Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 3 Manis Sengat Semut Asam Format : Chapter 21 - Senjata Tombak Capit . 1


__ADS_3

*Whoush ....


Gelombang emosi.


Kemarahan ... rasa pedas yang menyikap wajahku dan dalam mulutku dapat dirasakan. Walaupun tidak terlalu pekat, tapi perasaan tersebut dicampur oleh rasa pahit dari kebencian.


Setiap detiknya, aku bisa melihat perkembangan mentalnya. Tangan anak kecil itu mengepal, giginya mengeram, dan kerut di matanya seakan disimpan untuk berteriak padaku.


Aku sebenarnya tidak tahu makhluk apa yang telah kuhadapi sekarang. Tentang apa yang akan terjadi jika dia bangkit, aku hanya berharap kalau hal tersebut tidak benar-benar membunuhku.


Tapi ....


"Huft ... hah ...."


Hmn?


Hela napas itu bukan diriku, melainkan Geza. Bersamaan dengan keluarnya udara tersebut, aku bisa merasakan kalau gelombang emosinya memudar, bahkan hampir menghilang.


Ini cukup unik, karena sangat langka orang bisa mengendalikan emosinya seperti itu setelah keluar emosi sebesar yang kurasakan barusan. Biasanya orang akan mengeluarkan setidaknya satu pukulan, baik itu mengarah padaku atau pada benda mati di sekitarnya.


"Aku kira kita bisa saling mengerti ..., Kaivan," ucapnya yang masih menundukkan kepala menghindari tatap mataku.


"Aku mengerti dirimu, dan aku mengerti kalau pembunuhan itu hal yang salah—"


"Cukup," potongnya yang lebih lembut dengan rentang telapak tangan diangkatnya. "Sekarang aku tahu kalau makhluk sekelas penyihir saja masih tidak bisa memahamiku."


"..."


Geza pun mulai berbalik, dia pergi dan melangkah untuk meninggalkanku sendiri.


"Kamu sedang mempertahankan wilayahmu, 'kan? Tenang saja, aku tidak akan pernah ke sini lagi."


Kalimat tersebut adalah ucapan selamat tinggal. Dia tidak benar-benar membenciku, dia hanya tidak ingin berurusan lagi denganku. Apa yang menjadi keputusannya untuk tidak memaksaku ternyata memang benar, dia menjaga perkataan itu dan berusaha pergi tanpa jejak.


*Step, step, step ....


Masalah berakhir, penyusup tersebut akan pergi, dan aku bisa fokus dengan masalahku sekarang. Kekhawatiran Pero dan tanggung jawabnya yang selama ini selalu ditimpakan akan berhenti sesaat, setidaknya waktu satu atau dua hari akan cukup untuk mencari gadis tersebut. Biar bagaimana pun, aku adalah orang yang bisa mencium gelombang emosi Imarine. Permainan petak umpet bukan pertama kali kami lakukan.


Langkah kaki dari penyihir lobster tersebut semakin menjauh. Karena aku berada di tempat luas tempat parkir rumah sakit yang sedang kosong, penampakannya tidak secepat itu untuk hilang. Lalu, berbeda dengan Hanz yang bisa menggunakan sihir menghilang, Geza tidak tampak sama sekali menggunakannya, dia berjalan sama seperti manusia biasa.

__ADS_1


*Step, step, step ....


"..."


Apa benar hanya ini yang ingin kulakukan? Jika semua berakhir seperti ini, maka ada satu hal yang tidak akan pernah berubah.


*Gluk


Aku menelan ludah, berusaha menguatkan mental dengan sedikit mengepal tangan. Sampai pada saatnya, aku pun membuat keputusan berani.


"Woi, tunggu," panggilku pada Geza.


Suaraku memang tidak keras, tapi perbandingan suasana sepi dan luas membuat getar gelombang udara tersebut sampai pada gendang telinganya. Jadi, bersamaan dengan panggilan tersebut, Geza mulai menghentikan langkahnya.


"Apa lagi?"


"Masalah gak selesai di sini, Geza. Setelah aku tahu semua ini, apa kamu pikir aku adalah orang yang bisa membiarkan pembunuh berkeliaran begitu saja?"


*Dug, dug ....


Gelombang emosi.


"Ahah," dehamnya keras sambil kembali membalikkan badannya lagi ke arahku. "Kaivan ..., aku pikir aku tidak bisa lebih kecewa lagi. Tapi, ahahah ... aku pikir kamu manusia pintar yang menghargai nyawamu sendiri."


Dari bahasa tubuhnya, Geza ini sangat percaya diri dengan kemampuannya. Dia tahu kalau dirinya punya kemampuan tempur, dia percaya kalau orang sepertiku tidak punya kesempatan untuk mengalahkannya.


Lagi pula, aku juga tahu, aku sendiri tidak punya latar belakang untuk bertempur. Sesuatu yang kupunya hanyalah refleks untuk menghindari serangan, tidak ada di dalamnya sebuah serangan kuat yang bisa melumpuhkan.


"Aku gak pernah merasa kalau diriku pintar. Tapi, aku yakin membiarkanmu berkeliaran bebas adalah tindakan bodoh," ucapku membalas kalimatnya.


Dengan sikap tenang yang dia keluarkan, aku juga bisa bersikap setenang mungkin. Ancaman mental tidak akan berpengaruh karena aku selalu bisa tahu maksud hati dari gelombang emosi orang yang di hadapanku.


*Blink


Sekejap aku melihat tombak besar muncul dari ruang kosong, cahaya-cahaya berkumpul hingga akhirnya membentuk senjata tersebut. Bentuknya cukup mengerikan dengan panjang yang melebihi tinggi Geza itu sendiri. Jadi, daripada takut, aku lebih ke arah penasaran bagaimana bisa dengan tubuh kecil tersebut dia mampu menopang senjata itu.


Mekanismenya cukup unik, setiap ujungnya terlihat begitu mekanik, setiap sisinya terbentuk gigi-gigi tajam. Dengan dua lengan pisau, tombak tersebut terlihat bisa dibuka dan ditutup layaknya gunting. Tapi, bentuknya sendiri lebih mengarah seperti capit. Pegangannya sendiri juga unik, terlihat dia memegang tombaknya tidak murni seperti tombak, pegangan kedua di atas yang menyambung dengan mekanik capit membuatnya terlihat sedang memegang alat penyemprot seperti flamethrower.


*Sheath

__ADS_1


Geza menarik tombak yang barusan dimunculkan di belakang tubuhnya, menariknya ke depan dan membuat posisi sigap dengan ujung tombak mengarah padaku.


Tidak ada sedikit pun rasa kewalahan dari Geza ketika memegang senjata tersebut, setiap geraknya begitu halus layaknya dia sedang memegang sapu ringan. Sesaat aku berpikir kalau benda tersebut ringan, tapi semua itu berubah ketika ujung tombak tersebut berdenting keras bertumbukan dengan tanah aspal di area parkir terbuka ini.


"Kaivan ... aku ini orang baik. Jika kamu berpikir lagi, aku masih memaafkanmu dengan membiarkanku pergi sekarang."


"..."


Aku diam, tidak menjawabnya dan terus menatap Geza dengan datar. Selama detik-detik tersebut tidak suara dari kami berdua, Geza tetap menahan posisi tombaknya, dan aku tetap berdiri tegak tidak menaruh kuda-kuda apapun. Jika ada yang kurasakan, hal tersebut hanya gerak angin malam di tengah malam. Bukan jawaban jelas, tapi sepertinya sudah menandakan kalau aku tetap tidak menerimanya.


"Hmn ... apa itu bisa kuambil dengan jawaban tidak?" tanya anak tersebut dengan sedikit nada ancaman.


"Aku masih tetap pada keputusanku, Geza."


"Kalau begitu keluarkan senjatamu sekarang."


"Aku gak punya senjata," jawabku sambil membuat gesture 'tidak ada' mengangkat kedua tangan. "Dari awal, aku bukan penyihir yang punya kemampuan hebat sepertimu."


"Ha?"


Respons Geza di sana cukup kaget, dia bingung dengan pernyataan tersebut karena selama ini dia menganggapku sebagai penyihir. Berbagai percakapan kami lakukan, baik itu tentang sihir maupun tidak, dan selama itu juga aku bisa mengikutinya. Jadi, tidak ada kecurigaan sama sekali kalau aku manusia biasa.


"Aku gak punya sihir, aku cuman bisa merasakannya, itu saja. Selebihnya aku hanya manusia biasa, dan manusia tersebut kebetulan menemukanmu," ucapku untuk menjelaskan.


Geza berkedip dua kali, dia kembali memandangku fokus untuk melihat kebenaran dari ucapanku. Dari sikapnya itu, kembali lagi dia tidak punya kecurigaan, sikap tenangku membuatnya malah bingung ingin dengan tujuannya sendiri.


"Hagh ...," napas kerasnya mengeluh yang disertai kecewa berat. "Mana mungkin manusia biasa bisa menghentikanku."


"..."


Seucap dengan kalimatnya tersebut, Geza pun kembali menarik tombaknya. Dia menaruh ke belakang dan kembali lagi tombak tersebut lenyap menjadi cahaya.


"Di matamu aku memang pembunuh, tapi aku tidak akan melawan orang yang tidak bersenjata."


Jalan Geza diteruskan ke belakang, dia melanjutkan tindakannya untuk pergi meninggalkanku.


"Woi, tunggu—"


"Cukup!" potongnya keras tidak membiarkanku bicara. "Aku sudah lelah dengan pertunjukanmu, Kaivan. Aku tidak punya urusan denganmu lagi."

__ADS_1


*Run


"Hh!?"


__ADS_2