
Selama ini aku belum paham betul bagaimana asal mula tentang munculnya para makhluk semacam Pero di dunia. Aku hanya tahu kalau dia adalah makhluk sihir yang punya keinginan untuk menjadi manusia. Tapi, untuk sejarah kenapa dia bisa menjadi seperti demikian, pengertianku masih bias.
Oleh sebab itu, ketika pembicaraan ini ingin dimulai, Pero lebih dulu menjelaskan asal-usul tentang animus sebelum masuk ke permasalahan utama.
Satu dari keunikan dari sumber dari sihir adalah keajaiban, dan keajaiban itu muncul dari kepercayaan. Dari sini Pero menjelaskan lebih detail, tapi apa yang kutangkap tidak menyeluruh karena banyak dari pilihan kata yang tidak kumengerti.
Pertama sumber keajaiban yang berasal dari kepercayaan. Sebenarnya jika dilihat dalam sisi ilmiah, tidak ada yang namanya keajaiban mutlak. Keajaiban itu lebih seperti kebetulan yang dianggap berlebih oleh manusia, itulah yang mereka katakan.
Ilmu pengetahuan berkembang terus menerus, dan tentu dari perkembangan itu ada awal titik yang di mana kita sebagai manusia masih tumpul akal pikirannya. Ada di masa kita sangat mempercayai keajaiban. Seperti contoh sederhana, Ketika kita kehausan dan satu waktu itu pun turun hujan. Maka, kita menyebutnya keajaiban. Ketika kita jatuh dari tebing sejauh ratusan meter dan selamat, kita menyebutkan keajaiban.
Ketika hal yang didasari dengan kebetulan dan keberuntungan luar biasa, kita menyebutnya dengan keajaiban. Tapi, apa memang seperti itu? Apa keajaiban itu benar-benar ada? Atau itu hanya pikiran sepihak di mana kita ingin mempercayai ada kekuatan khusus yang memberi kita keajaiban?
Sisi pemikiran ini yang membentuk sihir itu. Ketika manusia berpikir hal tersebut ada, maka tubuh dan pikiran mereka akan bersikap kalau hal tersebut ada. Sihir yang awalnya tidak ada, perlahan muncul oleh manusia itu sendiri. Keajaiban yang awalnya hanya dipercayai, muncul dan tumbuh bersama dengan manusia seiring kepercayaan itu semakin besar.
Aku mungkin bisa memahami perjalanan penjelasan tersebut. Tapi, aku mulai bertanya karena hal tersebut berlawanan dengan pemahaman yang ditanamkan sebelumnya saat aku pertama bertemu dengan Pero.
“Terus, apa hubungannya sama kalian para animus?” tanyaku dengan rasa penasaran.
Pero merespons itu dengan senyumannya. Dia yang menurutku hidup dengan tanpa menghilangkan insting hewan, ternyata mulai bisa berekspresi layaknya manusia normal. Itu bukan berarti buruk, rasa yang kuterima dari senyumannya begitu sejuk layaknya dia melihatku seperti lawan diskusinya.
Tentu saja itu adalah sejarah, sejarah yang di mana telah membentuk dunia selama beribu-ribu tahun. Dari waktu yang ditetapkan ribuan tahun itu, sudah dapat disimpulkan telah banyak yang berubah.
Keajaiban yang dibentuk manusia berasal dari kepercayaan, tapi mereka sendiri tidak bisa mengendalikan kekuatan tersebut secara penuh. Ini sama seperti halnya orang yang selalu mengedipkan mata selama hidupnya, jika ditanya bagaimana cara mengedip, orang tersebut akan bertanya kembali pada dirinya sendiri.
Tidak ada yang pasti, semuanya bercampur dalam kemungkinan berlebih. Manusia hidup bersama dengan hal berbentuk sihir yang sebenarnya mereka sendiri tidak paham cara kerjanya.
Namun, semua itu berubah ketika ada satu kejadian unik di dalam kehidupan, ketika animus muncul di tengah-tengah keberadaan mereka.
Hewan-hewan pada dasarnya hidup berdasarkan insting mereka, kepintaran dalam otaknya cenderung berkembang di jalan yang sama dan tidak terbuka seperti manusia yang luas. Berbeda dengan manusia yang memiliki banyak kemungkinan dan cara untuk berkembang, hewan lebih banyak keterbatasan atas berbagai hal.
Akan tetapi, ada satu kondisi di mana satu hewan bisa menggunakan akalnya, suatu kesalahan dan bug di dunia yang entah bagaimana bisa muncul.
Tentu tidak sebesar efek manusia. Ketika satu makhluk dengan kelebihan akal diberikan di tengah-tengah sebuah koloni binatang, hal tersebut tidak akan membuat perubahan pada koloni tersebut. Makhluk yang dengan kelebihan pemikiran itu hanya akan menjadi pemikir, tidak membentuk banyak perubahan dan kemudian akan punah sebelum membentuk perkembangan teknologi pada spesiesnya.
Tapi, hal tersebut juga terjadi jika mereka diizinkan hidup bebas. Umumnya, koloni binatang punya aturan yang berdasarkan insting mereka juga. Binatang yang punya akal untuk membantahnya belum tentu punya kehendak untuk keluar dari zona tersebut.
Mereka hanya bisa ditolak, punya kelebihan tanpa bisa dipakai seluruhnya. Ketika mereka ingin melakukan dan membuka pikirannya, binatang lain menganggap hal itu adalah sebuah kejanggalan yang asing dan tabu. Tidak ada yang mendukung, seluruh pihak koloni lebih memilih untuk memelihara cara tradisional yang sudah ada turun temurun. Oleh sebab itu, hewan dengan kelebihan akal seperti itu hanya akan lewat dan tidak tertinggal.
Mereka tidak bisa akrab dengan binatang lain, mereka tidak punya tempat untuk diterima secara akal. Tapi, mereka tahu kalau ada makhluk lain yang punya cara berpikir serupa dengan mereka.
Iya, itu adalah manusia.
Binatang yang punya kelebihan akal ini melirik mereka, meneliti mereka, memperhatikan mereka, mengagumi cara hidupnya, dan bahkan ada pada titik ingin berteman dengan mereka. Di tengah tekanan dari koloni binatang yang tidak membiarkan mereka, dan sebuah promotor ketika merasa ditemani, mau tidak mau mereka hanya bisa melihat manusia sebagai satu-satunya makhluk yang satu pikiran. Mereka tidak punya pilihan dan hanya bisa merasa akrab dengan manusia.
__ADS_1
Beberapa binatang dengan kelebihan itu juga masih disaring lagi untuk bisa menjadi animus. Punya kelebihan berpikir logis layaknya pemilik akal manusia belum cukup, untuk maju ke tahap selanjutnya menjadi animus para hewan-hewan terpilih itu harus punya sihir.
Mungkin memiliki sihir sedikit bertentangan, lebih tepatnya adalah kemampuan untuk menggunakan sihir.
Sihir atau keajaiban umumnya hanya dimiliki manusia, karena sumber dari peristiwa tersebut adalah manusia sendiri. Walaupun hewan itu punya akal yang sama, tapi bukan berarti mereka bisa hidup bersama selayaknya individu yang serupa.
Beberapa hewan bisa merasakannya perubahan bentuk dari sihir yang di mana mereka cenderung lebih tajam dari manusia itu sendiri. Kedekatan mereka dan dedikasi yang lama untuk memperhatikan manusia membuat mereka peka terhadap sihir. Keberadaannya semakin lama semakin jelas, dan ketika mereka sudah tidak asing, secara bertahap mereka juga bisa mengarahkan arah sihir tersebut.
Hewan dengan akal tersebut hidup bersama, tidak jarang menjadi sahabat. Hidup berdampingan meninggalkan koloni, dekat dengan manusia, dan tumbuh menua terus menerus.
Kebaikan, rasa tenang, kebahagiaan, hewan tersebut selalu diberi hal tersebut sampai dirinya dipenuhi berbagai emosi. Pada saat titik tertentu, dengan semua kenangan kuat, mereka pun mulai menumbuhkan keinginan egois. Sebuah keinginan yang sebenarnya mereka sendiri tahu kalau itu hal yang mustahil.
Keinginan untuk menjadi manusia.
Dengan akal yang bisa dibilang setara dengan manusia, tentu mereka juga paham kalau itu adalah pikiran yang mustahil. Bagaimana pun mereka berharap dan berusaha, masih ada sesuatu yang tidak akan berubah dan tetap mustahil terkabul.
Namun, keinginan tersebut tetap kuat, tumbuh sumber selama berlarut-larut, keinginan untuk masuk dalam masyarakat manusia, ikut terjun dalam kebudayaan dan sebuah hidup revolusioner. Keinginan kuat tersebut membuat mereka menipu diri mereka sendiri, hidup bersama manusia dan percaya kalau mereka adalah bagian dari manusia itu. Begitu kuat, begitu pekat, berkumpul, subur, dan sampai di titik matang ... di mana keajaiban benar-benar terjadi.
Mereka melangkah pada tahap baru, tahap di mana dirinya menjadi animus yang bisa mengendalikan sihir.
“...”
“...”
“...”
“...”
Mungkin itu adalah cerita yang pendek, tapi aku bisa merasakan perjalanan jauh yang dialami oleh hewan-hewan itu untuk menggapai jati diri mereka. Hidup di bawah lingkungan, membentuk sebuah pikiran bebas, keluar dari sebuah sistem yang mereka anggap gagal, meninggalkan seluruh keluarga tempat mereka dilahirkan, dan hidup bersama dengan manusia yang mereka anggap lebih nyaman. Perjuangannya yang panjang, menggapai mimpi yang bagi hewan tersebut adalah impian yang dibantah semua orang.
Aku tahu itu tidak mudah, tidak dipercayai satu orang pun di lingkungan adalah hal yang menyakitkan. Ketika aku kecil dan hidup bersama kekuatan deteksi emosi, rasanya sangat sepi ketika tidak ada satu orang pun yang mengerti tentang penderitaan dan curahan hatiku.
Huft ... hah ....
Aku mencoba untuk bertahan dan bertanya secara logis mengembalikan pada pembicaraan utama.
“Jadi, sekarang masalahnya apa?” tanyaku ingin mencari kesimpulan. “Apa aku harus berpendapat untuk ceritamu barusan?”
“Aku sangat menghargai pendapatmu jika kamu berkenan menyebutkannya. Kebetulan juga aku ingin tahu bagaimana pandanganmu tentang keberadaan diriku, Kaivan.”
“Heh, apa maksudnya pandanganku tentangmu? Jadi yang barusan itu ceritamu?” tanyaku yang sebenarnya sedikit canda dengan nada abai dan sungging sebelah senyum.
“Setidaknya itu adalah garis besar tentang ceritaku, kurang dan lebih aku ambil sebagai kata umum. Kamu bisa menganggapnya begitu kalau mau.”
__ADS_1
“...”
Aku juga cukup bingung ketika diminta pendapat. Untuk saat ini aku masih belum meraba jelas nilai dari keberadaan mereka dengan mendengar dan ditanya di waktu yang sama.
“Aku gak punya gambaran buruk tentang animus. Hanya saja aku juga berharap mereka hidup sesuai kaidah manusia.”
“Hmn ... jadi maksud spesifiknya?”
“Selama kamu gak bikin ulah yang memang kata manusia itu jahat, aku gak akan melabelimu jahat,” jawabku menjelaskan.
“Baiklah, aku ambil itu sebagai pujian.”
“Iya, tapi, aku mau tanya.”
*Glance
“...?”
Aku melirik ke arah Amalia, dari tadi dia masih diam karena kebisuan dan memang tidak berniat melakukan komunikasi menggunakan alat tulis. Jika ada orang yang menggambarkan situasinya, dia adalah orang yang hampir dilupakan, bahkan teruntukku yang sedang berhadapan langsung. Namun, ketika lirikan kuberikan, dia mulai merespons balik tatapan tersebut.
“Manusia yang bikin kamu bisa jadi animus. Apa dia itu Amalia?” tanyaku yang mulai kembali berganti menghadap Pero untuk bertanya.
“Bukan,” lalu jawabnya dengan gelengan kepala yang lembut. “Lia hanya gadis yang melakukan kontrak denganku, aku sudah ada dalam bentuk animus sebelum bertemu dengannya.”
Ah ... aku mengerti sekarang, tentu saja memang seperti itu jadinya.
Cerita yang dijelaskan Pero masih terlalu luas untuk aku bisa menyimpulkan demikian. Dia bilang kalau keinginannya menjadi manusia adalah karena dirinya yang hidup bersama dalam waktu yang lama. Keadaan yang berlangsung seperti itu akan membuat emosinya juga larut dalam sihir dan keajaiban yang dia bilang sebelumnya.
Lalu, ketika hewan muncul dan berubah menjadi animus, tidak ada alasan kuat untuk dia melakukan kontrak dengan manusia di dekatnya. Terlebih, aku juga menyadari satu hal yang mulai terbuka dalam kehidupan Pero dari penjelasan ini.
“Kalau gitu, rumah yang selama ini kamu tempatin, apa dia orangnya?”
Normalnya properti tidak akan dibangun begitu saja, mereka punya izin dan terkait beberapa aturan merepotkan yang dibuat oleh manusia lainnya. Jadi, keberadaan rumah yang ditempati oleh Pero menimbulkan pertanyaan. Apa rumah itu miliknya yang dibangun sendiri, atau itu milik seseorang yang kebetulan ia tempati?
“Hmn ... aku tidak menyangka kalau kamu bisa menaruh topik pada pembicaraan itu,” kata Pero sambil menaruh dagunya selang berpikir.
“Kenapa? Apa itu topik yang gak boleh disebar?” tanyaku menduga keadaan.
“Bukan, itu bukan seperti rahasia mutlak. Aku hanya tidak ingin sembarang mengumbarnya tanpa alasan.”
“... Jadi, sekarang kamu mau memberi tahu, atau tidak?” tanyaku dengan jeda karena ragu.
“Tentu akan aku jawab, kamu yang bertanya sudah ada dalam bentuk alasan. Aku sendiri sedikit tidak enak mengungkapkannya, mungkin bagi kalian itu adalah hal yang biasa disebut malu. Tapi, iya ... pemilik rumah itu adalah mendiang majikanku. Dahulu dia pernah memberiku nama Pero.”
__ADS_1