
Sementara itu para bocil yang sudah menyapa calon onty nya, kini tengah bermain dihalaman samping. Rei mengajak kedua ponakannya untuk melihat kelinci peliharaannya didalam kandang khusus yang dibuat pekerjanya.
"Om. Puna dede yang ntu ya?" Ucap gadis kecil itu menunjuk kelinci berwarna hitam putih layaknya seekor sapi perah.
"Boleh. Aka mau yang mana?" Tanyanya pada si kalem.
"Gimana dikasih om aja." Balas bocah tampan itu membuat Rei tersenyum.
"Aka nda acik. Nda miyih!" Protes Kia.
Kedua lelaki tampan itu tertawa mendengar celotehan gadis cantik kesayangannya. Kadang masih banyak kata-katanya yang belum mereka mengerti.
"Harusnya dede juga jangan milih. Gimana dikasih om aja." Nasehat Aska.
"Api aku na penen yang ntu. Ya om ya boweh ya!" Rengeknya pada sang om seraya menggoyang-goyangkan lengannya.
Rei tersenyum seraya mengangguk mengiyakan dan mengusap sayang kepala keponakannya.
"Kia!!!" Panggilan seseorang membuat mereka menoleh.
"Vani!!" Kia berhambur mendekati gadis kecil yang datang bersama ibunya.
"Udah nyampe duluan ya?" Tanya mama Lia dan dijawab anggukan Aska dan Rei.
"Ya udah. Kakak titip Vani dulu sebentar ya!Mobil Kakak mogok disana, mau cari bantuan dulu!" Ucap Lia pada Rei dan diiyakan olehnya.
Lia pergi kedalam rumah untuk mencari bantuan, Ia yang tak melihat para pria paruh baya ataupun suami dari sahabatnya berlenngang mendekati dua orang yang tengah duduk disofa.
"Pada kemana sih sepi banget?" Tanya Lia pada sepasang kekasih itu. "Tunggu! Kalian? Pacaran?" Tanyanya dengan kepo.
"Ck! Kepo banget lu!" Balasnya dengan decaakn kesal.
"Idihh biasa aja kali. Gue kan cuma nanya." Timpal Lia ikut sewot. "Si abang kemana?" Tanyanya.
"Ngapain lu nyari di abang? Mau kena gorok Siska?" Tanyanya.
"Idiihh emang gue mau ngapain dia? Orang mau minta bantuan juga." Balasnya dan dijawab gedikan bahu olehnya.
Gadis yang sejak tadi melihat interaksi pria disampingnya dan wanita didepannya hanya menatap keduanya bergantian.
"Euhh gue tau. Pasti mereka lagi ngamer tuh! Dasar emang pasangan bucin, gak tau waktu, gak tau tempat emang!" Omelan Lia membuat Rangga semakin berdecak kesal.
"Ck! Ngapain sih lu, misuh-misuh disini? Pulang sana!" Usirnya.
Kalau waktu sekolah mendengar ancaman si ketua osis ini akan membuatnya ketakutan, berbeda dengan sekarang tak ada takut untuknya pada pria dingin itu.
"Ini juga gue mau pulang. Cuma tuh mobil gue mogok!" Tuturnya. Ia mendekat seraya menepuk pudaknya. "Bantuin gih!" Titahnya.
Rangga memutar bola matanya malas seraya menggerakan bahunya agar tangan yang bertengger dibahunya terlepas.
"Ck! Ayo dong! Kasihan tuh laki gue." Bujuknya. Rangga masih terdiam tak menanggapi.
__ADS_1
"Ga!" Rengeknya. "Punya ilmu tuh jangan pelit-pelit napa?! Ayo dong lu kan baik." Pintanya.
"Ga! Please! Kasihan suami gue." Bujuknya lagi menangkup kedua tangannya seraya memohon.
Rangga menghembuskan nafasnya panjang. Tentu Ia tak tega untuk melihat seorang wanita memohon seperti itu. "Iya! Gue bantu." Jawabnya seraya berdiri.
"Nah gitu dong! Thanks ya!" Ucap Lia dengan senyuman manisnya.
"Ga!" Cegat gadis disampingnya.
"Bentar. Lu tunggu disini!" Titahnya seraya beranjak pergi.
"Ck!" Si gadis berdecak kesal seraya melipat tangannya didada.
Lia mengerenyit heran melihat tingkah gadis itu. "Ngapa lu?" Tanyanya.
Si gadis hanya menatap tajam sebentar, lalu memutar bola matanya malas, tanpa mau membalas ucapan Lia.
"Aneh!" Lia hanya geleng-geleng kepala seraya berlalu untuk menyusul Rangga.
*
Sementara itu dihalaman rumah, keempat bocah tengah asyik memberi makan hewan berbulu yang berloncatan dikandangnya itu.
"Van! mau piyih mana incinya?" Tanya Kia.
"Aku mau ntu!" Tunjuknya pada kelinci berwarna coklat dengan hitam dibagian jambul nya.
"Ntu udah dikacih aka cama om na!" Balas Kia dan disambut bibir cemberut sahabatnya.
Vani melihat kearah Aska dan menyunggingkan senyuman manisnya. Kemudian berjingkrak bersama sahabatnya. "Yeyyy! Bat aku! Maacih aka!" Ucapnya.
Kedua balita cantik itu terus berjingkrak ria membuat kedua bocah tampan itu tersenyum seraya menggelengkan kepala.
"Mereka lucu banget ya?" Tanya Rei.
"Iya! Gemesin." Balas Aska.
Gelak tawa begitu riuh dari para bocah disana. Hingga Mamih datang membawakan eskrim untuk mereka.
"Sayang! Berenti dulu mainnya. Nih Mimih bawain eskrim buat kalian!" Titahnya pada semua bocah disana.
Kedua balita cantik itu berjingkarak semangat. Mereka berlarian menuju sebuah gazebo, dimana sang Mimih membawa eskrim disana. Kedua bocah tampan pun ikut mengekori keduanya.
"Mih? Puna dede ana?" Tanya Kia.
"Nih. Ini eskrim rasa coklat kesukaan dede sama om." Balas Mimih.
"Nih! Khusus punya aka rasa pisang." Ucapnya dan memberikan pada cucu laki-lakinya.
"Nah, ini buat Vani. Mimi gak tau kesukaan Vani. Ada coklat, vanila sama stawberry. Vani suka yang mana?" Tanya Mimih.
__ADS_1
Vani diam sebentar dengan ragu Ia menunjuk eskrim ditangan Aska. "Aku cuka pican. Puna aka!" Ucapnya.
Mendengar penuturan itu Mamih sedikit melipat bibirnya. Sepertinya otak Mamih sedang menjurus pada hal yang iya-iya. Pemikirannya tengah traveling pada si pisang yang membuatnya salah paham. Hingga Kia menyadarakannya dari lamunan.
"Mih! Vani nda cuka cemua ecim nya. Dia cuka na picang!" Jelas Kia.
Mamih berdehem sebentar, untuk menetralkan dirinya. "Aduh! Sayang maaf ya, mimih nggak tau. Tapi stok dikulkas lagi abis." Sesal Mamih.
"Ya udah mih. Gak papa! Berdua aja sama Aka." Timpal Aska.
"Emang gak papa kak?" Tanya Mamih dan dijawab gelengan dan senyum Aska.
"Vani! Sini mam eskrim sama Aka!" Ajak Aska.
Balita cantik itu menurut dan duduk didepan Aska. Dibukanya tutup eskrim dalam cup wadah sedang itu membuat mata Vani berbinar. Ia hanya terdiam melihat Aska menyendokan eskrimnya dan memasukan ke dalam mulutnya.
"Kenapa gak makan?" Tanyanya yang melihat gadis kecil itu hanya terdiam. Aska yang baru mengerti kembali menyendokan eskrimnya dan menyodorkannya tepat didepan bibir Vani.
"Nih!"
Vani masih terdiam, merasa ragu untuk menerima suapannya.
"Gak papa! Nih! Aka suapin." Bujuknya membuat gadis kecil itu sedikit menyunggingkan senyum dan membuka mulutnya. Hingga eskrim pun masuk kedalam mulutnya.
"Nah! Pinter!" Puji Aska dengan mengusek pucuk kepalanya membuat Vani tersenyum seraya bertepuk tangan.
Mamih yang melihat keakraban mereka tersenyum dan berlalu kembali kedalam rumah.
"Om! Dede juda mau cuapin kek Vani." Pinta balita cantik dan cerewet itu pada om nya.
Rei tersenyum melihat tingkah ponakan cantiknya. "Boleh. Sini om suapin!" Titahnya.
Kia mendekat dan segera membuka mulutnya untuk disuapi sang om.
"Aaa!"
Bukannya masuk kedalam mulut ponakannya eskrim yang Ia sendokan malah Ia belokan dan masuk ke dalam mulutnya sendiri.
"Ihh om na!" Rengek Kia membuat sang Om tergelak.
"Iya! Iya nih! Aaa!"
Kia kembali membuka mulutnya, namun lagi-lagi eskrim berbalik kedalam mulutnya. Dan hal itu membuat balita cantik itu merajuk dan cemberut.
"Nggak deh! Yang ini asli nih buat dede." Rayu sang om dan dijawab gelengan Kia.
Sepertinya balita cantik itu benar-benar merajuk. Hingga sang om terus merayunya. Akhirnya ketika sang om kembali hendak mengelabuinya. Dengan cepat Kia menyambar sendok yang hendak masuk kemulut omnya. Hingga Rei melepas sendoknya dan tersenyum.
"Yey!!" Kia berjingkrak senang dengan sendok yang memempel dimulutnya.
"Om kayah. Dede menan! Om janan tipu-tipu agi! Doca tau!" Peringat balita cantik itu, hingga sang om tergelak seraya mengusek pucuk kepalanya.
__ADS_1
**************
Jangan lupa jejaknya yaa gaiss!! InsyaAlloh malam di up lagiš¤