Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 0 Stroberi : Chapter 6 - Namaku Kaivan


__ADS_3

“...”


Sikap gadis ini sedikit aneh. Dada dan perutnya kembang kempis tak beraturan, nafasnya terengah-engah panik melihat ke arahku. Namun, biarpun begitu, tidak ada satu kata yang keluar darinya.


Apa ucapan yang keluar dari mulutnya waktu di aula hanya khayalanku saja? Dari sini aku bisa merasakan kalau dia benar-benar bisu.


Ekspresi yang dibuatnya tidak seperti kalau dia tidak mengenalku. Mungkin lebih cepat kalau menanyakan langsung padanya.


“Woi—”


*Whoush ....


Gekth!?


Gelombang emosi, untuk kedua kalinya aku merasakan sengatan listrik. Reaksi terkejutnya cukup berlebihan untuk sekadar menerima sapaan. Ini membuat aku merasakan siksaan lima sampai sepuluh orang sekaligus.


Fondasi tangan untuk menopang tubuhku hancur. Hampir saja mukaku jatuh ke lantai, tapi refleksku lebih dulu bertindak dengan menggerakkan sikut untuk bertahan.


Sial, baru kali ini aku menghadapi satu orang yang perubahan emosinya bisa membuatku lemas.


“Woi ...!” teriakku serak, karena emosinya aku tidak bisa mengendalikan otot tenggorokan dengan baik. “Kamu bisa tenang—”


*Whoush ....


“...”


Lagi?


Pendengaranku berdengung, sendiku tiba-tiba menggigil, jantungku terpacu menimbulkan keringat dingin.


Memangnya aku seseram itu? Kenapa hanya dengan bersuara sudah membuat kau setakut ini?


Emosi yang dia keluarkan terlalu pekat. Konsentrasi terganggu, pikiran mulai lemas, aku akhirnya menyerah dan membiarkan seluruh tubuhku mendarat di lantai.


Hah ....


Aku lelah seperti ini. Setiap aku bertemu orang yang dilanda depresi, ketakutan, kebencian, maupun perubahan emosi lain, aku selalu merasakan rasa sakit yang sama.


Terutama orang yang menyembunyikan perasaannya, mereka adalah sumber rasa sakit terbesar dalam hidupku. Menganggap kalau masalahnya akan baik-baik saja dengan membiarkannya mengalir, berpikir kalau depresinya hanya akan menimbulkan masalah jika mereka bagi pada orang lain, terlalu berpikir positif hingga membutakan kenyataan. Emosi dari orang-orang tersebut sangat kuat dan membuat aku ikut menerima dampaknya.


Hn?


Beberapa detik berlalu, aku mulai merasakan kalau gelombang emosi negatif hilang sedikit demi sedikit. Udara mulai terasa ringan, otot-ototku akhirnya bisa terkontrol dengan baik.


Stroberi?

__ADS_1


Oh ... ini rasa cemas dan khawatir. Berbeda dengan gelisah biasa yang rasa asamnya tidak enak, cemas dan khawatir memiliki kasih sayang di dalamnya, membuat perasaan itu menjadi sedikit lebih manis.


Aku bangkit dari jatuhku, mulai mengangkat wajah dan menatap ke arah gadis itu. Tapi, yang kulihat pertama kali adalah skecthbook berukuran A6.


Kamu gak apa-apa?


Itulah tulisan yang kulihat. Wajar saja dia bertanya, dari sudut pandangnya, aku adalah orang aneh yang jatuh bangun tanpa sebab yang jelas.


Baiklah, sekarang aku harus berhati-hati dengan tindakanku agar gelombang emosinya tidak keluar lagi.


“Yah, aku gak apa-apa. Cuman sedikit kesemutan.”


Aku membenarkan posisiku secara perlahan. Menyamakan dengan posisinya yang setengah berdiri sekarang.


“Kamu Amalia, ‘kan?”


Gadis itu tidak menjawab. Sebagai gantinya, dia melihat mataku dan mengangguk satu kali.


Baiklah sampai saat ini aku tidak merasakan gelombang emosi baru. Kurasa sekarang dia bisa bercerita lebih baik, karena ada banyak pertanyaan yang ingin kuberikan padanya.


Dari mana kamu tahu?


“Kemarin sore waktu di aula ... cewek yang pakai baju aneh itu kamu, ‘kan? Temanmu di sana kasih tahu.”


Sebenarnya aku lagi cari kamu.


Hmn ... jadi begitu.


Kalau memang benar, kau seharusnya tidak perlu terkejut seperti tadi ... ah, tidak. Aku yang sedang mencarinya juga cukup terkejut barusan.


Ini juga hari pertama kalinya aku bicara dengan orang bisu lewat tulisan, rasanya cukup unik. Ketika menunggu dia menulis catatannya, dadaku dipenuhi rasa penasaran dengan apa yang akan dia tunjukkan.


Aku mulai berdiri, diikuti dengan Amalia menyesuaikan gerakanku. Tentu saja kami tidak bisa dalam posisi duduk di lorong.


“Terus, kamu mau ngapain sekarang?”


Dari apa yang sudah terjadi, tentu saja ini semua ada kaitannya dengan kejadian di aula kemarin. Pihak yang mendapat masalah sepertinya bukan dariku saja.


Amalia terdiam sesaat. Pulpennya diangkat setara pipi kanan, sedangkan arah pandangnya mengarah ke kiri atas. Dia berpikir, mengolah kata-kata yang tepat untuk menjelaskan apa yang ada di pikirannya.


Sebelumnya aku tanya, apa kamu users?


Users?


“Apa itu?”

__ADS_1


Amalia kembali terdiam. Aku bisa merasakan emosi kebingungan dalam dirinya. Dia juga sepertinya sedang mencerna hal yang tidak kumengerti.


Jika dilihat dari bahasanya, users artinya adalah pengguna atau pemakai. Sudah terbayang maksud dari apa yang dia katakan, tapi aku tetap tidak bilang kalau aku mengerti.


Setelah beberapa kali dia mengetuk catatannya, akhirnya dia mulai menulis sesuatu. Menunggu dia bergerak cukup menegangkan, aku merasa ada beban berat jika aku mendesak orang bisu dalam berkomunikasi.


Kayaknya aku juga gak ngerti. Jadi, aku bakal tanya orang lain buat jelasin. Kamu ada waktu nanti pulang sekolah?


Apa itu artinya dia ingin mempertemukanku dengan seseorang? Pengetahuan umum mengajarkan, cukup berbahaya jika aku pergi mengikuti orang yang belum aku kenal dengan jelas. Tapi, aku tidak merasakan emosi negatif dari gadis ini. Bisa dipastikan kalau Amalia tidak memiliki maksud jahat di sana.


Hn?


Amalia mengeluarkan kertas lain sebelum aku menjawab pertanyaan barusan.


Kalau kamu sibuk juga gak apa-apa. Kita bisa tanya ke orang itu lain kali.


“Enggak,” jawabku untuk menegaskan, karena sesaat aku merasa ada rasa asam dan asin dari emosinya. “Aku gak ada rencana apa-apa, aku bisa pergi hari ini.”


Setelah mengatakan itu, rasa asam dan asin dari gelisah kecanggungannya mulai hilang, digantikan dengan aroma segar buah-buahan. Terlihat bahwa dia cukup lega dengan jawabanku.


Ini adalah hal yang biasa kulakukan, menerima semua permintaan sebelum lawan bicaraku mengeluarkan emosi negatif yang lebih besar.


“...”


Amalia memandangiku, mengamati ujung rambut hingga pakaian atasku. Karena tatapannya, aku merasa sedikit canggung dan bingung.


Dia menarik kepalanya mundur, mulai menulis di catatannya dan kemudian menunjukkannya ke padaku.


Bisa tulis namamu di sini?


Tidak sepertiku, dia ternyata belum mengetahui identitasku secara jelas. Jika kami tidak bertemu seperti ini, apa dia akan mengelilingi sekolah hanya bermodalkan ingatan wajah untuk mencariku?


Aku mulai mengambil pulpen dan buku catatannya. Menulis namaku di sana, walaupun sedikit memalukan akan perbedaan tulisan jelekku dengan miliknya.


“Sip.”


Jika dirasakan secara langsung, buku catatan miliknya terasa kecil. Aku bahkan bisa menggenggamnya dengan satu telapak tangan. Tapi, bukan berarti benda itu cukup di dalam saku pakaian.


Namaku adalah Kaivan Rocio. Panggil aku Kaivan atau Ivan.


*****


 


 

__ADS_1


__ADS_2