Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 3 Manis Sengat Semut Asam Format : Chapter 10 - Sakit Bunuh Diri


__ADS_3

Hari tersebut berakhir. Kami bertiga pulang ke rumah masing-masing bersama di hari minggu pagi. Setelah mengetahui tujuan penyusup dan bagaimana cara bertemu dengannya, tentu misi pengintaian akan semakin mudah.


Rumah sakit di kotaku hanya ada satu yang paling besar, sisanya hanya klinik-klinik kecil di mana mereka tidak akan menangani pasien dengan penanganan khusus seperti stroke, kanker, apalagi AIDS. Jadi, jika si penyusup itu mengincar korban dengan riwayat penyakit berat di kota ini, hanya di sana dia bisa menemukannya.


Jam menunjukkan pukul sembilan saat aku benar-benar sampai di wilayah sekitar sekolah. Jadi, itu waktunya untuk Amalia dan Pero untuk berpisah.


Dari sekolah aku berjalan cukup jauh yang sebanding dengan keberangkatanku ke sekolah. Itu menjadi ujian lebih berat lagi untuk kutahan. sesampainya di rumah, tidak ada yang menyambutku. Datang dari pintu belakang, diriku juga tidak melihat tanda-tanda kehidupan.


Hmn ... mungkin memang tidak ada orang di rumah.


Aku membuka kunci, mulai masuk dengan rasa malas layaknya orang tersiksa sambil menggusur tasku di lantai. Bawaan yang berat membuatku ingin segera istirahat. Tapi, di saat yang sama perutku mulai bergetar meminta makanan.


Dari pintu belakang, aku dipastikan melewati dapur dan ruang makan, berjalan ke tempat tersebut sambil berharap ada sesuatu tertinggal di sana. Tapi ....


“...”


Iya, kosong.


Tidak ada makanan di tempat yang memang tidak ada penghuninya. Mungkin kak Diona yang pergi juga mengira aku akan makan di luar.


Terkadang aku merasa kesal sendiri, keluargaku sedikit demi sedikit mulai menjauh dari jangkauan. Ayah sang kepala keluarga mendapat banyak mutasi hingga sulit baginya untuk pulang, ibu masih mengejar pekerjaannya yang jam kerjanya sangat acak, dan kak Dina yang mulai mendapat pergaulannya sendiri di luar.


*****


Keesokan harinya, aku mulai sekolah lagi. Memulai kehidupan normal yang membosankan lagi. Hari Senin kali ini lebih terasa merepotkan dan malas disambut, itu semua karena libur akhir pekan yang tidak kumanfaatkan dengan baik untuk beristirahat. Acara Pero pergi jauh dan menginap di hotel membuatku lelah, terutama ketika pengalaman rasa sakit yang mirip seperti kematian itu dirasa lagi. Rasanya seperti traumaku pada Amalia kembali dibuka.


Aku turun lewat tangga, berangkat pergi dan berharap ada makanan di bawah.


“...”


Tapi ..., di sana tetap kosong.


Aku tahu, aku biasanya juga mengambil alih pekerjaan rumah ketika tidak ada yang memegangnya. Kak Dina tahu itu, dia juga mulai terbiasa untuk tidak mengkhawatirkanku ketika pergi lama. Aku bisa memandirikan urusan perut. Tapi, entah kenapa untuk saat ini semua hal tersebut terasa merepotkan.


Baiklah ... untuk sekali mungkin tidak apa-apa beli makan di luar.


Kak Dina untuk beberapa alasan tidak ada di rumah bahkan sampai pagi hari sekarang. Entah karena mengikuti jejakku yang pergi menginap, dia juga melakukan hal yang sama sekarang. Orang tua di sini mulai menghilang, rumah semakin sepi dan berubah layaknya menjadi tempat peristirahatan sementara.


Kakakku yang tidak pulang juga sebenarnya sudah aku tanyakan sebelumnya, menghabiskan waktu sendiri rasanya sangat mengganggu dalam arti lain. Walaupun aku tidak melakukan hal dengan kak Dina di rumah, tapi keberadaannya saja sudah menjadi rutinitasku. Entahlah, dibandingkan orang tua, kehilangan kak Dina di rumah jauh lebih tidak nyaman.


Aku pergi meninggalkan rumah, berjalan menuju sekolah, tapi bersinggah dulu ke penjual bubur sebagai pilihan menu pagi ini.


Jika dipilih kenapa, mungkin karena dia kebetulan muncul di pandanganku di waktu yang tepat. Tidak ada alasan baik seperti penjual itu terlihat hebat, terlihat bersih, makanan menjamin, atau harga yang bersahabat. Penjual tersebut hanya pengguna gerobak biasa yang berdiam di satu tempat strategis.


Aku memesan satu porsi, dan duduk di tempat yang telah disediakan. Si penjual di sana sudah menyiapkan satu set kursi panjang bersama mejanya. Jadi, para pelanggan akan makan di meja yang sama.


Hmn ... rasanya cukup asing.


Keluargaku hanya ada kak Dina yang benar-benar dekat. Cukup jarang aku makan di luar sendirian karena ada kakakku yang biasa menemani. Jika tidak makan di rumah, maka makan di luar bersama. Jika salah satu sudah makan, biasanya salah satu sudah menyiapkan makan di rumah.


Hn?


Ketika aku menunggu, aku melihat satu anak kecil yang sedang makan di samping. Dia laki-laki yang bahkan kakinya saja tidak sampai di permukaan tanah. Untaian kaki anak tersebut berjuntai-juntai bergerak maju mundur secara bergantian, layaknya anak manja.


Namun, sesuatu yang membuatku teralihkan adalah apa yang sedang dia makan.


Menu di sini hanya ada bubur, tidak ada pilihan lain yang membuat hal aneh. Jadi, sesuatu yang asing dalam penglihatanku adalah bubur tersebut memiliki topik taoge yang begitu banyak.


Aku tidak tahu bubur bisa dinikmati seperti itu. Tapi, aku yang waktu kecil tidak menyukai sayur, dan taoge masuk ke dalamnya. Melihat anak kecil yang makan sayur berlimpah seperti itu lebih berkesan seperti hewan herbivor.


“...”


“Hn?”


Mata kami bertemu, mungkin karena dia merasakan tatapanku terhadap bubur penuh taoge yang dia sedang makan. Akibatnya, gerak tangan yang sedang menyendok bubur tersebut terhenti, fokusnya teralihkan padaku.


“Kamu mau juga? Taoge?” kata anak tersebut sambil menatapku.


Kamu?


Aku tidak yakin itu adalah sebuah kata yang tepat. Untuk seorang anak kecil, dia terkesan kasar memanggilku dengan panggilan tersebut. Anak kecil yang biasa kutemui selalu memanggil kata hormatan tua seperti ‘kakak’.


Tapi ... hmn ... mungkin aku saja yang terlalu memikirkannya. Bukan berarti sepenuhnya kasar, hanya saja pemikiran tentang budayaku yang begitu.


“Enggak, makasih. Bubur kayaknya gak pas buat dikasih taoge.”


Terutama dengan jumlah yang besar hingga menutupi permukaan bubur itu sendiri.

__ADS_1


“Oh, kamu pikir begitu?” tanya lanjut anak tersebut. “Bagi diriku, makanan utama adalah taoge, dan bubur adalah pelengkap agar taoge tidak hambar.”


“Heh?” respons mengangkat sebelah alis. “Entahlah, kayaknya cuman kamu yang bikin posisi gitu.”


“...”


“...”


Aku terdiam, anak tersebut juga mulai menggerakkan tangan untuk melanjutkan makan.


Dari awal tidak ada niat untuk dekat dengan anak kecil tersebut, di saat bersamaan, bubur pesananku juga datang. Jadi, kami juga tidak meneruskan percakapan lebih dalam.


Waktu yang tersisa sebelum sekolah sebenarnya cukup banyak. Tapi, rasanya tidak nyaman makan berlama-lama di tempat tersebut. Bubur sangat mudah ditelan, tidak ada hambatan sama sekali memasukkan semua tersebut ke dalam kerongkongan.


Tidak tahu tepatnya, tapi makanan tersebut mungkin habis dalam tiga menit aku mulai.


Aku merogoh uang di saku, dan sempat kembali aku melihat anak kecil di sampingku. Dia juga ternyata sudah menghabiskan makan taoge campur buburnya. Hanya saja tidak sepertiku yang mengemas barang-barang bersiap pergi, anak tersebut lebih memilih diam lebih lama.


“Akhirnya selesai juga,” ucap anak tersebut.


“Hn?”


Aku yang berdiri ingin meninggalkan tempat tersebut pun tertahan. Uang yang seharusnya sudah dirogoh pun tertahan di dompet, dia kembali mengambil perhatianku.


“Kamu ... huft ... hah ... iya, kamu ... apa kamu punya sesuatu belakangan ini?”


“...”


Menghadapi anak kecil yang bicara padaku layaknya sejajar ternyata cukup membuat emosi. Suara anak kecil lewat di telingaku. Tapi, ketika didengar ternyata panggilnya dengan kata ‘kamu’, tidak ada rasa hormat. Arah suara aku telusuri, dan ditemui tubuh kecil layaknya anak kecil normal, ini semakin menumpahkan emosi untuk memarahinya diajari rasa hormat.


Ah ... sekarang aku tahu kenapa para orang tua mengeluarkan gelombang emosi negatif ketika melihat anak-anak yang banyak tingkah dalam arti buruk. Mereka ternyata mengharapkan sesuatu seperti penghormatan dan ketenangan.


Tapi, baiklah ... si anak kecil ini juga tidak punya sebuah gelombang emosi kejahatan layaknya ingin menjahili. Dia murni bertingkah karena menganggap tindakannya adalah hal normal. Jadi ....


“Apa maksudnya?”


Aku menanggapi pertanyaan tersebut senormal mungkin.


“Pertanyaan itu mudah, harusnya kamu tinggal jawab kejadian yang pertama muncul di kepalamu. Jika itu tidak cukup, kamu mungkin perlu pertimbangan sesuatu yang paling mempengaruhi perasaanmu sekarang.”


“...”


Di depanku sangat yakin ada anak kecil yang tingginya tidak lebih dari 130 senti. Suaranya sama tingginya dengan para anak kecil yang meminta manja es krim di tengah jalan. Tapi .... akan tetapi, apa yang dia ucap terlalu dewasa untuk anak seumurannya. Ini terus membuat hatiku terus berasa campur aduk.


Ingin mengabaikannya, tapi rasanya aku akan kalah dari anak kecil.


“Pertanyaan itu tetap gak bisa dijawab. Ada banyak kejadian yang muncul di kepalaku, terlalu banyak sampai gak cukup waktu kalau aku jelasin satu-satu,” jawabku padanya.


Sebenarnya aku bisa menjawabnya. Sesuatu yang lebih mengganggu pikiranku adalah kondisi rumah yang semakin sepi dengan kepergian kak Dina. Tapi, di kondisi ini topik tersebut tidak ingin kubahas.


“Hmn ... jadi kamu tipe orang yang bisa menahan semua perasaan itu.”


Perasaan?


Kembali mendengar kata asing. Anak kecil tersebut bicara layaknya dia tahu segalanya tentangku. Padahal, aku yakin ini pertama aku melihat wajahnya.


“Iya, semuanya bisa kutahan, semuanya hanya perlu pembiasaan,” balasku sambil mencoba kabur dari tempat tersebut.


Tanganku mulai bermanuver, gerak kakiku dipercepat pindah ke arah penjual, percakapan singkat, ingin membayar hutang menu bubur, dan segera pergi menjauh.


Jika dilihat, seharusnya dia ada di umur sekolah dasar atau menengah. Walaupun dia tidak memakai seragam, wajarnya dia tahu tentang keberadaan dan penampilan pakaianku, posisi sebagai pelajar yang tidak bisa menemaninya terus di sini.


Urusan utama selesai, aku sedikit pamit dengan mengangguk dan berterima kasih.


“...”


“...”


Pandangan kami sempat bertemu karena aku penasaran dan mengalihkan mata sejenak. Tapi, aku tidak mengucap apapun pada anak kecil tersebut.


Langkahku sudah bergerak kembali, jarak antara aku dan wilayah jualan bubur tersebut sudah mulai terbentuk.


“Woi ....”


“...”


Tapi, si anak tersebut dengan spesifik memanggilku. Suaranya menggelegar ke telinga, dapat dirasa kalau sumber tersebut sedikit berbeda dengan tempat duduknya di awal, si anak tersebut maju berjalan khusus untuk mengejarku.

__ADS_1


“Apa lagi?” tanyaku.


Aku secara refleks tidak bisa menolaknya, maka dari itu tubuhku kembali merespons diam dan berbalik melihat ke arahnya.


“Tentang beban yang kamu tanggung ... jika suatu saat terasa terlalu berat, kamu bisa menyerah kapan saja.”


Perkataan itu tidak dapat kuambil maknanya. Tapi ....


“Iya, mungkin kalau sudah waktunya ....”


Untuk ke sekian kalinya aku menjawab acak agar komunikasi tersebut cepat berakhir.


Entahlah ... belakangan ini aku bertemu banyak orang aneh. Walaupun tidak semuanya buruk, tapi berbagai sifat di mana banyak di antaranya memberi kesulitan untuk merespons.


Terutama untuk kali ini ... anak kecil dengan tata kalimat yang tiada hormat.


****


Perut sudah penuh, staminaku juga cukup terisi untuk bisa menghadapi upacara pagi hari. Tentu saja seperti biasa, apa yang menjadi siksaan bagiku bukanlah acara upacaranya, melainkan sebuah kondisi di mana banyak orang bersatu di lapangan menghasilkan banyak gelombang emosi. Rasa lelah mereka akan dirasakan satu persatu ketika waktu terus berjalan. Itu menjadi siksaan di awal, walau pada akhirnya indra deteksi gelombang emosiku akan terbiasa.


*Whoush ....


Ah ... iya, seperti itu— Hn?


Gelombang ... emosi?


Rasa pahit-pahit dingin dengan disertai sensasi mengambang, terasa memekat setiap aku mendekat ke arah sekolah. Sangat besar dan pekat ... karena aku yang sekarang masih cukup jauh dari sekolah.


Aku pun mempercepat jalan, sedikit menaruh tenaga di kaki dan menahan semua gelombang emosi tersebut. Ada satu belokan sebelum sampai di gerbang utama, jaraknya tidak terlalu jauh. Lalu, tepat ketika berbelok, aku melihat sekolahku ramai oleh banyak orang.


Ada apa ini?


Bukan hanya siswa dan guru, tapi banyak juga masyarakat asing serta polisi berdiri melingkari pintu utama tersebut. Dari sini terlihat kalau beberapa polisi sedang berusaha masuk, tapi ditahan oleh guru-guru bersangkutan, lalu konyolnya peristiwa itu menarik perhatian masyarakat sekitar yang penasaran.


Ini bukan kejadian biasa, konvoi-konvoi tersebut terlalu ramai jumlahnya untuk sekadar izin acara khusus. Gelombang emosi ini ... lebih ke arah sesuatu yang darurat.


Aku ingin pun mendekat, memotong jarak dan ikut bingung dengan mereka yang tertahan tidak bisa masuk lebih dalam ke sekolah. Sempat satu dua pertanyaan kudengar di samping-samping siswa yang penasaran. Tapi, tidak ada yang bisa menjawabnya, mereka juga sama-sama baru datang dan kebetulan terjebak bersama.


Hn?


Tapi, aku melihat satu orang ... satu orang yang sepertinya sedikit punya tingkah berbeda. Dia tidak terlihat bingung, gelombang emosinya berbeda dengan yang lain, rasanya lebih ke arah ketakutan ... dingin dan asam. Lalu, jika ada satu orang yang bisa mengubah rasa gelombang emosi di tengah lautan manusia, hanya dia yang muncul di kepalaku.


“Amalia ....”


“...”


Gadis tersebut dalam kondisi kacau, tindakannya sedang memaksa membuka jalur sendiri di keramaian. Tapi, dia tidak bisa, kekuatan dan ukuran tubuhnya kalah dengan tembok manusia di sana.


“Ada apa di sekolah? Kenapa kamu buru-buru? Ada yang kamu cari— Hn?“


Amalia tidak memperhatikanku ketika bicara, pandangannya langsung beralih ke bawah, dia menggerayah dan mengambil catatannya sendiri. Aku awalnya tidak keberatan di keadaan panik banyak orang di sekitar, tapi kalimatku terhenti ketika gadis itu menunjukkan catatan dengan tegas.


Kaivan ... ada berita buruk. Jadi, sebelumnya kamu harus siap.


Berita buruk?


“Jangan khawatir. Kalau kamu tenang, aku juga tenang,” ucapku dengan santai.


Entah dia tidak belajar atau tidak. Emosiku sendiri lebih stabil, apapun siksaan yang tersayat, lebih sakit gelombang emosi yang menjerat langsung di dalam diriku.


Di dalam sekolah ... di sana lagi ramai. Kasusnya agak berat ...


Azarin ... sama ibunya ... meninggal bunuh diri.


“...”


Tapi, kabar tersebut cukup menusuk. Bukan karena gelombang emosi, ini tepat sakit murni berasal dariku. Kadar dophamine dan serotonin merosot, dadaku serasa diremas, kaget akan sesuatu yang di laur dari bayanganku.


Aku memang tidak dekat dengan siswa tersebut, pertemuannya hanya sebentar di mana dia mengumpati dan memukulku. Kenakalannya ... dan tindakan pembullyannya, masih belum ada tingkah laku yang membuat ingatan indah. Tapi, untuk menerima berita kematian, rasanya tetap sakit.


Aku menghargainya, tidak muncul sedikit pun pikiran tentang dia untuk menghilang dari dunia. Aku mengerti penderitaannya, aku dapat merasakan rasa kesal dan kemarahannya. Sesaat rasanya emosiku dengannya terhubung.


Jadi ....


Rasanya sakit.


 

__ADS_1


 


__ADS_2