
Zaman sekarang ada yang namanya toksik positif, seseorang yang menyebarkan kalimat positif di mana isinya cenderung memaksakan kehendak dan malah menjadikan orang-orang buta akan keadaan sebenarnya. Kata untuk menghadapi sesulit apapun rintangan tidak selalu benar, semua orang punya kapasitasnya masing-masing dan tidak boleh saling merendahkan atau memukul rata setiap individu. Jika orang tersebut merasa tidak sanggup, mereka dikatakan manja atau orang gagal yang tidak mau berusaha.
Menyerah terkadang memang pilihan tepat, atau lebih tepatnya menyerah di awal untuk melakukan langkah lebih besar.
Ketika ingin menembus gurun dengan cadangan air yang sedikit, kita tidak perlu membodohi diri sendiri dengan merasa sanggup untuk melakukannya. Persiapan penting untuk melengkapi perbekalan sangat penting, bukan hanya pandangan positif menganggap semua rintangan bisa diselesaikan begitu saja.
Aku mulai mengerti sedikit demi sedikit, dengan maksud yang ingin disampaikan Geza sang penyihir di dalam tubuh anak lelaki.
“Katak yang direbus dengan pemanasan bertahap tidak akan melompat keluar. Ketika ada perubahan suhu yang kecil, tubuhnya akan berusaha untuk menyesuaikan. Tapi, sampai kapan itu berlangsung? Tentu ada batasnya di mana si katak tidak akan tahan dengan air mendidih,” ucap anak tersebut menjelaskan dengan nada-nada berdongeng.
“Lalu apa? Katak itu hanya tinggal melompat,” jawabku yang berusaha sinis.
“Iya, memang benar, melompat adalah jalan keluar. Namun, katak itu tidak bisa, dia tidak bisa melompat, dia sudah lemas karena seluru tenaganya dipakai untuk menyesuaikan diri dengan suhu panas barusan.”
“...”
Aku menundukkan pandangan, menolak tatapan matanya yang sedang menjelaskan karena pikiranku sudah jelas menangkap hal tersebut. Sebelum kisah ini selesai, aku bahkan tahu akhirnya.
“Katak tidak bisa kabur, tapi di saat yang sama dia tidak mampu menyesuaikan diri dengan panas mendidih. Kamu tahu apa yang selanjutnya terjadi ... Kaivan?” tanyanya dengan nada meninggi lagi, dari awal permainan katanya menunjukkan kalau dia sedang mengujiku.
“Katak bakal mati.”
“Iya, katak mati, itu tidak akan terhindarkan. Tapi, jika disebut penyebab kematiannya adalah air mendidih, itu semua salah.”
“...”
“Katak mati karena dia terlambat untuk menyerah, dia memutuskan untuk menghadapi bahaya yang sebenarnya dia tidak tahu kalau dia tidak sanggup. Sungguh menyedihkan ketika akhirnya dia mati perlahan akibat keputusan positifnya.”
Aku sedikit tidak percaya kalau katak benar-benar melakukan hal tersebut ketika direbus. Tapi, kenyataan tentang katak itu bukan maksud terbesar. Apa yang ingin dia sampaikan bukanlah kebenaran kisa, melainkan pesan dari itu semua.
Tapi, biarpun begitu ....
Aku tetap tidak ingin percaya hal tersebut.
“Kejadian itu gak ada hubungannya,” kataku yang masih menentang.
Pengibaratan katak dengan manusia yang sedang sakit dan dibunuh karena minta dibunuh tidak sama. Itu mungkin membuktikan kalau pikiran positif tidak selalu benar, hanya saja tetap tidak membenarkan tindakan membunuhnya.
__ADS_1
“Aku masih tidak mengerti jalan pikiranmu, bukankah apa yang kupercaya sudah cukup masuk akal bagimu.”
“...”
“Banyak orang yang melarang aborsi karena alasan pembunuhan. Tapi, ketika ada bayi lahir dengan segala kekurangan, dia akan hidup menghadapi banyak ketidakadilan dunia. Pembullyan, stigma masyarakat, dan bahkan menyandang kelainan. Jika kalian tidak bisa memperlakukan bayi tersebut dengan baik, kenapa kalian memaksa untuk tetap melahirkannya ke dunia? Anak tersebut mungkin lebih baik tidak lahir agar terhindar dari itu semua.”
“...”
“Semua orang akan mati, cepat atau lambat. Aku mempermudah itu semua karena itulah yang ringan bagi mereka. Ketika kalian memakan hewan lain, kalian juga akan mempercepat kematiannya demi berkurang rasa sakit. Lalu, untuk orang yang tidak punya pilihan selain mati, aku adalah orang yang menyelamatkannya dari rasa sakit. Apa aku salah?”
“...”
Aku terus diam, kalimat-kalimatnya terus berkembang menunjuk ke arah yang lebih baik. Berbeda dengan kalimat balasanku, pernyataan yang keluar dari mulutnya lebih bermakna dan beralasan kuat. Setidaknya, dia bukan pembunuh murni, tidak jauh berbeda dengan si pencuri Robin Hood.
Tanganku mengepal, gigiku terasa kaku, mulutku membeku tidak bisa bicara. Aku ingin menolak pembunuhan, tapi jika memang kematian adalah takdir utamanya, aku yang memaksa dia hidup bersama rasa sakit akan terlihat seperti psikopat.
Tidak ada yang menginginkannya, tidak ada yang menganggapnya benar. Namun, ketika tidak ada jawaban benar, maka menyerah memang menjadi satu-satunya pilihan, mengosongkan jawaban di kertas jawaban sebenarnya bisa menjadi pilihan bijak.
“Ge-Geza ...,” panggilku pertama kali pada anak tersebut, sedikit ragu dan bergetar.
“Apa kamu mengerti?”
“Terima kasih sudah mau mendengar,” jawabnya sedikit merendahkan.
“Tapi, sebelumnya, apa aku boleh bertanya?”
“Tanyalah semaumu.”
“Apa kamu yakin orang yang terbaring di kasur itu ... orang itu dan semua orang yang kamu bunuh itu benar-benar menginginkan kematian?”
Aku mungkin bisa merasakan gelombang emosinya. Kita mungkin juga bisa mendengar ucap permohonan dari mulutnya. Tapi, apa yang dirasakan belum tentu apa yang dia inginkan. Manusia sangat unik, dia bisa berbohong bahkan pada dirinya sendiri. Manusia sangat unik, bukan hanya mulutnya saja, tapi seluruh tubuh dan perasaannya bisa ikut berbohong. Aku dengan kekuatanku saja masih tidak berani memutuskan hal tersebut.
“Aku yakin ... dan aku tahu dengan jelas,” jawabnya dengan tegas walau sedikit disertai jeda. “Aku adalah penyihir, salah satu kemampuanku adalah mengetahui perasaan depresi orang dengan mencium aromanya.”
“Aroma ...?”
“Iya, aroma. Huft ... hah ... ketika manusia dalam keadaan terlemahnya, baik itu mental maupun fisik, maka gelombang sihirnya akan bisa kurasakan.”
__ADS_1
“...”
Kekuatan itu ... sedikit mirip denganku.
“Aku memberitahu ini sebagai pengecualian. Rasa terima kasih masih ada kuberikan. Jika kamu tanya, itu adalah sihir yang aku dapat dari animus-ku, sihir yang serupa dan memberikanku kemampuan tidak bisa menua.”
“Ti-tidak bisa menua?”
Otakku sedikit melambat, berbagai informasi yang masuk membuatnya sedikit terhambat. Pada akhirnya, respons yang keluar terlihat seperti orang bodoh.
“Mungkin kamu sudah melihatnya. Tombak besar bercapit itu adalah senjataku. Semua kemampuan itu berasal dari satu sumber ... animus Lobster. Aku tidak bisa menua karena mereka juga tidak. Sihirnya bercampur akibat kontrak dengannya. Oleh sebab itu penampilanku sekarang persis sama seperti anak kecil.”
Di kalimat tersebut, Geza pun mulai berjalan kembali, kali ini dia menuju pintu keluar. Arah tersebut berlawanan dengan tempat berdiriku yang ada di tengah ruangan. Jadi, langkah kakinya terdengar menjauh secara konstan.
Awalnya aku kira dia ingin pergi meninggalkanku seutuhnya. Tapi, sebelum dia terlalu jauh berjalan di lorong, anak tersebut memanggilku, “Kaivan ....”
“...?” reaksiku berbalik memandangnya ... walaupun wajah dan ekspresiku membeku keras layaknya robot.
“Aku akan memberimu satu hari untuk berpikir. Datanglah besok ke rumah sakit ini dan putuskan tentang tawaran menjadi rekanku barusan. Jika kamu mau, kita bisa membuat dunia lebih baik dengan sedikit rasa sakit.”
“...”
*Step, step, step ....
Geza pun melangkah pergi, menyusuri lorong di malam hari yang sepi. Aku di sini masih diam mematung, di ruang isolasi pasien dengan segala ideologi yang sudah disuntiknya padaku.
Aku mulai bingung, tentang bagaimana aku menghadapi situasi abu-abu ini. Siapa yang salah, tindakan apa yang benar. Karena semua masih bias, aku pun jadi ragu untuk memutuskan. Dia punya banyak pembelaan untuk membuktikan tindakannya, tapi aku masih tidak bisa membantah semua itu untuk membuktikan penolakanku.
“Huft ... hah ...,” hela napasku cukup panjang untuk mengembalikan stamina.
Tugas ini ... benar-benar sulit.
*****
__ADS_1