Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 61 - Peluk Sampai Akhir


__ADS_3

Aku sebenarnya tidak terlalu benci dengan anak kecil. Mereka makhluk suci yang polos dan ingin tahu banyak hal. Dibandingkan dikurung bersama kumpulan orang dewasa, aku lebih memilih terjebak dengan banyak anak kecil.


Anak kecil sendiri menyebalkan sebenarnya hanya karena mereka tidak paham apa yang dilarang dan yang tidak. Jika caranya benar, mereka dapat diatur dengan baik tanpa menghasilkan keburukan. Rasa sedih tangis, gemetar takut, dan amuk kemarahan, anak kecil cenderung mengungkapkan semuanya tanpa ada kebohongan.


Satu nilai tambah dariku adalah hal tersebut yang membuat setiap gelombang emosi dari anak kecil tidak memekat di dalam. Selama ini, aku melihat mereka mengeluarkan gelombang emosi yang bersih, tidak seperti orang dewasa yang dipenuhi kemunafikan.


*Sniff, sniff, sniff ....


Lalu, persis sekarang. Aku lebih merasakan kalau ada anak kecil yang menangis di pelukanku.


Aku tidak tahu kalau wanita dewasa bisa benar-benar menangis seperti ini. Maksudku, hal seperti ini cukup jarang terjadi di lingkunganku. Ibu di rumah itu bersikap tenang dan cenderung punya pribadi kuat, dia seorang pekerja dan tentu harus mengutamakan profesionalitasnya. Lalu, kak Dina juga sama, dirinya adalah sosok yang kuat dan dapat mengayomi memelihara rumah tanpa bantuan orang tua.


Sampai sekarang aku tidak mengerti alasan jelasnya kenapa Amalia menangis. Tapi, aku bisa mengerti kalau hatinya sekarang punya kerapuhan yang sama seperti anak kecil pada umumnya.


"Maaf, Kaivan. Kamu pasti mikir kalau aku ngerepotin, 'kan?"


Amalia menekan wajahnya di seprai kasurku, dia hanya sedikit memiringkan wajahnya ke arah berlawanan dengan kepalaku agar terbentuk sirkulasi udara. Tapi, di saat itu aku masih merasakan getar dan isak tangisnya yang menggema mengalir ke tubuhku.


Di saat ini mungkin dia ingin dibela. Mengatakan kalau dia merepotkan adalah hal yang buruk, setidaknya begitulah menurutku.


"Tenang," kataku sambil memeluk punggungnya dengan tangan kananku yang sudah bebas. "Semua cewek itu memang ngerepotin," lalu lanjutku berkata demikian demi menghibur.


"Umn, itu gak bikin aku tenang," jawab Amalia sedikit cemberut. "Kamu gak kalau aku gak ngerepotin?"


"Maaf, aku benci kebohongan. Kamu sendiri mau aku bohong sekarang?"


"Aneh, bukannya semua laki-laki itu pembohong?"


"Aku gak tahu laki-laki mana yang kamu tunjuk. Setidaknya aku sendiri gak suka kebohongan kalau memang gak ada tujuan jelas."


"..."


"..."


Sempat terbentuk jeda di percakapan tersebut. Amalia mengheningkan suasana, tapi tidak ada tanda-tanda dia akan bergerak. Aku seperti dikurung dalam kondisi di mana aku terus memeluk dan menenangkannya. Sampai beberapa detik berlalu, dan akhirnya dia bicara.


"Ayahku."


"Hn?"


Gadis tersebut bergumam sedikit, menyebut kata ayah yang tentu di keadaan seperti itu dapat terdengar jelas olehku.


"Ada apa sama ayahmu?" tanyaku yang ingin mendengar kelanjutannya.


"Ayahku ... dia pembohong."


"..."


Begitu, iya.


Dari satu kalimat itu saja, aku sudah mengerti memang ada sesuatu yang terjadi pada gadis ini. Selama ini aku tidak memperhatikan, misi tentang penyihir dan kekacauan yang dilimpahkan padaku membuatku abai pada perasaan Amalia yang sebenarnya.


Padahal, jika aku pikir lebih sederhana. Sudah sewajarnya dia punya masalah, hanya saja dia tidak bisa mengungkapkannya. Dengan kewajiban penyihir, dia dituntut menyelesaikan masalah orang lain. Tapi, untuk masalahnya sendiri, sampai sekarang aku tidak melihat dia mendapat seorang penyelamat. Di sisinya hanya ada siluman gagak yang menurutku si siluman itu yang malah perlu diajari banyak hal.


Aku kembali menunggu lanjutan dari kalimat tersebut. Tapi, sepertinya Amalia malah membeku dengan napas sesak dari tangis lembutnya.


"Kenapa, Amalia? Kamu gak cerita lagi?" tanyaku menagih lanjutan.


"Kamu mau dengar?"


"Aku mau dengar. Tapi, aku gak paksa kamu buat cerita."


"..."


Lagi-lagi diam.


Amalia di sini sepertinya tidak begitu bersemangat menceritakan keluarganya. Tentu saja, dari pembawaan awal, aku tidak merasakan kalau hal ini adalah hal yang membawakan kesan positif.


"Hmn ... aku bingung mau cerita dari mana."


"Bebas, cerita saja dari mana. Kalau memang gak jelas, aku bakal tanya."


"Tapi, ceritanya mungkin bakal bosenin."


"Aku yang dengar, aku yang putusin itu bosenin atau enggak. Lagian, aku yakin itu gak bosenin buat kamu, 'kan?"


"..."


Aku sudah mencoba seluruh kemampuanku agar bisa menenangkan gadis ini. Kata-kataku mungkin tidak selembut orang lain, tapi setidaknya keinginanku tidak bohong untuk membuat Amalia lepas dari beban pikirannya.

__ADS_1


Posisi kami masih tidak berubah. Amalia ada di atasku, kami ada di atas kasur, berpelukan erat dengan kepala hanya berbeda beberapa senti ke samping. Aku terlentang melihat ke atas, meletakkan tangan di punggung gadis itu yang aku kira bisa menenangkan. Lalu, Amalia tetap tidak mengangkat wajahnya, dia di posisi tengkurap dan menghadap ke arah berlawanan dengan kepalaku untuk bicara dan menghindari tatapan.


"Dulu, waktu dulu aku masih kecil, aku selalu diajarin buat jadi anak baik," ucap Amalia yang mulai bercerita. "Aku diajarin biar kuat, aku diajarin biar gak banyak nangis, aku diajarin buat diam, aku diajarin buat tahan kemauanku, aku diajarin buat jalanin tugas rumah.


"..."


"Waktu itu gak tahu, aku gak tahu dan aku cuman turutin saja kemauan ayah ibu. Aku juga di sana senang, gak ada masalah kalau misalnya aku terus bisa bareng sama mereka."


"..."


Iya, menurutku itu hal yang wajar. Waktu aku kecil juga pendidikan di mana menjadi pribadi yang baik selalu menjadi hal utama. Kenakalanku didasarkan rasa penasaran, langgar peraturan kembali ke fakta kalau aku tidak mengerti alasan di balik aturan tersebut. Mungkin akan ada rasa kesal beberapa kali ketika ada perbedaan pendapat dengan orang tua. Biarpun begitu, bukan artinya aku tidak bahagia hidup bersama.


"Kaivan?"


Hn?


Tiba-tiba Amalia berhenti bercerita untuk memanggilku.


"Ada apa?"


"Sebelumnya aku lihat kamu sama kakakmu. Apa boleh aku tanya itu sekarang?"


"Silakan."


"Hmn ... kamu, anak angkat?"


"..."


Aku sedikit bermasalah dengan pertanyaan tersebut. Tapi, belakangan ini aku harus mengakui dan memang tidak ada yang berubah dari fakta yang terungkap. Aku tetap aku yang sekarang, kebohongan dari keluargaku tidak menyebabkan aku akan menjadi yang terbuang atau semacamnya.


"Iya, aku anak angkat," kataku sambil menutup mata meyakinkan diri.


"Soal itu, apa orang tuamu sudah kasih tahu dari awal?"


"Heh, pertanyaanmu berat juga," kataku sedikit ragu untuk menjawab.


"Maaf," lalu dibalas dengan sebuah ucapan merendah dari Amalia.


"Enggak, gak apa-apa," ucapku di sana yang tidak ingin merusak suasana. "Aku cuman mau bilang saja. Tapi, iya, orang tuaku gak pernah bilang apa pun soal itu. Aku tahu sendiri kalau aku bukan anak kandung."


"Hmn ... gitu, iya," ucap gumam gadis itu sebagai tanda menyimak. "Kalau gitu, aku boleh tanya lagi?"


"Tanya apa saja."


"..."


Itu terjadi memang sejak lama. Tapi, aku sempat membodohi diri sendiri kalau apa yang aku percaya adalah kesalahan. Waktu itu mungkin aku masih kecil, rasa kalau aku adalah sebuah individu terpisah seakan menghantui jika memang aku anak angkat. Beberapa film mengatakannya begitu. Namun, setelah dipikir lebih dewasa, aku mulai sadar kalau sebenarnya tidak ada yang buruk dari status anak angkat.


"Waktu itu mungkin aku kecewa. Tapi, sekarang aku sudah gak peduli lagi. Mereka juga punya pikiran mereka sendiri."


"Hmn ...," kembali gumam kedua dari Amalia yang mendengarkan. "Sayangnya aku masih gak bisa gitu, Kaivan."


"..."


Nada sedih dari gadis itu mulai merebak. Isak tangis dari napasnya yang menenang entah kenapa berubah menjadi atmosfer yang lebih berat.


"Dulu, waktu aku masih kecil ibuku sudah sakit-sakitan. Dia selalu dirawat di rumah sakit dan aku gak tahu dia sakit apa. Ibu dan ayahku bilang kalau itu bukan sakit yang parah. Ibu bakal sembuh, kalau aku jadi anak baik dan bantu dia. Tapi, nyatanya enggak."


"..."


"Aku waktu itu bertanya, apa ibuku mati karena aku kurang baik? Apa ini semua salahku? Waktu itu aku masih kecil dan sempat menyangka kalau aku anak nakal jadi ibu pergi. Ayahku gak pernah jawab, dia cuman bisa diam dan jawab aku pakai senyum kalau itu bukan salahku. Tapi, aku masih gak tahu alasan sebenarnya. Jadi, aku cuman bisa ngira, dan bilang ke diriku buat buang semua kenakalan."


"..."


Sebenarnya aku bisa mengerti dari cerita tersebut. Kesalahan memang terdapat di orang tuanya. Tapi, secara bersamaan aku juga tidak bisa menyalahkan, orang tua tersebut hanya tidak ingin menanggungkan beban berat pada anaknya. Mereka hanya bilang seperti itu agar si anak tenang dan tersingkir dari pikiran negatif.


Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Amalia di sana sepertinya sudah cukup besar untuk mengambil keputusan sendiri. Dia, dengan seluruh pengetahuan yang diberikan secara kesalahan malah membuat lubang di hati.


"Lalu, itu juga terjadi lagi, Kaivan. Dua tahun jalan, dan ayahku ikut sakit. Waktu itu dia bilang kalau dia gak apa-apa, terus kayak gitu sampai akhirnya dia masuk ke rumah sakit. Aku gak mau ditinggal lagi, aku gak mau diabaikan lagi, makanya waktu itu aku usah sebisa mungkin buat jadi anak baik. Semua tugas, semua yang aku bisa, aku lakuin semua demi ayah bisa sembuh. Tapi, ternyata ayah waktu itu masih bohong. Mau bagaimana pun caraku jadi anak baik, ayah tetap mati."


"..."


"Bodoh, iya. Padahal, kalau dia bilang jujur bakal mati, aku harusnya gak usah kesakitan sampai kayak gini."


"..."


Dendam yang diutarakan Amalia lebih ke arah unik. Aku tidak melihat kalau dia membenci orang tuanya, tapi aku melihat dia kesal karena dia percaya atas kebohongan tersebut.


Dari sana, aku tidak melihat sebuah masalah yang bisa diselesaikan. Hal ini hanya soal menerima masa lalu.

__ADS_1


"Tenang, Amalia," ucapku yang kembali mencoba menenangkan gadis tersebut. "Aku gak bakal bohong kayak gitu."


"Bohong."


Hn?


Baru satu kalimat, dan Amalia sudah mengumpatiku pembohong.


"Kapan aku bohong?"


"Setiap kamu maju buat lawan penyihir, wakilin aku, kamu bilang kamu bakal baik-baik saja."


"Tapi, sampai sekarang aku belum mati."


"Itu bukan jawaban. Kamu sudah hampir mati beberapa kali. Sampai sekarang, aku ngerasa kalau kamu bakal hilang, kamu, kamu bakal ninggalin aku."


"..."


Kekhawatiran ini ... sebuah hal yang sama sebelumnya dengan yang diutarakan Amalia semenjak aku keluar dari rumah sakit. Kekesalan karena aku tidak mengerti kenapa mereka begitu marah padaku. Tapi, mungkin sekarang aku sedikit memahaminya.


"Huft ... hah ...," hela napasku ingin menerima keluhan tersebut. "Aku gak bakal hilang, aku terus bareng sama kamu, Amalia."


"Beneran?"


"Iya, aku gak bakal bohong kalau memang gak ada tujuannya," ucapku meyakinkan.


"Padahal, kamu bilang gak bakal mati. Tapi, kamu sudah sempat sekarat."


"Oke, aku gak bakal mati kalau memang bisa aku kabulkan," lalu ucapku yang menarik keyakinanku sendiri.


"Jadi, yang mana?"


"Aku gak bakal bohong. Setidaknya kalau aku tahu aku sekarat, aku gak bakal bohong."


"..."


Dari tadi, pembicaraanku mungkin tidak meyakinkan. Arah topik menjadi semakin tidak jelas, aku sendiri bingung bagaimana caraku agar bisa menyelesaikan komunikasi dan memperbaiki hubungan ini.


"Kaivan," panggil Amalia sekali lagi yang mulai tenang. "Kamu gak pernah bohong sama aku?"


"Aku gak pernah bohong kalau memang gak ada tujuannya."


"Kalau gitu, waktu kamu bilang mau remas dadaku, itu gak bohong?"


"Gkhg!?"


Aku tersedak napasku sendiri, mengingat hal tersebut dan membuat semua kondisi mental di atmosfer serius menjadi buyar.


"Hah ... hh ... kalau aku bilang kalimat itu bohong, aku berarti bohong sekarang. Hmn ... iya, aku juga sebenarnya laki-laki di sini," ucapku mengakui hal tersebut.


"Kalau gitu, kamu mau melakukannya sekarang? Ah, tapi kamu sudah pernah remas sebelumnya, iya. Apa sekarang kamu mau yang lebih? Aku bisa kasih semuanya."


"Stop, Amalia. Aku gak minta itu dari kamu sekarang."


"Tapi, kamu mau, 'kan?"


"Aku gak bilang aku gak mau. Aku cuman gak suka jadi bahan mainan kayak gini."


"Kalau aku bilang aku serius?"


"Kembali dan bilang itu waktu semua ini sudah selesai. Aku gak mau kalau kamu cuman dikendaliin sama kondisi dan kekuatanmu sampai kayak gini."


"Huu ... pembohong," ucap Amalia sedikit mengejek dengan nada lembutnya.


"..."


Kami di sana masih membeku di waktu yang lama.


Suara serangga malam, cahaya bulan di pegunungan, dan atmosfer sepi dari angin dingin. Kami berdua tenggelam dalam keadaan saling berpelukan. Terus bersama tanpa berpindah gerak.


"Amalia," panggilku yang mulai tergugah. "Mau sampai kapan kamu kayak gini? Kamu gak ada niat buat pergi?"


"Un, un."


Amalia menggeleng kan kepalanya, gesek seprai berulang terdengar di telingaku yang berdekatan, kibas rambut yang halus juga terasa karena jarak kepala kami yang bersebelahan.


"Tunggu sebentar lagi, aku gak mau kamu liaht mukaku sekarang. Tunggu sampai aku hilang, terus kamu lupakan semua yang terjadi malam ini. Mungkin, aku yang satu lagi gak bisa tahan sama kejadian ini."


"..."

__ADS_1


 


 


__ADS_2