
Ini juga cukup mengejutkan. Melihat perawakannya, seharusnya dia punya setidaknya satu atau dua pengalaman menghadapi lelaki. Dia tidak secantik Imarine, tapi tidak akan mengejutkan jika dia punya pengalaman.
Apa mungkin semua laki-laki yang dikenalnya di SMP terlalu pengecut untuk mengungkapkan perasaannya? Belakangan di tahun-tahun ini fenomena seperti anak usia tersebut tidak aneh untuk berani berpacaran.
*Srek, srek.
Hn?
Lengan kain bajuku ditarik oleh Amalia dari samping. Aku berbalik menyambut panggilannya yang menyuruhku membaca catatan.
Fany itu sebelumnya sekolah di tempat khusus perempuan.
“...”
Oh, jadi begitu. Baiklah, aku mengerti.
Fany tidak terbiasa dengan hubungan lawan jenis. Seperti layaknya budaya tradisional, gadis ini masih menganggap derajat lelaki lebih tinggi dalam masalah ini. Dari yang kutangkap barusan, dia memang tidak pernah dan tidak tahu cara menolak permintaan berpacaran.
Padahal jawabannya sangat mudah.
“Oke, maaf,” ucapku kembali mereset suasana di sini. “langsung saja ke intinya ... kamu mau nolak Septian, ‘kan?”
Fany tidak langsung menjawab, gadis itu lagi-lagi mengulur waktu dengan memandang sekitar sambil berpikir. Emosinya berwarna, kelesah dengan jari-jemari yang ‘tak bisa diam, Fany cenderung menunjukkan keraguan dalam hatinya.
“Ah ... un ...,” jawabnya mengangguk menyembunyikan mulutnya di kepalan tangan. “Aku benar-benar minta maaf ke dia, tapi beneran aku gak punya perasaan buat pacaran sama dia.”
“Kamu tinggal tolak saja, langsung dan jangan pakai basa-basi. Jangan kasih alasan lain yang kelihatannya lebih lembut, jujur saja kalau kamu gak mau pacaran sama dia.”
“Ivan,” panggilnya dengan nada turun mengeluh. “Aku nanya kayak gini itu gara-gara aku gak bisa.”
Ayolah, itu hal mudah. Apa dia seburuk ini dalam menghadapi laki-laki?
“Kamu gak perlu buru-buru. Gunakan saja pengalaman ini biar kamu nanti terbiasa.”
“Terbiasa ... terbiasa biar apa?”
“Biar kamu gak bingung lagi kalau ada hal yang kayak gini.”
Karena dalam diriku bilang kalau kamu akan mengalami hal ini lagi suatu hari.
Percakapan kami berakhir. Pamitan kami jadi terbalik, aku dengan Fany kali ini pergi bersama menuju kelas, berpisah dengan Amalia yang berada di kelas berbeda.
__ADS_1
*****
Fany ingin Septian menjauh, menyerah untuk mengejar menjadikannya pacar. Tetapi, Septian ingin aku menemukan cara agar Fany tidak menolaknya. Ini sedikit rumit karena mereka berdua meminta bantuan padaku secara bersamaan.
“...”
Yah, memang benar aku yang meminta untuk dicarikan client. Tapi, aku tidak berpikir akan begini jadinya. Sekarang aku jadi tahu perasaan mata-mata yang punya berbegai sudut pandang dari setiap kubu lawan. Perasaan rumit ketika aku diharuskan memilih pihak siapa.
Sebenarnya, ada cara untuk membuat ending bahagia. Membuat Septian berhenti menyukai Fany, atau membuat Fany menyukai Septian. Keduanya pilihan sulit karena sifat Septian yang merepotkan. Tapi, jika harus memilih, mungkin pilihan pertama masih lebih mudah.
Septian sendiri sepertinya tidak detail menyukai Fany sebagai perempuan. Dia tidak bisa menjelaskan bahkan kepribadian gadis itu dengan baik. Jatuh cinta pada fisik memang normal, dan kasus tersebut paling mudah dihilangkan.
Dengan kata lain, secara tidak langsung aku memihak pada kubu Fany dan Amalia. Untuk hasilnya sendiri aku tidak tahu. Apakah tindakanku efektif atau tidak, itu tergantung respons Septian nanti.
Bikin Septian berhenti ngejar Fany? Kamu bisa, Kaivan?
Tunjuk catatannya padaku.
Kami sekarang ada di rumah milik Pero. Tapi, bukan berada di dalam toko barang antiknya, melainkan di halaman belakang. Siluman gagak itu ternyata punya lahan yang luas, dan sekarang kami telah menggunakannya.
Aku dan Amalia terkadang menyempatkan diri ke tempat ini sepulang sekolah. Mengingat kejadian buruk tentang kekuatannya waktu kasus Imarine, Amalia tergerak hatinya untuk melatih kekuatannya bersamaku.
Dan juga ....
Aku tidak bisa terus menerus meraba dada tersebut jika hal serupa terjadi. Selain luka mental yang kuterima, Amalia juga suatu saat akan terbiasa dengan sentuhan tersebut dan berhenti terguncang. Cepat atau lambat tindakan itu tidak akan terus bekerja.
“Untuk sementara, aku bikin mereka diam gak ngapa-ngapain.”
Cuman diam saja memang gak apa-apa?
“Aku tadi bilang ‘kan buat sementara. Tindakan selanjutnya aku ambil kalau sudah paham hubungan mereka. Pada dasarnya rasa cinta itu cuman lonjakan dophamin ketika bersama satu orang yang istimewa. Ada kemungkinan dia berpaling pada sumber kebahagiaan lain yang bisa menggantikan cinta itu sendiri.” Jawabku pada Amalia mengakhiri percakapan.
Sebelum meninggalkan sekolah menuju tempat Pero bersama Amalia, aku sempat berbincang sebentar dengan Fany. Dia tidak berhenti membicarakan solusi yang baik dan masih ragu ketika aku bilang ‘tolak saja biasa’.
Masalahnya adalah dia yang tidak tahu biasa itu seperti apa. Aku juga sulit menjelaskan karena tingkat yang sama tidak berpengalaman cinta. Jadi, dari pada menolak secara terang-terangan, ada juga menolak secara mengalir.
Solusi tersebut murni dari pikiranku sendiri. Di mana hal yang perlu diperhatikan adalah dengan tidak melakukan apapun. Terkadang masalah juga selesai sendirinya, Fany yang terus menjalani hidup dan menganggap Septian sebagai teman juga bukan pilihan buruk. Mungkin saja di waktu dekat ini dia bisa mengubah kegilaan Septian dan menghentikan perjuangan cinta menjadikannya teman.
Apa beneran gak apa-apa kita diam kayak gini?
“Enggak apa-apa ... kamu gak akan tahu hasilnya sampai akhir, aku juga butuh informasi tentang hubungan mereka dengan melihatnya langsung. Jadi, kita juga perlu memahami kondisi alami mereka,” kataku menjelaskan pada Amalia yang masih duduk di sampingku, di kursi halaman belakang Pero.
__ADS_1
Baiklah ... istirahatnya sampai di sini.
Aku berdiri bangkit dari posisi dari posisi duduk. Amalia melihat, pandangannya mengikuti bersamaan dengan pergerakanku yang menuju tengah halaman.
“Oke, Amalia ... kita lanjut latihan, sekali lagi sebelum pulang. Coba pakai kekuatan itu dan berhenti sebelum kesadaran kamu hilang,” lanjutku yang sampai di sisi lain halaman.
Tentu saja aku datang ke tempat ini bukan hanya untuk bermain. Ini semua demi Amalia yang ingin melatih kekuatannya.
Amalia mengangguk sekali, dia ikut berdiri dan mundur beberapa langkah untuk bersedia di sisi lain halaman tersebut. Dengan meletakkan tangan kedua tangan di dada, gadis itu mulai mengeluarkan kekuatannya.
*Whoush ....
Angin di sekitarku bergerak 'tak normal. Detik demi detik berjalan dan aroma pedas mengiritasi muncul semakin besar. Berputar-putar, gelombang tersebut bermunculan semakin pekat hingga akhirnya cukup kuat untuk bisa mempengaruhiku.
Dug, dug ....
Detak jantungku mulai terpacu, adrenalin naik hingga menimbulkan suatu sensasi unik. Sebuah perasaan yang membuat tubuh terasa ringan, kondisi yang bisa melonjakkan kemampuan fisikku secara paksa.
“Hah, hah, hah, hah ....”
Amalia bernafas dengan cepat, tubuhnya yang kembang kempis bisa kulihat dari jarak ini. Cukup menegangkan melihat seorang gadis yang sedikit demi sedikit mengeluarkan amarahnya. Aku bisa melihat wajah Amalia secara bertahap berubah, dari tenang menjadi penuh ketegangan, kulit mulus menjadi penuh urat, senyum tipis menjadi geraman gigi.
“Hah, hagh ... hakh ...”
Nafasnya terasa melambat, gelombang emosinya juga mulai melemah. Berkat latihan yang terus dilakukannya, Amalia kini mulai bisa memadamkan kekuatannya sendiri.
“Hah ... Hakh ....”
Nafasnya yang kian melambat, di hembusan terakhirnya aku bisa melihat dia terhenti.
“...”
“...”
Pandangan gadis itu ke bawah, menunduk dan tidak melihatku. Berbeda dengan sebelumnya, ekspresi yang kulihat sekarang lebih ke arah lemas. Seperti urat-urat wajahnya mengendur kehilangan tenaga.
Pertahanan kutarik, berhenti dari posisi siaga dan mencoba berjalan mendekat. Dari tingkat ini, aku bisa merasakan gelombang emosi kemarahan telah hilang. Sepertinya percobaan kali ini berhasil, jadi aku akan—
*Whoush ....
__ADS_1