Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 3 Manis Sengat Semut Asam Format : Chapter 13 - AIDS


__ADS_3

Perjalananku ke rumah sakit cukup lama, bertolak belakang dengan rumah Imarine yang memang berada di daerah perumahan. Posisi di sini ada di daerah kota, tempat padat di mana banyak gedung komersil lain dibangun.


Waktu sebenarnya sudah cukup sore sekarang. Jika Amalia dan Pero datang ke rumah sakit setelah kunjungan mereka ke rumah Imarine, mereka akan sangat kelelahan dan kehilangan fokus. Walaupun waktu mengizinkan, jam dua malam masih lama, tapi tetap saja hal tersebut sulit dilaksanakan. Jadi, memang lebih efisien untuk aku seorang datang ke tempat ini.


Di lobi aku berdiam diri beberapa jam, tidak ada yang aneh selain orang sakit dan staf yang kelelahan melayani banyak pasien. Sampai sekarang aku tidak menemukan sesuatu yang aneh untuk dibilang punya kaitan dengan sihir.


Pero bilang kalau aku akan tahu penyusup itu dengan mendeteksi kelainan gelombang emosinya. Tapi, untuk kelainan gelombang emosi, sebenarnya hal tersebut tidak hanya berlaku pada Amalia. Aku juga bisa merasakannya pada orang yang memang punya masalah mental.


Tapi, baiklah ... untuk sementara aku hanya ingin melaksanakan tugas ini dengan benar.


Aku sekarang berjalan ke pos satpam, tempat itu berada lebih depan sebelum masuk area parkir. Keluar dari lobi rumah sakit, sekarang aku menjauh dari tempat padat penuh emosi negatif tersebut. Jika bisa, aku memang tidak ingin masuk ke tempat itu terlalu dalam.


Sekarang aku berdiri di pintu satpam tersebut, melihat ada satu orang yang terduduk sedang menonton televisi bersantai. Dia adalah orang yang pernah menyapaku sebelumnya, bertanya tentang urusanku datang ke rumah sakit sebelum akhirnya meninggalkanku yang diam terus di lobi.


“Permisi ...,” ucapku sambil masuk layaknya orang yang dekat.


“Kenapa? Kamu masih belum ketemu sama temanmu?” tanyanya dengan sedikit serak nada seorang pria paruh baya.


“Iya, hmn ... boleh saya di sini numpang duduk?”


Aku mengubah cara bicara dengan menggunakan ‘saya’, entah kenapa ini sudah menjadi refleks ketika bicara dengan orang yang lebih tua untuk memperhalus bahasa ... walaupun Pero ada di pengecualian.


“Oh ... hmn, boleh saja,” jawab satpam tersebut. “Ambil tempat duduk di belakang ... terserah mau yang mana.”


Aku awalnya sedikit gugup. Tapi, sikap santai satpam tersebut membuat diriku yang gugup terasa bodoh. Dari umurnya dan sikapnya, dia seperti sudah sangat senior dalam pekerjaan tersebut. Bukan sepenuhnya pujian, lebih seperti dia terlihat bosan dengan kehidupan.


“Jadi, kenapa? Kamu bosan tunggu di lobi?”


Satpam tersebut membuka percakapan. Dengan santai dia melihat televisi membelakangiku sambil bicara, rasa malasnya terlihat, tapi bukan berarti suaranya tidak sopan. Orang ini seperti lelah, dia seperti sudah mengalami hal semacam ini sebelumnya.


“Iya, lobi auranya gak enak karena banyak orang sakit,” jawabku dengan nada sedikit sarkasme.


“Heheh,” tawa dehamnya dua kali cukup keras. “Lagian, kamu ngapain ketemuan di rumah sakit? Temanmu juga sekarang pada nyasar atau gimana?”


“Hmn ... panjang kalau dijelasin. Tapi, intinya saya bakal di sini sampai malam. Kira-kira gak apa-apa saya di sini, Pak?”


“Malam? Kamu mau apa?”


“Jalan-jalan ... jaga malam? Entahlah, mungkin sesuatu kayak gitu.”


“Rumah sakit tutup jam sepuluh, pulang saja sebelum jam segitu.”


“Makanya saya barusan tanya. Kira-kira boleh saya diam di sini sampai jam dua.”


“Jam ... dua malam?”


“Jam dua malam.”


“...”


“...”


Respons bapak tersebut mulai lambat, aku yang duduk melihat sosoknya dari belakang. Pria tua di sana sedikit demi sedikit mulai berbalik, berhenti melihat fokus menonton televisi dan mengganti fokusnya ke arahku.


“Kamu ada masalah?” lalu tanyanya padaku.

__ADS_1


“Banyak.”


“Huft ... hah ...,” hela napasnya yang keras menggeram memberikan sensasi tertentu. Gelombang emosinya lebih ke arah masa bodoh dari pada empati rasa asam manis. “Kamu boleh nginep di pos satpam ini, tapi cuman sehari. Terserah kamu habis ditipu, gak punya uang, atau urusan lain yang gak mau diceritain ... kalau mau numpang, rumah sakit bukan tempatnya. Di sini memang banyak dokter, tapi di sini juga banyak penyakit nular.”


Awalnya aku menguji bapak tersebut dengan menyebutkan banyak kalimat tidak jelas. Layaknya orang tidak tahu diri, aku meminta satu hal janggal untuk alasan yang tidak diketahui. Apa benar tentang si bapak ini yang memiliki sifat bodoh amat, atau dia yang sedang bersantai di pekerjaannya.


“...”


Dia tidak peduli aku menginap asalkan tidak mengganggu staf lain. Layaknya seorang homeless atau seorang pejalan jauh, aku dipersilahkan menggunakan tempat tersebut karena diduga tidak punya uang untuk menyewa tempat tidur.


Rumah sakit di sini sangat luas, aku bahkan perlu berjalan lebih dari lima belas menit untuk menelusuri ujung ke ujung tempat tersebut.


Fasilitas di sini cukup memadai, bahkan banyak anggota keluarga dari sang pasien yang menjadikannya tempat piknik. Akan tetapi, bagi pihak rumah sakit hal tersebut tidak dianjurkan. Menginap terlalu lama di rumah sakit bisa meningkatkan kemungkinan penularan. Jadi, bapak satpam yang sebelumnya juga menganjurkanku untuk pergi secepatnya. Rumah sakit benar-benar bukan tempat untuk menumpang.


Waktu terus berjalan, sebagian besar hal yang kulakukan hanya bermain gadget dan mencoba menenangkan diri dengan membaca atau bahkan tidur di sana. Bukan tanpa alasan, tapi itu juga untuk menjaga stamina agar pencarian di waktu malam bisa dilakukan.


Aku dan bapak satpam itu sedikit demi sedikit membentuk komunikasi. Keberadaan kami yang berdekatan membuat keadaan canggung di mana berdiam diri malah membuat suasana tidak nyaman. Setiap terbentuk waktu diam yang begitu lama, entah aku atau si bapak mulai mencari topik pembicaraan.


Matahari mulai tenggelam, langit sore oranye mulai menggelap kehilangan berkas cahayanya. Urusan makan sendiri aku diberikan oleh bapak tersebut, dia memperlakukanku juga layaknya tamu spesial dengan baik. Tentu awalnya aku menolak, isi dompet di celanaku tidak cukup tipis untuk mengemis minta makanan. Tapi, itu murni karena kerendahan hati, sebuah penghormatan darinya walau sebenarnya aku sudah beri tahu ada jumlah uang untuk kubayar.


“Oh, iya, Pak,” panggilku membuka kembali percakapan di waktu malam. “Orang kayak saya memang sudah sering datang atau gimana?”


“Ha?”


“Hmn ... maksudnya orang yang bilang mau nginep kayak saya? Kenapa bapak malah iya-iya saja waktu saya bilang mau diam di sini? Sampai-sampai dikasih tempat nginep di pos satpam.”


Aku tahu ketika orang merasa kesal, aku tahu kapan orang berbohong, kapan mereka bahkan membohongi dirinya sendiri, terganggu dengan kehadiran orang lain. Jadi, bapak satpam yang berumur sekitar lima puluh tahun ini benar-benar tulus. Itulah yang membuatku penasaran.


“Ada satu atau dua orang sebelumnya, gak sering tapi tetap saja ada. Orang-orang yang minta nginep di pos satpam. Kayak yang gak bisa pulang gara-gara kemalaman, atau gak muat di kamar pasien karena keluarganya kebanyakan.”


Situasi-situasi seperti itu memang bisa terjadi. Satu orang sakit, tapi banyak pengikut yang menjenguknya. Tapi, fasilitas di rumah sakit tidak semua mewah, masih banyak satu kamar diisi lebih dari lima pasien. Jadi, dengan kedatangan keluarga yang menumpuk, tentu mereka akan mengganggu staf dan pasien lain.


“Memang kalau kebanyakan kadang malah bikin ribet. Tapi, lebih mending dari pada pasien gak ada yang jenguk,” ucap satpam tersebut sambil melihat lapangan lahan parkir di depan bersantai di pos satpam.


“Memangnya ada pasien yang gak dijenguk keluarganya?” tanyaku dengan polos.


“Ahahah ...,” tawa satpam tersebut dengan sinis. “Bukan ‘ada’ lagi ..., tapi banyak.”


Banyak ...?


Aku sedikit berpikir, apa itu hanya istilah hiperbola, atau sungguhan jumlah kasusnya memang banyak. Tapi, tentu isi kepalaku masih berusaha baik, alasan tidak dijenguk adalah kesibukan setiap individu hingga tidak bisa mengorbankan waktu. Bukan berarti tidak ingin berkumpul secara harfiah.


*Whoush ....


“...”


Gelombang emosi.


Tapi, apa yang kurasakan di lidahku tidak begitu. Rasa sedih pada satpam tersebut terasa, kekosongan dan kesepian yang menghiasi perasaan di dadanya keluar sedikit menguap dari tubuhnya.


“Kebanyakan sih dari yang kena AIDS, mereka yang sudah sakit-sakitan sering ditinggal sama keluarganya sendiri. Dibiarin gak dijenguk dan cuman dititipin di rumah sakit.”


“Bukannya ... kasihan?”


“Lah, memang iya,” jawab si bapak satpam sambil menggoyangkan gelombang suaranya. “Cuman banyak orang ngira kalau AIDS itu seram, takut nular, atau memang sudah gak ada harapan hidup lagi. Jadi, sudah jelek lah stigma masyarakatnya.”

__ADS_1


Aku pernah dengar dan belajar dari beberapa penyuluhan resmi yang dilakukan beberapa organisasi, mereka masuk ke sekolah dan mencoba mempresentasikan penyakit tersebut. Dari mulai penyebab, gejala, dan penyembuhan. Pengetahuanku cukup untuk tahu kalau itu penyakit berbahaya, sama mengerikannya dengan kanker.


“Di rumah sakit ini ada banyak pasien AIDS, Pak?”


“Banyak, dan lebih dari setengahnya sudah gak ngurus lagi keluarganya,” kembali jawab bapak tersebut menghadapi pertanyaan berputarku. “Huft ... hah ... harusnya mereka itu dikasih dukungan, semangat buat sembuh, ketenangan mental, atau setidaknya perhatian teman ngobrol. Tapi, keluarganya sendiri sudah gak ngurus, kebayang saja gimana perasaan mereka.”


“Ah ... sedih juga kalau dibayangin. Kalau sudah tahap AIDS, memang susah disembuhin.”


“Makanya, yang susah dari AIDS juga kadang kasih dukungan ke pasiennya. Mereka sudah banyak yang nyerah buat hidup, malah gak jarang buat minta disuntik mati saja.”


“Suntik mati ...? Itu artinya sama kayak bunuh diri?”


“Iya mirip-mirip, sih. Cuman kalau pasien AIDS ‘kan ... susah juga hadapinnya.”


“Ah ... aku ngerti itu, perasaan antara kasihan dan bingung— Hn?”


Pikiranku tersentil oleh kalimat tersebut, pembicaraan kami entah kenapa berhubungan dengan satu kejadian yang selama ini terjadi. Satu per satu dari fakta, kejadian, dan pemikiran belakangan ini terus bersambungan. Setiap neuron di otakku menggali ingatan, mencoba merangkai semua tersebut menjadi satu hipotesis kuat.


Aku mengambil posisi, membentuk posisi nyaman, lalu memejamkan mata memperkuat konsentrasi.


Pertama penyakit AIDS ....


Penyakit parah di mana pasien sudah rusak sistem kekebalan tubuhnya oleh virus HIV. Itu pengetahuan umum di jaman sekarang yang bahkan anak SMA sepertiku seharusnya sudah tahu. Tapi, bukan itu intinya yang kuambil.


Lalu, kedua tentang kasus kematian acak ....


Aku sekarang ada di dalam misi Pero, mencari penyusup dari kaum animus yang sekarang sudah diduga kuat dalang dari kematian acak. Kasus di mana para korbannya adalah pengidap penyakit berat. Para dokter masih tidak mengerti penyebabnya, dugaan sementara hanyalah mutasi penyakit secara spontan.


Ketiga, kasus bunuh diri Azarin dan ibunya ....


Aku masih belum mengerti bagaimana detail mereka. Tapi, jika aku melihat tempat kejadian perkara secara langsung, yang aku temukan mungkin adalah alat bunuh dirinya. Ada kemungkinan keberuntungan jika Azarin menuliskan catatan bunuh dirinya. Namun, semua itu akan diserahkan pada polisi tentang bagaimana detailnya. Lagi pula, zaman sekarang sudah terdapat media sosial yang sama akuratnya.


Yang paling penting, timing-nya sangat kebetulan dengan hari di mana si penyusup mulai datang ke kota ini.


Bisa jadi ini hanya delusi, sesuatu dari hipotesis ccocokologi. Manusia sendiri punya kebiasaan untuk menghubung-hubungkan sesuatu hal agar masuk ke dalam kepercayaannya, hal ini dinamakan subjektivitas. Tapi, aku tentu berusaha menghilangkan hal tersebut. Pada akhirnya semua ini hanya hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya. Subjektivitas bukan dilarang, lebih tepatnya seperti langkah yang belum berakhir.


Kemudian, poin keempat, keinginan bunuh diri ....


Semua tersebut tidak sembarangan, keinginan bunuh diri erat kaitannya dengan depresi. Aku bisa merasakannya, bau-bau sampah organik menyengat menyiksa hidung berasa seperti dikurung dalam kebusukan tiada akhir. Terkadang bercampur dengan kesedihan, terkadang bercampur dengan kemarahan, dan terkadang bercampur dengan ketakutan.


Sebelumnya ... saat aku pergi ke hotel bersama Amalia dan Pero, perjalanan keluar sendiriku dihadapkan oleh satu gelombang kuat. Itu bukan sesuatu yang benar-benar asing, aku kenal gelombang emosi yang serupa, dan itu adalah depresi.


Depresi kuat tidak jarang mengacaukan otak, membuat si penderita berpikir pendek dan ingin mengakhiri hidup. Itu sebabnya, orang tersebut perlu ketenangan secara batiniah, perlu teman bicara yang baik untuk meluruskan isi kepalanya.


Lalu yang terakhir ... gelombang emosi.


Pero bilang kalau kekuatanku bisa menuntun dan menjadi petunjuk utama. Tapi, ini lebih tepatnya sebagai alat pendukung. Apa yang kurasakan di malam di mana aku hampir mati karena sensasi tersebut bukanlah kebetulan belaka. Itu adalah jejak penyusup animus yang dicari, hanya itu yang bisa terpikir olehku sebagai penjelasan kejanggalan ini.


“Huft ... hah ....”


Aku berdiri dari tempat duduk, merenggangkan tangan dan beberapa sendi di tubuhku. Setelah diam yang cukup lama, akhirnya otakku sudah sampai pada tahap akhir.


Heh, baiklah ... waktunya bertaruh.


 

__ADS_1


 


__ADS_2