Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 2 Jejamuan : Chapter 19 - Sejak Kapan


__ADS_3

Daripada menunggu bersama dengan Septian dan Imarine di sini, suasana akan lebih bisa terbentuk jika aku mengantar mereka.


Aku berjalan menyusuri lorong, memutari aula, dan akhirnya sampai di bagian barat sekolah. Posisiku ada di selasar barat bersebelahan dengan ruang aula. Dari sini, jarak pandangku cukup luas untuk mengamati berbagai siswa yang datang.


Ah ... akhirnya ada.


Dan benar saja, aku bisa melihat Amalia dan Fany berjalan bersama menuju mendekatiku untuk menuju tempat gedung tak terpakai. Mereka menggunakan jalur utama di lorong depan gedung kelas satu menuju aula. Mereka berjalan berdempetan berdua, persis terlihat seperti sahabat yang menyemangati satu sama lain.


“Kamu sudah siap Fany?” tanyaku ketika mereka sudah tepat di hadapanku.


“Un ...,” jawabnya sambil mengangguk halus.


Aku kembali berjalan, berbalik arah dan memandu mereka ke tempat Septian dan Imarine menunggu.


Hmn ....


Gelombang emosi Fany tidak terasa begitu buruk. Rasa asam berbau obat khas miliknya memang terasa. Tapi ....


“...”


Setidaknya sekarang dia tidak sedang takut menghadapi Septian nanti.


Kami akhirnya sampai, penampakan Septian dan Imarine sudah terlihat oleh kedua gadis di belakangku. Posisi kami semua berada di lahan kecil di depan gedung tak terpakai dengan pohon sukun yang meneduhi.


“...”


Septian dan Imarine awalnya ada di teras gedung tak terpakai, Imarine sedang membacakan ulang dan memberi beberapa saran atas catatannya. Tapi, begitu mereka melihatku, posisi mereka berubah.


Seperti tekanan baru muncul, berdiri dengan posisi sedikit sigap dan kemudian berjalan mendekatiku.


“...”


“...”


Aku dan Septian saling bertatapan, dia yang tepat di hadapanku kali ini menunggu tindakan lanjut dariku.


“Ian ... kali ini jangan sampai gagal.”


Ucapku yang melangkah ke sisi meninggalkan Amalia dan Fany di sana. Sebuah tindakan yang secara tidak langsung mempersilahkan kedua pihak untuk mulai bicara.


“...”


Tubuhku yang mengambil beberapa langkah ke sisi membuat pandangan Septian disugihi dengan kehadiran Fany. Karena gadis tersebut masih cukup jauh untuk diajak komunikasi, Septian mengambil dua langkah mendekat.


“Yo-yo ... Fany,” salam Septian yang gugup menaruh tangan di belakang kepalanya.


Aku merasakan atmosfer sekitar semakin memberat, akibat rasa malu mereka, aku yang melihat juga ikut menjadi tegang.


“Yo-yo juga,” jawab Fany yang ikut gugup.


Eh-eh ... memangnya itu salam yang bisa dijawab seperti itu?


“Apa kamu gak apa-apa dibawa ke tempat kayak gini ... maksudku waktu istirahat kamu gak akan kebuang?” tanya Septian yang mulai mencari topik pengantar.

__ADS_1


“U-un ...,” jawab Fany sedikit mengangguk. “Gak apa-apa ... aku sebenarnya masih bisa makan nanti sesudah ini.”


“A-ah ... benar ... kalau begitu kita harus selesein ini cepat-cepat sebelum istirahatnya habis.”


“...”


“...”


“...”


Percakapan terputus, mereka menjadi canggung satu sama lain layaknya seorang pasangan yang kehabisan ide mencari topik pembicaraan.


Sepertinya pilihannya tadi tidak menghasilkan hasil yang baik. Dia seharusnya tidak perlu melakukan percakapan tidak berguna barusan. Itu hanya membuat situasinya semakin sulit untuk dia mengungkapkan isi hati sesungguhnya.


“...”


“...”


Mereka berhadapan satu sama lain, tapi pandangannya saling memalingkan mencoba tidak bertatap langsung. Kesampingkan dengan Fany, reaksi Septian kali ini di luar dugaanku. Aku kira ini akan berlangsung lebih kacau dan didominasi oleh Septian seperti biasa.


Hmn?


Amalia mulai membisikkan sesuatu pada Fany, gadis itu masih melekat saling mengunci lengan menemani Fany berhadapan dengan Septian. Tapi, laki-laki itu tidak sadar, tidak mempedulikan Amalia yang sepertinya karena Amalia menggunakan kekuatan sihirnya.


“Fa-Fany ...” Ucap Septian terbata-bata, berusaha menatap Fany tapi berakhir dengan melencengkan mata ke pandangan jauh, “sebenarnya ... aku mau minta ma—”


“Septian, maaf!!”


Hng!?


“Tu-tunggu, kenapa jadi kamu yang minta maaf?” tanya Septian yang membuat wajah bingung.


“Maaf ... selama ini aku sudah egois. Padahal, kamu cuman suka sama aku, kamu sudah berani bilang langsung sama aku ..., tapi aku ... aku malah menghindar dari kamu dan nunda-nunda jawaban bikin kamu nunggu. Padahal, kalau aku punya keberanian, aku harusnya bisa ngomong juga langsung ke kamu.”


Fany mengatakannya dengan suara lirih. Beberapa kali intonasinya lepas kendali karena tekanan berat yang membuatnya bergetar. Aku bisa merasakannya, adrenalinnya begitu terpacu oleh sebuah kegugupan dan keraguan hati. Begitu tergambar walau aku tidak menggunakan deteksi emosi.


“...”


Septian terpana melihat sosok Fany yang memberanikan diri mengatakan hal tersebut.


“Eng-enggak, Fany. Kamu gak salah!”


Namun, dia akhirnya tersadar dan ingin membalas perasaannya barusan.


“Egois itu aku ... aku selalu paksa kamu buat dekat sama aku, bikin kamu terpaksa masuk dalam kondisi canggung sama teman. Tapi ..., pada akhirnya aku cuman berlindung dari kata ‘suka’, menganggap semua yang kulakukan benar demi mengejar obsesiku sendiri.”


Septian juga membalas dengan perasaan serupa. Kegugupannya tidak kalah dengan Fany, dia ingin menghargai apa yang Fany putuskan dengan mengumpulkan keberanian dan kebulatan tekadnya.


“... Ka-Kaivan benar ... aku itu egois. Waktu itu aku gak lihat perasaan kamu kayak gimana, berlaku keren dengan mengejar kamu tanpa henti. Padahal, dari semua orang, aku salah satu yang mengerti kalau kamu masih takut sama cowok.”


“Enggak, aku juga salah ... aku waktu itu gak pernah jelas ngomong sama kamu. Aku cuman ngandalin suasana dan biarin kamu deketin aku. Aku yang gak pernah bilang apa isi hati aku juga salah. Kamu dari awal gak tahu, kalau saja aku kasih tahu, kamu mungkin gak bakal kayak gitu.”


“Aku gak tahu itu Fany ...,” jawab Septian sambil sedikit menggeleng. “Aku bukan Kaivan ... aku bukan laki-laki peka yang bisa mengerti perasaan kamu sekarang. Walaupun aku tahu, tindakanku waktu itu juga mungkin gak akan berubah ....”

__ADS_1


Septian kali ini merendah, penyesalannya begitu besar hingga dia mengurungkan niatnya untuk membela diri sendiri.


“Yah ... benar, kamu bukan Kaivan,” ucap Fany dengan wajah sedikit menunduk. “Kamu itu kamu ... kamu Septian ... memang benar kamu gak keren dan gak sebaik Kaivan. Tapi, kamu punya sesuatu yang cuman kamu sendiri yang punya. Kegigihan dan perjuangan kamu ... waktu itu kamu cuman mau melindungi apa yang kamu punya.”


“Fany ...?”


Percakapan ini berjalan membaik dan terus menuju ke arah di mana mereka akan mendapat kepuasan. Tapi ..., entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang menjanggal.


“Septian ... apa kamu mau coba sekali lagi?”


“Sekali lagi?”


“Tentang semua yang kamu lakukan sebelumnya.”


“...”


“...”


Atmosfer terasa semakin berat. Aku merasa sesuatu ini bahkan berjalan terlalu baik dari apa yang kuperkirakan.


“Fa-Fany ... aku suka sama kamu ... kamu mau jadi pacar aku?”


Eh-Eh!?


Tunggu-tunggu ... kenapa!?


“U-un ....” Fany mengangguk kecil.


“...”


“...”


Aku, Septian, dan bahkan Imarine di sampingku sempat terputus kesadaran sesaat. Mencoba mencerna apa yang terjadi.


“Eh? Barusan ... barusan itu artinya ‘iya’? Benar, ‘kan? Aku gak salah?” tanya Septian dengan sedikit panik. “Bisa kamu ulang sekali lagi?”


“E-enggak, aku bisa ulang lagi ....”


“...”


Jawaban kedua Fany bersifat netral untuk tidak mengulang jawaban. Tapi, jika diurut mengikuti arah pembicaraan dan atmosfer sekitar. Itu semua mengarah ke jawaban ‘iya’.


Apa ini ... apa ini ...?


Aku bahkan tidak bisa menahan perasaan kejut dengan apa yang kulihat sekarang.


Sejak kapan Fany bisa seagresif ini? Jika memang mereka saling mencintai ... lalu selama ini untuk apa perbuatanku yang berputar-putar ini?


 


 


*****

__ADS_1


 


 


__ADS_2