
Keberadaan pakaian seseorang di dalam satu kamar sebenarnya cukup asing, setidaknya untuk pengetahuanku. Jika aku melihat, hal tersebut hanya pernah kutemui di dalam film yang mengandung unsur dewasa di dalamnya. Contoh paling umum adalah ketika dari satu sepasang kekasih, pihak wanita meninggalkan pakaian bekasnya di dalam kamar sehabis berkencan malam.
Kak Dina menatapi pakaian kemeja miliknya itu, di tangan dia genggam cukup erat dan diangkat sejajar dada untuk meneliti lebih lanjut.
“Ivan, ini bajuku kamu pakai?” tanyaku kak Dina yang masih fokus dengan pakaian tersebut.
“Kenapa gak dibalik, kira-kira ada alasanku buat pakai baju itu sekarang?” timpalku menggunakan pola sama yang dipakai kak Dina padaku sebelumnya.
“Iya, kakak gak tahu. Mungkin saja kamu mau pakai bajuku buat cium baunya, rasain hangat badan kakak, terus sambil bayangin lagi dipeluk kakak.”
“Huh?” responsku dengan nada merendahkan tanpa tuju dan netral. “Orang mana yang punya pikiran gitu?”
Itu ucapanku, tapi sebenarnya hal tersebut keluar karena refleks. Dalam satu konteks sebenarnya aku mengerti kalau aroma tubuh punya khasnya masing-masing yang dapat menarik. Biarpun begitu, hal tersebut tidak akan terjadi padaku untuk kak Dina.
“Kalau gitu, rasa hangat di bajuku sekarang itu cuman perasaan? Ini kayak bekas orang yang baru pakai bajuku.”
Wow.
Aku tidak tahu apa ini adalah sebuah insting wanita, faktor yang hanya diabaikan olehku, atau sebuah ketajaman indra yang hanya dimiliki kakakku. Apa pun itu, aku cukup terkesan dia bisa menebak benar dengan pakaiannya tersebut.
“Mungkin itu panas etrika. Baju itu cuman kena tahi burung dan aku cuci ulang terus setrika langsung,” ucapku kembali mengelak.
“Hmn ... setrika, iya? Setrika kok masih berantakan?” tanyanya bergumam sambil kembali memperhatikan setiap lekuk baju tersebut.
“Aku cuman setrika sebagian, di bagian yang basahnya saja.”
“Hmn ...?”
“...”
Tentu saja hal tersebut makin membuat kak Dina curiga. Fakta kalau pakaian itu adalah pakaian yang diambil langsung dari jemuran dan digunakan oleh Pero beberapa saat tidak berubah. Apa yang kuucap tidak cukup kuat, tapi secara bersamaan kak Dina juga tidak bisa menuduhku tanpa bukti yang jelas.
“Huft ... hah ... terserah, Kak,” ucapku mengeluh yang sebenarnya setengah dari akting. “Yang penting kakak sudah lihat kamarku, ‘kan? Kalau gak ada apa-apa, mending kakak keluar saja.”
“...”
Kak Dina tidak menjawab, dia malah diam menundukkan kepala dan tidak menatap wajahku lagi saat kalimat tersebut terlontar. Di sana sempat diriku bertanya, apa mungkin aku berkata berlebihan padanya?
Terlebih lagi kala itu ....
*Whoush ....
“...”
Gelombang emosi milik kak Dina meleleh. Dia larut dalam sebuah perasaan bersalah dan ketakutan. Tidak seperti saat sebelumnya yang ada di satu tingkat kemarahan, dia lebih seperti berada dalam posisi terancam oleh kondisi.
Secara perlahan dia menaruh kemeja itu kembali di kasur, dia yang pergerakkannya melambat membuatku tidak mengajukan komunikasi lagi. Gerak tangannya yang patah-patah sambil dipenuhi sebuah keraguan menyelimuti pikirannya. Aku tidak mengerti dan hanya melihat wanita tersebut tanpa bertanya. Diam dan melihat kak Dina berbelanja mata melihat sekeliling seakan mencari sesuatu di tengah tekanan fisiknya.
“Kakak cari apa?” tanyaku pada wanita itu.
Kak Dina mencari ke bawah kasur, membuka seprai, membalikkan bantal, menggeser kursi, membuka laci, dan bahkan menarik lepas buku dari rak meja belajarku.
Wanita itu masih mengabaikanku, dan aku masih mendiamkannya, berdiri di depan pintu kamarku dan terus memperhatikan gerak kecil aneh tersebut. Lagi pula, cepat atau lambat dia akan memberi tahu atau menunjukkan barang yang dia cari di kamarku sekarang.
*Open
“Hh!?”
Sampai saatnya dia membuatku sedikit terkejut. Tepat ketika dia membuka lemari pakaianku.
Bukan karena inti tindakan kak Dina, bukan karena masalah privasi, bukan karena aku mengerti tentang hal yang dia cari. Akan tetapi, aku terkaget karena di dalam lemari pakaian yang dibuka itu terdapat Amalia yang sedang bersembunyi.
Lemariku sendiri cukup besar, memiliki tinggi dan lebar lebih dari dua meter. Walaupun volume ruang di dalamnya tidak luas, tapi itu masih cukup untuk membuat gadis bertubuh standar untuk masuk. Tempat yang biasa dipakai untuk baju gantungan cenderung kosong dan memberi banyak ruang, bersembunyi di balik pakaian tergantung, Amalia duduk memeluk sikut di sana.
*Whoush ....
“Gkh!?”
Gelombang emosi kali ini berasal dari Amalia, dia yang merasa tegang berhadapan dengan kak Dina mulai memacu adrenalinnya. Perasaan gugup, takut, dan malu yang dicampur dan terlonjak tiba-tiba memberikan sensasi kejut lagi padaku.
Biarpun begitu ....
“Huft ... hah ... gak ada, iya,” ucap kak Dina yang melihat ke dalam lemari memeriksa.
Kak Dina sepertinya tidak menyadari keberadaan Amalia. Gadis itu sudah ada di posisi di mana dirinya menggunakan sihir mengalih agar tidak disadari keberadaannya.
“...!”
Biarpun begitu, aku bisa melihat ekspresi gadis tersebut dengan jelas. Tatapannya yang tegas dalam keadaan terancam, wajahnya yang kaku, dan napasnya yang tidak teratur. Dia tetap merasakan juga tekanan dari kondisi tersebut walau sebenarnya sedang dalam posisi aman.
“Dari tadi kakak cari apa memang?” tanyaku pada kak Dina mengalihkan. Melihat kondisi, gelombang emosi Amalia akan lebih parah jika terus dibiarkan.
__ADS_1
“...”
“...”
Tapi, kembali kak Dina tidak menjawab. Dia kembali membeku dengan tangan sedang memegang dua pintu lemari pakaianku. Namun, itu hanya sesaat, karena setelah beberapa detik dia pun menghadap ke arahku dan melepaskan pegangan di tangannya.
Dug!
“...!?”
Ah ....
Tidak sengaja di lepas pintu lemari tersebut Amalia menerima hantaman pintu lemari. Aku yang masih bisa melihat keberadaan gadis itu pun menjadi ngilu sendiri karena mendengar suara duk beradu antara sikut dan kayu tersebut.
*Breath, breath, breath ....
Amalia tidak berteriak, dia hanya bernapas keras terulang sambil menahan rasa sakitnya.
Aku juga yang melihat tidak bisa membantunya. Dia masih dalam pengaruh kekuatan di mana kak Dina tidak dapat menyadari keberadaannya. Jadi, aku pun kembali fokus pada wanita tersebut.
Di sini kak Dina menaruh atmosfer serius, terasa dari jenis ekspresi dan rasa di lidahku sekarang. Gelombang emosinya berputar-putar, naik turun serasa seperti ombak yang membawaku layaknya sedang ada di rakit kecil. Perasaan ini cukup mengganggu, tapi melihat kak Dina dalam kondisi ini membuatku berpikir kalau keadaanku bukanlah yang terberat.
“Ivan, kamu ... kamu punya uang?” tanya kak Dina dengan sedikit lirih menahan nadanya untuk merendah.
“Pilihan antara punya dan gak punya, pastinya aku punya,” jawabku kembali dengan sedikit memutar ingin menaruh percakapan pada kondisi yang biasa kami buat.
“Yang aku tanyain itu beda lagi. Jumlahnya gede, kayak tiga kali harga TV kita.”
“...”
Tiga kali?
Televisi di rumahku sudah pada tahap LED dengan ukuran yang lebar dan mampu menggunakan resolusi 4K. Jika dikatakan harganya, aku tidak tahu pasti karena bukan diriku yang membeli langsung. Tapi, jika diperkirakan, tentu angka juta sudah menembus dua digit. Lalu, sekarang kak Dina menanyakan jumlah yang dikali tiganya.
“Mau kakak pakai apa uang sebanyak itu? Beli make-up buat sepuluh tahun?” tanyaku dengan sedikit gurau lagi.
“...”
Kak Dina kembali menunjukkan respons pasif. Hari ini emosinya benar-benar tidak stabil. Di satu posisi diamnya, aku masih bisa merasakan kegugupan mendalam. Lamunannya itu membuatku penasaran, sampai satu saat aku melihat jarinya bergidik ringan refleks gugup.
“Heh, heheheh ...,” tawa kak Dina dengan lemas, terkekehnya tidak mengeluarkan rasa senang, justru dia sekarang dipenuhi oleh aura negatif keputusasaan. “Enggak, enggak jadi, Ivan. Kamu bisa lupakan yang barusan kakak bilang.”
“...”
“Lagian kakak juga sudah jahat sama kamu, memang gak pantas kakak minta ke kamu kayak gini.”
Bersama dengan kalimat tersebut, wanita itu mulai berjalan keluar dari kamarku. Dia melangkah mengambil jalan di samping sebelum akhirnya menuju pintu di belakang tubuhku.
*Grip
“Woi, tunggu,” ucapku sambil memegang tangan kak Dina mencegahnya pergi. “Aku punya uangnya. Tapi, bisa kakak kasih tahu mau dipakai apa nanti?”
“Aha, maaf saja, Ivan. Aku gak bakal maksa kamu, kok. Mending uang itu kamu simpan saja, kakak bakal urus masalah ini sendiri.”
Tapi, kak Dina menolak, dia yang berkata itu dengan perlahan meredakan genggaman tanganku untuk segera melepaskannya. Cengkeraman tangan tersebut disentuh oleh kak Dina dan dibelai lembut seakan berkata untuk melonggarkan tenaga di tanganku. Entah kenapa, responsku kala itu juga menurut dengan perintah lembutnya. Pada akhirnya tanganku juga terlepas.
“...”
“...”
Tch.
Aku mendecakkan lidah, melangkah maju, dan menyusul lagi kak Dina yang ingin menjauh.
*Grip
Tanganku di sana kembali menggenggam kak Dina. Dengan cengkeraman yang baru, aku berhasil menghentikan langkah wanita itu lagi.
“Ivan, harusnya kamu jangan tarik-tarik tangan di sini, kalau aku jatuh dari tangga gimana—“
“Kakak.”
Aku memotong kalimatnya, dengan ucapan dingin seakan menaruh pembicaraan serius. Padahal, sebelumnya aku juga yang membawanya ke arah canda. Tapi, kali ini aku tidak bisa membiarkannya begitu.
“A-ah ...?” respons kak Dina yang kembali menoleh ke arahku. “Ada apa lagi?”
“Ini, ambil ATM-ku,” kataku sambil menodongkan kartu tabungan bankku.
“E-eh!?”
“Ambil saja, terakhir aku cek isinya sekitar lima puluhan. Memang gak bantu banyak, tapi kakak boleh ambil berapa saja sebutuhnya, ambil semua juga gak apa-apa.”
__ADS_1
Wajahku penuh dengan keseriusan, tatapanku tajam, dan nada bicara yang juga tegas tanpa keraguan. Di sana aku tidak main-main, kartu ATM kusuguhkan padanya sedikit memaksa ditempelkan ke daerah tangannya.
“Li-lima puluh!? Kamu gak apa-apa kasih uang sebanyak itu?”
“Sebelumnya kakak minta tiga kali harga TV, ini masih sekitar setengahnya. Kenapa jadi kakak yang nolak?”
“Iya, maksudnya, ini uangmu, ‘kan? Kamu tabung juga punya tujuan juga, ‘kan? Masa kamu kasih gitu saja ke kakak?”
Untuk sementara kak Dina malah bersikap logis, berbicara sebuah kesederhanaan dan sebuah akal sehat dari nilai sebuah uang. Tentu di antara kami berdua tidak cukup sultan untuk bisa membuang uang sebesar itu begitu saja. Tapi, hal tersebut sedikit berlawanan dengan permintaannya barusan.
“Huft ... hah ...,” hela napasku menaruh ancang-ancang. “Awalnya aku mau pakai uang itu buat keluar dari rumah ini dan nge-kos sendiri. Tapi, kalau ada masalah, aku gak apa-apa kasih uang ini ke kakak. Dari awal, uang ini juga harusnya punya kakak.”
“Punya kakak? Ini jelas punya kamu, ‘kan?”
“Enggak, uang ini hasil tabungan dari uang bulananku. Uang bulanan asalnya dari ayah, ibu. Tapi, aku bukan anak mereka. Anak mereka itu cuman kak Dina.”
“...”
Ukh ... rasanya cukup sakit, bahkan untuk aku yang sebenarnya cenderung tidak peduli dengan emosi diri sendiri. Padahal, pelaku dari kalimat tersebut adalah diriku, tapi lukanya juga terasa melubangi dadaku sekarang.
Biarpun begitu, apa yang aku ucap itu tidak bohong, aku masih menganggap dia berhak atas uang yang kupegang. Dari awal aku hanyalah seorang penumpang, anggota keluarga tambahan. Waktu dan perhatian yang kedua orang tua itu korbankan demi bekerja telah menghasilkan uang. Tentu saja uang tersebut lebih berhak diberikan pada kak Dina dari pada aku.
“Ivan, maafin kakak.”
“Buat apa?”
“Soal tadi siang, dan soal masalah yang aku bebanin ke kamu sekarang.”
“Kalau gitu tunda semua itu buat nanti, ambil saja uangku dan selesein masalah kakak itu.”
“...”
Percakapan ini terasa berat, atmosfer yang kubuat terasa padaku sendiri. Kak Dina masih seorang wanita normal, dia juga punya harga diri sebagai orang yang lebih tua. Meminta uang atau setidaknya bergantung berlebih padaku adalah sebuah kegagalan dalam sebuah martabat pembimbing. Dia di dalam posisi di mana identitasnya terancam dikorbankan, harga diri yang dijual demi sebuah masalah.
“Ini ... benaran boleh aku ambil?” tanya kak Dina yang masih ragu.
“Ambil saja, apa kakak masih gak ngerti kalau aku sekarang lagi serius?”
“...”
“...”
Perlahan kak Dina mulai menerima kartu tabungan bank tersebut. Dia menggenggamnya dengan kedua tangan, dirapatkan ke dada layaknya sebuah barang berharga setingkat artefak.
“Makasih, Ivan.”
*Step, step, step ....
Kak Dina di sana mulai berbalik, dia turun menggunakan tangga dan sepertinya ingin keluar lagi dari rumah. Terlihat kalau memang dirinya masih dalam posisi tertekan dikejar sesuatu.
“Tunggu, Kak. Satu lagi,” ucapku memanggilnya sebelum dia lepas dari penglihatanku. “Soal pin kartunya itu tanggal lahirku— Ah, enggak,” putusku yang menggeleng menolak melanjutkan. “Bukan tanggal lahir, maksudnya tanggal kalian memungutku. Tanggal yang kalian catat di akta kelahiran itu.”
“...”
Kak Dina terdiam mendengar hal tersebut, kali ini dia membeku tanpa menoleh sedikit pun kepalanya padaku. Tapi, itu hanya sesaat, karena setelahnya dia pun menjawab, “Iya, aku ingat, Ivan.”
*Ceklek
Dengan cepat suara pintu menyusul, kak Dina pun keluar dari rumah meninggalkanku.
“...”
Ah ... perasaan ini, perasaan sepi ketika semua meninggalkanku. Bukan berarti aku menyesali hal ini, hanya saja aku masih tidak puas dengan hasil yang terjadi sekarang.
*Step, step ....
Suara langkah kaki terdengar, tapi kali ini berasal dari kamarku.
Aku tidak meliriknya, membiarkan suara tersebut mendekat dengan sendirinya karena sudah tahu siapa orang dibaliknya. Dengan hilangnya kak Dina, tentu gadis tersebut sudah bisa bergerak lebih bebas.
Langkah itu semakin mendekat, sosoknya bisa kurasakan tepat di sampingku. Tapi, bicara tentang hawa keberadaan, tentu yang paling mencolok dari Amalia adalah gelombang emosinya. Kali ini, lidahku dipenuhi oleh sebuah asam manis rasa kekhawatiran, asam manis berasa stroberi mentah.
“Amalia, aku tahu kamu mau bilang sesuatu. Tapi, buat sekarang, aku minta kamu diam dan pura-pura gak dengar apa yang terjadi barusan.”
“...”
Amalia mungkin masih sedikit bingung, tapi dia tidak sebodoh itu untuk tidak mengerti apa yang terjadi. Setidaknya, arti kalimat yang menjurus kalau aku adalah anak angkat dipahami olehnya. Hanya saja, fakta tersebut baru didengar dia hari ini, dan hal tersebut semakin canggung karena komunikasi masuk secara tidak sengaja lewat percakapan orang lain.
__ADS_1