
Selama ini aku mungkin merindukan masa-masa istirahat di tempat sendiri, menikmati kesunyian dengan gelombang emosi rendah di kamar dapat membuat relaksasi yang indah. Tapi, pergi bersama dengan Amalia menemaninya berlatih kekuatan sihir sebenarnya juga tidak terlalu buruk.
Tempat tinggal Pero ada di wilayah sepi penduduk, satu gelombang emosi besar yang murni membuatku lebih cepat terbiasa dan tidak terlalu tersiksa belakangan ini. Lalu, untuk alasan paling penting adalah diriku, diriku yang merasa lebih hidup bisa melupakan berbagai masalah tentang sihir bersama orang-orang serupa.
Aku lebih dulu pulang untuk menyiapkan beberapa barang dan berganti pakaian menjadi lebih santai. Untuk izin pergi sendiri dengan mudah kudapat karena keluargaku dari awal tidak pernah melarangku bepergian, malah mereka lebih cenderung khawatir ketika aku terlalu banyak menyendiri di kamar.
Kak Dina tidak menanyakan detail acaraku, dia dengan mudah percaya ketika aku bilang akan menginap bersama teman sekolah tanpa bertanya siapa dan di mana.
Satu tas kecil aku bawa, beberapa lembar uang yang kutabung juga lengkap menumpuk di dompet, penampilan dan perlengkapanku layaknya orang yang ingin melakukan olahraga pagi. Sepatu, baju, dan tas dibuat seringan dan tidak memberatkan perjalanan. Mungkin saja kali ini aku akan diuji staminanya.
Sebelumnya aku pernah menanyakan kembali tentang fungsi keberadaanku sekarang. Pero yang mengulang kalimat dan berusaha mencerminkan pribadiku sendiri juga menyinggung perasaanku, dia tahu kalau mungkin diriku akan menyinggung hal tersebut. Tapi, tentu dia tidak menganggapku sebagai beban.
“Tentu saja, kamu berguna, Kaivan. Kamu adalah orang yang mengajari Amalia tentang sihir, berbagai kesalahan di misi jauh ini mungkin akan membuatnya gugup. Kehadiran wali tentu akan mengurangi bebannya,” jelasnya kala itu meyakinkanku.
“Aku tidak mengajarinya, aku hanya melihat dan membantunya terbiasa. Kemampuannya dari awal murni kerja keras, bukan hasil bimbingan.”
“Ahaha ... aku tidak mengerti kenapa kamu membantahnya. Tapi, jika itu tidak membuatmu berharga, masih ada alasan lain di mana peranmu dibutuhkan sekarang.”
“Hmn ...?”
“Mungkin laki-laki dari spesies manusia akan lebih menyukai hal ini. Tapi, Kaivan ... kamu adalah orang yang bisa menemani latihan tarung Amalia selama ini. Bukankah itu artinya kamu juga punya kemampuan yang sebanding? Dua kuat lebih baik daripada satu kuat, dan aku yakin Amalia di sana juga lebih senang kalau kamu ikut.”
“...”
Secara perlahan aku melihat ke arah Amalia di sampingku. Mata kami pun bertemu, wajah kecilnya mengubah ekspresi secara perlahan, sampai pada akhirnya dia memperlihatkan buku catatannya.
Iya, kalau bisa aku tidak mau pergi sendiri.
Tunjuknya padaku.
Aku lebih memandang sikap Amalia layaknya perempuan yang tidak ingin pergi ke WC sendiri. Tidak sepertiku yang lebih menyukai berbagai masalah diselesaikan sendiri, perempuan mungkin lebih menganggap kebersamaan akan menenangkannya.
Setelah semua siap, aku pun berangkat pergi dari rumah ke tempat yang dijanjikan. Kali ini tidak ke rumah Pero, tujuanku lebih mengarah ke titik temu di mana di sana lebih strategis dipakai sebagai awal transportasi.
Aku mungkin sangat mudah mendapatkan izin tentang kepergian dan menginap. Tapi, sempat terpikir tentang bagaimana Amalia menjelaskan hal ini pada keluarganya. Secara teknis, dia adalah perempuan dan mungkin punya perlindungan lebih daripada aku laki-laki di umur menjelang dewasa.
Selama ini tidak ada kesempatan untuk mendengarkan bagaimana latar belakang gadis itu berjalan, dia tidak juga tidak mengambil kesempatan untuk bicara tentang hal tersebut. Lagi pula, faktor bisunya sendiri yang memaksa dia untuk membatasi pembicaraan ke arah yang lebih penting. Bicara lewat perantara tulisan akan sangat melelahkan.
Selama pikiran itu berlangsung aku yang berjalan tidak terasa sampai di terminal yang dijanjikan. Terlihat di sana ada Amalia dengan baju kasualnya membawa kandang burung bertutup kain gelap tebal berwarna biru. Isi dari benda tersebut pasti adalah Pero dalam wujud burung gagaknya.
“Apa Pero ada di dalam?” tanyaku sebagai formalitas.
*Nod ....
Jawab Amalia dengan mengangguk sekali.
Aku melihat Amalia di sana membawa cukup banyak barang. Memang tidak sebanyak orang yang ingin pindah, tapi jumlahnya sebanding dengan orang yang ingin pergi piknik.
“Kamu bawa apa saja di sana? Gak kebanyakan?” tanyaku kembali sebagai formalitas, karena sebenarnya aku juga tidak terlalu penasaran.
“...”
Kali ini responsnya berbeda, dia sedikit bingung dicampur panik layaknya orang yang diburu-buru oleh sesuatu. Pandangan kepalanya bergerak cepat ke segala arah, mencari sesuatu yang entah apa tapi dapat kuketahui kalau benda tersebut tidak tergapai.
__ADS_1
“Hn?”
Sampai akhirnya pandangannya berhenti, dia mengarahkan mata bersama dengan gesture tangan merentang ke depan. Iya, tangannya yang sedang memegang kandang burung menyulitkan dia untuk berkomunikasi lewat tulisan. Dari ekspresi dan gerakannya dia sekarang memintaku membantunya.
Aku pun mengambil kandang burung tersebut, membebaskan kedua tangannya yang mungkin sudah pegal menahan beban dalam posisi tidak nyaman. Setelah lepas, gadis itu dengan cepat mengambil catatan, dia sepertinya masih punya keinginan untuk menjawab pertanyaan barusan.
Semua yang aku bawa penting, kok.
Tulisnya di catatan.
Aku sendiri bisa melihat perbedaan kehidupan antara perempuan dan laki-laki karena tinggal bersama kak Dina. Dia terkadang juga menyinggung diriku yang sering tidak menahan diri terhadap privasi orang lain. Jadi, kali ini juga aku mencoba pura-pura bodoh dan mengabaikan pikiran tentang bagaimana isi tasnya.
Beberapa saat menunggu berdiri di terminal tempat kami berkumpul. Cukup lama menunggu jadwal hingga akhirnya bus dengan rute tujuan pun datang. Kandang burung berisi Pero tidak dibawa oleh Amalia, aku memberikan bantuan agar tangannya lebih bebas karena bawaan awal pribadi miliknya juga sudah lebih berat.
Ketika aku masuk ke dalam bus, beberapa orang mengarahkan pandangannya karena keasingan sebuah pemandangan di mana aku membawa kandang burung ke dalam transportasi umum. Tapi, itu tidak terlalu lama, negaraku termasuk ke dalam ranah negara berkembang di mana hal seperti ini tidak terlalu asing.
Aku memilih tempat duduk atas paling belakang dengan tempat duduk lurus. Sedangkan Amalia, dia ada duduk di lebih depan, walaupun posisinya tetap dekat dengan pintu belakang. Aku rasa itu cukup strategis dan menghormati latar belakangnya sebagai perempuan.
Saat bus kembali memanaskan mesin kuat untuk berjalan kembali, tiba-tiba aku mendapat sebuah rangsangan khusus.
Psst, Kaivan.
“Hn?”
Suara bisik terdengar di dalam kepala, diriku yang awalnya mencari posisi untuk setengah tidur di bus pun kembali sadar sepenuhnya.
“Pero, itu kamu?”
Iya, ini aku.
Kamu boleh bisik-bisik sekecil apapun, suaramu tetap akan jelas di telingaku. Jadi, bicara saja.
“Itu bukan alasan. Masih ada waktu lain, ‘kan? Kenapa gak simpan semua topik buat nanti bareng sama Amalia?”
Kalau kamu memandang kondisi sekarang sebagai hal yang tidak efisien, aku di sini lebih mengambilnya sebagai kesempatan.
“Jadi?” tanyaku mengulang sedikit bingung.
Tentu saja aku bicara sekarang karena aku tidak ingin Amalia mendengar.
Jika berpikir ke arah seperti itu, aku juga cukup penasaran. Sesuatu seperti apa yang Pero tidak ingin Amalia tahu, padahal seharusnya mereka adalah partner bersama.
Tapi, kalau kamu benar-benar menolak, kembali lagi pada diriku yang tidak akan memaksa. Gagak punya kecerdasan untuk menghargai individu lain, sejalan dengan kemampuannya membalas dendam.
“Oke, terserah. Cepat langsung saja ke intinya kalau gitu.”
Suaraku dikeluarkan tidak keras, bergumam kecil di mana mungkin hanya merambat di sekitar tengkorakku. Tidak ada bukti kalau suara tersebut tidak terdengar ke penumpang di sisi lain, tapi setidaknya apa yang kubicarakan akan samar oleh suara bising dari mesin.
Pembicaraan kami dilakukan secara tidak langsung. Burung gagak tersebut punya kemampuan di mana dia bisa melakukan komunikasi tanpa perantara layaknya sihir telepati. Tapi, itu hanya berlaku padaku. Pero pernah melakukan ini sebelumnya, jadi aku tidak terlalu kaget sekarang.
Bisa jelaskan, persiapan apa saja yang kamu lakukan? Senjata apa yang kamu bawa?
“Senjata ...?” ucap ulangku berekspresi bingung. “Aku gak punya benda mengerikan yang bisa disebut senjata.”
__ADS_1
Kenapa? Bukankah aku sudah bilang kalau kita punya kemungkinan akan bertarung?
“Memang begitu, tapi aku juga mendengar jelas kalau hal tersebut itu masih sebatas kemungkinan.”
Lalu, apa saja isi tasmu sekarang?
“Cuman satu set baju ganti, uang, HP, dan beberapa makanan.”
Memang sangat simpel tentang apa yang kubawa, tapi aku sendiri juga bingung jika ditanya barang apa yang bagus dibawa di saat seperti ini.
Aku bingung, Kaivan. Sebenarnya kamu itu bodoh atau pintar. Apa kamu tidak mengerti kalau kita mungkin bisa saja berhadapan dengan musuh?
“Apa yang kau harapkan dariku? Amalia yang sekarang bisa pakai kekuatannya dan jauh lebih kuat dariku. Jika musuh bisa kutumbangkan, itu artinya dia bukan tandingan Amalia.”
Latihan bersama Amalia belakangan ini membuahkan hasil yang signifikan. Walaupun tidak sempurna, jika adu kekuatan secara murni, aku dapat dipastikan tumbang dengan mudah oleh kekuatannya.
Kepercayaan seperti itu mungkin akan baik dilakukan pada saat yang tepat. Tapi, Kaivan ... hal seperti itu juga terkadang menjadi penyebab kamu kehilangan orang yang kamu percayai.
“Aku ikut dari awal bukan untuk bertarung, aku hanya mengamati tindakan kalian dan mengontrol Amalia. Aku mungkin bodoh, tapi cewek partnermu itu lebih gak bisa diharapkan lagi ... tidak dapat diharapkan dalam arti lain. Makanya tugas pengontrol ada padaku.”
Aku cukup percaya diri, latihan penggunaan sihir bersama Amalia bahkan membuatku sadar kalau dia mungkin tiga sampai empat kali lipat lebih kuat dariku. Keterlibatan diriku sekarang tidak terlalu penting, aku mengangguk dari tawaran mereka karena reaksi positif yang diberikan.
Sebenarnya aku tidak mau membuat banyak hal lagi dengan sihir. Tapi, ini terpaksa dan juga bisa lebih bermanfaat ke depannya?
“Hmn?”
Sesaat ketika kalimat terakhir diucap, aku merasakan sedikit gelombang asing. Kekuatan deteksi emosi memang dari awal sangat peka terhadap perubahan mood seseorang. Tapi, terkadang itu juga bisa membuatku menyadari kehadiran sihir dengan merasakan gelitik kecil yang tidak spesifik. Lalu, hal tersebut muncul sekarang.
Aku mengecek sumbernya, ternyata ada sangat dekat dengan tubuhku. Mataku sedikit memicing, di balik jaket tebal daerah dada yang untungnya dalam keadaan tertutup, aku melihat ada cahaya sihir. Tidak lama, hanya sebentar sekitar beberapa detik lalu menghilang. Tidak ada suara, tidak ada gerlap-gerlap mencolok layaknya flash di kamera ponsel.
“Pero, apa itu barusan?” tanyaku sambil memasukkan tangan mengecek sumber cahaya di balik jaket. “Hn-hmn ...?”
Aku yakin kalau sebelumnya tidak ada benda disimpan di saku jaket dalam. Jadi, ketika tangan tersebut menemukan titik temu dengan sebuah tekstur keras, perasaan kaget tercampur bingung pun muncul.
Aku membuatkan senjata untukmu, Kaivan. Tidak sekuat milik Amalia, tapi setidaknya cukup untuk membela diri.
Kata Pero yang terus mengirimkan kalimat ke dalam kepalaku secara sihir.
Tanganku tersebut pun mengambil langsung benda keras di jaket, mengeluarkan sesuatu yang disebut senjata oleh Pero.
Pi-pisau ...?
Ukurannya kecil layaknya pisau dapur, gagangnya berbentuk unik agar mudah dipegang, sarungnya berwarna hitam pekat dengan tekstur layaknya kulit binatang, dan keseluruhan bagian luarnya terdapat pola indah berwarna perak yang cukup rumit.
Aku tidak tahu bagaimana orang memandang benda tersebut. Tapi, bagiku apa yang disebut senjata oleh Pero itu adalah sebuah benda yang indah untuk dikoleksi. Sebuah seni yang layak dipajang atau sekiranya disombongkan pada orang lain.
*****
__ADS_1