Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 2.5 Kebimbangan : Chapter 5 - Gelombang Pengalih


__ADS_3

Kaivan : Abaikan saja, aku di sini juga karena kebetulan.


Balasku dengan pesan.


Bukan berarti aku berbohong. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk mengikutinya dari awal. Semua ini ada karena kebetulan dan juga penasaran.


Kak Dina : Tapi, bukannya kamu gak suka bioskop?


Kakakku tahu kalau aku tidak menyukai tempat ramai seperti bioskop. Beberapa kali dia pernah mengajakku pergi bersama, tapi tentu saja aku menolak dan lebih menikmati suasana rumah yang kondusif.


Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Dulu dia tidak punya banyak teman dan lebih sering menghabiskan waktu denganku, ketika dia ingin mengenal dunia luar dan bermain bersamaku, di saat itulah diriku dan kekuatan pencicip emosi ini menghalangi hubungan tersebut.


Pada akhirnya, aku dan kak Dina hanya menghabiskan waktu bersama ketika di rumah. Memang kami tidak seakrab dulu sejak masih kecil, tapi hubungan kami masih sehat untuk seorang saudara yang sudah dewasa. Di saat ini, dia juga mungkin mencoba melepaskan rasa kesepian tersebut pada orang lain. Tapi, jauh melangkah, dirinya malah tenggelam dan layaknya membuangku lebih fokus pada kehidupannya sekarang dengan kekasih baru.


Itu sebenarnya tidak buruk. Mau bagaimanapun, semua akan berakhir berpisah dan berpencar sendiri-sendiri. Aku, dan orang tuaku, aku dan kakakku, semua akan memilih jalurnya masing-masing, tidak ada keharusan untuk kami selalu bersama.


Kaivan : Iya, aku di masuk ke sini juga mau lihat pacar kakak. Sebelumnya pernah kakak bilang, tapi gak pernah aku lihat langsung. Gak salah juga, anggap saja aku gak ada. Pacar kakak juga kayaknya masih gak tahu kalau kakak punya adik.


Aku juga tidak ingin basa-basi. Orang tua di rumah kami juga selama ini sibuk bekerja. Mereka jarang menghabiskan waktu dengan keluarga, terutama si ayah. Orang itu hanya hadir sebulan sekali di waktu yang singkat, membuat rumah besar itu terasa sepi.


Oleh sebab itu, tugas mengawasi kak Dina aku ambil, setidaknya aku ingin mengenal bagaimana pergaulan kak Dina berjalan. Entah sejak kapan, dia sendiri berhenti menceritakan tentang dirinya jika aku tidak bertanya mendetail.


Huft ... hah ....


Entahlah ... aku juga bingung dengan apa yang kulakukan sekarang.


Film utama telah dimulai. Itu adalah film romantis berseling adegan aksi. Aku sendiri tidak terlalu suka dengan hal ini, seleraku sendiri lebih memilih film dengan latar yang lebih fantasy lagi, seperti superpower dan tentang sihir, walaupun aku sendiri tidak pernah terpikir bisa masuk ke dalamnya.


Itulah yang kupikirkan di awal film.


Setelah aku menonton, mendalami, dan terpaksa dibawa alur film yang sudah dibayar, lama-kelamaan aku pun cukup menikmatinya. Tapi, jika harus dikelompokkan, film ini memang punya daya nilai yang bagus, aku tidak akan kaget jika memang terkenal.


Isi naskah keseluruhan sedikit berlebihan, tapi itu cukup pantas untuk film romantis. Akting pemeran yang mendalam, membuat kejanggalan dialog baku menjadi terkesan lebih hidup. Lalu, tidak lupa dengan efek suara yang indah, segi musik dan suara pendukung lain.


Aku juga tidak tahu, apa perasaan terpacu di dadaku ada karena menikmati film atau terbawa dari emosi penonton lain. Tapi, jika ini perasaanku sendiri, aku tidak akan kaget. Kejadian ini seperti membuktikan kalau aku tidak keberatan dengan berbagai tema karya selama memang karya tersebut bagus menurutku.


*Whoush ....


Hmn?

__ADS_1


Gelombang emosi ..., kali ini sedikit tajam dan berbeda dengan gelombang emosi kebanyakan orang di bioskop.


Manis?


Lidahku merasakan sesuatu yang menggelitik, sesuatu yang menyebabkan sensasi relaksasi hingga cukup untukku menghayati sambil menutup mata. Aku pernah merasakan ini, perasaan yang datang dari seorang kekasih di tengah mabuk cintanya. Rasanya sedikit janggal, tapi aku berusaha memahami situasi dan melihat ke arah belakang.


“...”


Benar saja, aku melihat di belakang kak Dina dan lelaki itu bertindak saling mesra. Melihat ini secara langsung di belakang cukup canggung, padahal aku sendiri yang meminta untuk kak Dina mengabaikanku barusan lewat pesan.


Posisi kak Dina sekarang sedang menaruh kepala di pundak kekasihnya, dia membuat ekspresi manja menutup mata sambil setidaknya bersikap seperti menikmati waktu-waktu tersebut. Lalu, si kekasih juga membalas dengan tindakan serupa, ekspresinya memang biasa, tapi tangan dan jari-jemarinya mulai nakal meraba-raba lekuk tubuh di berbagai sudut.


Mereka berdua benar-benar tidak membiarkanku masuk ke dalam atmosfernya, memandang lurus ke arah film dan sesekali curi-curi pandang satu sama lain, tidak ada waktu yang mereka berikan untuk memperhatikan orang lain. Oleh sebab itu, aku yang ada di depan sedikit mengintip tidak dipedulikan oleh mereka.


Cih.


Aku tidak peduli dengan kakakku yang punya hubungan sekarang. Tapi, jika melihat mereka bermesraan sekarang, rasanya begitu mengesalkan, sebuah teori yang berlawanan saling menimpaku yang tidak tahu apa penyebabnya.


Apa ini sebuah perasaan egois? Perasaan di mana seorang ayah yang tidak ingin memberikan putrinya? Jika benar, mungkin aku merasa bodoh karena telah menganggap mereka orang egois.


Sepanjang film, aku terus merasakan perasaan manis tersebut. Selain dari kak Dina dan kekasihnya, aku juga sedikit demi sedikit merasakan hal serupa dari berbagai arah. Perasaan manis di mana sepasang kekasih saling meluapkan cintanya termasuk emosi positif. Tapi, perasaan manis tersebut jika terus dirasakan tetap menjadi menjijikkan. Sama halnya menerima godaan orang yang tidak ingin diterima, seberapa pun aku menolak, tetap saja sensasi itu muncul. Kutukan yang memaksa mendapat jejalan rasa tak enak.


Because, what I mean is I want to live a normal life ... with you.


The end.


Film pun akhirnya selesai. Gelombang emosi dari setiap penonton secara bergantian melonggar dan melebur bersama suasana. Di saat-saat ketika mereka menarik napas panjang, di saat itulah seluruh rasa di lidahku menghilang.


Lampu di bioskop menyala membuat terang ruangan. Orang-orang di berbagai sudut mulai berdiri meninggalkan tempatnya masing-masing.


“Hah ... hah ....”


Tapi, untuk sementara aku butuh istirahat, stamina mentalku serasa diperas dari dalam, aku merasa lelah dalam arti yang lain.


“Gimana filmnya? Seru?”


“Oh, lumayan, kok. Aku suka waktu si tokoh utama selamatin ceweknya. Itu keren banget, agak deg-degan gitu.”


Percakapan kak Dina dengan kekasihnya tentang film.

__ADS_1


“...”


Selama ini mereka hanya pasangan yang normal. Akan memalukan jika aku menaruh hal ini pada keseriusan mendalam mengingat banyak pasangan serupa di ruangan ini sekarang.


Aku menutup mata mengistirahatkan tubuh. Walaupun sedikit canggung dan mengganggu, tapi aku perlu memberikan jalan pada orang di sampingku yang ingin keluar melewatiku.


Gelombang emosi manis yang kurasakan di belakang mulai bergerak, mereka berpindah ke samping dan akhirnya menuruni tangga untuk keluar ruangan.


“Huft ... hah ....”


Aku mungkin akan keluar ketika semua sudah sepi— Hn?


Rasa janggal tiba.


Tunggu, siapa itu?


Rasa manis yang sebelumnya kurasakan dari belakang telah menghilang dan berpindah ke arah depan. Namun, pemandangan yang seharusnya muncul dan terlihat ternyata tidak ada, di ujung mataku tidak ada kak Dina dan kekasihnya.


*Whoush ....


Hn? Asam ...? Ah, tidak ... masih ada rasa manisnya. Tapi, apa ini? Asam ini merusak gelombang emosi hingga terasa busuk.


“Kamu mau keluar sekarang?”


“Yaudah yuk, keluar saja. Yang lain juga sudah pada turun.”


Aku masih mendengarnya, yakin kalau apa yang lewat di telingaku adalah suara mereka berdua yang barusan masih di belakang.


Gelombang emosi yang misterius itu pun bergerak mengikuti arah jalan mereka. Rasa asam yang bercampur manis kali ini berkesan buruk, setidaknya aku tahu perbedaannya dari berbagai pengalaman selama hidup mengenal banyak orang.


Heh, sudah kuduga kalau ternyata aku perlu melihatnya lebih jauh.


Kekuatanku punya sedikit kecacatan, di mana aku tidak bisa tahu secara pasti siapa sumber gelombang emosi yang kurasakan. Oleh sebab itu, kesalahan deteksi akan wajar terjadi ketika ada di tempat umum dengan jumlah orang banyak.


Semula aroma manis yang kurasakan ternyata bukan berasal dari mereka berdua, melainkan dari pasangan lain. Mereka berdua yang sekarang tidak memiliki gelombang emosi yang sehat, walaupun aku tidak tahu dari pihak kak Dina atau kekasihnya yang menghasilkan emosi tersebut.


 


 

__ADS_1


__ADS_2