
Gubbrraakk!!!
"Astagfirulloh! Pak!" Bang Age kaget bukan main. Ia berjongkok, mencoba membangunkannya dengan menepuk-nepuk pipinya seraya menyangga kepalanya keatas paha.
"Pak! Bapak bangun! Bapak kenapa?" Bang Age panik, hingga meneriaki sang istri didalam sana.
"Sayang! Sini sayang. Ini gimana?" Teriakannya mampu membuat Siska ngacir menghampiri suaminya dengan menggendong putranya. Begitupun ibu, mendengar jeritan menantunya. Ia pun bergegas membersihkan sisa busa ditangannya dan ngibrit lari kedepan.
"Astagfirullohaldzim!" Pekik ibu dan Siska serempak.
Ibu berjongkok, berusaha ikut membangunkannya. "Pak! Pak kades? Bapak kenapa? Bangun pak!" Ucap Ibu menggoyangkan lengannya. Namun tak ada pergerakan juga darinya.
"Ya udah nak Agung, tolong angkat aja ke sofa ya!" Titah ibu dan dijawab anggukan menantunya.
Bang Age berusaha mengangkat tubuhnya, yang lumayan memiliki bobot berat itu.
"Ya ampun! Berat sekali. Padahal terlihat kecil, tapi kok ya berat! Kebanyakan dosa kek nya ni bapak." Celotehnya.
Dengan terengah-engah bang Age membawanya hingga saat akan sampai diatas sofa, tiba-tiba saja kaki bang Age tersandung. Hingga tanpa sengaja bang Age membanting tubuh sang bapak.
Brrukkk!!
Untung saja tubuh pak kades terhempas keatas sofa. Membuat si empunya tubuh membuka matanya dengan gelagapan.
"Gempa! Gempa! Tolong ada gempa!" Teriaknya dengan celingukan kiri dan kanan. Ketiga orang itu melongo melihat apa yang terjadi didepan mata mereka.
Hingga akhirnya bang Age tersadar dan segera menenangkan pria yang menjadi pemimpin kebanggaan desanya itu.
"Pak! Pak sadar pak! Gak ada gempa." Ucap bang Age membuat pak kades terdiam dengan nafas terengah-engah.
Siska dan ibu yang tadi melongo, kini melipat bibirnya serentak kala mengingat kejadian tadi. Sangat lucu. Hingga ibu berlalu kedapur untuk mengambilkan minum.
"Bapak gak apa-apa kan?" Tanya bang Age.
"Nggak! Saya gak papa!" Jawabnya kikuk merasa malu sendiri.
"Saya kaget pak. Tiba-tiba bapak pingsan dihadapan saya. Apa bener bapak gak papa? Gak punya penyakit serius gitu pak? Ayan misalnya?" Tanya bang Age dan sukses membuat raut wajah pak kades tak bersahabat.
"Saya gak papa! Saya sehat." Sewotnya.
"Ya kali pak! Biasa aja lah, saya kan nanya." Timpal bang Age tak kalah sewotnya.
Siska yang ikut duduk disisi suaminya, mencoba menenangkannya dengan menggenggam tangannya.
"Eh! Itu kenapa pegang-pegang?" Tanyanya melirik kearah tangan keduanya. "Oh iya. Kamu tamu kan disini? Sudah lapor belum?" Tanyanya lagi.
Bang Age ingin menimpalinya, namun suaranya tercekat ditenggorokan kala pak kades kembali bertanya.
"Kamu kalo bertamu itu harus sopan. Laporan dulu. Terus kamu siapanya Siska atau siapanya bu Titin?" Cecarnya.
__ADS_1
Bang Age menghembuskan nafasnya menahan kekesalannya. Hingga enggan mengeluarkan kata-katanya lagi.
"Kok diem? Jawab dong!" Ucapnya lagi membuat bang Age gereget, 'kalo saja bukan pemimpin desa ini, sudah gue seleding.' Batinnya.
"Udah bapak nanyanya? Saya jawab nih." Timpal bang Age sedikit sewot.
"Ya udah jawab!" Timpal pak kades mengalihkan tatapannya ke arah lain, melihat raut muka masam bang Age.
"Iya. Saya tamu disini. Saya belum sempat lapor, karena saya baru datang. Dan saya disini sebagai suaminya Siska. Menantunya bu Titin. Sudah jelas kan bapak kades yang terhormat!" Tegas bang Age dengan menekan kata terakhirnya.
Pak kades menghembuskan nafasnya panjang, merasa lega. Ia yang sudah menduga, pria didepannya calon suami wanita yang Ia incar. Menjadikannya ketar ketir tak karuan.
"Ya sudah. Saya anggap ini laporan kamu sebagai tamu." Tuturnya dan dijawab anggukan bang Age.
"Eh! Tunggu dulu. Kalian udah menikah? Kapan? Kenapa gak laporan ke desa? Nikahnya dimana?" Cecarnya bertubi-tubi membuat bang Age kembali gereget.
"Bapak bisa gak, bertanya tu satu-satu. Saya pusing jawabnya? Dikira mesin apa, nanya gak kira-kira?" Protes bang Age.
"Eh! Kamu tu yang sopan ngomong sama saya. Saya tu calon ayah mertua kamu." Timpal pak kades membuat Siska melipat bibirnya dan bang Age yang melongo mendengar pengakuan bapak pemimpin warga disini itu. Namun seketika ide jahil hinggap diotaknya.
"Oh! Jadi bapak calon ayah mertua saya?" Goda bang Age membuat pak kades gelagapan karena keceplosan.
"Emm sayang. Menurut kamu yang mana yang cocok sama ibu? Pak kades atau yang itu?" Tanya bang Age pada sang istri dengan menaik turunkan alisnya seraya memberi kode.
Dan dengan tanggapnya Siska ikut menimpali dengan serius. Membuat pak kades tak berkutik, dengan kucuran keringat didahinya. Berasa diacara audisi pemilihan calon bapak oleh sang calon anak. Pikirnya.
Hingga ibu datang membawakan minuman untuk si bapak kepala desa ini.
"Nih! Pak minum dulu!" Titah ibu menyodorkan minuman kehadapannya.
"I-iya neng. Makasih!" Ucapnya sedikit tergugup.
Seketika bang Age dan Siska melipat bibirnya, melengos kebelakang bersamaan. Bukan karena kegugupannya yang membuat mereka menahan tawa, namun karena kata 'Neng' yang tersemat dikalimatnya sukses membuat mereka menahan perutnya.
"Ada apa ya bapak kesini?" Tanya ibu.
"Saya. Saya." Pak kades tampak ragu untuk mengutarakan kalimatnya. Apalagi melihat calon anak dan calon anak menantunya yang sudah siap meledakan tawanya.
Namun Ia juga harus mengutarakan niatnya, tak hanya didepan pujaan hatinya saja. Ia juga harus mengutarakannya pada calon anaknya, sebagai perwakilan dari pada wanita didepannya.
Dengan menghela dan menghembuskan nafasnya berulang kali, sebelum memulai obrolannya. Pak kades juga mengumpulkan keberaniannya yang tiba-tiba menciut menghadapi ketiga orang didepannya. Padahal Ia sering berbicara bahkan didepan petinggi pemerintahan sekalipun, namun nyatanya tidak dengan hal satu ini. Perasaan takut kena tolak menjadi alasan utamanya.
Keringatnya terus mengucur didahinya. Hingga sepertinya sudah memenuhi seluruh tubuhnya. Dan Ia masih belum bisa mengeluarkan katanya, membuat kedua orang yang tadi tengah menahan perutnya menoleh kembali.
Bang Age mencoba menetralkan dirinya dengan berdehem keras dan hal itu justru membuat pak kades terlonjak. Merasa tengah disidang.
Bang age kembali menahan perutnya, begitupun Siska. Hingga suara ibu membuat mereka mulai bisa mengontrol dirinya.
"Issshhh kalian ini! Suuuutt!" Peringat ibu.
__ADS_1
"Pak!" Sapa ibu.
"I-iya!" Jawabnya masih gugup.
"Sebenarnya ada apa bapak kemari?" Tanya ibu hati-hati.
Pak kades kembali menghembuskan nafasnya panjang dan mulai berbicara. "Saya kesini punya niat baik. Dihadapan neng-" Belum sempat pak kades menyelesaikan ucapannya, bu Titin menyeleknya.
"Maaf pak. Ibu aja!"
Pak kades tersenyum kikuk merasa malu pada kedua calon anaknya. Namun Ia berusaha kembali menekan rasa itu.
"Maaf! Maksudnya bu Titin. Jadi bu Titin sesuai yang kita bicarakan tadi, saya akan berbicara pada putri dan menantu ibu." Tuturnya dan dijawab anggukan ibu.
"Nak Siska dan nak?" Pak kades berhenti sejenak, karena melupakan nama pria didepannya.
"Agung pak!" Timpal Bang Age.
"Iya. Maaf saya lupa. Nak Siska dan nak Agung! Saya berencana melamar ibu kalian. Apa kalian bisa mengizinkannya?" Tanyanya.
Siska dan bang Age saling lirik. Membuat Pak kades kembali tegang.
"Kalo kami, terserah ibunya saja. Kami akan menerima apapun keputusan ibu." Timpal bang Age membuat nafas pak kades lega.
"Gimana bu?" Tanya pak kades hati-hati.
"Saya! Saya! Maaf pak saya gak bisa!" Timpalnya.
"Kenapa?" Tanya pak kades sedikit shok.
"Tuh! Banyak saingannya." Balas ibu menunjuk keluar jendela. Hingga atensi mereka mengikuti arah yang ditunjuk ibu.
*************
Jangan lupa jejaknya ya readerss😊 Ramaikan kolom komentarnya! Tabur-tabur bunga juga boleh🤭 Terus terus yang belom ngasih vote, kasih dong🙈
Yang nungguin keuwuan bocah remaja. Ntar yaa! Entah kapan up nya😁 Agak kurang semangat euyy, gak semua nongol disana soalnya😂 Tapi tenang, diusahain tetap up! Dukung terus yaa😉
Ini yang nahan tawa untung gak ngompol yaa🙈
Ini partner satu servernya😂
Ini yang hanya diam menyimak😍😍😍
__ADS_1