Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 30 - Aturan Dan Aksi


__ADS_3

*Flash


Jepretan cahaya muncul di sana, menyilaukan layaknya efek dari studio foto.


Itu mungkin tidak berefek apa pun pada tubuhku, hanya sedikit perih sambil menggosokkan mata karena pusing. Tapi, hal utamanya bukan di sana.


*Whoush, whoush ....


Ini adalah sihir. Sihir yang mengalir tepat ke tubuh melalui mulut dan kepalaku. Bukan sebuah serangan, bukan gelombang emosi, lebih seperti ... ilmu pengetahuan yang diberikan lewat ingatan.


Tentu ada alasan seseorang melakukan hal ini. Orang yang membuat dunia yaitu Octa sudah menyiapkan hal ini dengan matang. Ingatan yang mengalir padaku adalah semua tentang dunia buatannya. Mulai dari tujuan utama, aturan main, hal yang dilarang, hadiah kemenangan, hukuman, latar tempat, batas waktu, hingga trik yang disarankan.


“GKh ....”


Aku sedikit bersandar ke samping, sedikit lemas karena efek pusing timpa seluruh ingatan barusan, memegang kepala sambil memutar balik kilas ingatan yang Octa alirkan padaku.


Ingatan pertama.


Dunia yang aku tempati adalah papan permainan. Sesuai dengan ucapan Octa terdahulu dan dengan dugaan dari beberapa orang termasuk diriku. Siluman besar itu memasukkanku ke dalam dunia ciptaannya sendiri agar bebas menggunakan hukum dunianya sendiri dan membuatnya sebagai permainan.


Ingatan kedua.


Tujuan dari game ini adalah game berbasis survival, atau lebih tepatnya siapa yang bertahan di akhir dialah yang menang. Para pemain bisa gugur di perjalanan, mereka yang kalah tidak akan mengikuti game sampai akhir. Barang siapa yang bisa mempertahankan keberadaan dirinya lebih dari siapa pun, dia adalah pemenangnya dan akan bisa dibebaskan dari dunia ini.


Ingatan ketiga.


Aku dijejali tentang seluruh aturan main di game ini. Hal yang paling utama dalam aturan ini adalah, tidak semua pemain merupakan manusia. Sesuai dengan pengertian langsung, ada beberapa pemain di sini yang secara tidak langsung membaur. Mereka adalah pion khusus yang digunakan Octa sebagai pencipta game untuk membuat plot permainan.


Intinya, beberapa pemain di sini akan berperan sebagai pengganggu, pembentuk sabotase, penyebar fitnah, bahkan pembunuh. Pemain tersebut mengambil bentuk dari manusia yang pemain lain kenal sebagai pengecoh. Ketika pemain asli tertipu oleh pion buatan milik Octa, maka dia akan jatuh dalam kegagalan di mana si pion akan membunuh pemain.


Tiga belas orang ada di tempat ini, dan tidak ada yang tahu siapa pion pengkhianat yang punya tugas membunuh dan siapa pemain asli yang punya tujuan untuk sampai di garis finis. Gamenya dimulai di sana, menebak siapa yang asli dan siapa yang palsu.


Lalu, masalahnya adalah di sini.


Ingatan keempat.


Hukuman dari game ini. Ketika pemain mati, maka dia juga akan ikut mati di dunia nyata.


Ini menjadi sangat sulit karena pemain harus memutuskan siapa yang merupakan manusia asli dan pion palsu secara bersamaan. Ketika pion palsu ditemukan, para pemain disarankan untuk membunuhnya. Pion yang dibunuh tidak terikat dengan model manusia yang ada di dunia nyata, artinya dia tidak akan ikut terbunuh.


Ingatan kelima.


Hadiah yang didapatkan ketika menyelesaikan game bukan hanya kembali ke dunia nyata. Tapi, Octa di sini memberikan sebuah ingatan di mana dia juga menjanjikan satu permintaan apa pun untuk dikabulkan.


Menggunakan kemampuan sihirnya, dia mengaku dapat mengabulkan hal yang disebut orang lain sebagai mustahil. Kekayaan instan, kemampuan luar biasa, ilmu pengetahuan yang luas, atau sesuatu yang tidak mungkin dikabulkan lainnya seperti mengubah sejarah. Semua bisa terwujud, apa pun itu selain hasil dari game itu sendiri. Karena, kematian dari orang yang ditentukan tidak akan diubah oleh Octa.


Ingatan keenam.

__ADS_1


Latar tempat ini disiapkan di sebuah gedung yang besar layaknya mall. Setelah semua pemain masuk ke bilik dan mendapatkan ingatan, mereka akan mendapat enam kamar khusus di mana mereka bisa berlindung. Setiap kamar yang diisi oleh dua orang, dan dapat membuat aturan agar tidak bisa membuat siapa pun masuk ke dalam ruang privasinya tersebut, berlindung dari pemain lain yang bisa saja dia adalah pion palsu yang berniat buruk.


Semua kebutuhan dari mulai makanan, pakaian, teknologi, dan bahkan senjata telah disiapkan. Pemain hanya perlu mencari di setiap sudut gedung untuk mengumpulkan dan meningkatkan kemampuan pribadi agar bisa selamat sampai akhir.


Ingatan ketujuh.


Permainan berlangsung selama satu minggu. Selama hari tersebut, pemain akan diperintahkan untuk mencari barang dan memutuskan siapa saja yang termasuk pemain asli.


Dalam akhir permainan, para pemain bisa memutuskan untuk meninggalkan salah satu atau lebih pemain untuk tetap di dunia ini. Tentu para pemain akan memilih orang yang diduga pion, mereka semua adalah makhluk buatan yang memang sebenarnya tidak diperuntukkan untuk keluar dari dunia tersebut.


Ingatan kedelapan.


Pemain disarankan memilih satu partner di antara mereka yang paling dipercayai sampai akhir. Memilih partner sama juga dengan menentukan kemenangan. Jika salah memilih pemain, maka akan berakibat fatal karena pion bisa membunuh pemain kapan saja.


Di dalam dunia ini, akan banyak fasilitas yang hanya bisa digunakan oleh dua orang secara bersamaan. Maka, ketika bertindak sendiri untuk mengumpulkan bahan akan sangat merugikan.


Satu kondisi, bisa saja pemain membunuh semua orang selain dirinya di akhir game. Ketika seluruh permainan membuat kondisi di mana tidak ada orang lagi yang bisa dipercaya, maka tindakan yang dilakukan adalah dengan membunuh semuanya. Pada akhirnya, ini adalah survival game, yang bertahan di akhir adalah pemenang.


Lalu, di satu keistimewaan, disebutkan oleh Octa melalui ingatan. Barang siapa yang melakukan cara ini, maka dia akan diberi tahu siapa saja yang merupakan pion dan yang merupakan manusia asli. Lalu, Octa akan menawarkan untuk menyelamatkan satu di antara manusia asli yang sudah terbunuh di dalam game.


Mendengar ini, kira-kira keputusan apa yang akan kamu buat, Kaivan. OOooohhooho ... ahahaha ....


Di akhir, aku mendengar sebuah pertanyaan dari Octa langsung. Di mana dia layaknya menawar dan mengancam secara bersamaan. Memberiku rasa jepit di keadaan yang sempit. Memberikanku harapan dengan membuang seluruh kesempatan.


*****


*Whoush ....


Kesadaranku mulai kembali, kilas balik dari aliran ingatan mulai menghilang, deras dari jejal sihir yang kuterima sudah mereda. Untuk beberapa alasan aku di sini mencoba menenangkan diri masih memegang kepalaku.


Namun, aku mulai menyadari satu hal setelah kesadaran saat itu menguat.


Eh? Kapak?


Senjata berat berujung tajam itu menggantung di salah satu dinding bilik. Selayaknya minta untuk diambil, dia ditaruh di tengah agar mudah terlihat. Namun, kenyataan kalau aku baru menemukannya adalah bukti kalau benda tersebut muncul saat aku menekan tombol barusan.


Ukurannya tidak terlalu besar, persis sepanjang setengah tanganku, atau sekiranya tiga puluh senti dari gagang sampai mata kapaknya. Desainnya begitu rapi dan diasah sangat cantik. Dibandingkan alat pengumpul kayu bakar, benda tersebut lebih mirip senjata antik yang bisa dijadikan koleksi dan pajangan dinding.


Aku mencoba mengambilnya, dia tergantung bersama dengan sarung kapak yang ternyata juga didesain agar dapat digantung menjadi sabuk. Setelah diambil, aku dengan segera mencoba dan memasangkannya di pinggang layaknya fungsi utama ditaruh sebagai alat cepat siaga.


Hmn ... lumayan juga.


Bobot dari kapak tersebut tidak terlalu berat. Sesuai dengan panjang gagangnya yang sekitar tiga puluh senti, aku yang punya kemampuan otot rata-rata dapat memegang dan bahkan mengayunkannya menggunakan satu tangan.


Kapak dengan berbagai kelebihan tersebut memang bukan sekadar alat saja. Tapi, dia punya fungsi lain, yaitu sebagai senjata.


Itu yang aku pikirkan, dan bahkan tidak ada dugaan lain ketika sebuah kapak muncul di depanku setelah diberi tahu tentang aturan game di dunia ini. Sebagai alat pelindung diri, Octa sepertinya ingin memberikan semua awal yang adil.

__ADS_1


Aku mulai berjalan ke luar, selesai dengan urusan dengan di dalam bilik dan mencoba untuk bertemu orang di luar. Akan tetapi ....


“AAAAaAAaaAAaaaaaAAaHHHHhh ...!!”


*Whoush ...!


“Ghgk!?”


Gelombang emosi ...?


Akthgh!? Apa ini? Rasa sakit?


Bukan teriakan keras memekikkan telinga yang membuatku menderita. Alasan aku kembali merasakan siksaan batin adalah gelombang emosi kuat misterius yang keluar bersama dengan teriakan tersebut.


Dari suaranya, itu adalah perempuan. Tapi, menurut ingatan dan intuisiku, jenis suara tersebut bukan berasal dari perempuan yang aku kenal.


Aku segera membanting pintu berusaha keluar, memegang kepala menahan rasa sakit dari gelombang emosi dan mencari sumbernya di sana. Lalu, begitu terkejut kalau aku menemukan hal yang luar biasa jauh lebih cepat.


Aku ada di bilik tengah, posisi tersebut sangat strategis untuk mengetahui kondisi lingkungan karena segera bersentuhan dengan seluruh sisi. Lalu, di sana aku melihat banyak orang keluar bilik mereka, melihat ke arah yang sama dengan suasana tegang penuh dengan emosi negatif.


Aku tentu terpancing oleh kondisi tersebut, dengan segera pandanganku juga bergeser ke sisi kanan di mana mereka mengarahkan pandangannya. Dari Amalia, Pero, Farrel, Imarine, Azarin, dan bahkan kak Dina, mereka semua persis sama melirikkan ke arah sana, arah kananku.


Ha-Hanz ...?


Orang tersebut ternyata adalah Hanz. Dia sedang memegang kapaknya dengan posisi siaga siap, mengacungkan sejajar dada agar bisa melakukan serang ayunan kapan saja. Aku tidak tahu apa yang terjadi, situasi sudah terlanjur tegang sebelum aku dapat memahami latar belakangnya.


Hh!?


Namun, aku langsung sadar ketika melihatnya lebih teliti.


Dari awal, tangan Hanz kala itu penuh dengan darah. Dia sendiri tidak terlihat sedang terluka, darah yang berceceran di pakaiannya juga terlihat jelas hasil semprot dari sumber lain. Lalu, tepat ketika menggeser pandanganku dari pria tersebut, aku melihat hal yang luar biasa.


Percikan darah di pakaian, ceceran kental kemerahan di lantai, suara shock teriakan wanita, dan bahkan aku bisa melihatnya sendiri.


Mayat.


Seorang perempuan, dia adalah salah satu yang bersama dengan Hanz sebelumnya. Dia wanita yang memakai pakaian lusuh sederhana seperti orang miskin pada umumnya. Lalu, sekarang dia sedang terkapar tidak bernyawa dengan bekas luka di lehernya.


Wanita itu dibunuh dengan menyisakan luka tragis. Tangan kanannya terpotong, mungkin dia sedang berusaha melindungi diri, luka bacok di kaki terlihat parah agar tidak bisa lari, dan terakhir ... wanita tersebut punya luka bacok di lehernya hingga sebagian besar putus disayat.


Lehernya rusak, jika tubuhnya diangkat, lehernya akan menggantung dan tidak mengejutkan kalau sampai terputus hingga tengkorak kepalanya terpisah. Sangat mengerikan, melihatnya di dunianya membuatku merinding lebih hebat.


Tapi ....


“Hanz! Tunggu!!” teriakku dari kejauhan mencegah lelaki tersebut bertindak lebih jauh.


Sebenarnya apa yang kamu lakukan?

__ADS_1


 


 


__ADS_2