
Dalam hidup, aku masih percaya kalau sebenarnya tidak ada orang yang benar-benar jahat di dunia ini. Mereka yang berlaku menyimpang adalah orang-orang yang memiliki pandangan hidup berbeda. Berbagai penyebab telah mengubah cara pikirnya, menggores hatinya, dan membutakan matanya.
Aku adalah orang yang bisa merasakan emosi. Cara pakainya aku yang tentukan.
Kekerasan bukan jawaban. Melawan orang yang melakukan bullying hanya akan menciptakan rantai penderitaan. Mereka yang jadi korban bully tidak jarang berubah menjadi pelaku. Pelaku yang mendapat perlawanan dari korbannya juga belum tentu akan berhenti dan masih berkemungkinan mencari korban baru.
Cara yang akan kupakai sedikit bertaruh pada keberuntungan. Tergantung dari bagaimana si pelaku menanggapinya. Oleh sebab itu, kemampuanku cukup menguntungkan. Di sini ada kekuatan yang memungkinkan aku melihat reaksinya tanpa kebohongan.
“... Hah!? Tung— kenapa kamu tiba-tiba ngomong gitu?”
Syukurlah, Azarin masih gadis SMA normal. Reaksinya yang mengeluarkan emosi positif ketika dipuji juga membuktikan kalau dia masih orang baik.
“Ini bukan tiba-tiba, aku sudah menyadarinya sejak lama. Pertama kita bertemu, pertama aku melihatmu, aku merasakan kalau kecantikanmu itu luar biasa.”
Tindakan Azarin yang melakukan kekerasan pada Imarine masih tidak diketahui. Namun, salah satu hal yang bisa jadi penyebabnya adalah karena dia kekurangan emosi positif. Kebencian dan kemarahan terlalu banyak dia rasakan. Dia kering akan perhatian dan pujian.
“Ha-hah!” Suaranya terbata-bata seperti cegukan. “Ka-kalau aku cantik terus kenapa, Ha!?” Sentak gadis itu padaku.
Seakan tidak ingin melepaskan kemarahannya, Azarin berusaha mempertahankan nada keras saat bicara. Namun, beberapa kali kalimatnya tergoyahkan oleh rasa malu dan kebingungan, itu membuat suaranya terdengar lebih imut.
“Dengan kutikula berkilau, ujung yang gak bercabang, dan pola bergelombang yang indah. Rambutmu juga cantik, semua orang pasti terkagum melihatnya.”
Terus menyerang, aku tidak berhenti memuji Azarin. Dari gelombang emosi yang dia keluarkan, keputusan yang kuambil tidaklah salah.
“Ya-yah ..,” ucap Azarin yang memalingkan pandangan sambil memainkan rambut. “Kalau dibandingin sama rambutmu, punyaku memang bagus.”
“Benar, aku gak sebanding sama kamu. Rambutku berminyak, kusam, kasar, bercabang, dan warnanya yang setengah merah kayak pikok gagal. Semua itu gak bisa disandingin sama keindahan kamu, layaknya intan dengan batu bara.”
Emosi positif terus keluar sedikit demi sedikit. Rasa gurih mulai menutupi pahitnya kebencian dari tubuhnya.
“Ya— aku gak bilang sampai kayak gitu juga—” gumamnya dengan suara kecil dan alis mengangkat sebelah. “Akhg ...! Kamu maunya apa, sih!?”
Reaksinya mulai berubah, pujian yang terlalu berlebihan juga tidak akan membuahkan hasil yang sama terus menerus. Itulah sebabnya aku perlu lanjut ke tahap selanjutnya.
Aku berjalan perlahan mendekati Azarin. Memotong jarak antara kami yang tadinya sekitar delapan meter.
“Azarin,” panggilku dengan suara dalam. “Kekerasan gak cocok buat cewek kayak kamu.”
“Sudah terlambat, aku ini pernah ikut karate. Memang itu waktu SMP, tapi aku sudah biasa sama yang namanya kekerasan.”
Oh, jadi itu sebabnya dia bisa menyerang dengan brutal. Cukup jarang perempuan-perempuan yang bisa berkelahi berkumpul di satu tempat seperti ini.
Tapi, aku tidak boleh menyetujui perkataannya begitu saja.
“Aku percaya ... aku percaya sama kamu. Kamu itu perempuan baik, gak mungkin pakai kekerasan buat kejahatan.”
“Heh, apa kamu buta? Aku barusan mukulin Ima. Lihat dia sekarang, dia tergeletak hampir pingsan di sana, buat apa kamu bilang kayak gitu, ha!?”
Gadis itu tidak bergerak berdiri di posisinya, dekat dengan sisi tembok gedung komersil. Sudah terpotong setengah jarak antara aku dan Azarin. Sedikit demi sedikit aku terus mendekat ke arahnya.
__ADS_1
“Azarin ...,” panggilku sekali lagi. “Kamu itu cantik.”
“E-eeh ....” Azarin melihatku dengan pandangan jijik. Tapi, kenyataan pada emosi yang dikeluarkan gadis itu tidak seburuk ekspresinya sekarang. “Apa pukulan barusan bikin dia geger otak?”
Tentu saja tidak. Aku masih merasakan kesadaranku. Walaupun memalukan dan terlihat konyol, tapi ini memang salah satu yang dia butuhkan.
“Tanganmu ... kamu punya tangan lentik dengan jari ramping dan bentuk kuku yang indah. Semua kecantikan tanganmu ... gak pantas dipakai mukul.”
“E-eh?” tingkahnya mulai gugup memegang kedua tangannya di dada. “Kenapa, sih? Kamu beneran kenapa?”
Emosi kemarahan sudah cukup tipis, pujian-pujian barusan ternyata masih berfungsi pada orang seperti Azarin. Dia masih normal, dia hanya gadis yang sedikit berbelok, bukan berarti dia orang jahat.
“Azarin ..., bisa kamu hentikan semua ini? Aku ingin kamu hidup dengan normal, sisi gelap sama sekali gak cocok buat kamu.”
“Be-berisik ... memangnya kamu tahu apa soal aku?”
“Aku gak tahu apa-apa ... dari awal aku cuman orang egois yang ikut campur urusan orang. Tapi, melihatmu aku tahu, kamu sebenarnya bukan orang jahat.”
Aku terus melangkah dengan perlahan dan ketenangan. Langkah per langkahnya aku tekankan, agar membuat Azarin tidak sadar telah didekati. Sampai akhirnya, tidak terasa kalau aku tepat di depannya. Dengan jarak kurang dari satu meter, kami bertatapan satu sama lain.
“Jadi, Azarin ....”
*Grip.
“...!?”
Aku menaruh kedua tanganku di bahunya. Dengan tenaga yang kukeluarkan, tubuhnya sedikit berguncang dan menimbulkan rasa kaget. Sengatan itu juga terasa olehku, membuat pikirkanku terkejut.
Gelombang emosinya membuat jantungku ikut berdetak cukup kencang. Berbagai perasaan berkecambuk menyatu menjadi satu. Senang, sedih, marah, gugup, malu, dan bingung. Reaksi Azarin menjadi lebih lembut karena semua emosi ditumpuk dan membuat kepalanya kosong.
“Bisa beri tahu aku ....”
Aku menaruh kekuatan pada cengkeraman di bahu Azarin. Memberinya sedikit rasa sakit dan kejutan berlebih, membuat sedikit suara keluar dari mulutnya dan sadar akan arti tindakanku.
“Kenapa kamu melakukan ini?”
“...”
Cukup dengan bermain rahasia. Aku tidak ingin kalian menutupi ini semua. Biarkan aku turun membantu, kenapa para perempuan seperti kalian harus menanggung beban berat dalam hidup. Bagikan sedikit beban itu padaku.
“...”
Azarin mulai menunduk. Dia berhenti menatap wajahku dan melihat ke bawah. Di kedua tanganku sekarang, bisa kurasakan ketegangan bahunya yang mulai menghilang.
“Kenapa kamu bilang ...,” ucap Azarin dengan suara lirih. “Kamu mau tahu kenapa ...? Itu karena Ima selalu ambil apa yang aku punya.”
*Whoush ....
Gelombang emosi.
__ADS_1
“...”
Berbeda dengan emosi sebelumnya. Kesedihan yang dikeluarkannya menimbulkan rasa sakit sebuah kecemburuan.
“Kamu tahu ... Ima itu sempurna, dia selalu punya apa yang dia mau," kata Azarin sedikit berat. "Di-dia bisa dapet juara kelas ..., menangin kejuaran voli, disukai sama banyak orang, da-dan dia juga lebih cantik dariku.”
“...”
Isak tangisnya mulai pecah, aku bisa merasakannya. Dadaku terasa sesak tertekan, mulutku penuh dengan rasa hambar berlendir. Gadis ini menahan sebuah emosi yang besar di dalam tubuhnya.
“Waktu aku bisa dapat nilai bagus, Ima selalu bisa lebih bagus. Waktu Ima dapat pujian dari guru, aku cuman bisa dibanding-bandingin sama dia oleh ibuku.”
“...”
Tangan Azarin mulai mengelap air mata, beberapa tetesnya bisa kulihat terjatuh ke tanah. Rasa sedih yang besar membuat tubuhnya bergetar, tanganku yang dibahunya masih bisa merasakan.
“Waktu dia bisa juara voli tingkat kota, aku cuman bahkan gak pernah jadi ditunjuk buat ikut lomba. Semua temannya percaya sama dia, aku cuman jadi pembantunya di belakang.”
Aku mulai melepas tanganku di bahunya, membuat tubuhnya lebih bebas bergerak.
“Aku tahu ... aku cuman iri. Aku gak bisa jadi dia, mungkin cuman usahaku yang kurang. Tapi ..., kenapa dia sampai merebut kebahagiaanku juga.”
*Whoush ....
Gelombang emosi.
Kali ini Azarin mulai mengepalkan tangannya, isak tangis kali ini diwarnai kemarahan. Rasa berlendir di lidahku juga tercemar sensasi panas iritasi lidah. Aku bisa merasakannya ... aku bisa mengerti apa yang dirasakan Azarin.
“Waktu aku suka sama cowok, Ima malah merebutnya dariku. Cowok itu suka sama dia, Ima yang diajak pacaran sama cowok itu malah nolak demi aku, gara-gara itu aku malah benci sama dia.”
“...”
Un ... aku mengerti.
Normalnya pandangan orang juga begitu. Azarin terlihat jahat, seakan mematok pria itu lebih dulu dan melarang perasaan laki-laki itu untuk mencintai. Padahal ... yang terjadi di sana adalah perasaan ingin menghargai.
“Aku tahu ... aku gak sebanding sama Ima. Wajar kalau cowok itu lebih milih Ima daripada aku, Ima yang punya banyak teman pasti lebih dibela daripada aku. Lihat ... aku bahkan gak bisa bahagia, orang-orang selalu menganggapku jahat.”
“...”
Air matanya terus menetes, tapi tubuh bergetarnya berganti dengan geraman rasa kesal. Membenci orang-orang yang selalu menghakiminya.
“Waktu itu aku masih bisa terima. Bakat, kepintaran, dan penampilannya aku sendiri yang akui. Melihatnya bersinar sudah jadi keseharianku. Tapi ... tapi ....”
Hn?
Ucapannya semakin melemah. Timbul keraguan besar yang menghalanginya bicara. Kebingungan yang mulai muncul menambah warna lain pada emosinya sekarang.
“Azarin ...” Panggilku, “Kamu bisa lanjutin ... aku masih di sini dengerin kamu.”
__ADS_1