
Disebuah kamar sederhana yang terlihat begitu rapi, seorang gadis yang sudah tak perawan lagi. Bahkan baru mengalami kehilangan calon baby nya tengah duduk ditepi ranjang. Dengan hatinya yang masih teramat sakit, Siska kembali menyalahkan dirinya sendiri. Kenapa Ia tak bisa menjaga titipan-Nya? Kenapa Ia harus lalai? Akankah suaminya menerima dan tak kecewa padanya?
Pikirannya berkecamuk dengan segala hal. Otaknya tak berfungsi dengan baik, hingga air matanya kembali luruh diiringi dengan sesak yang menghimpit rongga dadanya. Merelakannya itu sudah Ia lakukan. Tapi mengikhlaskannya, masih butuh banyak waktu untuknya bisa melakukan itu.
Lima hari setelah kejadian itu, namun rasa sakit itu masih tetap sama. Ia masih terus dibayangi rasa penyesalan dan bersalahnya. Hingga Ia tak menyadari kedatangan sang suami dari luar kamarnya, dengan membawa nampan berisi makanan dan air beserta obat diatasnya.
Bang Age yang melihat sang istri tengah menangis dalam diam, ikut merasa sakit. Ia simpan nampan diatas nakas dan ikut duduk disisinya. Ia tarik tubuh ringkih itu kedalam dekapannya. Mendekapnya erat dengan mengelus kepalanya sayang.
"Menangislah! Tumpahkan segala rasa sakitmu! Kemudian tersenyumlah! Jadikan ini yang terakhir!" Ucap bang Age.
Siska mengeluarkan tangisnya, mendekap tubuh imamnya erat. Meluapkan emosi yang menguasai otaknya. Menumpahkan semua beban yang mengganjal didadanya. Bang Age pun tak mampu lagi membendung air mata yang sejak tadi Ia tahan agar tak keluar. Dan akhirnya, keduanya menangis menumpahkan apa yang mereka rasa.
"Udah yaa, jangan nangis lagi. Kita harus mengikhlaskannya! Mungkin ini cara Tuhan menyayangi kita. Dia hadir untuk jadi penyelamat kita kelak dan akan menunggu kita disurga-Nya." Tutur bang Age dan dijawab anggukan Siska.
Walaupun baru sebatas gumplaan darah, namun tetap saja sudah ada kehidupan dirahimnya. Siska mencoba menenangkan diri, berpikir positif, bahwa semua sudah menjadi takdir yang tak dapat mereka hindari.
"Sekarang kamu makan ya! Abang suapin." Titah bang Age dan dijawab anggukan Siska.
Bang Age mengambil piring, mulai menyuapi sang istri dengan telaten. Walaupun hanya beberapa suapan, namun bang Age cukup senang. Setidaknya ada yang masuk biar sedikit. Karena dari kemarin sangat susah membujuk istrinya itu makan.
"Abang gak marah kan sama aku?" Tanya Siska sendu, setelah Ia selesai meminum obatnya.
Bang Age mengelus rambutnya dan menangkup wajahnya mengarahkannya untuk menatap matanya.
"Untuk apa abang marah hem?" Tanyanya. "Dengerin abang, gak ada yang salah disini. Ini adalah sekenario yang Tuhan tulis untuk kita. Gak ada alasan abang buat marah sama kamu." Tuturnya.
"Tapi bang. Abang pasti kecewa sama aku. Aku gak bisa jagain buah hati kita, aku gak bisa lahirin dia." Tuturnya dengan air mata yang kembali luruh. Ini adalah kali pertama Ia mengungkapkan kegundahannya, hingga terasa lega dihatinya.
Bang Age kembali membawanya kedalam dekapan. "Abang kan udah bilang, jangan nangis lagi!" Tuturnya mengusap kepalanya. Siskapun mulai meredakan tangisnya. Hingga bang Age melerai pelukannya dan mengusap jejak kebasahan dipipinya.
"Udah ya! Kamu janji sama abang, gak akan nangisin ini lagi, ya!" Ucapnya dan dijawab anggukan Siska. Bang Age tersenyum dan mengusek pucuk kepalanya.
"Kamu tenang aja. Kita terus berusaha, kita bikin lagi sampe jadi."
"Kalau gak jadi?"
__ADS_1
"Kita bikin lagi, belum juga jadi, bikin lagi. Sampe bener-bener jadi." Ucap bang Age dan sukses membuat Siska tersenyum.
"Bahkan kalo bisa kita buat yang banyak." Tuturnya lagi membuat Siska tertawa kecil.
"Kalo banyak, emang abang sanggup ngasih makannya?" Tanya Siska yang mulai bisa dibawa bercanda.
"Kamu tenang aja, abang siap bekerja lebih keras lagi untuk anak-anak kita." Ucapnya membuat Siska berhambur memeluk tubuh tegap suaminya.
"Makasih bang! Aku sayang sama abang. Jangan tinggalin aku ya!"
Bang Age tersenyum. "Gak akan! Kita akan tetap seperti ini. Bersama sampai Tuhan memisahkan kita karena usia." Tuturnya membuat Siska semakin melesakan wajahnya di dada sang suami.
"Bang!"
"Hemm."
"Aku ngantuk, pengen bobo. Temenin ya!" Ajaknya dan didiyakan suaminya.
Bang Age membawa Siska merebahkan diri. Siska memeluk tubuh sang suami, mulai memejamkan matanya dengan tidur dilengan kekarnya. Hingga benar-benat terlelap.
"Kamu yang terakhir. Abang janji itu." Lanjutnya mencium keningnya lama. Hingga Ia pun ikut terlelap.
**
"Mih! Timom ana?" Tanya Aska pada Mamih Asti.
Setelah mendapatkan kabar mengenai Siska Mamih dan Papih bergegas berangakat ke desa. Dikarenakan pernikahan besannya juga yang akan segera digelar, keduanya memutuskan untuk menginap dan ikut mempersiapkan acaranya.
"Timomnya masih sakit sayang! Dede sama Mimih aja dulu ya!" Tutur sang Mamih memberi pengertian.
"De au iat timom mih" Rengeknya.
"Nanti ya sayang. Biarin timomnya istirahat! Bentar lagi dede Shaka datang, kita tunggu diluar ya!" Bujuk Mamih dan akhirnya diangguki balita tampan itu.
Mamih mengajak cucunya yang terus merengek ingin melihat timomnya, keluar rumah. Menunggu satu lagi cucunya yang tengah on the way kesana, beserta besannya juga.
__ADS_1
Keduanya menghampiri Papih yang tengah mengobrol dengan ketua RT disana, keduanya tengah membahas tentang persiapan pernikahan besannya yang akan digelar dua hari lagi.
Sebenarnya Ibu sempat menolak untuk mengadakan pernikahan diwaktu dekat. Mengingat keadaan putrinya yang belum stabil, membuatnya tak ingin menikirkan hal itu. Namun Siska bersikeras untuk tak mengundurnya, Ia sudah yakin kalau pak kades memang orang yang tepat untuk menjaga ibunya. Apalagi melihat betapa perhatiannya dia pada dirinya dan keluarganya, membuatnya semakin yakin untuk mengizinkan sang ibu segera melepas masa lajangnya.
"Pipi!" Teriak seorang balita yang baru keluar dari mobil dan berlari kearahnya.
"Ehh.. Cucu pipih, sini-sini!" Ajak Papih pada cucu keduanya.
Shaka mendekat dan langsung berhambur kepangkuan pipihnya yang juga tengah memangku Aska.
"Nda boweh pipi dede!" Aska menahan agar Shaka tak memeluk pipihnya.
"Pipi dede." Balas Shaka tak mau kalah .
"Udah! Udah! Kok berantem sih. Gak baik loh! Pipih punya kalian berdua, punya dede Sensen juga. Ya!" Tuturnya dan dijawab anggukan berjamaah keduanya.
"Dede Sen ana?" Tanya Aska.
"Hay Aka?! Nih dede Sen nya. Mau sun gak?" Tanya Ayra yang ikut menghampiri.
"Ya udah pak. Semua sudah terencana, besok saya kesini lagi sama tukang-tukang sekalian ya!" Dirasa pembahasannya sudah cukup, Pak RT pun pamit meninggalkan mereka.
Aska turun dari pangkuan Pipihnya dan mendekati Ayra yang sudah duduk dikursi, untuk melihat dede gemoy digendongan Mamanya itu yang tengah tertidur.
"Hai dede Sen?!" Sapanya menoel pipi gembilnya.
"Ma boweh nium nda?" Tanyanya
"Boleh!"
Aska tersenyum dan mendekatkan wajahnya mencium kening baby Sensen lama. "Ayangna aka!" cicitnya.
*************
Jangan lupa ya like dan komennya😊 vote sama tabur-tabur bunganya juga boweh🤭 biar mak othornya semangat gitu🙈
__ADS_1