
Bapak seperti bereaksi bingung dan malas hampir menolak. Tapi, itu bukan karena dia tidak mau, lebih ke arah seperti kecewa akan tidak konsistennya keputusanku sekarang. Dengan wajah yang sedikit timbul sepat-sepat kesal, bapak tersebut tetap menerima permintaanku.
Sempat bertanya ke mana arah pulang bapak tersebut sekarang. Walaupun aku tidak merasa malu, tapi aku punya harga diri untuk tidak merepotkan orang terlalu dalam untuk membela kebutuhanku. Syukurnya tempat tinggal kami tidak terlalu bertolak belakang, masih satu arah besar dan sedikit bersimpang ketika sudah dekat.
Aku tentu meminta menurunkanku di persimpangan tersebut. Tapi, bapak itu menolak keras dan ingin mengantarkanku tepat di depan rumahnya. Selain waktu sudah malam, dia juga tidak ingin membantu orang dengan setengah-setengah.
Percakapan kami di sana sedikit berkembang dari latar belakangku yang dia kira adalah anak kuliah yang mengerjakan tugas. Walaupun aku tidak setua itu, tapi untuk poin tentang kesibukan tugas ada benarnya.
Selain itu, dia juga bicara tentang keluarganya, terkadang tentang perkembangan kota, dan tentu disambil dengan petunjuk navigasiku menuju rumah.
Bapak tersebut secara keseluruhan adalah orang yang ramah, hanya saja hari-hari yang dia jalani terlalu monoton dan tidak memberikan kebahagiaan yang cukup untuk membuat senyum di wajah. Ini membuat dia sedikit terlihat seram, kerut wajahnya sangat jelas berlipat-lipat juga menambah kesan tersebut.
Setelah beberapa lama, aku pun sampai di depan rumah. Keadaan sepi layaknya tengah malam tentu juga menyelimuti rumahku. Tapi, sesuatu yang membuat gelombang emosi bapak satpam tersebut adalah ketika dia melihat ukuran dari rumah milikku.
Aku bisa merasakannya, dia berpikir bingung tentang tujuanku di rumah sakit yang hampir menginap dan berkeliaran sendiri tanpa tujuan yang jelas.
Iya ... mungkin bukan karena rumahnya. Tapi, lebih karena kenyataan kalau aku dikira semiskin anak kos-kosan. Jadi, begitu melihat tampang depan rumahku yang menengah ke atas dia pun kaget.
Aku sebenarnya tidak terlalu bangga, rumahku hanya sekadar besar saja karena keberuntungan. Para penghuni di sini terutama orang tua yang bekerja tidak terlalu kaya berdasarkan penghasilannya. Mereka lebih ke arah pekerja keras yang suka menimbun uang dibandingkan memakainya.
Sebelum aku dan bapak tersebut berpisah, satu pertanyaan kuberikan.
“Pak, apa aku boleh ke rumah sakit lagi?”
Bapak tersebut melihatku dengan ragu. Terasa kalau dia tidak ingin direpotkan lagi dengan cara yang sama layaknya yang telah kubebankan hari ini. Tapi, di saat yang sama dia juga tidak begitu keberatan, karena dia berpikir kalau aku akan mencoba mengunjungi pasien kamar isolasi yang minta bunuh diri itu.
“Tch,” decak lidahnya sambil mengalihkan pandangan ke depan bersiap menaruh gas pada motornya. “Lain kali siapkan dulu semuanya sebelum kamu datang.”
*Grung, grung, grung ....
Ucap bapak tersebut yang menancapkan gas pergi dari rumahku.
*****
Keesokan harinya, aku berangkat ke sekolah seperti biasa. Hari sebelumnya kembali melelahkan dengan banyak perjalanan jauh. Tapi, pada akhirnya aku tetap harus melakukannya.
Mataku sedikit membengkak, terutama di kelopak mata yang sedikit mengendur karena kurang tidur. Sesekali tubuhku menguap kuat mengisap oksigen, melebarkan seluruh emosi kelelahan tersebut. Tapi, secara keseluruhan kelelahan tersebut tidak membuatku terlambat, sepertinya alarm tubuhku cukup kuat untuk membangunkanku tepat waktu.
Seluruh rasa lelah tersebut masih bersisa bahkan setelah aku sampai di sekolah. Entah kenapa mandiku terasa tidak segar, entah kenapa beberapa ruas tubuhku terasa malas untuk bergerak. Mengalami semua ini, aku pun berniat penuh untuk mengambil waktu tidur di sekolah.
Saat bel istirahat berbunyi, aku segera pergi menjauh dari seluruh masyarakat sekolah di ujung tempat sepi. Itu adalah tempat yang dahulunya aku pakai untuk bertemu Imarine, karena dia yang masih tidak diketahui keberadaannya, di sana aku pun makan dengan kesendirian.
Sebenarnya aku punya stamina yang cukup kuat. Keadaan di mana aku tidak bisa tidur sebenarnya sudah pernah terjadi sebelumnya. Seperti aku yang pergi ke darmawisata di mana harus tidur tempat ramai, itu cukup menyiksa karena aku tidak akan bisa tidur sampai semua orang benar-benar tidur dan melenyapkan gelombang emosi mengganggunya.
Intinya, aku sangat mudah untuk terganggu kualitas tidurnya. Hal tersebut juga yang membuat tubuhku berubah menyesuaikan diri untuk tidak banyak tidur, dan untuk mendapatkan waktu tidur di kondisi ekstrem.
__ADS_1
Aku tidak keberatan tidur di luar rumah, aku tidak keberatan tidur sambil berdiri, aku juga tidak keberatan untuk tidur dalam pengap panas maupun sebaliknya selama itu tidak membunuhku. Tubuhku terlatih secara tidak langsung karena hal-hal serupa terjadi ketika aku berkumpul dengan orang-orang dan tidur bersama.
Huft ... hah ....
Hela napasku sambil mendaratkan kepala di meja tempat duduk wilayah gedung tersebut, meja yang sama yang semula digunakan Imarine dan Septian di sini. Untuk beberapa alasan aku ingin mengistirahatkan tubuh di tempat tenang sambil sedikit melelapkan pikiran dari kelelahan berat.
Iya, benar ... kelelahan ini sebenarnya bukan keadaan pertama. Tapi, untuk kali ini hal berbeda yang menambah kesan hingga membuat kantung mataku tumbuh, sesuatu yang sudah lama tidak kurasakan.
*Touch, touch ....
Hmn?
Aku merasakan sentuhan ringan di salah satu pundakku, seperti sesuatu ingin membangunkanku.
Mungkin bagi orang lain itu hal yang tidak asing, sedikit dijahili ketika dalam keadaan kantuk adalah hal yang normal. Tapi, itu tidak berlaku untukku, insting dan indra deteksi emosiku selalu mencegah hal tersebut terjadi.
Lalu, jika hal tersebut terjadi sekarang, di mana aku tidak merasakan ancaman atau kedatangan siapa pun, artinya hanya ada satu orang yang bisa melakukannya.
“Hanz ...?” panggilku sambil mengangkat wajah dan memastikan siapa di balik sentuhan tersebut.
“Ah ... ternyata sentuhan tersebut bisa membuat kau menebak siapa dibaliknya. Apa ini karena aku yang mudah ditebak, atau karena kau yang sangat peka?”
“Sebenarnya kamu ada di daerah di mana aku gak bisa peka. Makanya aku bisa tebak.”
Lelaki tersebut melangkah pelan menjauh, dia mulai bersandar di sisi gedung dan terus menjauh dari matahari untuk berdiri di bawah bayangan gedung. Walaupun dia muncul di siang hari, ternyata tindakannya masih sama untuk menghindar dari cahaya.
“Apa yang kau lakukan di sini sendiri? Bukankah anak SMA seharusnya menikmati waktu remajanya sekarang?” tanya Hanz sambil melipat tangan dan dengan pandangan kosong entah mengarah ke mana.
“Selama aku di sekolah, gak ada sekali pun masa-masa SMA menikmatinya. Kerja kelompok yang menyiksa, wisata sekolah juga menyiksa, pernah diperlakukan seperti babu karena dianggap beban, mendapat dampak buruk dari setiap gelombang emosi ketika ada drama perkelahian, dan sekarang terjebak dalam tugas mencari tugas mencari mana Amalia,” kataku dengan bertahap mengeluarkan seluruh pengalamanku secara singkat. “Huft ... hah ...,” lalu aku lanjut dengan hela napas panjang.
Aku mungkin bukan orang yang paling menderita. Tapi, aku bisa ikut merasakan rasa sakit dari gelombang emosi mereka yang merasa menderita tersiksa dengan kehidupannya. Ini terkadang membuatku juga mengeluh, lelah menghadapi seluruh penderitaan mereka di sekitar.
“Ah ... aku mengerti ... aku mengerti maksud kau mendalami hal ini,” kata Hanz yang berkata juga dengan nada dalam. “Kau bisa merasakan penderitaan mereka, tapi tidak ada seorang pun yang merasakan penderitaanmu. Masalah yang kau hadapi hanya itu ... hanya itu dan tidak akan pernah terselesaikan.”
“Entahlah ... aku berpikir kalau aku bukan orang yang pantas untuk berharap dimengerti,” ucapku menolak halus. “Sekarang aku masih punya masalah lain.”
Imarine dan anak bernama Geza itu misalnya.
Aku benci orang yang menganggap dirinya paling menderita. Ketika ada orang yang berpikir tersebut, gelombang emosinya akan kacau layaknya sedang sakit mental. Tapi, untuk hal yang sama aku tidak bisa menyalahkan. Walaupun aku tahu rasa sakitnya, aku belum tentu menghiburnya. Jadi, di saat yang sama, aku juga tidak ingin merasa paling menderita untuk menginginkan pengertian.
“Kau tidak perlu berbagi, kau hanya perlu mengeluarkannya. Hanya bicara dan itu mungkin akan terasa lebih baik.”
“...”
Aku diam, tidak menjawabnya dan lebih berpikir tentang alasan dia di sini sekarang. Kedatangannya begitu acak, dan anehnya aku menyambutnya tanpa penolakan sedikit pun. Mungkin karena dia tidak mengeluarkan gelombang emosi hingga membuat perasaanku lebih tenang.
__ADS_1
“Diam, iya,” ucap Hanz kala itu yang sepertinya kecewa dengan responsku. “Ternyata kedatanganku tidak diharapkan.”
“Aku cuman ngantuk, itu saja.”
“Ahaha ...,” tawa Hanz yang halus mendayu. Rasanya sedikit aneh mendengarnya di suasana siang, karena malam sangat cocok dengan aura dan sikapnya. “Baiklah, jika kau ingin bicara nanti, percayalah kalau kau tidak sendiri. Gadis penyihir itu selalu terbuka untukmu.”
“Amalia?” tanyaku.
“Iya, maaf saja aku tidak mengingat namanya.”
“Dia makhluk mengerikan dengan gelombang emosi tajam. Sebisa mungkin aku gak mau bikin dia berguncang, gelombang emosinya setara dengan tiga sampai lima orang sekaligus,” bantahku menjelaskan dengan sinis.
“Kau masih menganggap kekuatanmu sebagai kesan negatif.”
“Aku harap aku juga menemukan banyak kesan positif dari kekuatanku.”
“Jika kau tidak menemukannya, kau hanya perlu mencarinya. Seperti— Ah ... sudah waktunya, iya.”
“Hn?”
Aku merasakan getaran suara yang berbeda, Hanz di sana seperti terusik oleh sesuatu hingga menghentikan kalimatnya.
“Aku harus pergi sekarang ... maaf saja untuk meninggalkan kau sendiri lagi sekarang.”
Sambil berucap, Hanz berjalan beberapa langkah. Dia berubah posisi yang dari awal ada di belakang berubah hingga ada di depanku. Dengan gerakan sederhana, dia kembali menaikkan kupluk jaketnya seperti biasa yang dilakukannya ketika ingin pergi.
“Sebenarnya kamu ini apa? Datang tiba-tiba, ngomong banyak hal sekaligus, dan juga pergi seenaknya. Dari pada aku, melihat tujuan dari apa yang kamu lakukan lebih membingungkan.”
Aku yang punya kemampuan merasakan gelombang emosi orang membuat tahu arti sebagian besar dari dasar tindakan di belakangnya. Jadi, ketika aku tidak merasakannya, ada sedikit ketakutan muncul.
“Sudah kubilang, aku hanya pengembara yang kebetulan lewat. Berjalan menuju tempat tujuan dan tidak sengaja berkunjung ke oasis yang lebih menarik. Ketika kau dalam kondisi yang menarik, maka di sanalah aku datang.”
*Shade
Kata Hanz yang membelakangiku sambil mengangkat sebelah tangan memberikan gerakan selamat tinggal.
Huft ... hah ....
Baiklah, sekarang waktunya kembali bekerja. Pilihan dan tawaran Geza tentang pembunuhan orang yang ingin bunuh diri perlu aku putuskan sekarang.
*****
__ADS_1