Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 61 Selipan


__ADS_3

Sekuat tenaga Siska menahan air yang menggenang dipelupuk matanya agar tak jatuh, namun akhirnya tak dapat Ia bendung. Air matanya luruh begitu saja.


Sekuat mungkin Ia memepertahankan posisinya, menjadi seorang pelengkap. Tetaplah hati kecilnya menginginkan posisi utama dihati suaminya. Dan menjadi wanita satu-satunya, bukan hanya dihidupnya namun juga dihatinya.


Melihat kenyataan tadi, dirinya benar-benar merasa hanya sebatas selipan. Apa doanya dulu benar-benar terkabulkan?


Bang Age yang melihat itu segera menarik tubuh ringkih yang tengah terisak kecil itu, membawanya kedalam dekapannya. Membelai rambutnya sayang dan menciumi pucuk kepalanya, dengan mencoba untuk menenangkannya.


"Maafin abang sayang! Maafin abang. Abang bener-bener lupa." Sesalnya.


"Berhenti bicara omong kosong. Kamu adalah segalanya buat abang. Kamu satu-satunya wanita untuk abang." Tuturnya, namun malah membuat Siska semakin menangis sesenggukan.


Bang Age semakin mengeratkan dekapannya. Berusaha meyakinkan sang istri, kalau pemikirannya itu salah.


"Dia sudah pergi. Bukan hanya dari hidup abang, tapi juga dari hati abang!" Ia menjeda sebentar ucapannya.


"Dan sekarang hanya kamu. Hanya kamu yang ada dihati dan hidup abang." Lanjutnya.


"Only you Siska Anggraeni!"


Siska ikut mengeratkan pelukannya. Keraguannya hilang seketika, mencoba mempercayakan segalanya pada sang suami.


"Ma-mafin a-aku bang!" Ucap Siska tersendat-sendat disela tangisnya.


"Kamu gak salah. Abang yang salah, abang minta maaf!" Timpalnya.


Keduanya masih hanyut didalam pelukan. Mencoba saling menintroveksi diri. Meluluhkan ego yang membentengi diri. Hingga suara ketukan dari jendela mobil mengalihkan atensi keduanya.


Tok! Tok! Tok!


Bang Age melerai dekapannya, Ia beralih menggeser jendela mobilnya. Hingga nampaklah seorang bapak berkumis dengan seragan putih hitam hendak menunduk melihat situsi didalam kala jendela terbuka.


"Iya. Pak?" Tanya bang Age.


"Maaf mas untuk kenyamanan. Apabila sudah selesai, silahkan tinggalkan parkiran!" Tutur pak security.


Bang Age yang mengerti akan penuturan bapak security menghembuskan nafasnya panjang.


"Baik pak! Saya akan keluar, hanya saja tadi istri saya menginginkan sesuatu. Tapi kek nya gak jadi." Tuturnya. Ia beralih menatap sang istri.


"Yuk sayang! Kita cari di hadirmart aja!" Ucapnya membuat bapak berseragam putih hitam itu melongo. Apakah Ia sudah mengusir pelanggan? Pikirnya.


"Maaf mas. Maksud saya-" Belum selesai ucapannya, langsung diselak bang Age.

__ADS_1


"Gak papa pak! Kita permisi." Selaknya membuat si bapak security nampak merasa tak enak hati.


Bang Age menutup kembali jendela mobilnya dan mulai menyalakan mesinnya, dengan perasaan dongkol. Bisa-bisanya Ia dikira tengah melakukan hal aneh-aneh.


Siska tersenyum melihat tingkah suaminya. "Kasihan bang tu muka bapaknya!" Komentar Siska.


"Biarin aja! Ngeselin banget tu bapak berkumis." Bang Age menggerutu kesal dengan terus fokus kedepan kemudi, membuat Siska tertawa kecil.


Bang Age melirik sekilas melihat lengkungan dibibir manis sang istri membuat Ia tersenyum. Tangannya terulur mengelus pucuk kepalanya.


"Udah ya! Jangan cemburu lagi! Gak etis lah, masa cemburu sama orang yang udah gak ada." Tutur bang Age.


"Idihh siapa juga yang cemburu." Elak Siska.


"Itu kamu cemburu, lihat foto dia kan?"


"Aku tu gak cemburu, cuma merasa jadi selipan aja." Tutur Siska yang akhirnya tak bisa lama-lama memendam sesuatu yang mengganjal dihatinya.


Bang Age tersenyum mendengar penuturan istrinya. Kata selipan mengingatkan Ia pada pertemuan pertamanya dengan gadis yang sekarang sudah menguasai hatinya itu.


"Bukannya kamu sendiri ya, yang bilang mau jadi selipan abang?" Goda bang Age membuat Siska berdecak kesal.


"Ck! Jadi bener kan cuma selipan?" Ucapnya dengan wajahnya yang ditekuk.


Siska melihat kearah suaminya dengan raut wajah yang sama.


"Terkadang selipan itu sangat dibutuhkan, untuk menyempurnakan sesuatu yang masih terlihat semu."


"Dan itu sangat berharga. Seperti dirimu, kamu begitu berharga dan sangat dibutuhkan abang dan Aka. Kamu penyempurna kami."


Penuturan bang Age mampu membuat Siska tersenyum dengan rona pipi yang begitu kontras dikulit putihnya. Bang Age kembali mengecup tangannya bolak balik. Lalu menarik tubuh sang istri mendekat, menyandarkan kepalanya diatas pundaknya. Mencium sekilas pucuk kepalanya dan membelai sayang rambutnya.


"Jangan lagi berfikiran yang aneh-aneh! Abang hanya milik kamu dan itu kenyataannya." Tuturnya dan dijawab anggukan Siska dengan membalas memeluknya.


"Harusnya tuh, abang yang cemburu!" Tuturnya membuat Siska mendongak menatap wajah suaminya.


"Kenapa?" Goda Siska.


"Ck! Kamu fikir aja, lihat istri sendiri digoda pria lain, apa gak akan membuat suminya cemburu?" Gerutunya membuat Siska tersenyum.


"Gini ya rasanya dicemburuin?" Siska cekikan hingga sukses dapat usekan manja dikepalanya dari sang suami.


"Enak ya, yang udah bikin cemburu?" Ledeknya membuat Siska tergelak.

__ADS_1


Keduanya kembali bercanda. Saling ledek sudah seperti makanan sehari-hari untuk keduanya. Bukan seperti pasangan lain yang suka mengumbar kata-kata cinta atau kata-kata manis. Pasangan ini malah sebaliknya.


Tak berselang lama, kijang besi yang ditumpangi keduanya sampai dihalaman rumah. Keduanya turun membawa barang-barang belanjaannya, beserta koper yang mereka bawa dari desa.


Rumah nampak sepi, sepertinya Mamih mengajak Aska pergi keluar rumah.


"Pada kemana? Sepi banget?" Tanya Siska heran. Ketika keduanya memasuki rumah yang dikunci, untung saja mereka menyimpan kunci cadangannya.


"Kek nya Aka masih rewel. Mamih pasti mengajaknya kerumah Ay." Tutur bang Age dan dijawab anggukan Siska.


Selama menikah dan tinggal disana, Siska memang belum pernah melihat sang putra rewel, apalagi sampai harus dibawa kerumah adik iparnya.


"Emang kalo tiap rewel, pasti harus ke rumah kak Ay ya?" Tanya Siska.


"He'em!" Jawab bang Age. "Hanya sama kamu dan Ay aja dia gak pernah rewel." Lanjutnya dan dijawab anggukan Siska.


"Ck! Tau gitu kita gak usah cepetan pulang tadi! Kan bisa terakhiran dulu." Protes bang Age membuat Siska tersenyum.


"Ya udah sii, udah dirumah juga." Balas Siska cekikikan.


"Ya udah kita lanjut aja yuk!" Ajaknya merangkul pundak istrinya.


"Apanya?" Goda Siska.


"Terakhirannya."


"Terakhiran apa?" Siska semakin gencr menggodanya.


"Ngobrak ngabrik martabak!" Ucap bang Age seraya mengangkat tubuh istrinya. Menggendongnya ala bridge style dan sukses membuat sang istri menjerit kaget.


"Abangg!!!"


Keduanya tergelak. Dengan diiringi canda tawa, bang Age membawa istrinya menuju kamar.


Dibaringaknnya tubuh ramping sang istri ke atas kasus king size nya. Mengukungnya dengan menumpu kedua tangannya untuk menahan bobot tubuhnya.


Bang Age tersenyum menatap intens wajah cantik dengan rona yang menghiasi pipinya. Ia elus pipi merah itu tanpa melepas tatapannya. Ia sambar benda kenyal nan ranum yang kian hari kian menantangnya itu. Menyesapnya penuh perasaan. Tangannya meraba mencari kancing kemeja sang istri membukanya pelan satu persatu.


Hingga tiba-tiba suara pintu terbuka dengan keras, sukses membuyarkan konsentrasi mereka. Dan pekikan seseorang menghentikan aksi keduanya.


"Pih janan! Timom aka!"


**************

__ADS_1


Jangan lupa jejaknya yaa readerss😉 Makasih untuk setiap dukungannya🙏😘😘


__ADS_2