
Uhukkk!! Uhukkk!!
Air berwarna coklat nan hangat dari cangkir yang seharusnya masuk melewati kerongkongan, berbelok masuk melewati tenggorokan. Membuat seorang wanita tersedak, hingga mengeluarkan air matanya.
"Ya ampun! Hati-hati dong yang!" Omel sang suami pada istrinya itu seraya menepuk-nepuk punggungnya pelan.
"Ini juga hati-hati bang, malah berjam jam aku tiup mulu ini." Balas sang istri dengan terus berdehem menetralkan rasa pedih ditenggorokan dan hidungnya.
"Nih! Minum air putih dulu." Titahnya dan langsung disambar sang istri. Lalu Ia pun menegaknya hingga tandas.
Kini sepasang suami istri yang masih saja bucin diusianya itu, tengah menikmati secangkir teh dan kawan-kawannya didepan tv. Bang Age dengan telaten mengusap punggung sang istri dan mengelap keringat dan air mata yang menyatu karena drama tersedaknya tadi.
"Kek nya ya bang! Ada yang lagi ghibahin aku nih." Tutur Siska.
"Ck! Mitos itu. Masih aja dipercaya." Balasnya dengan masih melakukan aktifitas yang sama.
"Ya bisa jadi bang. Soalnya pas tadi tersedak tuh wajah si pelaku nongol didepan aku." Jelas Siksa membuat Sang suami mengerutkan dahinya heran.
"Siapa?" Tanyannya heran. "Ada gitu yang berani ghibahin istrinya abang?" Lanjutnya dengan nada tersulut.
"Ishh ya ada lah bang. Seleb aja makin terkenal makin dighibahin." Balas Siska.
"Emang kamu terkenal apanya?" Goda bang Age seraya mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri.
"Menurut abang apanya?" Godanya balik.
"Goyangannya." Balas bang Age seraya menoel hidung sang istri manja, lalu medekapnya erat dan sukses membuat keduanya tergelak.
"Kek nya ya bang. Princess kamu tuh lagi misuh-misuh, karena tiba-tiba mau dijodohin." Tutur Siska setelah keduanya menghentikan tawanya.
"Biarin lah, biar dia cepat berpikir dan cepat dewasa." Balas bang Age seraya membelai rambut istrinya dan tak henti menciumi pucuk kepalanya.
"Abang yakin mau jodohin dede sama dia?" Tanya Siska mulai serius dengan mendongakan wajahnya menatap suaminya.
"Kenapa? Kamu ragu?" Tanya bang Age lagi.
"Nggak sih bang. Aku yakin dia yang terbaik. Dan ini jalan terbaik juga buat dede." Balas Siska membuat suaminya tersenyum seraya mengusek pucuk kepalanya.
__ADS_1
"Udah kamu tenang aja. Biarin dia memikirkan itu. Sekarang kamu doain aja, semoga acaranya gak amburadul." Kekeh bang Age.
Siska mengeplak dada suaminya manja. Tau pasti yang dipikirkan suaminya itu. Putrinya pastilah memberontak, dan mereka harus mempersiapkan itu.
Bang Age menghembuskan napasnya panjang. "Bentar lagi, kita bener-bener ditinggalin anak-anak ya?" Ucapnya.
Siska tersenyum menanggapinya. "Iya. Kamu bakal jadi wali bang." Kekehnya dan sukses mendapatakan usekan dikepala dari sang suami.
"Mak othor tega bener ya, kita dibikin tua. Padahal kan abang udah menolak tua." Kekeh bang Age.
"Gak papalah bang tua juga. Asal tua bersamaku." Timpal Siska membuat keduanya tergelak.
"Ya deh, yang penting masih tetep kuat ya?" Goda bang Age.
"Iya dong! Yang penting masih bisa bikin ngempor." Kekeh Siska.
"Ya udah yuk kita ngempor-ngemporan!" Ajak bang Age terkekeh dan sukses dapat cubitan manja diarea roti sobeknya. Hingga keduanya kembali tergelak.
.
.
"Kenapa?" Tanya Rei yang datang membawa dua kelapa muda ditangannya.
"Ini om, tiba-tiba aja telingaku panas banget." Rengeknya seraya mengibas-ibas tangannya didepan telinganya.
Rei mendudukan diri disamping sang gadis setelah mendudukan kedua minuman yang menyegarkan yang tadi Ia bawa keatas meja. "Mana om lihat?"
Rei melihat daun telinga gadisnya yang benar saja memerah, bahkan terlihat dower. Ia menghembuskan napasnya panjang, merasa khawatir akan keadaan sang gadis. Ia meniup telinga memerah itu pelan, untuk sedikit mengurangi rasa panas yang menjalar di kulit keras nan lentur itu.
Namun hal itu justru membuat wajah Kia semakin memanas. Kala hembusan angin dari bibir sang om, tak hanya mengenai telinganya saja. Namun juga mengenai ceruknya dan sukses membuat bulu kuduknya meremang seketika.
"O-om!" Panggilnya dengan gugup.
"Hemm?" Sang om, kian mendekati wajahnya. Dan hal itu semakin membuat wajahnya terasa terbakar.
"Jangan deket-deket!" Pekiknya seraya menjauhkan wajahnya. Tentu hal itu membuat Rei mengerutkan dahinya heran.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanyanya.
"Om," Ucapnya sedikit ragu. Rei kembali menaikan satu alisnya dan masih keheranan.
Kia tak meneruskan ucapannya. Ia menarik dan menghembuskan napasnya berulang kali. Mencoba menetralkan rasa panas pada seluruh wajahnya.
"Kamu sakit?" Tanya Rei, dengan menempelkan punggung tangannya diatas dahi gadisnya.
"Stop! Om." Pekiknya hingga Rei terlonjak dan dengan reflek menjauhkan tangannya. Tentu Ia semakin keheranan dengan gadisnya itu.
"Kenapa?" Tanya Rei semakin khawatir.
"Om tau?" Tanya Kia dan dijawab gelengan cepat oleh sang om. "Ihhh... Napasnya om tuh bikin wajahku makin panas tau gak?" Omelnya seraya mendaratkan pukulan dilengan sang om.
Dan hal itu sukses membuat Rei melongo, hingga beberapa detik kemudian Ia pun terkekeh mencerna omelan sang gadis. Ia usek poni nya gemas, hingga berantakan. Kia semakin memajukan bibirnya dengan perlakuan omnya itu.
"Kamu tuh! Ada ada aja." Ucap Rei, namun tak ditanggapi gadis yang masih mengibas wajahnya. "Lagian telinganya kenapa kok sampai merah gitu?" Tanyanya.
"Aku juga gak tau. Tiba-tiba aja panas. Pasti ada yang lagi ghibahin aku nih." Grrutunya kesal.
Rei tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, lalu kembali mengusek poni yang sudah amburadul itu. Ia genggam satu tangan gadisnya, kemudian mengajaknya untuk berdiri.
"Yuk! Kita kesana." Tunjuk Rei dengan dagunya. Belum juga Kia mengeluarkan protesannya, sang om sudah melangkahkan kakinya menuju tepi laut, akhirnya Kia hanya pasrah mengikuti langkah pacarnya itu. Dan tak ayal tersenyum juga.
Dengan setengah berlari, kini keduanya tengah menikmati pemandangan indah langit yang sudah mulai menguning. Menyusuri pantai dengan hembusan angin yang mulai mengencang. Canda tawa begitu nampak jelas dari sepasang insan yang tengah dimabuk cinta itu. Hingga genggaman tangan tak lepas dari keduanya.
Tak lupa mereka mengabadikan setiap moment yang mereka lewati bersama. Apalagi untuk pertama kalinya mereka foto bersama dengan status barunya.
Keduanya masih ditempat yang sama, dibawah sinar mentari yang kian meredup. Mereka duduk berdampingan diatas hamparan pasir. Menikmati sunset yang begitu indah diujung laut sana. Rei meraih kembali sebelah tangan gadisnya yang sempat terlepas dan menggenggamnya erat. Senyum terukir manis dari bibir keduanya, merasakan kebahagiaan yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Kia pun menyandarkan kepalanya dibahu sang om yang kini sudah berganti status menjadi pacarnya itu, hingga belaian lembut pada rambutnya didapati dari pria yang sukses menggetarkan hatinya.
"Setiap hari aku berdoa dengan sedikit memaksa Tuhan untuk menjodohkan kita."
***************
Jangan tanya kenapa baru up, mak othor nya sibuk dulu🙈 Besok, dikasih lebih lah insyaAlloh🤭
Jejaknya jangan lupa yaa! Yuk ramaikan, dapet cover baru tuh dari entun🤗
__ADS_1