
"Bukan aneh, cuman kayaknya aku memang gak pernah lihat kamu terima bantuan orang lain dan bilang makasih kayak barusan," jawab Farrel menanggapi kalimat dinginku barusan. Usaha untuk mengembalikan mood seperti biasanya, ternyata malah dipatahkan oleh Farrel yang memberikan jawaban serius.
"Heh, bukannya bagus? Itu artinya kamu gak usah susah-susah, aku gak punya banyak masalah sampai harus dibantu kamu, Farrel."
"Enggak, kamu beda, Ivan. Kamu bukan gak ada masalah. Tapi, kamu gak pernah cerita kalau ada masalah," kata Farrel menggeleng menolak pernyataan tersebut. "Awalnya aku ngira kalau kamu punya masalah sama komunikasi. Tapi, sifat kamu yang sering bantu orang, kayaknya memang bukan masalah komunikasi. Mungkin memang dari awal mental kamu kayak gitu, orang yang punya people pleaser."
"People pleaser ...?" ulang istilah tersebut dengan nada meninggi bertanya. "Itu mental yang orang ngorbanin kebahagiaan diri sendiri buat orang lain. Sendirinya menderita, tapi yang penting orang lain enggak."
"Dan kamu pikir, kamu gak masuk ke sana?"
"Enggak," jawabku dengan tegas. "Aku mungkin kelihatan bantu orang lain. Tapi, aslinya aku juga bantu diriku sendiri. Kondisiku agak bikin ribet buat dijelasin. Aku bantu orang, dan aku juga bantu diriku sendiri. Aku gak bantu orang kalau memang itu cuman nyiksa diriku saja."
"Ah ... iya, kamu bantu dirimu sendiri. Itu mungkin jadi intinya. Aku juga temanmu, dan selama ini gak pernah lihat kamu bergantung padaku. Makanya waktu kamu bilang 'makasih', rasanya kayak asing banget di telinga. Ahaha ...."
"..."
Kalimat Farrel membuatku terdiam sejenak. Hal tersebut mengingatkanku dengan pernyataan dari Imarine sebelumnya. Dikatai oleh banyak orang sekaligus benar-benar membuatku berpikir ulang. Amalia, Imarine, dan bahkan Farrel mulai membahas hal ini. Padahal, di mataku, aku yang tidak merepotkan orang lain adalah hal yang baik.
Percakapan pun berakhir. Farrel yang sudah mengambil napas beristirahat pun kembali bergerak untuk kembali bekerja. Walaupun dengan tekanan tersebut, tapi waktu malam yang sudah datang setengah jalan tidak berubah. Pada akhirnya kami juga harus beristirahat.
Goa di sana tidak terlihat berperan sebagai terowongan. Perbedaan antara goa dan terowongan adalah, terowongan memiliki sisi lain, sedangkan goa umumnya hanya berupa lubang berdasar. Jadi, masuk terlalu dalam bisa berbahaya, konsentrasi oksigen menipis dan tentu rawan untuk terjebak dalam reruntuhan.
Jadi, ketika sudah ada di dalam goa dan merasa aman dari makhluk besar tadi, kami tidak melakukan penjelajahan dahulu. Pilihan lebih baik adalah menjadikan tempat itu sebagai peristirahatan darurat, mengingat tubuh juga sudah lelah akibat insiden tersebut.
Kami berdua membawa tas masing-masing. Dari isi keduanya, tidak ada peralatan instan yang bisa membuat kami bisa tidur di goa berdebu begitu saja. Penerangan hanya dari senter, dan kain tempat tidur juga tertinggal di tempat sebelumnya. Jadi, yang bisa kami lakukan hanyalah mengeluarkan barang bertekstur keras dan menjadikan tas sebagai bantal.
Tempat yang kotor bisa kami tahan, debu di udara bisa kami saring dengan menutup mulut menggunakan pakaian. Faktor terpenting adalah tidak ada bahaya dari penghuni goa di sana. Untungnya goa tersebut tidak memelihara kelelawar atau serangga berbahaya yang menjadikan tempat tinggal. Tempat tersebut kosong sama seperti kondisi hutan yang minim dengan jenis hewan.
****
Keringatku kala itu belum kering. Rasa lengket berminyak dengan pakaian tebal membuatku tidak nyaman di berbagai faktor. Perlengkapan kuat tersebut tidak cocok untuk tidur, tapi aku tidak punya pilihan selain harus memakai baju tersebut.
Biarpun begitu, tubuhku masih bisa menutup mata dengan tenang. Kondisi lelah masih jauh lebih parah untuk menidurkanku dibanding egoisme rasa manja atas keadaan yang tidak nyaman.
Mataku terbuka, merekah menyambut cahaya pagi yang menyorot dari sela-sela pintu goa. Di dunia tersebut aku juga ternyata bisa merasakan kondisi fisik umum seperti mengantuk, pegal, dan lengket tidak nyaman atas keringat. Perasaan dan gangguan fisik kecil di mana diriku ingin memandikan tubuh di air bersih bersama sabun.
Biarpun begitu, aku tidak bisa melakukannya. Sumber air di hutan itu tidak melimpah layaknya di air terjun. Jadi, semua itu hanya bisa kuakali dengan merenggangkan tubuh dan membuka pakaian mencari angin segar di sekitar pintu masuk goa.
__ADS_1
"Oh ... Ivan, kamu sudah bangun?"
Suara tersebut muncul dari luar goa, Farrel yang memang sejak dari awal aku bangun tidak terlihat batang hidungnya.
"Iya, barisan aku baru bangun, salah satu bangun yang terbaik dan terburuk di hidupku."
"Di kondisi kayak gini kamu masih sempat rasain kondisi terbaik?"
"Bangun tanpa gelombang emosi dari orang-orang baru bangun juga sebuah berkah. Aku gak akan dapetin ini di rumah maupun di tempat camping."
"Gelombang emosi, istilah yang kadang keluar dari mulutmu," ucap Farrel bergumam. "Biasanya orang indigo bisa lihat sesuatu kayak aura, tapi kalau kamu sebut itu gelombang emosi. Agak ribet juga."
"Yang mereka bilang aura memang beda sama gelombang emosiku. Tapi, biar gampang kamu boleh samain. Sumbernya masih mirip, dua-duanya keluar dari orang dan gak kelihatan sama orang biasa."
Farrel sepertinya juga sudah tahu kalau sihir itu cukup rumit dijelaskan secara rurut. Jadi, baik aku dan dia, kami selalu membicarakan dan menyampaikan sesuatu tentang sihir ini sedikit demi sedikit dari pertanyaan kecil. Sesuatu seperti itu lebih mudah ditangkap dan tidak akan menyebabkan kelelahan. Lagi pula, sekarang kami berdua sedang ada di dalam misi.
Di luar sana Farrel sedang memilah bahan makanan berupa buah dan berbagai jenis umbi. Di dekat mulut goa lelaki tersebut dengan mandiri membakar kayu dan mengolah makanan hutan untuk kebutuhan pangannya.
Di dalam api tersebut terdapat umbi, dia membakarnya agar masak dan empuk. Lalu, di samping lelaki tersenut sudah siap buah-buah beralas daun, bahan makanan kedua pendamping umbi tersebut.
"..."
"Ngapain kamu masih berdiri, Ivan? Kalau kamu mau makan, langsung ambil saja."
"Heh, kenapa kamu bilang kalau aku lapar?"
"Suara perutmu sudah kedengeran dari waktu kamu tidur?"
"Huh? Enggak, itu gak mungkin. Kamu bohong, 'kan?"
"Iya, aku bohong."
"..."
Jenis canda yang mengganggu menurutku. Tapi, bentuknya masih terlalu lembut untuk bisa disebut menyebalkan. Di sini dia tetap tidak ingin membawa suasana ke dalam stres berlebih. Seperti dia menjaga perasaanku, apa yang keluar di mulutnya tidak pernah kudengar berupa keluhan.
"Ini jatah sudah buat berdua. Jadi, ambil saja. Gak mungkin aku kasih ke gajah kalau sampai di masak dulu," kata Farrel menyusul.
__ADS_1
"Hnm, hmn ...? Ah, iya, oke," jawabku sedikit ragu.
Aku pun ikut merendahkan badan bersama Farrel. Tumpukan kayu dan bara api yang dipakai membakar umbi tersebut pun aku datangi. Dengan berbagai alat bantu seperti tongkat, batu, dan kipas, aku pun mulai memakan umbi tersebut bersama Farrel.
*Bug, bug, bug ....
"Hh!?"
Getar tanah dari langkah kaki makhluk besar terdengar. Mengingat apa yang terjadi kemarin malam, aku pun mulai tegang dan tiba-tiba berdiri melakukan sikap siaga. Getaran tersebut bahkan cukup membuatku kaget hingga menjatuhkan umbi yang baru setengah kumakan.
"Tenang, Ivan," ucap Farrel yang dengan santai melahap bekal makanannya tanpa bergerak sedikit pun dari posisi duduk di batu. "Itu cuman gajah."
"Gajah?" ucap ulangku bertanya.
"Iya, kayaknya cuman dia binatang yang aku temuin di sini sekarang. Tapi, tenang, dia gak ganas. Dia dari tadi cuman keliling saja cari makan sendiri. Walaupun agak aneh sih kenapa bisa ada gajah di sini."
"..."
Aku mencoba menajamkan penglihatan mengikuti arah pendengaran, mencari sumber getaran dan posisi gajah yang sedang berjalan di sekeliling tersebut. Lalu, di sana aku menemukan, seekor gajah besar yang sedang memakan daun-daun di daerah yang lebih terbuka. Makhluk itu muncul dari sisi lain bukit batu tempat goa kami berada, sisi berlawanan dari arah kami datang di sungai sebelumnya.
Namun, gajah itu hanya ada satu ekor.
Gajah adalah makhluk yang berkelompok, cukup jarang aku melihat di dalam film dokumentasi hewan di mana dia hidup sendiri. Terlebih, tempat hidupnya bukan di hutan hujan, melainkan hutan yang lebih renggang dengan padang rumput yang lebih luas agar dirinya mampu bergerak lebih leluasa.
Hutan hujan punya medan yang unik dan berat. Tanahnya cenderung tidak rata dan banyak akar pohon mengganggu. Sela-sela antar tanaman yang sempit juga sangat menyulitkan untuk gajah bergerak. Bahkan, dengan kondisi fisik alaminya, gajah tidak bisa melompat, dia akan sangat mudah terjebak di hutan hujan seperti ini. Sungguh bukan habitat gajah walaupun masih sama bernama hutan.
Namun, gajah tersebut ada, hadir di pinggir hutan yang menurutnya masih aman untuk berkeliaran mencari makan.
Aku yang sempat melamun dan ditenangkan oleh hilang kemungkinan bahaya pun kembali duduk. Detak jantung yang hampir terpacu untuk kembali berlari aku tarik dari pikiran. Ingatan hari ini didorong oleh satu ilmu yang aku tahu.
Gajah salah satu makhluk yang diduga mempunyai ikatan emosi kuat dengan makhluk sesamanya maupun yang tidak. Hal tersebut bahkan disetarakan dengan anjing, kucing, dan burung gagak.
Jadi, ketika aku melihat gajah sendirian di tempat yang tidak terduga. Mungkin, gajah itu sudah tua dan menunggu untuk kematiannya.
__ADS_1