
"Hah ngidam?" Siska menganga merasa tak percaya dengan ucapan adik iparnya itu. Ayra hanya mengangguk mengiyakan pertanyaannya.
"Kok bisa. Yang hamil kan pasti aku. Kok bisa abang yang ngidam?" Tanya Siska merasa aneh dengan opini yang Ayra lontarkan.
"Ya bisa lah. Itu tuh namanya Syndrom couvade atau biasa disebut kehamilan simpatik. Dulu juga bang Ar gitu waktu hamil sama si sulung." Tutur Ayra memberi penjelasan.
"Kok bisa ya?" Tanya Siska masih merasa heran.
"Itu karena si suami begitu empati terhadap istrinya. Ketara itu suami terlalu bucin." Timpal Ayra membuat keduanya tergelak.
"Udah sekarang mening periksa aja, biar jelas!" Ajak Ayra.
"Siapa? Aku atau abang?"
"Dua-duanya aja! Biar abang sekalian diperiksa juga. Bentar, aku telepon dulu bang Ar."
Sementara Ayra menelpon suaminya, Siska masuk ke kamarnya untuk mengajak suaminya ke dokter.
"Bang!" Siska mencoba membangunkan suaminya dengan menggoyangkan bahunya pelan.
Tak ada pergerakan dari suaminya membuat Siska menyentuh pipinya dan mengelusnya pelan. "Bang! Bangun! Kita periksa ya!" Ajaknya.
Hanya gumaman yang menjadi tanggapan suaminya. Siska tak kehabisan ide, jika cara B aja tak dapat membangunkan sumainya, maka cara mainstream jadi pilihannya.
Ia naik keatas tubuh suaminya. Menduduki bagian pahatan roti sobeknya dengan santai. Ia dekatakn wajahnya dengan wajah sang suami.
Fiuuhhh~
Hembusan nafas beraroma mint sukses membuat mata indah suaminya itu terbuka. Lengkung senyum terukir diwajah tampannya. Dan hal itu juga menular pada sang istri.
Bang Age meraih pipinya dan mengelusnya sayang. "Apa hem?" Tanyanya.
"Bangun yuk! Kita kedokter!" Ajaknya.
Bukan menajawab, bang Age malah menangkup wajah istrinya. Menyambar bibir manisnya itu.
"Abang gak papa. Gak perlu kedokter!" Tolaknya.
"Tapi kita harus kedokter bang, biar tau." Tuturnya membuat bang Age keheranan.
"Tau apa?" Tanyanya.
"Udah pokoknya abang cepat bangun! Kita berangkat sekarang. Kak Ar akan nganterin kita kedokter. Lagi otewe ke sini dia." Tutur Siska.
Bang Age menghembuskan nafasnya panjang. "Padahal gini aja abang udah sembuh. Gak perlu kedokter." Tuturnya.
__ADS_1
Siska mencoba menarik tangan suaminya untuk bangun dari zona nyamannya. Bukannya bangun bang Age malah menarik tangan istrinya hingga menubruk dada bidangnya.
Tatapan kedua nya terkunci, Bang Age hendak menyambar bibirnya. Namun suara gedoran keras dari luar membuat bang Age berdecak kesal. Apalagi suara cempreng sang adik membuatnya ingin menyumpal lambe lucknut adiknya itu.
"Abang buruan! Jangan kebanyakan nengokin si nona! Ntar lama-lama si nonanya bosen, gak mau lagi ditengokin!" Teriak Ayra. Dengan tak berehenti menggedor pintunya.
"Tu anak bener-bener ya! Kelakuannya bikin orang istigfar! Ajaib bener." Gerutunya membuat sang istri tergelak mendengarnya.
"Udah sii bang! Ayo bangun. Pasti kak Ar udah dateng tuh." Siska bangun dari tubuh suaminya. Membiarkan sang suami bangun dan berlenggang ke kamar mandi.
Setelah menyiapkan pakaian untuk suaminya. Ia pun bersiap juga, mengganti pakaian memoles sedikit wajahnya. Hingga Siska sudah siap untuk berangkat. Namun suaminya belum ada tanda-tanda akan keluar dari tempat semedinya.
Siska yang penasaran mencoba mendekat dan mengetuk pintu kamar mandinya. "Bang! Udah belum?" Teriak Siska.
Tak ada jawaban dari dalam sana. Hingga membuat Ia kembali mengetuknya dan kembali berteriak. "Bamg lagi ngapain sih?"
Siska yang sudah bisa menebak sang suami tengah apa, membuka paksa pintunya. Hingga pintu terbuka dan netranya menangkap abangnya masih duduk diatas kloset dengan menyandarkan kepalanya disana.
"Ya ampun abang!" Siska mendekat dan membangunkan sang suami yng kembali ngorok disana.
"Disuruh mandi kok malah ngorok?" Omlenya.
Bang Age membuka matanya dengan susah payah. "Ini tu gara-gara si tolak dingin. Susah bener ini mata." Gerutunya dengan mencoba mengerjapkan matanya berulang kali.
"Udah abang mandiin, biar melek matanya!" Titah Siska. "Cepetan, aku tunggu diluar!" Lanjutnya.
"Mandiin yang!" Rengek bang Age dengan manja.
"Jangan ngadi-ngadi deh bang! Buruan tuh kak Ay keburu ngamuk!" Tolak Ayra membuat sng suami pasrah.
Akhirnya bang Age segera mengguyur tubuhnya dibawah shower. Semenara Siska memilih menunggu diruang tv bergabung dengan kedua adik iparnya dan kedua balita yang begitu anteng dari tadi itu.
"Abangnya mana?" Tanya Ayra yang hanya kdluar kamar sendiri.
"Lagi mandi dia." Jawab Siska.
"Ya ampun! Dari tadi belum juga siap? Jadi curiga deh. Kalian bikin part dulu ya?" Tanya Ayra.
"Paan sih! Boro-boro mau bikin part. Abangnya aja ngorok mulu!" Elak Siska. Membuat Ayra tergelak.
Kedua wanita itu terus mengobrol, dengan bang Ar yang setia menjadi pendengarnya. Ia yang tak paham dengan pembicaraan emak-emak hobah itu, hanya fokus pada layar pipih ditangannya. Entah apa yang tengah Ia lakukan dengan benda kesayangan semua orangg itu.
Tak berselang lama, bang Age pun datang menghampiri mereka.
"Ya udah yuk berangkat!" Ajak bang Age tanpa dosa. Padahal semua tengah menahan kesal karena menunggunya begitu lamaa,
__ADS_1
"Enak ya! Main berangkat aja! Disapa dulu kek. Ini manusia bang. Bukan patung!" Protes Ayra.
"Iya. Iya!"
Setelah melalui drama panjang yang warbyasa, akhirnya mereka bersiap dan memasuki mobil bang Ar. Mobilpun melesat meninggalkan kediaman bang Age.
Selang beberapa menit kijang besi yang ditunggangi mereka sudah terparkir apik di halaman parkir.
Mereka berlenggan menuju poli kandungan. Sebelum berangkat Ayra sudah menghubungi sang dokter jadi mereka tinggal madum saja.
Tok! Tok! Tok!
Ceklek
Ayra membuka pintu ruangan itu, setelah dapat persetujuan penghuni didalamnya. Hingga nampak dokter cantik langganannya.
Setelah berbasa basi terlebih dahulu kini giliran Siska untuk diperiksa, hingga sang suster yang membawanya memasuki kamar mandi membuat bang Age keheranan.
"Maaf dok! Disini yang sakit saya. Kenapa malah istri saya yang diperiksa?" Protesnya.
"Iya pak! Dua-duanya kan emang harus diperiksa." Tutur dokter sembari menggiringnya menuju atas brankar.
"Silahkan anda berbaring!" Dokter pun memeriksa suami pasien, kala pasiennya masih dikamar mandi. Tak ada yang perlu dikhawatirkan dari kondisinya, semua terlihat normal.
Sang dokter tersenyum. Pemikirannya pasti tak salah lagi. Hingga Siska keluar dari kamar mandi bersama susternya.
Sang suster memberikan benda kecil berbentuk pipih pada sang dokter. Hingga dokter itu manggut-manggut membuat mereka penasaran.
"Sebenarnya saya sakit apa dok?" Tanya bang Age membuyarkan Kecemasan dari kedua wanita didepannya.
Ia yang tak menegerti dengan apa yang terjadi pada dirinya dan sang istri tentu bingung sendiri.
"Anda tidak apa-apa pak! Justru ini istri anda-" Penuturan sang dokter terselak bang Age.
"Istri saya kenapa dok?" Tanyanya shok dan mendekat kearah mereka didepan meja sang dokter.
Dokter twrsennyum melhat ke khawatiran suami dari pasiennya. "Tenang pak! Istri anda gak papa. Hanya saja-" Kembali diselak bang Age.
"Hanya apa?" Tanyanya.
"Istri anda positif hamil." Balas sang dokter hingga merekapun dibuat menganga karenanya.
**************
Jangan lupa jejaknya yaa readerss😘😘😘 Hari senin lagi, kasih vote dongðŸ¤
__ADS_1