Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 3.5 All Round Healing : Chapter 2 - Takdir Yang Tak Berubah


__ADS_3

Kondisiku sekarang sebenarnya tidak benar-benar baik. Aku masih dilarang melakukan olahraga berat dengan tulang yang baru sembuh. Beberapa bagian tubuh juga masih berbalut perban, luka sayat di lengan kiri, dan luka tikam di perut dan bahu juga belum benar-benar sembuh. Tapi, jika dipilih opsi antara baik dan buruk ....


"Aku baik, lukaku sudah baikan dari pada waktu masih di rumah sakit," kataku menjawab Pero yang masih dalam bentuk gagak bertengger di pagar dinding rumahku.


Pero bukanlah makhluk yang suka basa-basi. Setidaknya aku yakin kalau dia bukan kucing yang datang untuk dielus atau hewan lain yang datang hanya karena lapar. Dia siluman gagak, satu individu yang lebih tinggi dari gagak lain. Alasan dia datang menjemputku di pintu keluar tepat saat aku mau berangkat sekolah pasti cukup penting. Walaupun menurutku itu adalah kepentingan untuk dirinya sendiri.


Aku mulai berjalan menuju sekolah, mengabaikan burung gagak yang bertengger tersebut dan melangkah lanjut seperti tidak ada yang mengganggu perhatianku. Jika urusannya hanya bicara, aku harap dia juga bisa menghargai urusanku tentang kehidupan bersekolah yang tidak bisa ditunda.


*Flap, flap, flap ....


Pero sekali lagi mengepakkan sayapnya. Dia terbang menyusul jalanku dan kali ini mulai bertengger di atas ransel yang di gantung sebelah tangan. Posisinya sekarang mengikuti ranselku, di belakang agak ke kiri. Paruhnya dan sayap hitamnya cukup dengan kepala dan telinga kiri, tapi aku sendiri tidak keberatan dengan itu.


"Jadi, ada urusan apa sekarang?" tanyaku sambil menghadap ke depan menganggap Pero bisa mendengar. "Jangan bilang kalau aku harus mematahkan tangan kiriku lagi," sambil disusul dengan kalimat sinis.


Tidak, Kaivan. Aku tidak terlalu kejam untuk menaruhmu dalam penderitaan lanjut.


"Tapi, kamu sudah cukup kejam untuk memberikan penderitaan remuk tulang padaku."


Aku sudah minta maaf soal itu. Aku juga benar-benar menghargai usahamu dari hati terdalam. Jika kamu menginginkan sesuatu dari dan di dalam lintas kemampuanku, dengan senang hati akan kukabulkan.


"Jika ada cara agar mengakhiri ini dengan cepat, beri tahu aku. Dari pada berlama-lama di kondisi ini, aku lebih suka hidup tenang lagi," balasku kembali mengeluh.


Hmn ... hidup tenang, iya.


Aku mendengar suara gelombang di kepalaku yang bahkan nadanya bisa tahu kalau itu lebih seperti sarkasme. Aku yang mendeteksinya bahkan tidak mendengar langsung dari telinga dapat merasakannya.


"Pero, apa maksud nada bicaramu?"


Aku hanya sedikit menegaskan. Hubungan yang kita lakukan ini mutualisme. Kamu tidak ingin kembali ke kehidupanmu yang dulu, kekuatanmu yang dahulu dan sekarang bekerja dengan cara yang berbeda. Kamu lebih bisa hidup damai karena belakangan ini kekuatanmu lebih terkendali. Kamu tidak terlalu tersiksa dengan banyak hal lagi seperti dulu ... apa kamu menyadarinya?


"..."


Aku sedikit terdiam mendengar ucapan tersebut. Berpikir sejenak dan melihat kilas balik kehidupanku belakangan ini.


Jika dilihat, memang benar aku merasakan penderitaan yang lebih sedikit. Rasa sakit dan perasaan berlebih ketika mendapat gelombang emosi seseorang lebih jarang terjadi. Aku cukup bisa menahan mereka semua, tidak mudah mengalami tumbang atau mual muntah seperti dahulu.


Jika dilihat paling jernih, aku sekarang telah melewati kehidupan di rumah sakit selama seminggu lebih. Tempat mengerikan dengan banyak emosi negatif baik dari orang sakit maupun rasa cemas dari banyak orang di satu tempat. Aku yang dulu pasti mengalami gangguan mental ketika diam di sana dalam waktu lama. Tapi, nyatanya tidak.

__ADS_1


Awalnya aku mengira kalau ini adalah bentuk evolusi daya tahan tubuh yang terlatih akibat merasakan gelombang emosi milik Amalia. Dia punya getar di level berbeda hingga dapat menyiksaku jauh lebih keras. Namun, kemungkinan itu mulai kutarik di pemikiran hari ini. Sesuatu yang berbeda terjadi secara konstan dari hari ke hari. Bukan dari setiap aku merasakan gelombang emosi Amalia.


"Apa ini bentuk dari sihir yang kamu berikan padaku?"


Untuk sementara hanya itu yang lewat di dalam kepala. Fakta kalau dia tidak membantahku ketika percakapan tentang hal berupa sihir setelah kasus Imarine menjadi satu-satunya petunjuk. Dia menggiringku ke sesuatu yang kala itu dikategorikan sebagai 'membuka hati'. Kondisiku dengan 'hati berlubang' dan apa yang dia lakukan tentang 'membuka hati' masih belum jelas.


Aku sulit mengatakan kalau itu tidak ada hubungannya. Memang benar aku telah membuatmu sedikit terbuka dengan perasaan hingga rasa simpatimu lebih dominan. Tapi, apa yang kamu capai sekarang adalah usahamu sendiri. Semakin kamu menerima kekuatanmu, maka semakin mudah kekuatanmu itu juga menuruti perintahmu.


"Menerima kekuatanku ...?"


Semua yang kamu lakukan bersama Lia selama ini telah membentuk energi positif. Kamu semakin kenal dunia, kamu semakin mengenal orang-orang yang sebelumnya kamu jauhi. Secara tidak sadar pikiranmu mulai setuju dengan kekuatanmu sekarang. Walaupun kamu masih merasakan sakit, tapi grafik tetap bergerak ke arah positif. Keinginanmu untuk hidup dengan normal akan terkabul dengan sendirinya.


"..."


Hmn ... begitu, iya.


Aku mungkin harus memandang ini lebih baik lagi. Dari pada terbebani dengan keterlibatan dan hutang mana yang telah kuambil dari botol sihirnya, aku lebih baik bertindak atas kesadaran dan keinginanku sendiri. Walaupun berat, tapi jika aku melihat kalau tindakan tersebut memiliki efek positif untukku sendiri, sedikit motivasi telah terbentuk.


Huft ... hah ....


Perjalanan itu menjadi jalan pikiran monolog yang sedikit melelahkan. Aku menarik napas sambil menggeliat sedikit. Gerakan tubuhku yang luas mengangkat tangan dan menggerakkan sendi bahkan membuat Pero sedikit bergeser dan mengepakkan sayap menjaga keseimbangan agar tidak jatuh.


Ah, satu lagi, Kaivan.


"Hn?"


Pero kembali bicara, beberapa puluh meter sebelum sampai ke sekolah, dia kembali memulai pembicaraan.


Sebelum berpisah, aku meminta satu hal padamu.


Ah, aku lupa kalau hari ini dia masih belum memberiku tugas. Sempat terpikir kalau dia benar-benar datang untuk melihat keadaanku dan berkomunikasi dengan murni. Tapi, tentu saja tidak demikian.


"Katakan dengan cepat," ucapku.


Mungkin agak aneh karena sebelumnya aku meminta satu hal. Tapi, sebelumnya aku ingin memberi tahu. Pasien laki-laki yang sebelumnya kamu bilang ingin dibunuh Geza, dia sudah mati.


"..."

__ADS_1


Aku sedikit terdiam karena mendengar berita kematian sekali lagi. Orang yang aku selamatkan ternyata benar-benar sekarat dan akan mati. Jika disimpulkan, apa yang Geza lakukan kala itu adalah mempercepat kematiannya beberapa hari. Tapi, aku menolaknya karena kemungkinan dia yang hidup dan memberi harapan hidup, mendengarnya mati membuatku kembali merasakan sedikit kesedihan.


"Orang itu ... meninggal karena penyakitnya, 'kan?"


Iya, aku bisa pastikan tidak ada campur tangan sihir di sana.


"Kalau begitu baiklah, lanjut saja pada permintaanmu barusan."


Terus berlarut pada perasaan ini juga tidak ada gunanya. Apa yang bisa kulakukan sudah tidak ada. Tenaga medis saat ini hanya bisa melakukannya sampai di sana. Aku cukup tahu berita ini sebagai bahan informasi semata.


Sebelumnya aku bilang kalau aku akan menjengukmu bersama Lia nanti. Tapi, pada akhirnya kamu sembuh dengan waktu yang jauh lebih cepat dari perkiraan. Jadi, ucapan itu tidak bisa kukabulkan lagi sekarang.


"Gak apa-apa, aku sudah gak peduli."


Terima kasih atas kemurahan hatinya. Aku ingin bisa membalas semua jasamu dengan memberi pelayanan dari Lia di waktu kelak. Tapi, sepertinya waktu dan kemampuanku tidak mengizinkan. Lia yang sekarang sedikit tertekan oleh pertarungan itu.


"Tertekan? Apa maksudnya? Bukankah gak ada korban dari kejadian itu?"


Korbannya ada, korbannya kamu, Kaivan. Mendengarkan keluhanmu juga sebenarnya sudah cukup menekan mentalku. Walaupun aku masih kuat, tapi sepertinya Lia sedikit takut dengan tanggung jawabnya.


Ah ... benar. Aku lupa kalau dia manusia masih punya hati seperti manusia. Amalia dengan kekuatan sihir tersebut tetap punya pikiran rapuh layaknya seorang gadis normal.


"Sampaikan saja, selama aku masih hidup, aku gak taruh dendam apapun," ucapku dengan optimis memberikan solusi.


Ini dan itu tidak sesimpel yang kamu katakan, Kaivan. Aku tidak mengerti cara kerja perasaan manusia, kata-kataku tidak benar bisa sampai ke hatinya. Jadi, aku mohon untuk kamu bisa sedikit menghibur Lia nanti di sekolah. Kurasa hanya sesama manusia yang bisa menyelesaikan masalah ini.


"Aku masih gak ngerti. Kenapa Amalia merasa tertekan? Aku merasakan jiwa petarungnya bangkit layaknya Geza ketika bertarung denganku. Gak ada keraguan, dan tentu dengan keberanian itu, dia tahu risiko pertarungan. Tertekan, sedih, atau beban tanggung jawab sudah telat banget buat dirasakan sekarang."


Kalau itu, kamu juga seharusnya tahu dan akan lebih tahu setelah bertemu Lia nanti. Kekuatannya bisa mengubah sikap dan tindakannya sesaat. Tapi, itu tidak mengubah perasaan asli di hatinya dalam jangka panjang.


"..."


Iya, seharusnya aku sudah tahu. Kejadian dan sedikit dari petunjuk kalau dia mengalami hal tersebut terlihat dengan hasil pertarungan yang Geza melarikan diri malam itu. Jika dia benar-benar murni memiliki jiwa petarung, seharusnya gadis itu bisa membunuh Geza tanpa keraguan.


Pokoknya, aku mohon padamu sekali lagi. Lia ada di sekolah seperti biasa, dan temanmu Imarine juga ada di sana. Itu saja pesanku.


*flap, flap, flap ....

__ADS_1


Kata Pero sambil pamit meninggalkanku dan terbang menjauh ke arah langit.


__ADS_2