Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 95 Rahasia bucin


__ADS_3

"Bang! Beneran mau berangkat kerja?" Tanya Siska untuk yang kesekian kalinya. Pasalnya Ia sungguh tak tega melihat lingkaran hitam diarea mata suaminya.


Malam yang seharusnya mereka lewati bersama untuk merenggut manisnya malam pertama di tragedi empat puluh hari, kembali ambyar. Acara buka puasa yang harusnya digelar malam kemarin kini gagal lagi. Jangankan untuk uwu uwuan, untuk menutup mata saja rasanya sulit untuk kedua orang tua baru ini.


Sang putri kembali rewel dimalam hari, bahkan Ia tak berhenti menangis membuat Papih dan timomnya kewalahan. Hanya sekitar lima menit, si cantik terlelap dan kembali bangun. Dan terus seperti itu sampai mereka tidur di jam subuh.


"Iya! Abang harus masuk. Kasihan Ar, harus menghendle kerjaan abang terus." Jawab bang Age yang tengah mengeringkan rambutnya.


Siska mendekat dengan membawakan pakaian untuknya. Ia mendudukan sang suami dikursi meja rias, meraih handuk yang dipegang suaminya dan mengeringkan rambutnya.


Bang Age tersenyum melihat sang istri dari pantulan didepan cermin. Ia raih tangan yang tengah bergerak dikepalanya dan menciuminya bolak balik. "Kamu gak papa kan jaga dede sendiri?" Tanyanya.


Siska ikut tersenyum dengan perlakuan sang suami. "Ya gak papa lah bang! Udah biasa aku tuh. Lagian ntar siang kak Ay kesini bawa anak-anak." Ucapnya.


"Ya deh percaya sama mantan baby sitter mah." Ledek bang Age yang sukses dapat usekan dari sang istri dan membuat mereka tertawa.


Bang Age mengenakan pakaiannya, dibantu Siska yang memakaikan dasinya.


"Bang nunduk dikit lah! Akunya gak nyampe." Protes Siska.


"Makanya tumbuh tuh ke atas, jangan kesamping!" Ledek bang Age tergelak dan sukses dapat tarikan dari dasi yang Ia pake.


"Astagfirulloh yang! Kalo abang kecekek gimana?" Protesnya membuat Siska ikut tergelak.


"Maaf bang itu reflek! Lagian sih abang pake ngeledek. Ini aku juga gak bisa nambah tinggi tuh regara abang." Tutur Siska.


"Kok abang?" Tanya bang Age heran.


"Iya lah regara abang. Coba aja abang bikin aku tinggi, bukannya aku malah dibikin lebar, melar, buncit lagi." Penuturan Siska sukses membuat keduanya tergelak.


Bang Age sedikit menunduk agar sang istri dapat memasangkan dasinya. Ia pandangi wajah serius sang istri yang tengah mengerjakan tugasnya. Atensinya beralih pada bibir ranum yang seolah memintanya untuk dijamah.


Ia sambar benda kenyal itu membuat Siska sedikit terlonjak namun tak ayal Ia pun membalas dan ikut menikmatinya.


"Morning kiss!" Kekeh bang Age seraya mengusap bibir yang sedikit menebal karena ulahnya itu dengan ibu jarinya. Kemudian memeluk pinggang sang istri dengan posesif.


Siska ikut tertawa seraya menarik hidung mancung sang suami yang isengnya bikin enak. Menarik kedua pipinya dan mengecup sekilas bibir nakalnya.


Siska mengusap bibir suaminya. "Awas ya, jangan nakal! Inget lawan kamu cuma dirumah." Ucap Siska membuat keduanya tak henti tertawa.


"Huh! Jadi males berangkat deh!" Keluh bang Age dengan menatap intens istrinya.


"Jangan gitu lah bang! Lama-lama abang bisa dipecat sama kak Ar." Peringat Siska.


"Emang kenapa kalau abang dipecat?" Goda bang Age.

__ADS_1


"Kalo abang dipecat, abang gak punya duit dong?" Godanya balik.


"Idihh! Istri abang sekarang matre ya?" Ledek bang Age.


"Ya dong harus. Hidup itu harus reality. Jaman sekarang gak matre, gak bisa hidup!" Balas Siska membuat mereksla tergelak.


"Iya deh. Abang akan bekerja keras buat kalian!" Ucap bang Age.


"Gak harus keras juga bang. Kerja juga harus seimbang. Tenaga sama uang sama-sama mengalir lancar." Tutur Siska membuat sang suami tersenyum.


"Soal mencukupi itu tergantung bagaimana cara kita mensyukurinya. Seberapa besar uang yang kita dapat, kalo kita tak pandai mensyukurinya. Maka uang itu takan pernah cukup." Lanjutnya.


"Jadi bekerjalah sesuai keseimbangan! Dan bersyukurah dari apa yang kamu dapat!"


Bang Age melebarkan senyumnya seraya menarik sang istri kedalam dekapannya. Mendekapnya erat seraya menciumi pucuk kepalanya bertubi-tubi. Ia begitu bersyukur dipertemukan dengan gadis bijak, yang begitu mengerti arti hidup.


"Iya sayang. Makasih petuahnya! Abang akan ingat itu! Ingatlah. Tegur abang jika abang salah! Peluk abang jika abang lelah! Tetaplah disamping abang bagaimanapun keadaannya!" Tuturnya dan dijawab anggukan sang istri.


Ia melerai pelukannya. Mencium keningnya lama dan mengusekan kedua hidung mereka gemas dengan lengkung senyum bahagia dari bibir keduanya.


"Ya udah, yuk sarapan! Abang laper nih!" Ajak bang Age membuat keduanya terkekeh.


"Iya ayo! Mumpung dedenya masih tidur." Balas Siska menggandeng lengan suaminya dan berlenggang keluar kamar.


"Kapan kamu masaknya?" Tanyanya yang merasa heran. Pasalnya sang istri bersamanya sedari pagi. Jadi bagaimana cara istrinya itu memasaknya?


"Tadi waktu abang mandi, aku tuh masak dulu." Balas Siska seraya menyiapkan sarapannya.


"Woww secepat itu?" Tanyanya dengan takjub.


"Ya iyalah bang. Bikinnya aja cuma nasi goreng, ya cepetlah!" Balasnya lagi dan disambut senyum manis suaminya.


Mereka mulai memakan sarapannya dengan mengobrol ringan mengenai pekerjaan sang abang. Hingga tak terasa sarapanpun selesai.


*


Siska mengambil tangan suaminya dan menciumnya takzim. Bang Age pun mencium pucuk kepalanya dan menguseknya gemas. Ritual wajib yang keduanya lakukan sebelum berangkat bekerja. Memamerkan ke uwuan didepan rumah yang menjadi bahan ghibahan para teteangga. Namun hal itu tak dihiraukan pasangan bucin ini, dan menganggapnya hanya sebagai angin lalu saja.


"Abang berangkat ya! Ati-ati dirumah!" Pesannya.


"Iya bang! Abang juga ati-ati ya! Jangan ngebut-ngebut! Jangan meleng! Jangan-" Ucapannya terhenti kala sang suami mengecup bibirnya.


Cup!


"Kalo gak gitu, abang gak akan berangkat!" Kekehnya membuat Siska tersenyum.

__ADS_1


Bang Age memasuki kijang besinya. Ia melambaikan tangannya seraya menjalankan mobilnya. "Bye sayang!"


"Bye!"


Setelah mobil sang suami berlalu keluar pagar, kini Ia hendak memasuki rumahnya. Namun seseorang menghentikan langkahnya.


"Neng Siska!" Sapanya.


Siska menoleh dan melihat dua wanita sebayanya memasuki halaman rumahnya.


"Iya. Ada apa mbak?" Tanyanya.


"Si abang udah berangkat ya?" Tanya salah seorang dari mereka.


"Iya. Kenapa emang?" Tanys Siska merasa aneh dengan tingkah keduanya.


"Gak nanya aja! Eh kek nya kalian tuh bucin banget ya? Bagi tips dong gimana sih caranya biar suami nempel terus?" Tanyanya lagi.


"Iya. Yang aku tau bang Agung tuh galak banget. Tapi kok ya, sama istri-istrinya tu lembuut banget. Gak sama yang dulu, gak sama yang sekarang. Nemplok terus!" Tutur satu temannya.


Siska tersenyum kikuk seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal, bingung harus menanggapi seperti apa pertanyaan mereka.


"Ayo dong! Rahasianya apa? Ada pelayanan khusus atau gimana?"


"Atau mungkin ada gaya yang bikin dia tergila-gila gitu?"


Kedua wanita itu dengan semangat terus mencecar Siska, membuat Ia kebingungan sendiri. Hingga ide jahil terbesit diotaknya.


"Jadi gini mbak-mbak!"


Kedua wanita itu dengan semangat mendekat untuk mendengar jawaban Siska.


"Rahasianya cuma satu!" Balas Siska hingga membuat keduanya heboh.


"Apa? Apa?" Tanya keduanya semangat.


"Bikin martabak kacang spesialnya yang manis dan juga legit." Balas Siska tersenyum dan berelnggang meninggalkan mereka yang kebingungan.


******************


Jangan lupa jejaknya gaiss!! Ayo ramaikan😊



Dibonus Dede Kia😍🤭

__ADS_1


__ADS_2