
Sentak senjata tersebut sangat keras. Ketika pelatuknya ditarik, aku bisa melihat uap-uap keluar. Walaupun tombak tersebut tidak memiliki mekanisme steam, entah kenapa udara panas tersebut keluar layaknya gas yang membantu dorong tenaga capitnya.
*Dug, dug ... dug, dug ....
Aku bisa merasakannya, detak jantungku masih berdetak sesaat setelah Geza memicu tombak capitnya untuk memenggal kepalaku.
"Huh?"
Aku juga bisa merasakannya, respons penyihir lobster yang merasa bingung karena cipratan darah yang seharusnya tercecer tidak keluar sedikit pun. Di tengah uap-uap panas yang keluar menutupi kepala dan ujung capit tersebut, ada satu hal yang ternyata mampu menyelamatkanku.
*Defend
"Ghk ...!!"
Di antara sendi terdekat tombak capit tersebut, aku meletakkan pisau milik Pero di sana. Ketika aku melihat batu dan aspal bisa terbelah oleh senjata itu, kini hatiku cukup terkejut kalau ternyata pisau milik Pero bisa beradu sangat sengit dengan tombak Geza.
Refleksku cukup cepat, mengambil pisau di saku jaket untuk menghentikan capit tersebut dan membuatnya macet. Senjata kecil tersebut sekarang bergesek keras, krik-krak bunyi decit besi bersinggungan terkadang membuat ngilu. Tapi, itu masih lebih baik dibanding lepas kepalaku dari badannya.
Mekanisme tombak capit tersebut benar-benar macet sekarang, sendi capit yang kuselipi pisau membuat gaya dorong di senjata itu hilang. Jika ada yang tersisa, itu hanya dorong manual dari Geza sendiri.
"Woi! Kenapa— Huft ... Hakhh!!"
*Kick
Stank!
Uap-uap panas yang menghalangi penglihatan sudah memudar, Geza yang tahu senjatanya macet pun menendang-nendang bilah capit di salah satu sisinya. Tapi, usaha tersebut tetap tidak membuat pisau milik Pero patah di dalam. Dengan kuat benda itu kokoh menyelamatkanku terus.
Stank! Stank!!
"Gkh!!"
Tapi, tetap saja kekuatan kakinya begitu kuat, tombak yang menerimanya bergetar dan membuat tubuhku terbentur ke berbagai arah. Rasanya sakit, berbagai tumbukan aku rasakan di keadaan terjepit ini.
Di sana aku hanya bisa menjaga posisi pisau Pero agar tetap di tempatnya. Senjata kecil tersebut adalah satu-satunya harapan sekarang. Dengan kondisi ini, aku bisa saja mati ketika pisau tersebut terpental lepas.
"Huft ... Hah!!"
*Kick
Stank!!
"Gkhft ...!!"
Beberapa tendangan ternyata cukup membuatku sadar. Ada satu penyebab lagi aku bisa mati. Jika bilah capit ini didorong terus hingga menabrak aspal sepenuhnya, maka leherku yang terletak di capit dan aspal ini juga akan putus.
Apapun pilihannya, bertahan dengan menjaga posisi pisau itu terbatas. Aku harus segera mencari cara untuk melawan.
Dari pada mencegah pisau itu bergerak, sekarang aku lebih memilih untuk mengerahkan seluruh kekuatanku mendorong. Senjata kecil yang kupegang tersebut tersangkut di dua gigi tajam di dalam bilah capit, dua benda tersebut sudah saling mencengkeram dan akan sulit dilepas dengan cara dipukul. Aku memanfaatkan hal tersebut, bersikap tenang dan fokus untuk bangkit melawan tenaga Geza si penyihir lobster.
*Dug, dug ....
Detak jantungku masih tidak berhenti, darah panas bergerak hingga ke seluruh ruas tubuh. Tapi, di sini aku mulai berhenti mempedulikannya. Fokusku sekarang adalah pada pisau yang kupegang, menggunakan seluruh bagian tubuh dari pundak, punggung, kaki, dan tentu pergelangan tangan.
"HaaAAaaaaAAaahg!!"
"Haha, HAHA!! HAHAHAHA ....!! YA! Begitu! Kamu memang harusnya berteriak seperti itu!!"
Awalnya semua tindakanku itu tidak berasa apapun. Pisau tidak bergeser, tombak tidak terdorong. Teriakkanku terlihat seperti orang konyol. Tapi ....
*Shine
"Huh?"
Pisau Pero bersinar mulai bersinar, cahaya kaleidskop merembes dari bagian logam dari senjata tersebut.
Entah kenapa aku tanganku menjadi ringan, entah kenapa aku merasa kalau tenagaku bisa keluar jauh lebih besar lagi. Mengikuti perasaan tersebut, aku pun kembali mengerahkan dorongan keras. Mataku tiba-tiba terbuka lebar, tubuhku memposisikan dirinya sendiri menggapai kuda-kuda.
"HaAAaaakh!!"
*Swing
Pada akhirnya aku bisa melakukan tebasan keras. Memberikan dorongan dan memukul mundur Geza yang sebelumnya menjepitku. Dia secara refleks melakukan hal tersebut demi menghindar dari serangan pisau Pero yang bercahaya sekarang.
"Hah ... hh ... hah ...."
__ADS_1
"Hh, hah ...."
Kami berdua bernapas keras kelelahan. Masing-masing dari kami bisa melihat kembang kempis paru-paru di depan. Baik aku dan Geza, suasana tersebut telah memicu adrenalin, walaupun bagiku lebih karena kemampuan deteksi emosi kemarahan.
"Hehe," deham penyihir lobster tersebut. "Apa ini? Apanya yang bukan penyihir, kamu ingin membodohiku?"
"Membodohimu?" ucap ulang aku yang tidak mengerti.
"Yang kamu pegang ... itu senjata animus."
"... Enggak, dia gak bohong."
"Hm?"
"Hh?"
Suara asing muncul dari arah yang tidak diketahui. Pendengaranku yang sedikit terganggu karena terjebak di dunia ilusi di mana lingkungannya mengganggu indra juga salah satu penyebabnya. Jenis suara yang kudengar berbeda dengan yang biasanya.
"Dia memang bukan penyihir, dia cuman manusia biasa."
Pendengaranku mulai menerima kalimat itu dengan jelas, ini seperti dia telah masuk ke ruangan yang sama hingga gelombang suaranya tidak terhalang lagi. Mengikuti sumber tersebut, aku pun berbalik ke belakang, melihat langsung siapa di orang di sana.
"Ivan, maaf aku telat."
"..."
Aku terdiam dalam bisu, melihat pemandangan yang jauh dari bayangan di pikiranku sebelumnya.
"Heh," lalu responsku di sana berdeham menyunggingkan senyum. "Aku di sini hampir lupa kayak gimana suara kamu yang asli ... Amalia."
Dari belakangku ternyata ada seorang gadis. Dengan pakaian serba putih bercampur siluet merah muda, dia datang layaknya penyelamat di saat genting. Wujud sihirnya juga sebenarnya sudah jarang kutemui, mendengar suara dan melihat kostum tersebut membuat perasaan nostalgia.
Kali ini dia datang dengan gelombang emosi yang lebih stabil. Entah sampai di mana efek dari latihannya untuk bisa membawa ke dalam kontrol penuh, tapi itu sudah cukup untuk membuatnya bisa berjalan dan bicara dengan normal di sini.
*flap, flap, flap ....
Dari belakang tersebut, udara-udara gelombang yang berwarna hingga mengaburkan mataku, muncul juga seekor burung gagak terbang mengepakkan sayapnya menghampiriku. Unggas hitam tersebut bertengger di bahuku.
Maaf, Kaivan. Aku dan Lia tidak datang tepat waktu karena aku tidak tahu kalau dia akan lari ke dunia animus.
Tentu aku tidak bodoh, semuanya sudah terencana. Sebelum aku benar-benar bicara dengan Geza, aku meminta Amalia dan Pero mengawasiku dari kejauhan jika sesuatu terjadi padaku. Bahkan, aku meminta mereka untuk segera datang jika setelah sepuluh sampai lima belas menit tidak ada kabar.
"Aku masih bernapas sekarang, jadi gak masalah," jawabku yang bersyukur dengan keadaan. "Tapi, apa maksudnya dunia animus? Kita sekarang ada di dalamnya?" lanjut tanyaku sedikit penasaran.
Sebenarnya sesuatu seperti itu pernah diulas sekilas, lalu aku yang mengalaminya sekarang juga bisa memahami sedikit. Deteksi gelombang emosiku merasakan sesuatu hal yang berbeda dengan aku yang berdiri di area parkir luas sebelumnya. Indra-indraku di sini bekerja sedikit berbeda.
Detailnya akan kita bahas nanti, karena sepertinya ini bukan waktu yang tepat.
Perhatianku mulai berubah ke depan, melihat anak setinggi 140-150 cm yang memegang tombak memandang tajam. Dia dengan keadaan ini masih memendam perasaan kesal dan hasrat ingin membunuh.
"Haha," tawanya dua deham dengan suara anak kecil menertawai sinis padaku. "Jadi, penyihir di wilayah ini adalah perempuan itu?"
"..."
*Stand
Aku tidak menjawab, arah mata Geza sendiri sedang mengarah pada Amalia di belakangku. Jadi, secara otomatis pandanganku juga ikut dengannya. Di sana, terlihat kalau gadis berjubah putih itu bersigap dengan kuda-kuda mengarahkan pisau miliknya.
Amalia sendiri sebenarnya sudah tahu sifat Geza, dia tidak membujuk atau berusaha bicara dengannya karena semua itu adalah tugasku. Kami sudah membicarakan hal ini, dia juga seharusnya tahu bagaimana pembicaraanku dengan Geza sebelumnya. Dari awal, solusi damai adalah tugasku. Lalu, jika rencana tersebut gagal, aku juga sudah meminta Amalia untuk tidak menahan diri. Oleh sebab itu, sikapnya sekarang sudah seperti siap bertarung.
"Haha," kembali tawa dua kali dehamnya. "Tadinya aku ingin membuat kematianmu lebih mudah, Kaivan. Jadi, jangan salahkan aku jika akhir napasmu akan sakit."
"Tanpa kamu beri, aku sudah tahu rasa sakit kematian."
"Oh, iya?"
"Iya," jawabku dengan tegas.
"Haha, kamu tahu, Kaivan. Selama sudah berpuluh-puluh tahun aku melepas senjata untuk bertempur. Lalu, hari ini akan jadi hari pertama ... hari pertama di mana tanganku kembali kotor dengan darah."
Stank!
__ADS_1
Sambil mengatakan kalimat tersebut, penyihir lobster itu pun menutup ujung bilah tombak capitnya hingga mengubah fungsinya seperti tombak biasa.
"Dari awal darahmu sudah kotor," jawabku memainkan kalimat.
"Haagh ... aku mulai muak dengan kata-katamu," keluhnya menarik napas keras. "Baiklah, aku tarik kembali niat barusan. Jadi, kamu tidak perlu khawatir, Kaivan. Aku akan kembali ke niat awal untuk membunuhmu dengan cepat."
"Heh, aku gak khawatir," balasku meremehkan. "Karena semua itu tidak akan terjadi," lalu balasku dengan sinis menyipitkan mata.
Kataku itu penuh dengan kesombongan, sesuatu yang sebenarnya bisa memancing emosi orang karena merasa dipandang rendah.
Namun, ucapan itu bentuk kesengajaan. Jika dia bertarung dengan satu niat setengah, hal tersebut justru tidak akan membangkitkan kekuatanku.
Deteksi emosi membuat refleksku menjadi sangat tajam, terutama jika aku menghadapi orang yang sedang marah. Semakin marah, maka semakin keras efeknya. Semua itu berbanding lurus dengan kemampuan tempurku yang berupa adrenalin dan insting bertahan hidup.
*Jump
"HAHA!!"
Geza dari tempat berdirinya pun melompat dengan tenaga kuat ke arahku. Kecepatan tolakannya begitu hebat hingga udara di sekitar melengkung dan bergetar akibat tubuhnya yang membelah angin.
Tentu dia tidak hanya melompat. Mengikuti gerakan tersebut, dia menerjangku dengan sebuah ayunan tombak yang cukup ganas mengarah ke leher.
*Dug, dug ....
Aku bersama kekuatanku tentu tidak tinggal diam. Penglihatan dan pendengaran yang menajam kala itu telah mampu membaca pergerakannya. Di detik ujung tombak itu mendekat, aku juga dengan cepat menghempasnya dengan pisau.
Stank!!
Ayunan ke atas, mengubah arah ayunan tersebut hingga tubuh dan senjata Geza sedikit terpental meleset. Biarpun begitu ....
Grek.
"Gkakhgt!"
Aku bisa merasakan rasa sakit langsung dari benturan tersebut di telapak tangan. Kaki kananku yang sebelumnya dipakai menendang telah terluka, tangkisan tersebut sangat buruk karena kuda-kudaku tidak kokoh.
Lagi pula, dengan kekuatan deteksi emosi, aku tetap tidak mampu mengubah kondisi fisikku secara total. Tanganku masih manusia, dan daya tahan tubuhnya setara dengan anak remaja lainnya. Tentu bagian tubuh seperti itu tidak akan selamat sepenuhnya ketika menerima serangan Geza yang bisa memotong batu aspal.
"HAHA!!"
Geza yang ditangkis serangannya telah terpental ke atas. Lompatannya terganggu hingga terhenti ternyata tidak membuatnya menyerah. Ketika tombak dan tubuhnya mengalami tolakan ke atas, dia memanfaatkannya untuk kembali menyerangku secara vertikal. Ayunan tombak yang mengarah ke leher menjadi menyudut tepat ke bumi ingin membelah tubuhku menjadi dua.
*Whoush ....
"Hh!?"
Stank!
Namun, serangan kedua itu dilawan lagi. Kali ini bukan olehku, melainkan oleh Amalia. Dia yang ada di belakang melesat maju untuk menangkis dan membantu melawan. Gelombang emosi yang digunakannya kemarahan, dan itu sangat khas dapat kurasakan mendekat memberiku boost lain.
"Hah! HaaaAah! Hiaa!!"
Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Amalia yang punya kekuatan sihir dari Pero berbeda denganku, tubuhnya yang sekarang sudah sepenuhnya dalam pengaruh sihir. Satu serangan tidak membuatnya pegal, dua serangan tidak membuatnya lelah. Dengan kecepatan dan kekuatan, serangan yang dia berikan tidak merusak lengan gadis yang sebenarnya lebih kecil dariku.
Aku mundur beberapa meter, berusaha beristirahat dan mengambil ketenangan akibat luka yang kuterima. Lagi pula, Amalia di sana sepertinya tidak kesulitan untuk membuat Geza sibuk sementara.
"Hah ... hh ... hah ...."
Apa kamu tidak apa-apa? Barusan kamu cukup percaya diri, Kaivan. Apa kamu punya rencana untuk menghadapinya? Padahal kondisimu sudah cukup parah, aku bisa melihat pergelangan kakimu rusak sekarang.
Pero sebelumnya terbang kabur dari pundak ketika aku menangkis serangan. Lalu, dia yang bertanya pun kembali bertengger di pundakku.
"Hah ... hh ... gluk ...," hela napasku yang terengah-engah. "Aku gak punya rencana. Rencanaku cuman mengakhiri dengan damai. Lagian, bukannya rencana tempur itu kamu yang urus, Pero?" tanyaku.
Hah? Aku? Aku tidak membuat rencana apapun. Aku tidak tahu apa-apa tentang musuh, dan aku pikir kamu akan merencanakan seluruhnya dengan matang.
"..."
Aku diam setelah mendengar kata-kata tersebut bergema di dalam kepalaku. Rasa tenangku dengan kedatangan Amalia dan Pero seakan musnah dengan kenyataan kalau mereka tidak datang dengan persiapan.
Yang benar saja ...?
__ADS_1