Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 32 Terluka


__ADS_3

"Ini???"


Siska melongo melihat keadaan dirumah itu. Bunga berjejer memenuhi satu ruangan depan. Tikar yang digelar apik dengan meja pendek diatasnya. Dan seorang pria paruh baya tengah duduk tegak didepan meja tersebut.


"Ini? Siapa yang mau nikah Ga?" Tanya Siska heran.


"Kita!"


"Whaaatt!!!" Pekik Siska dengan mata membola dan mulut yang terbuka lebar.


"Kita akan menikah hari ini." Ucap Rangga dengan menyunggingkan senyuman manisnya.


"Lu bilang apa? Menikah? Eh lu jangan bercanda ya. Gak lucu tau gak!"


Rangga menghadapkan dirinya dengan gadis pujaannya itu. Ia sudah mempersiapkan segala rencanya dari jauh-jauh hari untuk menikahi gadis pujaannya itu hari ini juga. Ternyata penolakannya selamanya tak membuat Ia gentar untuk mendapatkan sang gadis. Ia semakin tertantang untuk bisa memilikinya. Alasan sekolah yang selalu diberikan Siska membuat Ia memilih jalur seperti ini. Karena sudah lulus sekolah, jadi tak ada alasan Siska untuk menolaknya. Pikirnya.


Ia pegang kedua bahu gadis pujaannya itu. "Aku sayang sama kamu Sis. Aku cinta sama kamu. Karena kita sudah lulus, aku ingin kita pacaran yang halal. Dan ini adalah jalan yang ku pilih." Tuturnya.


Siska tercengang bukan main mendengar penuturan pemuda didepannya. "Astagfirulloh Ga. Gak gini caranya juga." Siska sampai geleng-geleng kepala.


"Gue gak bisa terima lu bukan karena kita masih sekolah atau udah lulus. Tapi ada hati yang harus gue jaga dan lu harus ngerti itu." Tuturnya.


"Apa karena abangmu itu?" Tanya Rangga dan dijawab anggukan Siska.


"Tapi kenapa Sis? Kenapa kamu pilih dia, dia duda Sis?" Tanyanya.


Siska sedikit shok, dari mana cowok itu tau? Tapi Ia tak mau ambil pusing, yang penting cowok dihadaapnnya itu bisa mengerti.


Ia lepaskan kedua tangan pria dihadapannya dari pundaknya itu. "Ini bukan perkara status. Tapi hati. Gue juga gak tau kenapa hati gue bisa memilih dia." Tuturnya membuat Rangga memejamkan matanya. Mungkin ada yang perlahan menyayat bagian dalam dadanya.


"Gue emang sempat suka sama lu dan itu dulu, sebelum dia hadir dihidup gue. Dan saat itu lu yang gak pernah ngelirik gue, lu yang selalu hindari gue, hingga gue lupa cara suka sama lu." Lanjut Siska.


"Den, gimana ini teh? Saya pulang aja ya, kayanya aden ditolak! Lebih baik aden sekolah dulu, mapan dulu. Nanti kalo sudah mapan bisa kembali melamar." Ucap seorang pria paruh baya yang tadi duduk rapih didepan meja dan kini menghampiri keduanya.


"Pak ustadz disini saya bayar! Gak usah ceramahin saya!" Tutur Rangga dengan arogannya.


"Lu gak boleh gitu dong gak sopan!" Peringat Siska. "Ya udah pak ustadz boleh pergi! Lagian kita gak akan nikah." Titah Siska pada pria itu.


"Gak bisa! Pak ustadz harus nikahin kita!" Titah Rangga.

__ADS_1


"Nggak! Gue gak mau nikah sama lu."


"Harus mau. Lu harus jadi milik gue."


"Nggak! Kok lu maksa sih?"


"Ya gue maksa karena gue mau!" Ucap Rangga tegas. "Pak ustadz!" Rangga menoleh membuat Siska ikut menoleh. Hingga keduanya celingukan mencari sang ustadz yang entah sudah kemana.


"Sialan! Kemana tuh ustadz?"


"Isshhh lu tu gak sopan banget sama orang tua juga. Udah ah ini gak lucu. Gue harus pergi." Ucap Siska hendak keluar, namun lengannya dicekal pemuda didepannya.


"Ga lu apa-apaan sih? Lepasin gue!" Siska berontak hendak menghempaskan lengannya namun sayang kekuatan Rangga melebihi kekuatan maksimalnya.


"Nggak! Gue gak akan lepasin lu. Karena lu milik gue." Tolaknya dan berusaha menyeretnya kedalam kamar.


"Lu gila ya Ga? Lepasin gue!" Siska masih terus memberontak membuat Rangga sedikit kewalahan.


"Iya gue gila. Gue tergila-gila sama lu."


"Rangga gue mohon lepasin gue. Tangan gue sakit!" Siska meringis merasakan sakit dipergelangan tangannya. Namun itu bagai angin lalu yang tak dihiraukan Rangga.


"Aaaaa" Siska menjerit merasakan sakit dipergelangan tangannya dan kepala yang membuat dirinya mendadak pusing.


Rangga yang tersadar dengan jeritan Siska, langsung menghampiri dan membangunkannya. "Maafin gue Sis! Maaf! Gue gak maksud buat nyakitin lu."


Siska terbangun dengan memegang kepalanya. Ia turunkan tangan yang memegang kepalanya, hingga saat tangan itu terlihat Ia menjerit ketakutan. Membuat Rangga ikut panik karenanya.


"Aaaaa darah!!!"


Bukan hanya jeritan saja namun Ia juga menangis histeris. Pobhianya terhadap darah menjadi faktor penyebab utamanya. Ada suatau hal yang membuat Ia phobia terhadap darah dari sejak kecil. Ketika datang bulan saja, Ia tak pernah melihat ataupun membersihkan darahnya. Setengah hidup Ia akan berusaha untuk tidak melihat darahnya sendiri. Dan ketika kejadian seperti ini tentu akan membuatnya ketakutan, apalagi Ia melihat darah segar memenuhi tangannya.


"Sis lu kenapa? Ya ampun! Kening lu berdarah. Tunggu disini gue ambil dulu kotak P3K!" Rangga hendak mencari kotak itu keluar kamar, namun baru saja Ia membuka pintu kamar, bogeman mentah mendarat mulus dipipinya.


Bughh!!! Bughh!!!


"Brengsek!" Seseorang dengan tiba-tiba menonjoknya hingga membuat Ia terjengkang ke belakang dengan mengumpat kasar.


"Berani-beraninya lu sentuh cewek gue hah?!" Ia angkat kerah bajunya, hingga tubuh yang ambruk dilantai itu terangkat berdiri.

__ADS_1


"Lu apain cewek gue hah?! Bangsat!" Ia kembali melayangkan bogeman itu pas mengenai hidung mancungnya, hingga siempunya tubuh ambruk lagi ke lantai. Sudah dipastikan darah pasti keluar dari hidungnya.


Ia membiarkan Rangga tergeletak dilantai dan langsung menghampiri gadis yang tengah menangis histeris.


"Sis? Ya ampun! De kamu?" Ia tak meneruskan ucapannya ketika melihat luka didahi sang gadis, Ia melihat sekitar dan tak menemukan kain yang dapat menyumbat darah yang terus mengalir itu.


Ia buka kemeja yang membalut tubuhnya hingga menyisakan kaos putih yang melekat disana. Kemudian Ia ikatkan dikepalanya, mencoba memepertahankan agar darah itu tak keluar lagi. Ia tangkup wajah gadisnya untuk mendongakan wajahnya.


"Sayang! Ini abang. Jangan nangis lagi! Jangan takut ya abang disini!" Tutur sang abang menenangkan.


Siska mendongak dan menyadari kehadiran pujaan hatinya itu. "Abangg!!!!" Ia berhambur memeluk tubuh kekar itu erat.


Bang Age membalas mendekapnya tak kalah erat. Mengelus rambutnya sayang dan menciumi pucuk kepalanya bertubi-tubi dan terus berusaha menenangkannya.


"Udah! Jangan nangis ya, abang disini!" Ucapanya. Perlahan namun pasti tangisnya pun berhenti.


Hingga suara seseorang membuat atensinya teralihkan.


"Nih! Obatin dulu lukanya!" Rangga memberikan kotak P3K kehadapan sang abang.


"Ck! Lu?" Bang Age hendak berdiri, namun ditahan sang gadis dengan mengeratkan pelukannnya.


"Jangan bang! Jangan berantem! Aku gak mau abang kenapa-napa. Aku gak mau abang terluka. Aku gak mau lihat darah lagi!" Tutur Siska membuat sang abang menghembusakn nafasnya pasrah dan menghentikan pergerakannya dengan decakan kesal.


"Ck! Kamu ini, mana ada abang bisa terluka."


"Kan kalo adu tonjok pasti terluka."


"Biarpun adu tonjok, abang gak akan terluka."


"Kenapa bisa gitu?"


"Noh! Dia udah babak belur duluan!" Balas bang Age menunjuk pria yang sudah terkapar dilantai.


***************


Akutuh pengen buat drama tapi gak bisa🤧 Eh malah lawak lagi. Tapi ya sudahlah, moga kaleaann terhibur🙏


Oh ya mak belom ngucapin, Selamat menunaikan ibadah puasa buat yang menjalankan😇

__ADS_1


__ADS_2