
Gelombang emosi yang kurasakan malah sangat aneh. Bukan kesedihan, tapi rasa bahagia. Walaupun aku dapat mengecap rasa gurih, tapi tetap ada keanehan di dalamnya. Aku tidak menyukai ini, rasanya kuat ke arah yang aneh. Seperti aku sedang memakan manisan yang dipenuhi oleh semut di dalam krim manisnya. Seperti asam format dan formaldehida menguap muncul di mulutku.
"Kaivan ... asal kamu tahu, orang yang pertama aku bunuh adalah ibuku sendiri!"
"..."
Huh?
"Kalau kamu tanya kenapa, tentu saja karena dia sendiri yang menginginkannya. Aku tidak pernah merasakan keinginan untuk mati sekuat ibuku, aku tidak pernah merasakan kebahagiaan terbesar ketika menerima kematian selain ibuku. Iya ... haha, iya ... dan aku ingin menyebarkan semua itu ke seluruh dunia."
Aku menyipitkan mata dan mengerutkan alis, melihatnya dengan bingung dan sedikit iba. Bukan ke arah marah, tapi lebih ke arah kasihan. Apa yang di hadapanku bukan sesuatu yang normal, karena ....
"Geza ... kamu, kamu itu sakit—"
*Whoush ...!
"Hh!?"
*Dug, dug ....
Lonjakan gelombang emosi terjadi, perasaan yang sebelumnya memekik mulutku berubah menjadi kemarahan. Rasa pedas yang umum, rasa pahit atas kebencian, suatu dendam yang begitu pekat keluar dan mendekat dengan cepat.
Geza melontarkan tubuhku begitu cepat, sangat cepat sampai aku tidak cukup cepat untuk menghindar. Dia dengan tombaknya meluncur lurus, melakukan sayatan besar tepat di tengah kepalaku.
Stank!
"YANG SAKIT ITU DUNIA INI ...!!"
Geza berteriak keras, mengeluarkan suara yang bahkan tidak pernah aku dengar lebih keras dari teriakan mana pun yang telah ia keluarkan. Kebencian keluar, dendamnya meluap meledak-ledak, kemarahan yang telah lama dia pendam meluber bersama serangan kuat tersebut.
"Gkh-ghktft!!"
Aku berhasil menahannya, pisauku yang biasa dipegang satu tangan kanan berubah menjadi dua. Sambil menahan tekanan vertikal menukik ke bawahnya, aku mendorong punggung pisau dengan satu tangan lagi untuk bertahan. Di posisi ini, setengah badanku sudah melengkung miring ke belakang seperti main tongkat limbo. Untungnya kuda-kuda yang masih sigap menahan seluruh badanku jatuh ke bawah. Dengan bantuan dua tekanan tambahan dari tangan kiri dan tumpuan kaki, entah bagaimana aku bisa bertahan dari serangannya.
"Dunia ini penuh rasa sakit, bukan cuman di rumah sakit, tapi ada di seluruh dunia!" Geza berteriak, sambil mengeraskan tenaganya, dia terus mendorong kuat memacu seluruh tenaganya.
Penyihir lobster itu tidak menekan terus tombaknya, dia kembali menarik dan melakukan serangan ulang dibanding memojokkanku terus di satu dorongan. Mengikuti perkataannya, dia lebih memilih menyerang beruntun.
Stank! Stank! Stank!
"Aku tahu rasa sakit itu, tapi aku yakin membunuh ibumu itu tindakan yang lebih sakit. Ada yang salah di kepalamu!" teriakku membalas ucapannya.
"Bocah! Kamu cuman hidup di dunia damai, dunia yang bahkan membuatku muak melihatnya!"
Menggunakan tombak, dia melakukan serangan berputar.
Stank!
"Itu bukti, bukti kalau apa yang kamu lakukan tindakan terbelakang yang sudah ditinggal. Pembunuhan berdasar bunuh diri memang harusnya gak ada."
__ADS_1
Aku menahannya dengan memiringkan pisauku, melindungi tulang hastaku dari serangan menyamping.
"Apa yang kamu dari ibuku!? Dia hidup di zaman pemberontakan! Hidup di bawah tekanan perang!"
*Whoush ....
"Gkh!?"
Gelombang emosi kemarahannya naik dan turun, menegang di nilai tinggi membuat tubuhku semakin aneh. Doping yang tercipta dari deteksi emosi mengukir kepanikan umum tentang kesehatan tubuhku nanti. Rasanya kekuatan dan refleksku terlalu tinggi untuk bisa diterima olehku sendiri.
Stank! Stank!
Tapi, aku berusaha tenang, tujuanku sekarang adalah merusak senjatanya. Jadi, adu senjata ke bagian yang mudah hancur. Dari insting, aku memilih sendi di ujung pegangan yang menghubungkan antara capit dan batang tombaknya.
"Rasa sakit, rasa sakit, rasa sakit! Kamu tidak tahu betapa sakitnya orang di zaman itu, betapa menderitanya mereka, dan berapa banyak beban mereka tanggung. Mendengar bocah belum dewasa mengatakan tentang ini membuatku muak ...! Muak ...! Muak!"
Stank!
Serangan lurus menusuk menuju dada, dan aku hempas dengan baik lewat pukulan kecil hingga membelok.
"Aku tahu rasa sakit itu—"
"Bocah!"
Stank!
Sebelum aku berhasil membalas, Geza lebih dulu memotong. Ungkapan kemarahannya keluar begitu jelas, dia sangat membenci kalimat pernyataan di mana aku mengerti perasaannya. Dia membenciku, karena pernyataan tersebut dia sebut tidak berdasar hingga terdengar sangat menyebalkan baginya.
"..."
Stank!!
Suara logam terus berdentang di antara tumbukan senjata kami. Sudah beberapa kali aku mengenai area yang sama menyerang di satu titik bagian tombak milik Geza, tapi tidak sedikit pun ada tanda-tanda benda tersebut akan rusak.
"Setiap hari, setiap hari, setiap hari, SETIAP HARI!! Diperlakukan seperti mainan, diperlakukan layaknya ternak, diperkosa dalam keadaan menjijikkan, bersimbah darah para mayat, dan tanpa pernah bisa keluar!"
"..."
*Dug, dug ....
Stank!!
"Ketika dia sakit parah dan merasa sekarat, dia pikir itu adalah akhir bagi penderitaannya. Tapi, dia malah disembuhkan untuk selanjutnya dijadikan budak **** lagi. Sembuh dari penyakit yang ia ingin mati! Sembuh untuk mengulang rasa sakit!"
Stank!!
"GKhft!"
"Ketika dia hamil, dia dipaksa melahirkan! Keadaan buruk, trauma hebat, dan harus membekas menjadi darah daging! Apa kamu mengerti bagaimana posisinya waktu itu!? Permohonan mati!!?"
__ADS_1
"..."
Stank!!
"Dia terjebak di sana, melahirkan anak dan harus terjebak kembali menjadi budak! Tidak pernah bisa melihat anaknya, tidak bisa membesarkannya, karena dia adalah budak! Hidup membusuk di penjara bersama air hina!"
"..."
Stank!!
"Apa kamu tahu aku!? Apa kamu tahu di mana aku!? Hidup bersama para pemberontak dan tumbuh dengan cuci otak! Besar bersama para iblis dan mimpi palsu!"
Stank!!
"Dan apa kamu tahu!? Bagaimana rasanya dilihat begitu hina oleh ibuku sendiri!? Bagaimana ngerinya melihat ibuku hidup bagai ternak! Dan ... dan ...."
Semakin lama, gerakan Geza semakin sederhana. Kemarahannya membuat dia semakin gila dalam kekuatan. Tapi, di saat yang sama aku juga semakin tajam. Gerakan yang acak dari amarah sangat mudah terbaca. Oleh sebab itu aku bisa bertahan selama ini. Walaupun memecahkan senjatanya terlihat mustahil, tapi setidaknya pertahananku cukup sukses.
"..."
"..."
Namun, entah kenapa di detik ini dia malah diam. Kondisinya begitu labil dan tiba-tiba saja menjadi hening.
"Dan apa kamu tahu rasa sakitnya ketika ibumu sendiri melihatmu dengan mata kebencian?"
"..."
*Whoush ....
"Apa kamu tahu ketika ibumu minta dibunuh olehmu sendiri saat itu?"
"..."
*Whoush ....
"Apa kamu tahu rasanya melihat dunia begitu busuk memperlakukanmu selama ini
*Whoush ....
Rasa sakit dari gelombang emosi Geza terus bertebaran. Begitu kuat, begitu pekat, bercampur satu sama lain hingga air mataku keluar dengan sendirinya. Emosi tersebut terlalu kuat, wajahku mengerut dan gigiku mengeram sangat keras. Rasa sakit itu begitu tajam, aku tidak kuat untuk memegang dadaku karena sesak menahan gelombang emosinya. Rasa sakit tersebut begitu hebat, tangan kiri yang kupakai begitu kuat meremas pun tidak berasa kontak fisiknya. Kesetimbangan zat kimia dalam saraf mulai kacau, rasa sakit mentalku terbawa olehnya. Aku mungkin tidak tahu siapa, aku tidak mungkin tahu kapan, aku juga tidak tahu bagaimana. Tapi, tapi ....
"Aku tahu, aku tahu rasanya."
*Whosuh ....
Tapi, respons yang kudapat darinya tidak begitu baik.
Geza bernapas keras, meniup udara di hidungnya begitu kencang selayaknya ingin meledak. Giginya mengeram, urat di lehernya bahkan muncul keluar begitu jelas. Lalu ....
__ADS_1
"APA YANG KAMU TAHU DASAR BOCAH!!"
Dia mengayunkan tombak bersama dengan teriakan kerasnya.