
Sakit, sakit, benar-benar sakit. Perih gerigi berdenyut-denyut di tangan, perih menusuk-nusuk di perut, dan remuk mati rasa di tangan kanan. Aku dalam keadaan parah, keadaan di mana aku menderita penuh kesakitan.
Benar, ini adalah perasaan yang sama sekali tidak kuharapkan. Semakin aku melihat dan sadar, semakin keras rasa sakit itu. Aku masih ingin berteriak, tapi luka perutku membuat kerongkonganku bocor terisi lendir dan darah. Jadi, yang bisa kulakukan hanya melihat sayu wajah marah Geza sekarang.
"Woi, Kaivan! Apa kamu mati!? Tidak, tidak boleh, kamu masih harus merasakan kesakitan ini. Aku akan hancurkan kesombongan dan sok tahumu tentang rasa sakit!"
Di saat seperti ini, dia bahkan tidak merendahkan suaranya. Aku yang terbaring tak berdaya tidak membuat kata-katanya melembut, dendam telah membuat matanya buta. Bersama rasa sakit di seluruh badan, aku masih bisa mendeteksi gelombang emosi kemarahannya.
"Gukhukht, uhkh," batukku yang sedikit menciprat darah. "Bukan sok tahu ... aku memang tahu. Karena ... kekuatanku yang memberi tahu."
Kalimat yang keluar begitu lirih, getar tenggorokanku mengganggu benar intonasi suara dan gelombang aslinya. Ini membuat apa yang keluar dari mulut lebih terdengar seperti gemuruh, suaraku benar-benar kacau.
"Kekuatanmu ...? Haha, memangnya bisa apa kekuatanmu tentang rasa sakit?" tanyanya Geza dengan sinis.
"Apapun yang kamu rasakan, aku bisa merasakannya. Baik mental ... maupun fisik. Semua ... dari rasa sakit sampai kemarahan ... termasuk kemarahan dan dendammu sekarang."
"..."
Geza diam menatapku tajam. Ekspresi di wajahnya menunjukkan kalau dia menerima secara logika dengan apa yang terucap dari mulutku, tapi ekspresi tersebut tidak menimbulkan sebuah kecerahan sama sekali. Dari gelombang emosinya, dia justru lebih mengarah kesal.
*Stab
"GhuaaAAkggakh ...!!"
Lalu, di tengah kekesalannya itu, dia kembali menusukkan bilah pedangnya di bahu kananku. Tidak terlalu dalam untuk menembus paru-paru, tapi cukup dalam untuk mengoyak daging sekitar tulang selangka.
"Haha, kalau kamu masih menjerit dengan serangan kecil ini, artinya kamu masih belum mengerti. Keputusanmu tidak setuju dengan keputusanku sudah membuktikan kalau kamu tidak mengerti," ucapnya yang sesekali memutar ujung bilah pedang itu untuk mengoyak kulitku.
Mentalnya benar-benar sakit. Dia sendiri bahkan tidak mengerti kenapa dia marah, dia sendiri sudah tidak peduli alasan untuk menyiksaku sekarang, apa yang ada di kepalanya terlalu berkabut untuk bisa melihat.
"A-aku mengerti ... tapi mengerti bukan berarti setuju. Uhuk ... huft ... hah ... yang salah tetap salah, dan yang buruk tetap buruk," ucapku yang hampir tersedak darahku sendiri. "Dendammu ... sa-sangat besar, sangat ... tua, tapi sayangnya ... terlalu acak."
__ADS_1
"Acak ...? Ha!?" sentaknya tersinggung. "Aku lahir dibesarkan pemberontak, hidup dari kecil memegang senjata, dicuci otak untuk membunuh, dan ditanamkan banyak ideologi mimpi."
*Whoush ....
"..."
Ah ... lagi, dendam tersebut terasa lagi olehku.
"Dendam dan kemarahanku sudah jelas pada mereka, mereka yang menaruhku pada kehidupan busuk. Aku bahkan tidak tahu siapa ayahku, tapi jika dia bagian dari mereka, aku harap dia pernah mati di tanganku!"
"Gkh!"
Di teriakan tersebut, sesaat dia mengeraskan kekuatan injak dan tusuk bilah pedangnya di dadaku. Aku menggeram kesakitan, menutup mata, dan menguatkan gigi, menahan rasa sakit dari lampias kekesalan sesaat itu.
"Hah ... hh ... hah ...."
"Kalau begitu, apa kamu puas sekarang? Apa dendammu hilang?" tanyaku ketika kekuatannya mulai mereda.
"Ha?"
*Whoush ....
"Berisik!"
"GKh!?"
Geza mengangkat pedang di tangan kanannya ke atas, ada di sudut empat puluh lima derajat siap mengayun ke arahku. Aku bisa merasakan kekuatannya, kemarahan yang dia keluarkan bersama ancang ayunan tersebut. Genggam pedang di tangannya sangat buruk, sisi-sisi tajam di gagang yang dia pegang malah membuat luka darah semakin meluber di tangannya sendiri. Di saat seperti ini dia tidak peduli, kemarahan telah menelannya hingga luka tersebut tidak dirasa.
"Aku tidak membunuh mereka semua!" kembali teriak sentaknya marah. "Sebelum semua kemarahan ini habis, mereka sudah dibasmi orang lain! Itu mengesalkan, itu menyebalkan! Ketika aku punya kekuatan untuk membabat mereka semua, justru dunia malah menakdirkan mereka mati oleh orang lain! Ini bukan salahku! Ini bukan salahku! INI SEMUA KARENA DUNIA YANG SAKIT—"
*Stab
__ADS_1
"..."
Tiba-tiba saja kalimatnya berhenti, atau lebih tepatnya terhenti. Sesuatu datang mengganggunya, menghalau tindak dan kalimatnya barusan. Oleh karenanya, dia menjadi bengong, diam sesaat untuk mengetahui apa yang terjadi.
Aku terlalu lelah untuk mengalihkan pandangan, mataku terlalu kabur untuk mengamati ruang gelap ini sekarang. Sesuatu yang masih berfungsi sekarang hanyalah pendengaran dan kemampuan deteksi emosiku. Lalu, dari semua itu tentu aku sadar apa yang terjadi.
Heh, akhirnya kamu datang ... Amalia.
Gadis penyihir itu datang dengan cepat lari dari arah belakang Geza dan sesaat langsung menusuk punggungnya. Serangannya begitu cepat, sama cepatnya dengan kedatangannya hingga tidak disadari oleh Geza.
Ujung pisau itu menusuk dalam hingga tembus di daerah dada sekitar jantung. Serangan fatal tersebut membuat gerakan penyihir lobster itu benar-benar terhenti. Aliran darahnya tidak normal, entah itu paru-paru atau jantung, kehancuran salah satu organ itu akan mengganggu siklus tubuh.
Geza awalnya ingin mengabaikan serangan tersebut, gerakan ayunan di tangan kanannya yang ingin memenggal kepalaku dilanjut walau terbata-bata.
*Pull
Tapi, Amalia mengetahui hal itu. Dia dengan cepat menarik pisau dan bergerak cepat berpindah untuk mengempas serangan tersebut.
Geza terpukul mundur, badannya yang kecil akhirnya lepas dari tubuhku. Walaupun tidak merasa lega sama sekali, tapi setidaknya injak kaki di tangan kiri dan tubuhku sudah hilang.
Aku berusaha menjaga kesadaran ingin melihat pertarungan tersebut. Tapi, kondisiku tidak mengizinkan.
Hal terakhir yang kulihat adalah perlawanan Geza terhadap Amalia. Dia yang menganggap gadis itu pengganggu pun mulai menyerang dengan dua pedangnya.
Awalnya aku mengira kalau itu akan jadi pertarungan yang sengit. Tapi, berontak Geza terlihat sangat kacau. Gerakannya patah-patah, kekuatannya begitu lemah, dan sesekali dia runtuh kesakitan memegang dada yang telah ditusuk sebelumnya.
"..."
Tubuhku sudah pada batasnya. Mata semakin berat, napas semakin lemah, tekanan darah menurun, dan seluruh ruas tubuhku terasa membeku tidak bisa digerakkan.
Setengah gelap, kesadaranku masih bersisa. Kelopak mataku benar-benar keras, ini seperti kulit tipis itu sedang dalam pengaruh lem hingga sulit digerakkan. Aku sudah lupa cara bergerak, yang menjadi tanda kalau aku masih sadar adalah suara dentang senjata beradu antara Amalia dan Geza.
__ADS_1
Tertutup penuh, di mana napasku sudah tidak dirasa dan batas di mana akhir untukku terkapar berhenti merespons lagi, tidur di reruntuhan bersama denting-denting senjata sebagai nada nina bobo.
*****