Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 3 Manis Sengat Semut Asam Format : Chapter 29 - Rasa Sakit Sungguhan . 1


__ADS_3

*Whoush ....


Stank!!


Marah, marah, kemarahan ... semua emosi tersebut dia keluarkan dan lampiaskan begitu saja. Aku mungkin terlihat menyebalkan di matanya, kemampuan deteksi emosi selama ini masih belum kuberi tahu padanya. Di mata Geza, aku hanya seorang yang sok tahu. Dengan memegang tombak tersebut, dia terus menyerangku berteriak brutal.


Beberapa kali aku mundur, maju, bertahan, dan mengoceh. Mencoba menyerang satu sisi di senjatanya agar benar-benar rusak seperti rencana Pero. Walaupun tidak ada tanda-tanda berhasil, setidaknya aku sudah berusaha dan memanfaatkan kondisi ini sebaik mungkin.


Kaivan.


Stank!


Di tengah-tengah pertempuran, aku kembali dihubungi oleh Pero.


Aku berusaha menjaga jarak, tapi Geza sendiri hanya membiarkanku menjauh sekitar lima meter. Jika aku berlari lebih jauh, dia akan melontarkan tubuhnya melesat dengan tombak.


"Ada apa!?"


Jadi, aku pun menjawab langsung, di tengah napas keras pertempuran di mana posisiku masih ada di dalam bilah tombaknya. Di sana aku mungkin sedikit berteriak, tapi bukan berarti didengar oleh Geza. Pembicaraanku dengan Pero tidak terlalu diperhatikan di mana dia sendiri sepertinya sudah termakan emosi untuk berpikir jernih.


Kamu masih belum menghancurkan tombaknya? Sudah kubilang untuk menyerang kuat ke daerah rapuh berkali-kali.


"Sudah, Bodoh! Kamu gak lihat aku sedang apa!?"


Stank!


Kembali tangkisku mengelakkan arah serang tombak Geza.


Tanganmu lemah, tebasanmu tidak sekuat sebelumnya. Kamu hanya menepuk ringan bagi tombaknya, ada apa denganmu sekarang?


Stank!


Di gerakan tersebut, kembali aku menjaga jarak lima meter dengan Geza. Sambil napas terengah-engah, aku berusaha menjawab menjaga fokus agar tidak lengah. Membagi konsentrasi untuk melakukan dua hal sekaligus bukan keahlianku. Jujur ini sangat menyiksa. Kalau bukan karena doping dari gelombang emosi, aku mungkin sudah mati.


"Kamu gampang bilangnya, hah .... Tapi, tanganku gak mau nurut apa kataku. Ini kayak tangan patah dipaksain gerak, hah ... hh ...," ucapku dalam keadaan lelah napas berat.


Bukan kayaknya lagi. Tangan kananmu memang sudah patah.


"Huh!?" responsku tidak sengaja keluar keras karena kaget.


Aku memang sudah curiga dari awal, sensasi di tanganku entah kenapa banyak yang hilang. Awalnya berusaha positif, ini mungkin efek adrenalin, deteksi gelombang emosi, dan sihir dari Pero. Beberapa kali aku melakukan gerakan, tapi gagal karena tangan yang mati rasa. Serangan kuat yang seharusnya mengayun malah berakhir menjadi gerakan kaku.


Kamu mungkin tidak sadar, aku sudah menaruh sihir telekinesis pada tangan kananmu.


"Kalau tahu, kenapa masih tanya— Hn!?"


*Whoush ....


Di tengah kalimat penuh kesal ingin membentak Pero, aku merasakan gelombang emosi. Itu kemarahan, berasa pedas dan memberiku rangsangan untuk mempertahankan diri. Tentu saja dia tidak membiarkanku diam dalam waktu yang lama.

__ADS_1


"Kaivan ...!!"


Stank!


"Gkhtf!"


Aku kembali menahan serangan Geza dengan tangan kanan. Entah kenapa karena sekarang aku tahu kalau tangan tersebut patah, rasa sakit yang dirasa menjadi berkali-kali lipat. Kuda-kuda kokoh posisi bertahan bertumpu pada tangan tergusur menjadi ngilu.


"HuakaAaakKHgtf!!"


Serangan Geza tidak sampai di sana. Setelah pertahananku hampir hancur dengan bengkok tangan yang memprihatinkan, dia masih melanjutkan serangan. Menarik tombak, berteriak keras, mengeram hebat, dan kembali mengibaskan tombaknya. Di saat ini, bahkan teriakkannya sudah serak terdengar layaknya getar di speaker.


Stank!!


Kenapa denganku ...? Aku hanya bertanya, tidak lebih. Ketika kamu terluka dan diam saja, aku menganggapnya itu bukan hal serius. Jika kamu tahu tangan kananmu lemah, kenapa tidak gunakan saja tangan kiri?


"Jadi aku harus mematahkan tangan kiriku juga!?" teriakku sedikit protes.


Dengan kondisi aku yang selalu bicara di bawah tekanan, ini membuat emosiku juga sedikit meledak. Sekarang aku mengerti rasa kemarahan ketika mengajak bicara orang yang sedang konsentrasi pada satu hal. Membagi fokus bagi orang-orang tersebut sangat melelahkan dan bahkan memancing stres.


Jangan khawatir. Kalau tangan kirimu patah juga, aku akan meminta Lia menyuapimu makan setiap hari.


"Bukan itu masalahnya, Bodoh— GKh!?"


Stank!


Lalu, apa masalahnya? Tidak peduli kidal atau bukan, di kondisi sekarang, ayunan kuat dari tangan kirimu yang masih utuh.


"Hah ... hh ... hah ... dengar, iya. Aku gak peduli kalau dua tanganku patah dan harus berakhir makan kayak ayam."


Lalu, kenapa kamu menolak—


"Karena masalah paling mengerikan hidup tanpa tangan adalah ketika aku di kamar mandi!!"


*Whoush ....


Gelombang emosi, serangan Geza kembali datang.


"Hh!?"


*Dodge


Tapi, aku menghindar. Berusaha melompat ke salah satu sisi menghindari serangan vertikal. Gerakan brutalnya kala itu sangat menyeramkan hingga dapat membuat lubang di lantai.


Aku tidak sampai di sana, Geza yang melihatku menghindar juga segera membelokkan tombaknya. Ini membuatku yang sudah menghindar sekali dan sedang ada di udara menjadi kesulitan. Dengan segera, aku meluruskan dan mendaratkan kakiku, membuat rem untuk setelahnya aku melakukan tolakan susulan ke belakang.


Bugkh!


Serangan tersebut kembali meleset, kembali menabrak salah satu dinding lorong dan membuat bangunan ini terus hancur layaknya sedang digusur buldoser.

__ADS_1


"Hh ... hah ... hah ...."


Hmn ... memang itu masalah yang cukup serius. Aku masih bingung kata apa dan bujukan apa yang cocok untuk membuat Lia mengurusimu saat mandi dan buang air.


"Tch, ahk!" decak lidahku sambil mengeram kesal, sangat-sangat kesal. "Bisa buang Amalia dulu sekarang!?"


Oh? Kamu tidak mau Lia? Sebenarnya aku tidak ahli mengurus seseorang. Tapi, aku bisa belajar dari Lia. Kalau kamu mau, aku tidak keberatan membantu masalah sanitasimu.


"Cukup! Apa kamu gak ngerti kalau aku menolak ini karena masalah privasi!"


*Whoush ....


Stank!


Serangan lain dari Geza. Refleksku yang kuat karena kemampuan deteksi emosi lagi-lagi menyelamatkanku. Walaupun serangannya muncul dari balik kebul asap, tapi arahnya tetap bisa aku ketahui agar bisa ditangkis.


Kembali mundur, membuat jarak dan bahkan memanfaatkan medan buruk puing-puing bangunan untuk melambatkan gerak Geza di sana.


Kamu memang bilang seperti itu. Tapi, apa kamu yakin kalau sekarang waktu yang pantas melakukan negosiasi?


Kalau dibiarkan, kemungkinan besar kamu akan kalah akibat badanmu yang remuk secara perlahan. Mengorbankan satu hal besar sekaligus lebih baik daripada membiarkannya terkikis terus. Melakukan modal besar yang paten lebih baik daripada menyumbang sedikit dengan hasil yang mudah hancur.


Mungkin bukan tanganmu saja. Jika dibiarkan terus tanpa pengorbanan untuk bergerak maju, seluruh tubuhmu akan berakhir menjadi mayat.


"Hah ... hah ... hh ...."


Aku terdiam mendengar seluruh ceramah singkat kalimat Pero barusan. Tersiksa dalam kelelahan dan harus kembali berpikir memutuskan tindakan.


Memang benar, kondisiku sekarang sangat parah. Tenaga di tangan dan kaki kananku sudah tidak efektif keluar, kondisi malam yang membuat tubuhku letih karena kantuk, napas keras dan panas menandakan tubuhku yang sudah overheat, bahkan luka-luka kecil yang sudah tersebar di berbagai sudut telah meremukkanku secara perlahan.


Aku tidak tahu kapan, jika aku perhatikan, ada banyak luka sayatan, luka benturan, dan luka gesek di berbagai tubuh yang bahkan sudah mengeluarkan darah. Aku melihat tanganku, ada serpihan beling yang bahkan menancap. Aku melihat kakiku, celana yang kupakai sudah robek tersayat bersamaan dengan kulit di dalamnya mengeluarkan darah. Lalu, ketika aku mengelap keringat di kepala, ternyata ada tetesan darah yang kuusap bersamaan dengan keringat tersebut.


Kondisiku kacau, dengan atau tanpa tangan patah, aku akan mati jika pertarungan diperpanjang terus.


Huft ... hah ...


Bahkan sampai saat ini, aku tidak punya pilihan dan tidak diberi kesempatan untuk berpikir.


Aku mulai mengoper pisau tersebut ke tangan kiri, bersiap menyerang melakukan gerakan mematikan. Dengan kuda-kuda kokoh, aku mulai merentangkan tangan ke depan, menyejajarkan bilah pisau di tangan kiri dengan garis pandang mataku.


Tanpa sadar, pisau milik Pero yang sinarnya redup menjadi terang.


"..."


Konsentrasi, mengatur napas, menajamkan pandangan, fokuskan pendengaran. Geza sekarang tidak jauh berada di depan, hanya masalah waktu untuk dia akan menyerang. Di mediasi selama beberapa detik tersebut, aku bisa merasakan ketenangan yang cukup. Jadi ....


*Whoush ....


"Hh!?"

__ADS_1


__ADS_2