
Gadis yang dipanggil Ann pun masuk ke dalam dapur. Sesuai dengan perintah, dia menunggu sampai selesai pekerjaan Hanz di luar sana. Aku yang sempat terpisah dari percakapan sedikit mengalami rasa canggung. Di titik tersebut, aku lebih memilih ikut masuk ke dapur mengekor Ann daripada diam menunggu Hanz selesai di luar.
Hanz kala itu tidak menghentikanku atau bahkan sekadar bertanya basa-basi. Walaupun cuman akting, entah kenapa dia mendalami kegiatan menyiram tanaman di kebun kecil ini.
Aku pun masuk ke dapur, kembali menemui ruang lembab dengan aksesoris alat masak di mana-mana. Namun, kali ini aku tidak sendiri, seorang anak kecil sedang duduk di kursi melihat kedatanganku dari jauh.
Bukan seperti film horor, penampilannya menurutku cukup imut karena dia duduk di kursi yang bahkan kakinya saja tidak menapak ke lantai. Kakinya digoyang-goyang, dengan wajah datar tidak berekspresi, tingkah lucu itu menimbulkan gap tersendiri.
"Kamu tidak mengawasi Hanz lagi ... hmn ... siapa namamu sebelumnya?"
"Kaivan."
"Iya, Kaivan," jawabnya merasa tercerahkan dengan wajah mungil khas anak kecil. "Kamu tidak menjaga Hanz lagi?"
"Hoo ... dari cara ngomongmu, apa kamu tahu rencana Hanz ke depannya?"
Aku bertanya membalikkan keadaan, dari sini juga mungkin aku bisa menggali informasi tentang Hanz.
"Aku? Tidak, aku sama sekali tidak tahu apa yang Hanz rencanakan sekarang atau pun di waktu ke depan."
"..."
Akan tetapi, dia memberi pesan negatif dan menunjukkan identitas dirinya yang tidak berguna. Tidak seperti Hanz, aku bisa merasakan gelombang emosi anak ini walaupun sedikit bias. Emosinya mungkin stabil, tidak menimbulkan gelombang dan rasa nyeri. Tapi, aku bisa tahu kalau hatinya kala ini sedang diselimuti dilema dan kekhawatiran.
Aku tidak bertanya apa yang sedang menghantuinya, berdiri bersebelahan dengan Hanz dengan status dia akan dibunuh tentu menimbulkan tekanan tersendiri. Sama seperti Azarin, dia juga sudah dikategorikan sebagai orang palsu buatan.
Namun, dengan semua hal tersebut, aku tetap tidak merasakan kebohongan di kalimatnya.
"Bukankah kalian tidak mempercayai, Hanz. Menurut kalian, atau mungkin kau, Kaivan. Kemungkinan apa yang akan dilakukan Hanz saat kalian mulai mencurigainya?" tanya Ann si anak kecil itu. Dia menatapku dengan pandangan ke atas dengan senyum yang menurutku tidak ada lucu-lucunya, seperti dia sedang mengancam dan menginterogasi dengan gayanya yang mirip dengan Hanz.
"..."
Tapi, dia tetap imut dengan tubuh mungilnya tersebut. Mungkin karena penampilannya yang masih kecil, aku jadi buta dengan sikapnya tersebut.
"Secara gak langsung, Hanz orang yang paling aktif sekarang. Masalahnya, game ini game taruhan nyawa. Orang aktif malah bisa jadi ancaman serius," kataku menjelaskan yang semula sempat terbang konsentrasi karena memperhatikan gadis kecil di hadapanku.
"Kalau dilihat dari arah terbalik, di mata Hanz, kalianlah yang terlalu berleha-leha. Atas dasar apa kalian menentukan kalau Hanz itu aktif sekarang? Menurutku dia masih menghargai keputusanmu mengulur waktu sampai detik ini," jawab Ann yang kembali tersenyum sedikit jahil.
"Dasarku? Entahlah, mungkin karena gak ada orang lain yang aktif bikin dia jadi aktif."
"Tepat sekali, kalian menganggap Hanz orang yang agresif karena kalian yang terlalu pasif. Tapi, menurutku itu bukan hal yang negatif. Di mataku, mantan orang mati dan sudah menjabat kembali menjadi calon, tindakannya tidaklah salah."
"..."
Lagi-lagi topik tentang kematian.
__ADS_1
Jujur, sebenarnya aku sendiri kurang suka dengan tema hilangnya nyawa seseorang. Ini membuat gelombang emosi orang-orang di sekitar menjadi pekat, menaikkan sisi negatifnya. Rasa pahit, asam, dan tusuk-tusuk di kulit cukup untuk menggidikkan alisku karena terganggu.
"Ann, boleh aku panggil seperti itu?" tanyaku membuka kembali ikatan antar pelaku percakapan.
"Silakan, panggil aku sesukamu," jawab anak tersebut dengan ramah.
"Gimana perasaanmu sekarang? Dipanggil ke dunia ini cuman buat mati dua kali? Maksudku, kamu punya ingatan di dunia sebelumnya, 'kan?"
Biarpun begitu, aku tetap melanjutkan topik pembicaraan tersebut. Walaupun sensasi menjijikkan dan rasa perih akan menbudak memenuhi isi dapur, tapi aku tetap memutuskan bertanya penasaran demi informasi.
"..."
"..."
*Whoush ....
Dingin, gelombang emosinya lebih ke arah dingin.
Dibandingkan rasa amarah, kesal, atau sesuatu seperti kebencian. Anak kecil ini lebih mengeluarkan rasa dingin yang melambang kesedihan. Setiap detiknya terus menguat, dapur yang awalnya ada di posisi normal pagi hari, kini kurasakan menjadi selayaknya ruang ber-AC, lalu terus turun suhunya menjadi ke arah kulkas.
Rambut-rambut halus di tubuhku mulai berdiri, merinding dan menimbulkan sedikit ketegangan di permukaannya. Warna kulit mulai memucat, bayang kemerahan di kuku juga menjadi putih, akibat kedinginan, setiap sendi di ruas tubuh mulai bergetar mencari kehangatan.
"Sebenarnya aku—"
*Ceklek
"Hh!?"
Semua perasaan dan gelombang emosi tersebut hilang seketika. Rasa kaget yang seharusnya didasari oleh suara pintu terbuka menjadi diabaikan. Kala itu, perubahan suasana yang tiba-tiba membuat tubuhku bergidik merasakan sengat. Di saat yang tepat, pintu belakang terbuka dan memotong kalimat si anak kecil tersebut.
"Ann," kata orang di balik pintu terbuka. "Mulai detik ini kau tidak diizinkan memberi informasi bentuk apa pun pada orang lain."
"Eh?" respons anak tersebut sedikit kebingungan. "... Un, aku mengerti."
Tapi, hal tersebut hanya berlangsung sesaat. Dia dengan cepat mengangguk dan menuruti perintah sekaligus peringatan dari Hanz.
"..."
Aku di sana melirik ke arah lelaki tersebut dengan sinis. Apa yang kulihat barusan seperti adegan orang tua tiri di film yang membungkam anak bonekanya.
"Ada apa dengan pandangan itu, Kaivan?" tanya Hanz yang menyadari kejanggalan dari responsku barusan.
"Apa yang salah dari pertanyaan barusan, Hanz? Apa dia salah kalau misal ceritain masa lalunya? Apa ada hal yang gak mau aku tahu tentang anak ini?"
"Dia bukan anak, dia hanya makhluk yang kebetulan punya fisik sama seperti anak. Apa artinya kau menerima informasi dari yang palsu?"
__ADS_1
Hanz kembali mengucap seakan dirinya ada di atas. Bukan padaku, tapi dia lebih seperti merendahkan anak kecil bernama Ann di sana.
"Aku gak suka caramu yang kayak gitu, Hanz."
"Tidak apa, aku juga tidak butuh untuk menjadi favoritmu, Kaivan."
"Heh, kamu bilang kalau dengar cerita Ann itu gak ada gunanya. Tapi, di satu sisi yang sama, ini juga gak ada ruginya."
"Ada, buang-buang waktu."
"Hanz ... apa kamu beneran bilang kayak gitu? Larang dia cuman gara-gara dia ngomong lima menit."
"Hufy ... hah ...."
Hanz bernapas panjang. Jika aku perlu bilang, saat itu adalah pertama kali dia menarik napas keluh.
"Dengar, Kaivan. Kau tidak membutuhkan informasi tentang anak kecil di sana. Jika kau terus menerima semuanya, hatimu akan teracuni oleh emosi tidak penting. Terus berjalan waktu, dan tanpa sadar kau akan jadi budak untuk semua orang. Ingat, emosi tidak penting hanya menghambat pekerjaan."
Aku semakin asing dengan Hanz yang seperti ini. Padahal, masih dalam hitungan hari aku dan dia bekerja sama untuk membuntuti kak Dina. Dari segi apa pun, sesuatu yang kulakukan adalah tindakan konyol yang didasari oleh emosi yang katanya tidak penting barusan. Tapi, sifatnya sekarang bertentangan, dia membantah apa yang dia tolerir sebelumnya.
"Hanz," panggilku pada namanya sambil berbalik menghadap. "Sebelumnya, kamu pernah bilang kalau pribadiku itu merepotkan. Tapi, aku gak lihat kamu anggap itu sebagai beban? Malah, kamu mau bantu aku yang merepotkan gara-gara emosi gak penting. Tapi, ada apa sekarang?"
"Situasinya berbeda, kau dan aku ada di dunia buatan, orang buatan, dan bahkan latar belakang buatan. Kau gak tahu mana asli dan yang bukan, apa yang kau ambil bisa saja sebagian dari kepalsuan yang nanti kau bela," jelas Hanz dengan jeli merurut semua faktor.
"Aku gak ngerti," ucapku mengerutkan alis. Bukan karena tidak memahami, tapi lebih seperti pikiran yang bertentangan. "Informasi apa pun bisa jadi petunjuk besar."
"Tidak ... menanyakan perasaan dan masa lalu seseorang bukan menjadi petunjuk, Kaivan. Percayalah, kau tidak ingin mengetahui jawaban dari pertanyaan kau barusan."
"..."
"..."
Kami terdiam, menatap satu sama lain cukup lama di atmosfer yang aneh. Tapi, arah mata Hanz seperti biasa terlihat seperti orang buta. Pupilnya tidak fokus menatapku, yang mengunci tatapan hanya aku di sini, untuk sementara aku merasa bodoh sedang adu tatap dengan orang yang bahkan pandangannya saja lari ke arah latar di belakangku.
"Huft ... hah ...," hela napas menenangkan diri. "Oke, terserah. Aku sudah gak peduli lagi, mungkin kamu ada benarnya juga kalau pertanyaan itu sebenarnya gak penting."
Aku menyerah, kembali ke alasanku sebelumnya, aku tidak ingin mengambil permusuhan dengan Hanz. Dia orang paling berbahaya bahkan bisa melebihi kekuatan Amalia.
"Ah ... tenang. Kau tidak perlu kecewa seperti itu. Jika kau ingin informasi, aku juga tidak keberatan membaginya denganmu. Tentang dunia ini, dan sesuatu yang memang bisa membuatmu menang di game."
"Hoo ... apa yang bikin kamu berubah pikiran, Hanz?"
Suasana di sana kembali melunak, sepertinya tarikan napasku bisa menghipnotis tema dari percakapan tersebut.
"Tidak, dari awal aku tidak ada niat menyembunyikan informasi yang aku dapat di dunia ini," kata Hanz dengan percaya diri. "Ann, kau bisa mulai laporanmu sekarang," lalu melanjut sambil mengganti fokusnya ke arah anak kecil yang duduk di pojok dapur.
__ADS_1