
Aku punya kekuatan deteksi gelombang emosi sejak kecil, bahkan sejauh ingatan terjauhku di masa kecil, aku sudah memilikinya. Jadi, bisa dibilang aku sudah mendapatkan sihir tersebut sejak lahir.
Awalnya aku sendiri tidak menyangka kalau hal tersebut bisa disebut sihir, tentu bagaimana aku memandang juga sedikit berbeda dengan normal orang layaknya kelebihan. Diriku sendiri lebih melihat ini sebagai perbedaan yang aneh, cenayang-cenayang yang biasa disebut indigo juga sepertinya tidak menganggap kekuatannya sebagai hal positif.
Namun, dari sejak lahir sampai sekarang, aku tidak pernah menemui orang yang dapat menemukan kekuatan ini. Tidak sampai aku bertemu Pero wanita siluman gagak dari Amalia, di mana orang tersebut juga punya kaitan kuat dengan sihir. Jadi, kasus ini pun serupa, orang yang kutemui sekarang pun kurang lebih begitu.
“Hmn ... jadi sihirmu itu bisa bikin kamu menghilang ....”
“Iya, kira-kira penjelasan paling mudahnya adalah itu.”
Kami sekarang ada di satu tempat di bawah pohon besar dengan tempat duduk kayu yang cukup untuk dua orang. Walaupun jalur yang kulewati sebelumnya minim lampu, sepi penduduk, dan tidak memiliki latar modern dengan alas tanah tidak diaspal. Tapi, itu semua tidak membantah fakta kalau lingkunganku sekarang adalah daerah perumahan. Sedikit mencari saja sudah cukup untuk menemukan tempat kecil untuk beristirahat.
“Aku ngerti kekuatanmu sekarang, sekali lihat bisa dirasain efeknya. Terus, kenapa kamu datang sekarang? Apa aku punya hutang di sini?” tanyaku untuk mengetahui kondisi kala itu.
“Haha ...,” tawa pria tersebut dengan santai sebelum menjawab. “Orang berhenti berjalan ketika ingin berfoto, orang berhenti fokus ketika melihat hal menarik, begitu pun aku di sini ... menghampirimu. Persis dengan yang kubilang, rasa ingin tahu membuatku mendekat.”
Gaya bahasa orang tersebut sedikit aneh untuk disebut orang modern. Sedikit berputar tapi juga tidak melambangkan sebuah tradisi tua. Intinya dia adalah orang pertama yang aku tahu punya gaya bicara seperti itu.
“Kalau gitu, apa kamu bisa melakukan pendekatan yang lebih ramah? Sihirmu itu membuat insting bertahan hidupku aktif.”
Berbeda dengan sihir menghilang milik Amalia yang menggunakan emosi rasa malu. Orang di hadapanku sekarang punya sesuatu yang bahkan membaut aku tidak dapat mendeteksi gelombang emosinya. Tidak seperti Farel teman lamaku yang gelombang emosinya rendah stabil, orang ini benar-benar tidak punya. Ketika Amalia yang menghilang dapat kurasakan sosoknya, pria berambut ini tidak menimbulkan getaran sama sekali.
“Aku tidak tahu bagaimana kau menjalani hidup. Tapi, sihir memang sesuatu yang sulit dikontrol. Setidaknya, aku tahu kalau sihir tidak bisa dihilangkan sepenuhnya dari tubuh untuk tidak aktif. Mau atau tidak mau, aku terpaksa dalam kondisi menghilang.”
Ah, aku mengerti maksudnya. Aku salah satu orang yang tersiksa karena tidak punya tombol off pada sihir deteksi emosi ini.
“Tapi, sekarang aku bisa lihat.”
“Iya ... tentu saja. Aku yang membuatmu agar bisa melihatku lebih jelas,” ucap pria tersebut dengan nada sedikit mendayu. “Kemampuanku bukan yang utama, berbagai promotor lain seperti ruang gelap dan jubah penutup kepala meningkatkan efeknya. Berdiri di tengah lampu dengan wajah terpapar menjadi alasan kekuatanku semakin tertekan.”
Oh ... jadi begitu, iya. Kekuatan lain juga punya syarat lain yang berbeda untuk diperkuat maupun dilemahkan. Untuk kasusku yang paling simpel adalah faktor jarak.
“Kalau begitu kenapa dari awal kamu tidak datang di tempat terang tanpa penutup wajah? Niatmu untuk bertemu berkebalikan dengan itu.”
“Ahaha ... kau sepertinya orang yang cukup berhati-hati, bahkan untuk sesuatu yang seharusnya bisa kau abaikan,” kembali jelas pria tersebut dengan sedikit berputar. “Hal tidak biasa juga bukan ada pada sihirku saja ... sesuatu yang berbeda juga ternyata terbentuk pada mata. Aku sudah terbiasa melihat dalam gelap pada cahaya minim, penutup kepala juga sebenarnya mendukung hal itu.”
Ketika dia mengatakan kalimat tersebut, aku sedikit demi sedikit memerhatikan detail matanya. Ternyata sesuatu yang berbeda memang nampak jelas. Bukan kecacatan maupun kejanggalan atas bentuk fisik, tapi perbedaan terdapat pada cara dia memandang.
Selama ini dia tidak menatap wajahku langsung, pria tersebut lebih mendiamkan matanya tidak digerakkan, terlihat sayu memandang buyar di satu titik yang tidak membuat fokus. Jika bisa dibilang, matanya terbuka tapi tidak sedang digunakan, layaknya orang buta.
“...”
__ADS_1
Untuk beberapa alasan aku berhenti menanyai keadaan fisik maupun sihir miliknya. Kedua dari kami tentu tahu efek merepotkan dari kemampuan tersebut. Itu mungkin bisa memberikan keburukan bagi suasana.
“Apa sampai di sini tidak ada pertanyaan lagi? Akan tidak adil jika hanya aku yang ditanya.”
Kewaspadaanku pada pria ini semakin hilang dan tipis. Semakin lama aku bicara dengannya, semakin lama juga aku merasakan sebuah pemikiran kalau dia tidak membahayakan.
“Baiklah ...,” ucapku setuju. “Tadi kamu bahas sesuatu tentang tertarik, sihir, dan juga namaku. Tanya saja apapun jika kamu juga menjelaskan tujuannya.”
“Ah ... tentu aku juga akan jelaskan.”
Pada akhirnya malam itu menjadi perjalanan minimarket terlama yang pernah kuingat. Pria tersebut lebih dulu menjelaskan dibanding bertanya, tentang dirinya tentu baru setelahnya meminta penjelasan dariku.
Dia memberi tahu kalau sebenarnya aku sudah diikuti sejak acara mall mengikuti Septian. Entah bagaimana caranya, tapi dia sendiri bilang kalau dirinya bisa merasakan sihir dariku. Itulah awal mula dia tertarik dan mencoba mencari kesempatan bertemu sampai saat ini.
Aku sendiri tidak mengerti cara membedakan orang yang punya sihir atau tidak. Tapi, memang sesuatu yang spesial kurasakan dari dalam Amalia saat pertama bertemu di aula. Tenaga dari gelombang emosinya begitu kuat sampai menimbulkan siksaan berkali-kali lipat.
Namun, untuk bilang bisa mengelompokkan, aku tetap tidak bisa mengerti bagaimana perbedaan antara Pero si burung gagak dan pria berambut perak di depanku tentang kepemilikan sihir. Kami mendiskusikan ini dan hasilnya juga masih menggantung, berakhir di jawaban sementara kalau kemampuan orang berbeda-beda.
Beberapa penjelasan tentang kekuatanku juga kusampaikan padanya. Deteksi gelombang emosi dan efeknya pada kehidupanku. Belakangan ini aku sering menyampaikan topik tersebut sampai akhirnya perasaan tersebut tidak asing lagi.
Dia sendiri memberi tahu kekuatannya, aku sebagai orang yang ingin membalas budi juga tidak memilih egois untuk merahasiakan hal tersebut. Jadi, pada akhirnya pertukaran informasi dilakukan cukup jauh hingga kondisinya dia tahu apa yang sedang kukerjakan.
“Ahaha ... jadi kau juga sedang mengumpulkan mana kontrak animus, iya,” ucap pria tersebut tertawa lembut setelah mendengar penjelasanku.
“Tentu ada, tapi aku tidak pernah menemukan orang yang berhasil sampai akhir. Mengumpulkan mana dari luapan emosi kebahagiaan sejati adalah hal sulit.”
Dari bahasa yang terucap, orang tersebut tidak menunjuk dirinya sebagai tokoh utama yang melakukan hal tersebut. Jadi, kalimat yang terucap olehku adalah ....
“Kalau begitu di mana orang itu sekarang? Apa dia masih mengumpulkan mana?”
Aku bertanya lebih lanjut, informasi yang mungkin bisa menguntungkan diriku mempermudah pekerjaan tersebut. Selama ini aku masih kekurangan banyak hal, dan setidaknya jumlah kepala akan menutupi kekurangan dari partnerku Amalia.
“Hmn ....”
Pria tersebut menutup mata, pandangan lurusnya yang layaknya orang buta tersebut hilang sesaat untuk membentuk pose berpikir. Menarik napas sedikit, menghembus kembali, lalu menengadahkan kepala miring ke atas.
“Sayang sekali ... orang itu sekarang sudah berhenti. Dia menyerah mengumpulkan mana ... atau lebih tepatnya terpaksa menyerah. Tidak ada hasil, botolnya tidak penuh, dan yang tersisa hanyalah harapan kosong.”
“Memangnya mengumpulkan mana itu sesuatu yang bisa berhenti? Aku kenal animus, dan dia membuat kontrak waktu itu dimulai.”
“Iya, semuanya terjadi di atas kontrak sihir. Tapi, sesuatu yang tidak tercapai tetap tidak dapat dikabulkan dengan sihir. Animus yang melihat partnernya gagal tidak bisa membantu lebih, jika ada hal yang di luar kontrak hingga membuat misi gagal total, maka semuanya akan berhenti di satu titik. Jika pada kasusmu, Kaivan ... temanmu bernama Amalia tidak akan sembuh dari bisu suaranya.”
__ADS_1
“...”
Jika aku mau berpikir sejenak, hal itu memang wajar. Segel mulut yang membuatnya bisu adalah jaminan awal. Jika memang dia tidak bisa melaksanakan tugas, maka kontrak tersebut memang sudah bekerja mengambil apa yang tertutup.
“Baiklah ... baiklah ... waktu sudah malam, dan sepertinya sudah terlalu banyak waktumu kuambil,” ucap pria tersebut sambil berdiri layaknya sedang merenggangkan otot. “Aku akan pergi, dan mungkin sesekali akan ada di samping mengamatimu lagi. Mungkin aku tidak bisa memberi saran, tapi semoga kau bisa menyelesaikan apa yang kau mulai.”
Pria tersebut berjalan menjauh, melangkah ke area gelap sambil mengangkat penutup kepala mengembalikan posisinya ke semula. Aku baru melihatnya secara seksama, tapi dengan jelas mataku sadar kalau sosok pria tersebut semakin lama semakin tidak jelas mengikuti jaraknya.
“Woi, tunggu,” panggilku untuk menghentikannya sesaat. “Nama ... namamu siapa? Memangnya benar kamu gak punya nama?”
“...”
Langkah pria itu terhenti, dia sedikit melamun tanpa menengok melihat ke belakang arah tempatku berdiri.
“Panggil saja aku burung hantu, atau jika kau mau, panggil saja aku sesukamu.”
“Burung hantu? Kenapa aku harus memanggil orang dengan nama hewan?”
“Ahaha ... kalau begitu kenapa kau tidak tanyakan pada orang yang sering melakukannya.”
“...”
Kali ini aku terdiam, kalimatnya ternyata cukup masuk pada logika yang sebenarnya cukup unik terjadi. Pasalnya, tidak sedikit kasus orang-orang yang menggunakan nama hewan sebagai panggilan, entah itu panggilan akrab atau hinaan kasar.
“Kau tidak menyukainya? Kalau begitu ubah saja sedikit menjadi Burhan. Atau ... jika kau ingin sesuatu yang lebih seperti nama, panggil saja aku Hanz.”
Hanz ... ah, yang satu itu terdengar lebih seperti nama bagiku.
“Baiklah, Hanz. Aku akan datang ke sini lagi.”
“Tidak, kau tidak perlu serepot itu. Kau punya misi, dan misi itu bukan mengurusiku sekarang. Fokus saja pada apa yang kau lakukan.”
Laki-laki itu pun melanjutkan jalannya, terus melangkah sampai gelap malam menghapus jejaknya.
“...”
Aku memang tahu kalau kejadian yang terjadi padanya diakibatkan oleh sihir. Tapi, ketika melihatnya langsung tetap saja membuatku kagum dalam hal berbeda. Pria tersebut menghilang, benar-benar menghilang menyatu dengan gelap.
Jika dia menamai dirinya burung hantu, itu memang cocok untuk sosoknya yang bisa menghilang. Jalan kakinya tidak bersuara, bergerak di waktu malam, dan yang paling membuatku merinding adalah satu fakta kalau gelombang emosinya tidak berasa sama sekali.
Heh, benar-benar seperti hantu.
__ADS_1