
Drrrtt! Drrtt!!
Bunyi dari dering Hp yang tersimpan diatas nakas, mampu membangun sepasang manusia yang masih meringkuk dibalik selimutnya. Padahal matahari sudah naik hampir mencapai titik khatulistiwa, namun karena kegiatan candu berkedok buka puasa yang keduanya lakukan. Membuat keduanya terlalu nyaman merebahkan diri dan menutup matanya.
"Iya. Hallo!" Siska mengangkat panggilan yang masuk tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
"Timom ana?" Pekikan dari sebrang sana sukses membuat Siska terbangun dan duduk.
"Ya ampun aka. Ya kak ini timom!" Ucap Siska khawatir. Mendengar dari suaranya, sepertinya putranya itu tengah menangis.
"Timom ana? Apa nda puwang?" Suara serak dengan isakan kecil dari sebrang membuat Siska merasa bersalah.
"Maafin timom sayang. Hari ini juga timom pulang ya! Aka jangan nangis. Oke!" Sesal Siska dengan mencoba membujuknya.
"Nda mau timom!" Jeritan dari putranya, semakin membuat Siska merasa bersalah. Sepertinya sang Mamih tengah menenangkannya, namun malah semakin membuat balita itu menjerit.
"Cup! Cup! Jangan nagis ya, gantengnya timom! Sekarang juga timom pulang, ya! Aka nya jangan nangis ya!" Bujukan Siska akhirnya bisa menenangkan putranya itu.
"Nah pinter! Kalo gak nangis, ntar timom bawain telur dodorjoy ya!" Bujuknya lagi dan diiyakan putranya itu. Mainan berbentuk telur dengan isi coklat kue dan bermacam-macam mainan mampu membuat balita itu riang kembali.
Setelah memberi pesan pada sang Mamih sebentar, akhirnya panggilan pun terputus. Ia menoleh dan mendapati sang suami menutup mata dengan sebelah lengannya.
"Bang!" Siska menggoyangkan lengan suaminya, mencoba membangunkannya. Walaupun Ia tau sang suami sebenarnya sudah terbangun, namun sepertinya masih enggan membuka matanya.
"Hemm.." Hanya deheman yang keluar dari bibir sexy nya.
"Bangun bang kita harus pulang. Mamih telepon, Aka nangis terus. Kasihan dia." Tuturnya namun tak mendapat sahutan dari suaminya.
"Bang! Yuk pulang!" Ajaknya menggoyangkan kembali lengan suaminya.
Bang Age menyingkirkan lengan dari matanya dengan berdecak kesal. "Ck! Baru juga semalam kita disini. Semalam lagi lah!" Ucapnya.
"Tapi kasihan Aka nya. Udah yuk pulang!" Ajaknya lagi.
"Tapi abang masih pengen disini. Pengen ngabisin waktu berdua sama kamu, kek gini." Tuturnya menarik tubuh Siska untuk Ia dekap, hingga membuat Siska berontak.
__ADS_1
"Ihh abang!" Siska memukul dada suaminya yang sudah sukses mendekapnya.
"Kalo mau kek gini, dikamar kita juga bisa. Lagian abang tuh, mubazir banget buang-buang duit buat nginep disini. Padahal cuma buat buka puasa makan martabak mah dikamar juga tiap malam kita lakuin. Sayang banget kan tuh duit, kalo dipake buat keperluan rumah kita bisa dapet segala itu." Cerocos Siska panjang kali lebar membuat bang Age tersenyum.
Ia sambar lambe yang tak mau berhenti mengomel itu. Melu matnya lembut. Tak lama Ia melepaskan bibir yang mengerucut dengan decakan kesal. Bukannya ditanggapi eh malah disosor.
"Abang mah ih! Lagi ngomong juga." Omelnya.
"Kamu tuh ya!" Bang Age menarik hidungnya gemas hingga nembuat sang istri meringis.
"Seneng banget nyerocos." Ledeknya membuat Siska mencebikan bibirnya.
"Istri siapa sih? Bijak bener." Godanya dengan menarik kedua pipinya gemas hingga kembali membuat Siska meringis meminta dilepaskan.
Ia dekap tubuh ramping sang istri dan menciumi pucuk kepalanya. "Makasih ya sayang! Abang beruntung bisa dapetin gadis cerewet kek kamu." Ucapnya dan langsung kena timpuk sang istri.
"Ihh abang mah gak ada manis-manisnya, jujur banget sih." Protes Siska membuat sang suami tergelak.
"Gak ada manisnya abang tuh. Manisnya udah dikamu semua." Timpal bang Age disela tawanya namun tak ayal membuat Siska tersenyum juga.
"Kamu tu gak digembelin aja udah melehoy sama abang. Apalagi kalo digembelin, auto pingsan mulu tuh." Timpal bang Age membuat keduanya tergelak.
"Makasih ya sayang. Sudah menjadi istri dan ibu untuk abang dan Aka." Tutur bang Age dengan semakin mengeratkan dekapannya.
"Abang begitu bersyukur memiliki kamu. Gadis sempurna yang mau menerima segala kekurangan abang. Kamu segalanya buat abang. Love you istri imutku." Tuturnya membuat sang istri tersenyum dan tersipu.
"Aku juga bersyukur banget memiliki abang. Biarpun abang suka ngeselin, tapi itu yang bikin aku makin cinta sama abang." Tutur Siska, Ia sampai menciumi dada polos sang suami.
"Love you, love you, love you abang duda. Eh abang hubby." Tuturnya lagi diiringi gelak tawa membuat sang suami ikut tergelak.
"Ya udah yuk bang, kita pulang! Kasihan Aka." Ajak Siska.
"Bentar lagi lah." Tutur bang Age yang enggan melepas dekapannya.
"Ayo lah bang. Kasihan itu anak abang ih!" Protes Siska kembali memukul lengan sang suami.
__ADS_1
Bang Age melerai pelukannya menatap wajah sang istri dan tersenyum jahil. "Kita terakhiran dulu gimana?" Tawarnya dengan nada menggoda dan alis yang naik turun membuat Siska melongo.
Siska mengusap wajah suaminya. "Gak usah ngadi-ngadi deh bang! Ini tuh udah siang. Diskip dulu aja! Buat ntar malam." Tuturnya.
"Bentar aja ya!" Rayu bang Age.
"Bentarnya abang tuh lama. Kek enak aja bentaran." Gerutunya.
"Jadi suka yang lama ya?" Goda bang Age membuat Siska mencebikan bibirnya. Padahal gak usah dijelasin juga, udah pada tau ya!
"Isshhh abang. Udah ah hayu!" Siska mengeplak lengan suaminya membuat sang abang semakin gencar menggodanya.
"Hayu! Mau pake gaya apa?" Godanya lagi.
"Ihhh abang!" Siska kembali memukuli dadanya membuat sang suami tergelak.
Bang Age kembali menarik tubuh sang istri kedalam dekapannya. Menciumi pucuk kepalanya berkali-kali. Ia begitu bahagia mengenal dan memiliki sosok didekapannya itu. Kasih sayang yang diberikan sang istri terhadap putranya itu begitu tulus.
Ia benar-benar harus banyak bersyukur memiliki wanita tangguh didekapannya itu. Wanita yang mampu mengembalikan semangat hidupnya. Wanita yang dengan sabarnya menerima dirinya yang membutuhkan banyak waktu untuk move on dari masalalunya. Wanita yang siap dengan segala keadaannya. Wanita yang begitu dewasa menyikapi sekitarnya meski diusianya yang masih belia.
Ia begitu beruntung memilikinya. Dan hal itu membuat Ia takut kehilangannya. Takut akan sikapnya berubah. Takut dia akan meninggalkannya. Hingga Ia berjanji dalam hatinya tak akan menyia-nyiakannya dan akan berusaha untuk terus membahagiakannya.
"Bang!"
"Hemm.."
"Udah yuk! Kasihan Aka." Tuturnya membuat sang suami melerai dekapannya. "Kita harus cepetan pulang. Aku takut Aka gak berenti nangis. Kasihan juga Mamih." Bujuknya dan diangguki sang suami.
"Ya udah, kamu pake baju dulu gih!" Titahnya pada sang istri yang memang hanya menggunakan bathrob.
Setelah mengiyakan Siska pun berlenggang ke kamar mandi bersiap-siap dan kembali mengenakan pakainannya. Bang Age pun bangun, Ia menghembuskan nafasnya panjang melihat ranjang bekas pertempuran mereka yang acak-acakan bak tergulung tsunami. Sejujurnya Ia masih menikmati moment honeymoon dadakannya ini bersama sang istri. Namun apalah daya, buntut tak bisa diajak kompromi.
**************
Ayo gaiss ramaikan lagi! Jangan lupakan jejaknya😉 Satu lagi nyusul yaa🤭
__ADS_1