
Kedua orang disana tercengang mendengar si ibu hamil ini. "Apa sih beb, jangan gitu lah! Belum tau juga jenis kelamin baby kita. Masa udah main dijodohin aja!" Protes Ivan.
"Tapi kan a, berharap boleh dong! Aku juga pengen punya princess kek Siska. Biar bisa nyalon bareng." Celetuk Lia terkekeh, membuat sang suami hanya menggelengkan kepalanya seraya menghembuskan nafasnya panjang. Ibu pun ikut memprotesnya.
Sifat nyelenehnya begitu kentara, memperlihatkan Lia bestie somplaknya Siska.
Hingga ditengah obrolan mereka, bang Age yabg keluar kamarnya dan hendak mengambil sarapan, berbelok terlebih dahu menghampiri mereka. "Kalian disini?" Tanyanya pada pasangan baru itu.
"Iya bang. Siska udah bangun bang?" Tanya Lia.
"Udah baru aja selesai mandi." Jawab bang Age.
"Terus dedenya udah bangun belum?" Tanya Lia lagi.
"Udah! Masuk aja, gih!" Titah bang Age dan diiyakan keduanya.
Si bumil berjalan dan memasuki kamar bestienya yang diikuti sang suami dari belakangnya.
Ceklek!
Pintu dibukanya hingga nampak ibu muda yang yang tengah mengajak ngobtol baby nya
"Hallo dede cantik?" Sapa Lia dengan riang menghampirinya ditempat tidurnya.
"Hallo onty rombeng!" Balas Siska dengan suara dibuat kecil.
Lia berdecak dengan mendaratkan diri di tepi ranjang, sebrang sahabatnya. "Ck! Lu mah ngajarinnya gak benar. Jangan rombeng lah!" Protesnya.
Siska tergelak melihat ekspresi wajah sahabatnya itu. "Terus apa dong?" Tanyanya.
"Ya apa gitu yang elit?" Sarannya.
"Iya deh, onty cerewet!" Ledek Siska kembali tergelak.
"Ck! Bestie lucknut emang lu." Protesnya dengan melempar si boba yang tengah nganggur didekatnya.
Keduanya hanyut dalam candaan mereka. Bahkan Lia melupakan suami yang berdiri sejak tadi.
"Kak Ivan duduk lah! Nunggu kita reunian bisa-bisa pinggang kecangklak berdiri mulu!" Titah Siska.
Lia yang baru tersadar, segera menyeretnya untuk ikut duduk dengannya ditepi ranjang. "Maaf ya bang! Aku lupa." Ucapnya tanpa dosa dengan menapilkan deretan giginya.
Tanpa protes apapun, Ia ikut duduk mengikuti saran sang istri dan meletakan bawaan yang Ia bawa tadi.
__ADS_1
"Selamat ya Sis! Ini hadiah dari kami buat dede cantiknya!" Tutur Ivan.
"Iya! Maaksih ya, kalian udah mau jengukin!" Balas Siska dan diiyakan keduanya.
"Oh iya, apa bener, lu hamil?" Tanya Siska yang kepo dengan pembahasan mereka dalam chat kemarin, yang sempat terjeda karena drama lahiran kemarin.
"Iya. Ternyata sumpah serapah lu gak main-main. Ini gue aja benar-benar cepat bakal punya dede bayi loh." Ucap Lia semangat.
"Itu tuh bukan sumpah oneng. Itu tu doa dari gue." Selak Siska membuat mereka tertawa.
"Sini! Gue mau coba gendong!" Pinta Lia.
Siska menyerahkan bayi cantiknya untuk digendong bestie somplaknya itu dan dengan sigap Lia menerimanya.
"Manis banget sih!" Ucapnya gemas seraya menoel pipi merahnya. "Sumpahin lagi dong. Biar gue dapet yang cantik juga!" Titahnya.
Siska memutar bola matanya malas. Emang benar sih dirinya dulu pernah nyumpahin sahabatnya ini buat segera punya momongan. Tapi kan itu bukan lebih ke sumpah tapi doa baik.
"Bilangnya minta didoain dong! Masa disumpahin?" Protes Siska.
"Ya kan biar cepet dikabulin kek sekarang nih!" Timpal Lia membuat dua orang disana menghembuskan nafasnya panjang.
Ivan yang tak mau mendengar perdebatan panjang mereka memilih untuk keluar dan berpamitan meninggalkan keduanya disana.
"Kenapa sih lu, pengen banget punya anak perawan? Bukannya semua orang pengennya anak laki dulu ya?" Tanya Siska heran.
"Gue sih gak pernah minta apapun. Buat gue cewek atau cowok itu sama aja! Yang oenting sehat selamat. Lah lu kenapa?" Tutur Siska.
"Entahlah gue pengen aja anak perawan. Terus lagi ya, ada satu yang bikin gue pengen banget dapet baby girl." Balas Lia membuat Siska menaikan alisnya heran.
"Apa?"
"Gue pengen dapet mantu kek dede Aska. Kalo punya gue beneran baby girl, kita jodohin ya!" Celetuknya dan langsung dapat toyoran dikepalanya dari sahabatnya ini.
"Omongan lu main jeplak aja! Belum lahir juga udah main jodoh-jodohin." Protes Siska.
"Gue sih bukan gak mau besanan sama lu. Cuma kita gak bisa memaksa anak-anak buat nurutin keinginan kita. Soal jodoh itu rahasia Tuhan, biarlah mereka menentukan pilihannya sendiri. Kita sebagai orang tua hanya mendoakan dan mengarahkannya aja." Nasihat Siska panjang kali lebar hingga diaminkan sahabat durjananya ini.
Siska berdecak kesal, mendapati tanggapan sepeti itu dari bestienya. Hingga mendaratkan si boba pada lengannya dan sukses membuat Lia tergelak.
"Gue salut deh sama bang Age. Bisa merubah seorang Siska menjadi sosok yang begitu bijak." Tutur Lia.
"Gue rasa semua suami itu mengajarkan yang terbaik untuk istri dan anaknya. Kalo soal bisa berubah atau nggaknya itu tergantung kita yang menjadi istrinya. Kalo kita taat sama suami. Selain dapat pahala, kita dapat pula merubah diri kita lebih baik." Tutur Siska dan dijawab anggukan mengerti Lia.
__ADS_1
"Apalagi istri kek lu, kudu banyak belajar tuh! Takut suami lu stres sama sikap bar bar lu ini." Ledek Siska dan dijawab cebikan bibir oleh Lia.
Siska tergelak mendapati ekspersi sahabatnya itu. Keduanya terus mengobrol, membahas tentang rumah tangga dan menjadi istri yang baik. Dibalik tingkah absurd mereka, jika membahas rumah tangga jiwa istri dan ibu dari keduanya keluar. Mereka begitu menikmati perannya menjadi istri dan ibu muda. Tak ada penyesalan mereka untuk menikah muda pula.
Hingga suara pintu kamar terbuka mengalihkan atensi mereka.
Ceklek!
Keduanya menoleh dan mendapati bang Age yang membawa nampan berisi sarapan diatasnya untuk sang istri.
"Nih yang! Sarapan dulu!" Titahnya seraya mendudukan diri disisinya.
"Widihhh bener-bener Papih siaga nih!" Celetuk Lia.
"Iya lah! Ingetin, noh suami lu juga kudu gitu. Jangan pengen senengnya aja!" Ledek bang Age kala Ivan ikut memasuki kamarnya.
"Ck! Emangnya lu aja. Gue malah bisa lebih dari lu." Balas Ivan tak mau kalah dan timpali cebikan bibir oleh bang Age.
Kedua wanita itu terkekeh melihat tingkah kedua suaminya. Selalu aja sindir menyindir terlontar dari keduanya.
Bang Age dengan telaten menyuapi sang istri. Mereka sibuk dengan dunia mereka sendiri dan melupakan sepasang pasutri yang tengah mengajak main putrinya.
"Dasar bucin! Kita pulang aja yuk a, aku kan pengen juga." Rengek Lia membuat suaminya terkekeh.
"Ya udah yuk!"
"Nih! Jangan lupain buntut woy!" Ucapan Lia membuat kedua orang tua baby cantik itu menoleh dan terkekeh.
Lia memberikan baby cantik itu pada timomnya.
"Kita pulang ya!" pamit Lia.
"Baru juga bentar." Protes Siska.
"Bentar dari mana? Kita udah dari subuh woy!" Selak Lia membuat ibu baru itu tertawa.
"Kalian gak mau gabung dulu sarapan?" Tanya bang Age.
"Nggak ah! Kita mau sarapan spesial dirumah." Timpal Lia.
"Widih apaan tuh?" Tanya Siska.
"Sarapan roti hotdog mayonise!" Balasnya. Lalu berlenggang menarik lengan sang suami dan meninggalkan Siska yang menatap heran keduanya.
__ADS_1
*************
Jangan lupa jejaknya yaa gaisss!!🤗