
Matahari sudah mulai meninggi, tapi sudutnya masih tajam dan cahayanya belu menyilaukan.
Sekarang kami sudah berkumpul di luar penginapan, bersiap untuk menyusur hutan untuk mencari makanan. Dengan beberapa alat seperti tas gendong dan pakaian yang ringan mudah bergerak, kami akan melakukan misi singkat ini.
Untungnya, di sini Hanz punya pengetahuan tentang koki dan makanan dari latar dunia. Peran koki yang diberikan itu telah memberikan peran khusus kami bisa mendapat makanan dari hutan. Ditambah dengan Farrel yang berpengalaman dengan hobi mendakinya, tugas kali ini seharusnya tidak terlalu sulit.
Kapak yang diberikan sebagai bekal masih selalu kami bawa. Entah kenapa atau memang sudah menjadi aturan, benda tersebut tidak dapat ditinggal jauh dari pemiliknya. Tapi, bukan masalah, malah menjadi sebuah keuntungan karena seluruh anggota dari kami punya setidaknya alat memotong untuk menyusur hutan ini.
Aku berdiri lebih depan dan terkesan sedang memimpin barisan. Beberapa dari orang yang masih bergabung— terutama siswa perempuan, masih ada yang bersiap-siap. Mereka mengenakan sepatu, dan memeriksa perbekalan.
*Glance
Sampai pada akhirnya aku sempat bertatap dengan Amalia.
"..."
Aku bisa merasakan kecanggungan dari tatapannya. Dia menolak bertatapan denganku yang entah kenapa secara bersamaan juga terlihat tidak enak untuk menghindar. Sesekali dari hindar tatapan tersebut aku bisa merasakan intip-intip matanya.
Dipikirkan secara logika, mungkin keadaan itu tidaklah aneh.
Amalia dengan kekuatan yang membuat kepribadian lain merasuki bukan berarti tidak sadar sepenuhnya. Dia masih punya satu indra, satu tubuh, dan satu ingatan. Jadi, ketika dia menggunakan kekuatannya, membuka segel mulut bisu, dan sekaligus menggunakan kepribadian lain, bukan berarti dia tidak ingat apa saja yang telah dilakukannya.
Sempat aku juga menaruh pandangan pada Imarine. Gadis tersebut juga memberikan sebuah isyarat yang kuartikan, 'lakukan saja tugasmu'.
Aku melihat Imarine sudah seperti pengasuh sekarang. Dia layaknya menjadi penjaga bagi Azarin dan Amalia sekaligus.
Waktu sudah cukup berlalu, pada akhirnya aku pun memberi aba-aba agar perjalanan dimulai.
Di sana aku mungkin terlihat memimpin. Tapi, tidak sampai beberapa menit, Hanz dan Farrel mengambil alih sebagai penentu jalan.
Aku sendiri tidak terlalu yakin dengan keputusanku ketika melakukan penyusuran hutan. Jadi, lebih bijak jika memang yang ahlinya yang memutuskan.
Pengambilan makanan tersebut berjalan cukup lancar. Untungnya, hutan tersebut masih berlimpah oleh berbagai sumber daya makanan. Buah, sayur, jamur, daun, dan bahkan batang yang bisa dimakan dikumpulkan dalam jumlah kecil.
Awalnya mungkin kami seperti diajak bekerja sama. Tapi, seiring waktu berjalan, orang-orang selain Farrel dan Hanz lebih seperti pesuruh dan pembawa tas belanjaan. Kami hanya ditunjuk, diminta membawakan, dan mengikuti arahan ke mana kami akan pergi.
Mungkin sedikit terdengar jahat. Namun, hal ini adalah cara paling efisien. Dari pada mengajari satu per satu orang, lebih baik memerintahkannya langsung mana yang harus diambil dan mana yang tidak.
"Ivan," panggil Farrel dari arah yang sedikit terhalang pepohonan.
"Ada apa?" kataku sambil berjalan menghampiri.
"Bahan-bahan sudah kekumpul banyak. Terakhir, kamu sekarang bantu tebang pohon ini dan bawa pulang."
"Hn?"
Farrel menunjukkanku ke arah pohon pisang. Ukurannya yang cukup besar dengan beberapa pohon pisang kecil yang tumbuh di utama. Daunnya yang khas sejajar menyisir rantingnya, dan keseluruhan batangnya yang tersusun oleh banyak air berbeda dengan tumbuhan berkayu.
Di sana sudah terdapat Pero yang mengambil buahnya. Sudah habis ranting pohon tersebut bersama jantung pisang calon buahnya. Tapi ....
"Kenapa harus bawa batangnya juga?" tanyaku pada Farrel sedikit bingung.
"Batang pisang bisa dimakan kalau tahu cara olahnya. Koki itu bilang tahu cara yang benar. Jadi, sebelum pulang, kayaknya bakal bagus buat bawa pulang batang pohon pisang."
Aku tidak tahu batang pisang bisa diolah menjadi makanan. Hidupku yang dari awal selalu di kota sepertinya tidak memberi kesempatan tentang hal tersebut.
__ADS_1
"Kayaknya makanan sampai sekarang sudah banyak. Kenapa masih paksain bawa batang pisang?"
"Batang pisang bukan makanan darurat, Ivan. Itu beneran bisa dimakan," kata Farrel yang masih mempertahankan keputusannya.
"Hoo ... kalau kataku sih kamu cuman kayak yang lagi mau coba makan pohon pisang sekarang."
"Iya, itu memang benar, jarang-jarang aku bisa makan batang pisang," kata Farrel mengakui, mengangkat bahu dan mulai berjalan pergi ke arah lain meninggalkanku bersama Pero. "Oke, pokoknya gitu, kamu angkut batang pisang itu. Harusnya juga batang pisang gak berat buat dibawa."
Iya, baiklah. Aku juga cukup penasaran dengan rasa batang pisang. Dari teksturnya yang lebih banyak air dan rongga udara, membawa batang pisang bukan berarti tugas yang sangat berat.
"Terus, Farrel. Sekarang kamu mau ke mana lagi?" tanyaku sedikit berteriak karena jarak lelaki itu yang menjauh.
"Ke koki itu. Aku bakal coba cari ayam atau kelinci atau hewan lain sama dia. Kalau misal kamu selesai tebang batangnya, kalian boleh pulang duluan. Aku mungkin bakal lama, tapi pasti pulang sebelum sore," jelas Farrel yang sedikit demi sedikit tenggelam di balik hutan.
Selama ini kami sudah banyak mengambil makanan dari jenis tanaman. Agak sedikit bohong jika aku tidak menginginkan daging sebagai menu tambahan. Walaupun tidak memaksa, tapi aku tidak akan menolak jika disuguhkan. Jadi, kepergiannya yang ingin berburu aku dukung langsung dari hati.
Beberapa detik aku melihatnya menjauh, berdiri dan bernapas sejenak, sampai akhirnya konsentrasiku pun kembali pulih. Penglihatan aku ubah, sekarang kembali ke tugas yang diberikan. Aku bersama Pero, dan dia sekarang baru saja selesai memasukkan buah pisang ke dalam ranselnya.
"Kaivan," panggil Pero yang posisinya sedang setengah berdiri menutup ransel penuh buah pisang.
"Kenapa, Pero? Kamu gak tahu cara nebang pohon?"
"Sangat melenceng."
*Slash
Pero mengatakannya sambil mengayun kapaknya. Dengan kekuatan tersebut. Senjata itu dapat menembus batang pohon pisang secara sempurna. Tidak tertancap, tidak tersendat, hanya lewat lancar bagai tidak ada yang menghalangi.
Aku cukup kaget, melihat gerakan yang begitu sempurna di mana pohon terpotong dengan cepat. Walaupun struktur itu pohon pisang, tapi tetap saja sensasi itu hanya biasa aku lihat di film basis samurai.
Bug.
Batang pohon yang terpotong itu mulai jatuh miring, Pero dengan tubuh dewasanya menahan arah ambruknya. Dari berat keseluruhan pohon pisang itu, sepertinya masih termasuk ringan untuk diangkat oleh Pero sendirian.
Selama ini aku cukup jarang melihat Pero dalam bentuk manusianya bergerak lincah. Dia adalah siluman gagak yang memang dalam murninya baru memulai hidup menggunakan tubuh baru manusia. Jadi, wajar jika pergerakannya sangat pasif, lebih banyak duduk memperhatikan, di mana tubuh manusianya seakan hanya digunakan untuk bicara dengan kami manusia.
Aku pernah diberi tahu kalau Pero bilang dia kesulitan menyesuaikan cara pandang manusia dan cara berjalannya. Mata burung gagak memiliki struktur berbeda, begitu juga dengan kaki. Oleh sebab itu, Pero yang dengan wujud manusianya lebih seperti orang sakit.
Namun, hari ini berbeda. Dia bisa mengayunkan kapak begitu hebatnya selayak seorang petani. Gerakannya penuh dengan keyakinan seakan kapak tersebut adalah kepanjangan dari tangannya. Lalu, bukan hanya itu. Kekuatan di tubuhnya juga bisa dimanfaatkan dengan baik. Pero dengan gerakannya bisa mengangkat pohon tersebut dengan bahunya sendirian.
"Aku barusan hanya sedikit berpikir saja tentang kondisi ini. Akan tetapi, hal itu sudah tidak penting," katanya yang berjalan sambil mengangkut batang pohon dan ransel penuh buah pisang. "Pohon pisang sudah berhasil aku ambil, sekarang kita bisa pulang, Kaivan."
Aku melihat Pero lewat dengan bambu dipangku sebelah bahu secara horizontal.
"..."
Harga diriku sebagai lelaki sedikit tergerak. Ketika siluman gagak itu lewat, aku pun mengikuti dari belakang dan memberikan sebuah bantuan dengan mengangkat sisi belakang dari batang pisang tersebut. Setidaknya, sekarang beban dari batang pohon dikurangi. Mengingat jarak hutan yang kami tempuh dengan letak penginapan, akan melelahkan juga membawa batang pisang itu sendirian.
Kondisi kami sekarang sudah berpisah satu sama lain. Beberapa orang dari kelompok sudah turun dari gunung kembali ke penginapan membawa perbekalan yang cukup banyak. Lalu, aku dan Pero adalah salah satu yang terakhir. Meninggalkan Hanz dan Farrel di belakang, sebenarnya kami juga sudah ditinggal lebih dulu oleh Amalia, Imarine, dan Azarin di depan.
Biarpun begitu, jarak kami bukan berarti terpisah sangat jauh. Tiga gadis itu ada lebih dulu di depan kami ketika perjalanan pulang. Tapi, mereka tidak benar-benar meninggalkan aku dan Pero begitu saja.
Terkadang tiga gadis itu menunggu, menghentikan langkahnya jika aku sudah tertinggal jauh. Lalu, ketika aku dan Pero mulai menyusul dan terlihat lagi, mereka bertiga pun kembali berjalan. Ini menyebabkan kondisi di mana aku dan Pero berdua dalam waktu yang lama mengangkut pohon.
"Pero," panggilku yang masih membantu angkut batang pohon di sisi belakang.
__ADS_1
"Ada yang ingin kamu tanyakan, Kaivan?"
"Belakangan ini, Amalia jadi makin aneh. Kamu tahu alasannya?" tanyaku pada Pero.
Aku masih menyimpan rasa penasaran.
Kondisiku dengan Amalia tentu sedikit terganggu. Selain rasa canggung, keadaan di mana Amalia tidak bisa bicara membuat keadaan semakin sulit. Jadi, salah satu petunjuk yang bisa kuambil adalah Pero sebagai partnernya.
"Apa yang kamu harapkan dari jawabanku, Kaivan? Dari keluhanmu selama mengenal Lia, bukankah kamu selalu menganggapnya gadis aneh?" kata Pero yang sedikit memutar pertanyaan.
"Iya, aku memang sering bilang kayak gitu. Tapi, sekarang sudah pada tingkat di mana aku anggap Amalia bertingkah aneh buat orang aneh kayak dia. Standarku sudah gak bisa tampung lagi. Harusnya dia gak seaneh itu."
"Hmn ... sebagai referensi, bisa kamu beri tahu apa yang Lia lakukan belakangan ini," tanya Pero yang tetap tidak menunjukkan wajahnya. Posisi kami selayaknya berbaris horizontal mengangkut batang pisang menjadi penghalang.
"Intinya ... tadi malam dia menyerangku."
"Woah ... menyerang? Apa itu artinya dia menunjukkan diri sebagai pelaku pembunuhan."
"Bu-bukan itu," bantahku sedikit ragu untuk menjelaskan. "Maksudnya ... lebih ke arah konteks secara seksual."
"Seksual ...?"
Pero menggunakan nada tanya, sedikit bergelombang di mana dia mengekspresikan suara yang sedang menduga-duga. Jeda berpikirnya cukup lama, berdengung keras menemani suara gemirisik daun kering kami injak di hutan. Sampai akhirnya dia kembali bicara ....
"Aku tidak melihat sisi anehnya? Bukankah hal yang wajar untuk mengungkapkan rasa cinta pada lawan jenis. Terlebih, musim kawin manusia berlangsung sepanjang tahun tanpa henti."
"Bukan itu, bodoh— Ah, oke, baiklah, lupakan. Aku sudah gak peduli."
Sudah beberapa kali aku terjebak percakapan ini dengan Pero. Pada dasarnya dia adalah siluman gagak, akal sehat manusia terkadang bebal sulit diterima olehnya. Jadi, meminta saran atau beradu pendapat dengan dia terkadang hanya menghasilkan pembicaraan kosong.
"Jangan seperti itu, Kaivan," kata Pero yang menjawab dengan nada membujuk. "Aku mengerti maksudnya, ingatan yang diberikan padaku sebagai manusia memberikan petunjuk. Hal tersebut tabu bagi kalian, bukan? Kamu ingin bertanya tentang kondisi mental Lia sekarang, bukan?"
"Tch ... heh."
Aku menyipitkan mata, sedikit mengerutkan dahi, dan mengendus napas karena kesal. Untuk beberapa alasan aku ingin bertanya apa maksudnya bicara memutar.
"Iya, benar."
Tapi, niat itu dibuang demi melanjutkan percakapan lebih efektif, menerimanya dengan angguk jauh lebih hemat energi.
"Jadi, menurutmu gimana? Bukannya kamu itu orang yang paling kenal Amalia?"
"Hmn ... bagaimana menurutku, iya," kata Pero sedikit mengulang sambil memikirkan jawaban dengan gumamnya. "Aku tidak terlalu memikirkannya. Lagi pula, kegilaan dari Lia sendiri tidak terlalu mengejutkan. Dia dari awal adalah seorang penyihir, satu fakta dia mengambil risiko menjadi penyihir, sudah dipastikan kalau mentalnya memang terganggu."
"Huh? Maksudnya?" tanyaku yang kurang menangkap.
"Berdasarkan kerugian yang ditanggung penyihir, hanya orang gila yang mau menjadi penyihir."
"..."
"..."
Eh? Kalau begitu, Amalia ...?
__ADS_1