesuatu?" Tanya Ibu.
"Itu bu Siska pengen ubi bakar katanya. Emang ada?" Tanya bang Age membuat sang ibu menaikan satu alisnya.
"Tumben?" Tanyanya heran.
"Tadi tuh dia muntah-muntah kek nya masuk angin. Terus sekalian mau ambil obat juga. Aku tawarin makan. Eh malah minta ubi." Jelas bang Age, membuat ibu mertuanya itu terdiam sejenak.
"Ya ampun! Jangan-jangan Siska ngidam?" Tutur sang ibu yang sukses membuat bang Age membolakan matanya merasa tak percaya.
"Emang iya bu?" Tanyanya.
"Ya gak tau juga. Entar besok chek aja dulu ke klinik!" Titah ibu dan dijawab anggukan bang Age.
__ADS_1
"Ya udah ibu bikinin dulu, takut beneran cucu ibu mau launching." Tutur ibu cekikikan dan berlenggang kearah kompor.
Bang Age yang penasaran, ingin cepat menanyakan hal ini pada sang istri. Ia kembali kekamar setelah berpamitan pada sang ibu.
Ceklek!
Pintu dibukanya hingga terlihat sang istri yang sudah memejamkan mata. Bang Age menghela nafasnya pasrah. Walaupun rasa keponya kian membuncah, tapi Ia tak tega kalo harus membangunkannya. Akhirnya Ia biarkan rasa penasaran mengganggu pikirannya.
Hingga bang Age menidurkan dirinya diatas surpet yang tadi Ia gelar. Membiarkan matanya tertutup dan seketika, Ia tenggelam kealam mimpinya.
**
Pagi menyapa, hembusan nafas diwajah bang Age, sukses membangunkannya.
"Pagi abang hubby!" Sapa Siska dengan senyuman manisnya.
"Pagi sayang!" Bang Age bangun dan langsung melayangkan morning kissnya diseluruh wajah cantiknya. Hingga berakhir dibibirnya menyesap liptint rasa strawbery yang teroles dbibirnya. Membuatnya enggan mengakhiri aktifitas yang menegangkan si junior dibawah sana.
"Gimana ini?" Tanya bang Age seraya menuntun tangan sang istri untuk memegang sesuatu yang semakin membesar dibawah sana.
Siska tertawa merasakan sesuatu bergerak menyapa tangannya. "Ih abang geli."
Bang Age pun ikut tertawa seraya mengusek rambut sang istri gemas. "Udah rapih. Mau maksa kesekolah?" Tanyanya.
"Iya bang. Aku udah gak papa kok. Lagian ini hari yang paling ditunggu-tunggu, bang!"
"He'em! Sehat kok. Nih lihat! Nih lihat!" Ucap Siska seraya memamerkan lengan-lengan ototnya yang tapis dan membuat sang suami tersenyum.
"Oh iya tadi malam, minta dibikin ubi. Dimakan gak? Abang lupa ketiduran." Tanya bang Age.
"Nggak! Aku juga lupa." Timpal Siska.
"Kata ibu, kemungkinan kamu ngidam? Emang iya?" Tanya bang Age menuntaskan rasa penasarannya.
"Mana ada. Hari ini aja bocor!" Timpal Siska membuat suaminya melongo.
"Serius?" Tanyanya shok dan dijawab anggukan Siska.
"Kenapa?" Tanya Siska heran.
Bang Age menghembuskan nafasnya panjang. "Puasa dong abang!" Tuturnya membuat Siska tergelak.
**
Setelah sarapan Siska bersama sang ibu, suami dan putranya berangkat kesekolah dengan berjalan kaki. Tak hanya para murid, namun seluruh keluarga dan wali murid juga ikut.
Siska sudah berdandan swcantik mungkin dengan setelan kebaya yang sama dengan sang ibu. Begitupun sang suami dan putranya memakai kemeja batik senada dengannya.
__ADS_1
Semua yang hadir disana tampak tak asing dengan sosok jangkung yang membawa balita tampan digendongannya. Setelah pengakuannya kemarin, Siska tampak acuh meskipun ditatap aneh teman-temannya, kecuali Lia bestienya.
"Hai Sis!" Sapa Lia heboh menghampiri keluarga baru itu. ia berhambur memeluk sahabat berasa saudaranya itu.
"Kangen!" Keduanya berpelukan melepas rindu setelah selama sebulan mereka berjauhan dan sekarang baru bertemu lagi.
"Gue juga! Kok lu sendiri? Ayah sama ibu kemana?" Tanya Siska seraya melerai pelukannya.
"Mereka belum dateng. Bentar lagi mungkin." Timpalnya dan dijawab anggukan Siska.
"Eh ini siapa namanya? Ponakan onty yang ganteng?" Sapa Lia pada balita digendongan suami bestinya itu. Namun sepertinya balita itu tengah berada di mode gak mau ngomong.
"Aska!" Timpal bang Age. Keempatnya mengobrol bertukar cerita seputar kehidupan mereka.
Hingga kini semua tamu sudah hadir diaula gedung serba guna yang berada tepat disisi sekolah. Satu persatu acara dimulai, pengumuman peringkat dan prestasi-pretasipun dibacakan. Siska ternyata masuk ke daftar sepuluh besar Siswa berprestasi.
Setelah penyerahan ijazah dan penyeraham piagam. Mereka dipersilahkan foto-foto. Dari mulai foto bersama seluruh teman kelasnya hingga berkahir foto keluarga masing-masing.
Begitupun Siska, Ia memilih berfoto ditaman sekolah bersama keluarganya. Hingga tiba-tiba seseorang mengalihkan perhatian mereka.
"Assalamualaikum!"
"Waaliakumsalam!"
Ternyata itu pak kades dengan putra sulungnya.
Setelah bersalaman, saling memberi selamat. Bang age dibuat bingung dengan keadaannya itu.
"Jadi, bocah tengil ini, putra bapak?" Tanya bang Age.
"Namanya Rangga bang." Namun bang Age masih memendam rasa kesalnya padanya.
Siska menarik sang suami pergi menjauh, membaiarkan ibu berbicara dengan calon suami dan calon anak sambungnya.
Siska berjalan terlebih dahulu, hingga tiba-tiba Ia terpeleset dan bokongnya sukses mencium tanah, dengan posisis terlentang. Tanpa sempat bang Age meraih tangaannya.
Brruukkk!
"Awww!!" Siska meringis merasakan sakit pada bagain bokong dan pinggangnya. Hingga tiba-tiba cairan hangat mengaliri kakinya.
"Aaaaa darah!!!" Pekiknya, hingga didetik berikutnya Ia pun terjatuh.
***********
Makasih yang selalu dukung mak othor. Smoga kalian selalu terhibur🙏😘😘
Jangan lupa buat ninggalin jejaknya yaa😉 Satu dukungan kalian begitu berharga buat mak othor yang receh ini😊
__ADS_1