
Dia memang memberi tahuku itu sebelumnya. Di percakapan kecil saat berjalan menjauh mencari tempat yang lebih aman. Tapi, aku tidak mengira kalau dia akan melanjutkan merantau ke daerah asing yang notabenya dia tahu akan bersinggungan dengan animus si pemilik wilayah tersebut.
Itu berarti ... tujuannya sekarang bukan hanya mengumpulkan mana dengan mengambil nyawa orang yang ingin bunuh diri. Tapi, dia juga berusaha menyebarkan ideologinya pada penyihir dan animus lain.
"Oke, sekarang ceritakan apa yang terjadi jika aku menolak."
"Jika kamu menolak, kita anggap semua ini tidak pernah terjadi. Aku akan pergi, dan kamu mendapat wilayahmu aman lagi," jelasnya sambil mengalihkan pandangan dan menganggap enteng seluruh masalah ini. "Aku tidak terlalu agresif untuk memaksakan kehendak. Tapi, aku ingin kamu menjadi lebih pintar memutuskan ... Kaivan."
"..."
Kembali lagi, dia bertingkah selayaknya tindakan tersebut benar. Dia tidak melihat sisi buruk dari mengambil nyawa, dia melihat sisi baik membantu seseorang yang tersiksa dalam sakit sekaratnya.
Lagi pula, aku sebagai pembantu Amalia juga tidak benar-benar melirik orang seperti itu. Jikapun dia berbagi wilayah dengan Pero, aku juga belum tentu sanggup mengambil mana dari orang yang dalam keadaan mental ingin bunuh diri.
Lalu, pertanyaannya ... apa sekarang aku punya ketertarikan dalam hal tersebut?
Ikut dengannya berarti ikut berkelana menjelajah bersama dengannya. Aku kemungkinan besar akan meninggalkan Amalia, aku juga akan meninggalkan keluargaku yang rumahnya sekarang dalam keadaan sepi.
Tapi, apa benar itu yang aku butuhkan? Jika memang aku setuju dengan ideologinya, apa benar aku menginginkannya?
Jawabannya ... kurasa sudah jelas.
"Geza ... apa aku menyebutnya benar?" panggilku dilanjut dengan pertanyaan membuka kesopanan.
"Aku sendiri tidak terbiasa dengan nama itu. Tapi, jika ditanya benar atau tidak ... iya, namaku memang Geza," jawabnya yang kembali memutar.
"Huft ... hah ...," hela napasku menarik banyak oksigen untuk mengalirkan energi ke otak. "Maaf, aku masih memandang kalau pembunuhan itu salah."
"..."
Dari semua alasan yang dia berikan, semua kalimat yang dia tuju, tetap tidak bisa menggetarkan hatiku untuk benar-benar berjalan di belakangnya. Sekali pun aku memandang nyawa orang di ambang keterpurukan, perasaan yang sama aku rasakan pada Azarin. Tidak sedikit pun terpikirkan kalau orang tersebut layak untuk mati.
Namun, apa yang menjadi keputusanku bukan hanya karena hal tersebut. Aku tidak mengambil pribadi satu orang. Ketika aku bertanya pada Amalia, dia juga memberikan jawaban yang sama.
Aku mungkin terlihat bodoh, berharap kalau orang-orang di sekitarku mengizinkanku bunuh diri. Biarpun keadaan memburuk, biarpun penyakit menggerogoti tubuhku hingga sekarat, orang yang bahkan bukan anggota keluargaku bilang kalau aku tidak boleh mati.
*Poke
"Hmn?"
__ADS_1
Amalia menepuk pelan catatannya padaku. Tidak ada rasa sakit, yang timbul hanya perasaan untuk bertanya 'ada apa?'. Namun, hal tersebut juga tidak sempat terucap di mulutku, karena sesaat setelahnya, dia menunjukkan jawabannya di halaman tertulis.
Waktu kamu bilang kayak gitu, aku bakal pukul kepala kamu dan bilang buat jangan nyerah.
Itu adalah jawaban yang Amalia berikan padaku waktu itu, jawaban yang sebenarnya sangat sederhana untuk dipahami. Karena mau bagaimana pun seorang dalam keadaan sulit, pasti masih ada orang lain. Karena ....
"Karena bunuh diri gak selesaikan masalah. Itu cuman bawa kesedihan ke orang yang masih hidup," lanjutku menjawab itu pada Geza.
"Heh," deham tawa hidungnya meremehkan jawabanku. "Kamu pikir itu masuk akal? Aku tidak akan mengambil nyawa orang yang bunuh diri karena keinginan egoisnya saja. Aku juga memikirkan latar belakang orang tersebut, orang-orang yang sudah ditinggalkan semua orang."
"Gak, gak ada orang kayak gitu," bantahku dengan tegas.
"Apanya yang tidak ada? Kamu lihat sendiri, 'kan? Orang sakit di sana sudah tidak punya keluarga yang menginginkannya, dia ditinggal sendiri, baik keluarga dan temannya sama sekali tidak datang dan sudah bosan mengurusinya."
"Itu hanya satu kelompok kecil. Karena, biarpun dia sudah ditinggal, tenaga medis pasti tetap menginginkannya hidup."
"Kamu membela mereka? Mereka tidak bisa menyembuhkan seluruh penyakit, mereka hanya menghambatnya, menambah rasa sakit dan penderitaan pada orang itu. Mereka memaksakan kehendak, mereka tidak mendengar permintaan orang itu, mereka berpikir kalau menyembuhkan adalah yang terbaik dan menunggangi perasaannya. Orang itu sebenarnya hanya ingin istirahat dengan tenang."
"..."
"Hah ... hh ... hah ...."
Geza mulai memberikanku kalimat beruntun, logatnya cukup cepat hingga napasnya sedikit tidak terkontrol.
"Bodoh!"
"..."
Dia memotong kalimatku, katanya keluar cukup keras hingga respons refleksku untuk berhenti bicara.
"Terserah dengan kalian, apa kalian ingin hidup dalam mimpi terus menerus!?" bentaknya sedikit kasar. "Tidak semua penyakit kalian bisa sembuhkan, yang kalian lakukan hanya menghambat kematian dan menambah rasa sakit. Terlepas dari keinginannya, semua tenaga medis di sana tahu, orang itu tidak akan selamat. Tidak peduli dia ingin hidup atau tidak!"
Bentak lagi, kalimat beruntun lagi, Geza menaruh banyak emosi di dalam ucapannya. Aku bahkan lebih bisa merasakan dia sebagai tokoh utama di sini, bukan orang yang sakit itu. Ketakutan, kebencian, dan kemarahannya terlepas hebat bersama teriakan tersebut.
"Huft ... hah ...."
Akan tetapi ....
"Aku tetap percaya pada keajaiban," jawabku sambil sedikit senyum. "Kita mungkin bilang satu hal mustahil. Tapi, pada akhirnya gak ada yang tahu sampai waktunya datang. Satu hal yang jelas, hal itu mustahil itu benar-benar mustahil kalau gak kita raih—"
__ADS_1
"Keajaiban ...? Huh!? Keajaiban katamu?" tanyanya menyolot dengan nada merendahkan. "Tidak ada hal semacam itu. Apa yang kamu dapatkan semua karena usahamu, apa yang kamu terima semua karena apa yang dunia berikan padamu."
"Tapi, kita gak tahu apa yang dunia berikan pada kita di akhirnya."
"Kaivan, apa kamu serius berpikir untuk menyiksa orang sakit lebih lama lagi? Membiarkan mereka mati perlahan di setiap detiknya?"
"Mereka tidak membiarkannya mati, mereka berusaha menyembuhkannya."
"Mereka sendiri bahkan tahu penyakit itu tidak bisa disembuhkan? Kematian orang itu sudah dipastikan."
"Huft ... hah ...."
Aku kembali mengambil napas. Berulang kali ... berkali-kali ... demi menjaga atmosfer dan emosiku tetap terkendali. Pasalnya, hal tersebut ternyata sangat efektif, bahkan dengan ketenanganku emosi Geza berulang kali menurun dan berhenti berteriak.
"Kalaupun dia memang ditakdirkan mati, aku tidak setuju dia dibunuh."
"Lalu, kamu memang setuju membiarkannya mati penuh rasa sakit."
"Semua kematian itu sakit, dan aku gak mau banyak orang merasakan rasa sakit yang sama," kataku menjelaskan dengan lembut mengontrol emosi. "Mungkin benar kalau dia gak punya harapan hidup, mungkin benar kalau dia hanya memperlambat kematiannya."
"Kamu mengerti itu, 'kan? Seharusnya kamu bisa—"
"Tapi!"
"..."
Kali ini aku yang memotongnya, membuat dia mundur dan dengan sedikit tatapan tajam.
"Tapi, manusia gak bodoh. Mereka pasti belajar, mereka pasti mencari tahu, mereka akan terus berkembang. Perawatan yang menghambat penyakit tersebut bisa jadi jalan masuk menuju obat sesungguhnya. Jika dia memang mati, dia gak mati sia-sia. Dia mungkin bisa memberikan harapan pada orang setelahnya, memberikan data medis di mana obat mungkin berkembang di masa depan. Membunuh setiap penderita gak menyelesaikan masalah. Jika pembunuhan terus dilakukan, maka penyakit itu akan selamanya seperti itu ... gak akan pernah ada obatnya."
"..."
Literatur medis tentu sudah pernah mengalami hal ini, terutama pada jika melanda satu wabah. Pembunuhan karena paranoid satu kaum untuk membasmi penderita penyakit tersebut tidak akan menyelesaikan masalah. Penyakit akan tetap ada, dan pembunuhan adalah cara terburuk yang bisa dilakukan. Ilmu pengetahuan tidak akan berkembang, dan penyakit tersebut akan terus mengancam selamanya.
Aku tidak bicara dengan perasaan lagi, aku bicara atas dasar semua umat manusia. Jadi ....
"Aku tegaskan lagi," kataku sambil kembali menarik napas panjang melakukan ancang-ancang. "Bunuh diri hanya membawa kesedihan bagi orang yang masih hidup."
*****
__ADS_1