Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 8 - Bug Deteksi Emosi


__ADS_3

Beberapa detik berlalu ketika aku mengudara dengan cara terkait oleh burung hantu raksasa. Walaupun perasaan ngeri masih bersisa, tapi setidaknya aku bisa menjaga kesadaranku sekarang.


Perasaan kaki tidak menapak pada apa pun itu benar-benar tidak nyaman. Baik itu naik sepeda motor, naik alat atraksi di taman hiburan, atau sesuatu yang lebih tradisional seperti berkuda, semua kegiatan tersebut akan sangat mengganggu jika kakiku tidak mendapat tumpuan yang benar. Lalu, kondisi ini ditambah buruk, kaki melayang tanpa pijakan di ketinggian puluhan meter seakan membuat bagian tubuh tersebut menghilang. Sensasi ketika pembuluh darah tidak bekerja membuat kesemutan luar biasa hingga kakiku setengah lumpuh.


Tekanan udara di sini begitu kuat, angin yang keras terus bergerak di telinga bergetar hingga pendengaranku juga tidak berfungsi baik. Beberapa kali aku memanggil kuat Hanz untuk diajak bicara. Tapi, dia tidak menjawab sama sekali. Berbeda dengan Pero yang selalu menjawabku di wujud burung gagaknya, ada kemungkinan Hanz yang sekarang tidak bisa mendengar, atau tidak bisa bicara, atau mungkin keduanya..


Aku pun menyerah untuk berkomunikasi dan mulai mengganti fokus ke arah bawah. Ketinggianku mungkin cukup untuk membuat getaran hebat di telinga, tapi itu tidak cukup untuk memudarkan penglihatanku.


Dari sana, aku masih melihat sepeda motor yang dinaiki kak Dina. Dengan kecepatan serupa Hanz mengikuti mereka, garis lajurnya yang sederhana di udara membuat Hanz tidak perlu terbang terlalu cepat. Ketika sepeda motor itu mengalami kepadatan lalu lintas dan mengalami rute berbelok, Hanz dengan sederhana terbang lurus memotong semua hambatan tersebut.


Universitas tempat kak Dina kuliah terletak cukup jauh jika dibandingkan dengan sekolahku. Rasa kesemutan yang aku derita di kaki menggantung ini juga ikut berlangsung lama. Dalam perjalanan tersebut, ada pikiran aku untuk protes meminta Hanz menurunkanku sementara. Tapi, hal tersebut kuurungkan demi tidak kehilangan jejak mereka yang terus melaju dengan sepeda motornya.


Setelah menahan perasaan ngilu dan ngeri di kaki menggantung, akhirnya aku bisa mendarat dengan bebas di tempat parkir yang sama dengan kak Dina dan lelaki itu. Aku cukup terkejut, pasalnya pendaratanku cukup hebat ketika Hanz mengepakkan sayapnya dan membuat angin besar yang meniup pohon-pohon di sekitar.


Dengan seluruh kegaduhan tersebut, tidak ada satu orang pun yang merasa bingung, mereka menjalani dan menanggapi semua peristiwa tersebut adalah wajar seperti fenomena cuaca biasa.


Sekarang aku mengerti dari apa yang disebut dengan kekuatan Hanz. Berbeda dengan milik Amalia, kekuatan yang dia miliki lebih absolut hingga membuat kami benar-benar tersembunyi dan menghilang dari keberadaan.


Setelah kakiku benar-benar mendarat, perasaan lega sangat hebat muncul. Ini seperti kaki yang mati rasa berdiri lama berjam-jam upacara diajak menjadi duduk. Rasa lega tersebut tidak murni, mereka bercampur dengan ngilu dan sakit secara bersamaan. Aku berusaha mengabaikannya, tapi terkadang berdiriku jadi tidak kokoh ketika tidak fokus.


Beralih ke arah Hanz yang di atas telah mendaratkanku. Cakarnya yang semula dipakai mengait baju dan tasku pun dia lepaskan dengan rapi, tanpa kerusakan atau pun renggangan kasar yang merusak.


*Land


Ada jeda sepersekian detik ketika dia melepaskan cakarnya tersebut. Tapi, dengan cepat dia melakukan transformasi sampai akhirnya kembali kami melakukan sentuhan di bahu agar bisa mengaktifkan sihir menghilang lagi.


Jujur, dia sangat hebat dalam hal ini. Aku belum melihat sedikit pun kekacauan dia buat. Cara mendarat, cara terbang, cara membawaku, dan timing untuk tetap bersembunyi di bawah sihirnya, semua itu sempurna.


“Bagaimana perasaan kau sekarang, Kaivan? Apa ini pertama kali kau terbang sebelumnya?” tanya Hanz yang sudah berwujud manusia memegang pundakku di samping.


“Huft ... hah ... kamu ingin jawaban jujurku?”


“Memangnya ada alasan aku ingin menerima jawaban bohong?”


“Mungkin saja ada. karena jawaban dari pertanyaan itu adalah pernyataan negatif. Huft ... hah ... terbang kayak gitu rasanya ngeri.”


“Ah ... maaf kalau begitu. Aku hanya berpikir kalau karena ada olahraga terbang layang, maka hal seperti itu lumrah untuk semua orang.”


“Terbang layang?” ucapku mengulang kata dengan nada tanya.


“Kau tidak tahu? Itu olahraga di mana kau terbang menggunakan layang-layang raksasa.”


Ah ... jadi itu maksudnya.


Aku memang tidak tahu namanya, tapi aku tahu kalau olahraga dan alat itu ada keberadaannya. Beberapa kali aku melihatnya di dalam game dan berita acara rekreasi. Selain terjun bebas menggunakan parasut, ada satu bidang yang mirip di mana orang menggunakan layang-layang untuk terbang dan merasakan terbang di udara.


“Sayangnya, atas dasar pengalaman ini aku jadi tidak memandang kegiatan tersebut menarik lagi. Iya, mungkin karena aku masih belum bisa menjamin keamanannya.”


“Hmn ... apa itu artinya aku perlu membuat sadel dudukan di punggungku? Itu mungkin membuat kau bisa mengalami perasaan naik tunggangan fiksi seperti pegasus atau naga terbang.”

__ADS_1


Woah, aku sesaat berpikir itu menjadi hal yang menarik. Mungkin memang dengan terbang menggunakan dudukan layaknya kuda dan pegangan yang kuat akan memberikan efek dan sensasi yang berbeda. Kengerian dan rasa waspada bisa dikurangi, aku lebih bisa menikmati.


“Heh, itu kayaknya bakal bagus,” ucapku merespons positif ide tersebut. “Tapi, bahasan ini kita lanjut nanti, kak Dina di sana sudah mulai jalan.”


Sebenarnya tidak cepat dia meninggalkan tempat parkir. Tempatku dan Hanz mendarat juga tidak terlampau jauh dari mereka, jadi dengan berjalan normal saja aku bisa menyusul mereka. Tapi, aku ingin menaruh prioritas sedikit lebih tinggi dengan tujuanku sekarang. Mungkin lebih dekat sedikit agar aku bisa merasakan gelombang emosinya.


“Silakan ... Kaivan. Aku di belakang dan kau yang memimpin.”


“...”


Mendengar hal itu aku pun mengikuti kak Dina dan menjaga jarak lebih dekat untuk merasakan gelombang emosinya. Memantau tanpa komunikasi seperti ini memang lebih cocok dengan menggunakan kekuatanku secara bersamaan.


Selama perjalanan menjauhi tempat parkir yang cukup jauh, aku disuguhi oleh pemandangan yang tidak enak. Kak Dina memang berpacaran dengan lelaki itu, dan beberapa kali si laki-laki tersebut melakukan kontak fisik dan berbagai godaan lain.


Rasanya cukup menjijikkan dan membuatku kesal, rasanya aku ingin menjauh dan pura-pura tidak tahu mengabaikan perlakuan mereka.


Entahlah, mungkin karena waktu bersama kami yang lama sebagai kakak adik membuat hal ini terasa canggung. Ini seperti aku tidak ingin melihat orang yang kukenal bermesraan di depanku. Lalu, perasaan tersebut ditambah kuat ketika ada Hanz sebagai orang asing ikut melihat apa yang kulihat.


Ah ... memalukan ... dan sesak.


Aku tidak tahu kalau terlihatnya privasi dari orang lain bisa semenyiksa ini. Sekarang aku mengerti perasaan orang ketika ingin berpura-pura tidak kenal dengan temannya yang sedang membuat onar. Walaupun bukan diriku, tapi aku merasakan rasa malu yang lebih mewakili mereka yang sedang bermesraan.


Kata panggilan sayang, saling tatap dalam, jahil-jahil sentuh, semua itu mereka lakukan terlalu banyak hingga membuatku muak. Terutama ketika si laki-laki terlihat terlalu haus dan nafsu sehingga memaksakan atmosfernya.


“Hanz, aku mungkin telat bilang ini. Tapi, tolong jangan komentar apa pun tentang kakakku sekarang.”


“Hmn ... awalnya aku tidak peduli sama sekali, tapi melihat kau bereaksi demikian membuatku penasaran.”


“Baiklah kalau begitu. Mungkin aku akan tanya saja tentang kau kalau begitu.”


“Hn?”


Aku tidak memandang hal yang menarik dalam diriku sekarang. Jadi, untuk sementara respons dan bayanganku kosong ketiak dia mengucapkan hal tersebut.


“Bagaimana keadaan kau sekarang? Bukankah kau bisa menggunakan kekuatan? Apa yang kekuatan itu beri tahu pada kau?”


“...”


Aku awalnya tidak punya bayangan tentang percakapan yang bisa diperbuat ketika kami sendiri sedang membuntuti seseorang tepat di belakangnya dengan jarak di mana pembicaraan mereka bisa kami dengar. Namun, dengan adanya pertanyaan Hanz sekarang, itu membuatku sadar bersedia lebih fokus lagi.


“Cukup aneh kalau harus kubilang, gelombang emosi kakakku tidak terlalu jelas. Dia seperti terganggu dengan sikap lelaki itu, tapi tidak marah secara penuh. Sensasi yang kurasakan masih bias di lidah, campuran antara pedas, pahit, dan manis yang ketiganya gak bisa disimpulin dominan salah satu.”


“Hoo ... begitu, iya. Aku rasa gadis di sana itu memang mengalami masa tidak stabil,” ucap Hanz sedikit mengangguk. “Lalu, bagaimana dengan si laki-laki di sana?”


Laki-laki ... laki-laki, iya.


Jujur aku tidak terlalu memperhatikan gelombang emosinya. Ketika aku melihatnya melakukan tindakan pelecehan dan godaan sepanjang jalan, di saat itulah aku memutuskan mengabaikannya. Jadi, ketika Hanz bertanya, aku di sana baru memulai fokusku kembali.


“Hmn ... anehnya aku gak merasa kalau laki-laki itu punya gelombang emosi rasa cinta yang kuat. Memang ada rasa manis, tapi semua itu lebih ke seperti rasa suka ketika dia melakukan tindakan jahil. Mau kak Dina atau pacarnya, mereka berdua gak punya gelombang emosi dominan yang kuat.”

__ADS_1


Aku tidak mengerti secara penuh, entah kekuatanku yang melemah atau memang kedua orang tersebut punya gelombang emosi yang bias. Sejak pertempuran melawan Geza, aku jadi semakin tidak bisa memutuskan kuat tentang gelombang emosi orang lain.


Walaupun berita baiknya aku jadi mengalami hidup yang tenang tanpa lonjakan emosi, tapi hal tersebut ternyata malah menimbulkan masalah ketika aku memang ingin menggunakannya.


“Rasa cinta? Hmn ... jadi kamu pikir kalau rasa cinta bisa dideteksi oleh kekuatanmu secara terpisah?” tanya Hanz dengan nada menduga-duga.


“Huh? Apa maksudnya? Apa ada alasan aku gak bisa deteksi rasa cinta?”


“Aku ingin bilang ‘ada’ untuk pertanyaan itu, tapi sepertinya akan lebih efektif untuk bertanya hal lain pada kau sekarang.”


“...”


Entah kenapa atmosfer di sana terbentuk sedikit misterius. Aku selayaknya orang yang dicurigai melakukan kesalahan. Perasaan tersebut cukup kuat sampai mengalahkan rasa maluku ketika melihat kak Dina sekarang.


Sesaat aku berbalik ke samping melihat Hanz yang terpisah sekitar setengah meter memegang pundakku. Dari sana aku kembali tidak bisa memutuskan, pandangannya yang kosong bagai orang buta itu malah membuatku semakin bertanya-tanya. Kesan misteriusnya semakin kuat karena dia tidak memiliki gelombang emosi yang bisa kurasakan.


“Kaivan, kapan dan kenapa kau bisa membuat kesimpulan kalau gelombang emosi yang kau rasakan itu adalah rasa cinta?” tanyanya yang terus memandang kosong tidak mempertemukan matanya denganku.


“Hmn ... aku tidak ingat kapan, tapi aku yakin itu saat aku kecil. Terkadang rasa manis muncul ketika orang tua di rumahku datang berkumpul. Atau ... terkadang sensasi itu muncul ketika ada orang yang berpacaran sedang berduaan.”


“Ah ... begitu, iya.”


Hanz kala itu merespons dengan nada tenang yang membuat gambaran seakan dia mengerti. Itu membuatku bertanya lagi dalam hati, dan entah kenapa aku merasa terculuni ketika ada orang lain melangkah lebih maju dariku.


“Jadi, apa artinya, Hanz?”


“Aku benci mengatakannya ketika kau sudah lama menggunakan kekuatan itu. Tapi, rasa manis yang kau rasakan itu bukan dari rasa cinta.”


“He?” refleksku membuat reaksi bingung.


“Dengar, iya. Aku tidak tahu soal kekuatanmu, tapi aku mengerti soal sihir. Rasa cinta adalah perasaan anomali di mana dia sangat sulit dideteksi. Kau punya botol sihir, bukan? Dan rasa cinta itu adalah perasaan yang tidak bisa diketahui lewat botol sihir.”


“Eh?” kembali reaksiku bingung. “Kalau gitu rasa manis yang selama ini apa artinya?”


“Entahlah, aku tidak mengerti tentang kekuatanmu. Bisa jadi itu hanya emosi lain yang kau secara sepihak namakan rasa cinta. Tapi, aku yakin itu bukan cinta, karena cinta tidak memiliki warna tegas. Dia bisa berbentuk benci dan suka dalam waktu yang sama, dia juga tidak memiliki bentuk utuh dan hanya sebagai katalis atau promotor untuk emosi lain mengembang.”


“...”


Bersama kalimat itu, tidak aku sadar kalau langkahku telah berhenti. Fokusku untuk menggunakan kepala berpikir menjadi alasan hingga lupa dengan kakakku sekarang.


Tapi, bukan berarti aku benar-benar tidak sadar. Sesaat pikiranku juga mengizinkan untuk aku berhenti dan berpikir. Kak Dina dan laki-laki itu ada di jangkauan aman untuk dikejar.


“...”


Jika aku sedikit berpikir, sebenarnya itu sangat masuk akal. Dalam hidupku, tidak ada guru yang mengajarkan tentang cara menggunakan kekuatan ini secara detail. Jadi, sesuatu yang kulalui hanyalah autodidak mempelajari sendiri dan mengira-ngira. Tentang benar atau salahnya, aku melakukan sedikit riset dengan cara substitusi dan eliminasi, mengumpulkan banyak kasus dan menyamakannya agar bisa diartikan.


Namun, tidak ada yang bilang kalau jawabanku benar, tidak ada yang bisa memberi tahu dan mengajariku secara langsung.


Kalau benar apa yang dikatakan Hanz, lalu apa arti emosi yang sebenarnya?

__ADS_1


 


 


__ADS_2