
"..."
"..."
Kami berdua saling menatap, di keadaan canggung dan membeku beberapa saat. Aku tidak bergerak, menatap dan menunggu tindakan selanjutnya dari lawan. Imarine juga tidak bergerak, dia menatap kosong dengan tatapan kaget yang sepertinya dia juga bingung harus bereaksi seperti apa. Dan terakhir, Amalia juga tidak bergerak, dia berhenti dan mengintip sesaat ke arah belakangnya di mana Imarine datang dari pintu.
"Ah, maaf ganggu," kata Imarine yang langsung menutup pintu kamarnya.
"Tunggu, Ima— Ghkahk!?"
*Hug
Aku belum sempat menyelesaikan panggilanku, Amalia lebih dulu memeluk erat leher dan kepalaku dengan sebelah tangan kirinya dengan kuat. Kata-kataku tersedak, napasku sempat terhenti dan aku perlu menggeliat agar bisa bebas dari rasa sakit yang diberikan gadis tersebut.
"Terserah, Ivan. Kamu boleh mengelak pakai alasan apa saja. Aku cuman gak mau ikut campur sekarang," kata Imarine yang masih berdiri menutup pintu setengah.
Aku di sana masih berusaha bebas, melepaskan diri dari pelukan erat yang menyegel lajur napas dan mulutku untuk bicara. Sampai saatnya aku bisa bergeser sedikit dan memberi ruang untuk jalan udara keluar dari sela tubuhnya Amalia.
"Bodoh, bantu aku sekarang— Ghk!?"
Amalia terus memelukku, dia mengunciku layaknya ular anakonda yang melilit mangsanya. Aku tidak diberi napas, aku tidak diberikan kesempatan bergerak. Tapi, di saat yang sama, menerima perlakuan ini dari perempuan malah membangkitkan instingku yang lain.
Seluruh suhu tubuh Amalia terasa di kulitku, mengalir dari kain ke kain, lalu terus memanas memberikan efek konduksi pada tubuhku. Sangat lengket, ketika aku mundur, dengan kecepatan yang sama gadis tersebut memajukan tubuhnya hingga tetap berdempet rapat. Padahal, di sana aku yakin selangkanganku sedang berdiri dan bergesekan dengan tubuhnya.
Imarine yang melihat kondisiku terpojok pun mulai membukakan hatinya. Dia mendorong pintu yang setengah tertutup itu untuk kembali memulai percakapan.
"Iya, terserah. Memang aneh juga kalau aku lihat kalian kayak gini. Jadi—"
"Enggak!"
*Hug
Tiba-tiba Amalia memotong. Dia berteriak keras sambil menguatkan tenaga di tangannya memelukku.
"Enggak, enggak, enggak, enggak, enggak, berhenti! Berhenti! Jangan, jangan ngomong sama dia!"
Hn-hmn?
Kali ini berontak Amalia terdengar lebih ekspresif. Sikap tenang yang menggoda dan menaikkan nafsu sebelumnya serasa hilang. Dia yang barusan lebih ke arah kekanak-kanakan. Nada suaranya tinggi, bersikap manja, sedikit memaksa, dan melakukan serangan fisik sebagai ekspresi pendukung kalau dirinya ingin dibela.
"..."
"..."
Imarine melihat kami. Ekspresinya berubah dari kesal yang berpikir jijik dan masa bodoh dengan keadaan, berubah menjadi wajah khawatir melihat kejanggalan di sana. Pasalnya, yang bingung di sana bukan hanya Imarine, tapi juga aku.
"Hmn ... Amalia? Kalau kamu peluk Kaivan kayak gitu, dia bakal—"
"Diam!" potong Amalia dengan bentak kasar pada Imarine. "Dasar hantu ****** sapi!" lalu melanjutkannya dengan hujatan kejam.
"Eh?" respons Imarine yang membeku mendengar hujatan itu.
Eh?
Dan responsku yang sama mendengar kalimat kasar itu keluar dari mulut Amalia, walaupun pada dasarnya aku sekarang tidak dapat bergerak banyak.
"Ka-Kaivan?" panggil Imarine yang sedikit gemetar dengan keadaan di sana. "Amalia kenapa?"
__ADS_1
Ah, iya. Tentu saja, Imarine gadis yang cepat tanggap dalam situasi seperti ini. Tapi ....
"A-aku gak tahu."
Karena di sudut pandangku juga Amalia sedang gila sekarang. Dia datang ke kamar tanpa ada janji dan tiba-tiba saja menyergapku demikian. Tapi, kejanggalan ini bukan berarti tanpa petunjuk, semuanya berubah mengikuti indra yang kurasakan.
"Tapi, hknm! Gelombang emosinya—"
"Jangan!"
"Gkh!?"
Cengkeram yang tambah erat dari Amalia.
"Jangan! Pokoknya jangan! Kamu gak boleh ngomong sama dia!" teriak rengek Amalia memutus percakapan kami.
Huh?
Memang benar aku selalu menganggap Amalia salah satu gadis yang merepotkan. Tapi, aku tidak menyangka kalau tingkatnya sudah sangat hebat sampai aku harus keegoisan konyol itu.
"Amalia, tenang. Pertama, kamu harus lepasin dulu Kaivan—"
"Kenapa!? Biar apa!? Biar kalian bisa mesra-mesraan lagi?"
"Me-mesra?" ucap ulang Imarine dengan nada tinggi bertanya bingung.
Aku bisa merasakannya, suasana yang bahkan aku juga bisa mengerti. Di sana terbentuk kecanggungan yang arahnya abstrak.
"Gak usah pura-pura bodoh. Aku tahu, kalian sering berduaan, kalian sering ngobrol bareng, kalian sering gombalin juga. Padahal, Kaivan jarang kayak gitu ke aku."
"Huh!? Enggak, kapan aku kayak gitu sama Kaivan?"
"Enggak, bukan, Amalia. Itu bukan mesra, aku cuman bantu Kaivan—"
"Babababa ... Hmn ... Lalala~ Terserah~ aku gak dengar," ucap Amalia mengganggu kalimat Imarine layaknya anak kecil egois. Dia terus membuat berisik kondisi ruang hingga aku di sana juga ikut tidak dapat mendengar kalimat Imarine dengan jelas.
"Huft ... hah ... Oke, stop, Amalia!" keluh Imarine yang menghela napas dan mencoba mengakhiri kekonyolan itu. "Kamu lagi kena sihir, 'kan? Tenangin dulu ... pertama kamu harus lepasin Kaivan—"
"Enggak! Aku gak bakal lepasin, aku gak bakal lepasin sampai aku selesai mesra-mesraan sama dia. Lebih mesra dari kamu barusan."
"Hmng!" Tersedak urat Imarine di tenggorokannya. "A-aku sama Kaivan gak gitu!" lalu lanjutnya dengan teriak keras kalimat meninggi.
"Masa!?" kata Amalia yang memancing. "Kalau gitu kenapa kamu datang ke sini? Malem-malem? Lanjutin yang barusan? Mau godain Kaivan pakai ****** sapimu? Ha?"
"Huh!? Yang godain Kaivan itu cuman kamu di sini!"
"Memang, memang benar. Aku ke sini buat berdua sama Kaivan. Terus aku juga gak niat buat main bertiga, jadi kamu mending balik saja."
"Bertiga—? Huh?"
Percakapan tersebut mengalir ke berbagai arah. Amalia tetap mempertahankan keegoisannya, dia ingin menjauhkanku dari Imarine dan tetap mengeksploitasi keadaan ini sendirian untuk dirinya sendiri. Walaupun Imarine berusaha bersikap netral, sempat beberapa kali dia terpancing emosi dengan kalimat-kalimat dari Amalia.
Aku tidak bilang Imarine seorang yang temperamental sekarang. Kondisi Amalia kali ini memang menyebalkan. Aku bisa mengerti kalau orang akan balas membentak. Terlebih, ketika dia semakin lama semakin banyak membahas hal yang sensitif.
"Bentar, Amalia—"
"Apa!? Kenapa!? Jangan bilang kamu mau main bertiga?"
__ADS_1
"Bodoh—"
"Apa aku gak cukup buat kamu?"
"Bukan itu—"
"Apa kamu lebih suka punya dia yang gede banget gitu? Padahal kamu pernah bilang kalau kamu mau remas dadaku, 'kan!?"
"Hh!?"
Tunjuk poin sensitif akhirnya sampai padaku juga. Amalia mengatakan hal tersebut dengan keras yang tentu dapat didengar oleh Imarine di sisi lain.
"Kaivan ...?" panggil Imarine mengerutkan wajahnya sambil bernada tanya.
Tatapannya kala itu menyayat hatiku. Aku bisa merasakan sebuah luka di mata sipit yang memandangku rendahan. Sekarang aku mengerti perasaan Imarine ketika dia mendapat tuduhan kalimat sensitif barusan.
"Enggak," kataku yang mencoba menjelaskan pada Imarine tentang kebenaran. "Bukan, waktu itu aku—"
*Hug
"Gkh!?"
Tapi, Amalia tetap tidak mengizinkan. Untuk ke sekian kalinya dia menaruh kekuatan untuk memeras tubuhku dengan erat. Walaupun ada perasaan lembut di berbagai bagian tubuh yang berdempetan denganku, tapi tenaganya kala itu cukup besar untuk menyiksa jalur pernapasanku.
"Kenapa kalian malah ngobrol lagi? Kenapa kalian gak dengerin aku?" kata Amalia yang terus memelukku erat sudah seperti magnet yang tidak bisa dipisah. "Apa aku cuman main-main? Apa aku bakal dibuang sekarang? Kenapa? Aku ... aku ... kenapa kalian semua diemin aku?"
*Sniff, sniff
"Hgmn ... hmn?"
Atmosfer mulai berubah lagi. Gelombang emosi manis yang aku rasakan sejak Amalia menyerangku perlahan lenyap memudar bersama angin dari luar kamar.
Kekuatan cengkeraman Amalia mengendur, digantikan oleh napas kelelahan dan isak tangis yang aku tidak mengerti maksudnya. Kegilaan yang dia tunjukkan, sebuah teriak histeris layaknya pacar posesif, semua musnah dan meninggalkan penampakan seorang gadis dengan air mata.
Amalia menggeliat sedikit, dia menggesek wajah dengan cara menggeleng untuk mengelap air mata di pipi, dia merungut lembut dengan kepalan tangan menarik pakaian dan seprai kasur sebagai ganti ekspresinya.
Gerakan tersebut, napas yang mengembung bersama tangis di pelukanku, itu semua membuatku meleleh dalam perasaan baru. Walaupun aku masih dilanda kebingungan, tapi rasa kekesalan yang barusan lenyap terhapus.
*Sniff
"Kaivan," panggil Amalia dengan suaranya yang sedikit pecah. "Padahal, aku sudah kasih semua yang aku bisa. Tapi, kenapa kamu kayak gini?"
"Kayak gini ... kayak gimana?"
"Makin lama aku makin rasain kamu itu ngejauh. Aku takut, aku takut kamu hilang. Aku mau deketin kamu, tapi aku juga takut kamu kesakitan gara-gara aku, kamu dari awal gak suka dekat sama aku. Makanya, aku mau kasih sesuatu, tapi kamu tolak. Aku gak ngerti, aku gak ngerti, padahal kalau orang lain kamu bisa terima gitu saja. Aku takut, kamu pergi jauh. Aku takut, kalau aku memang sudah gak guna sekarang."
"..."
Aku hanya bisa mengedip dua kali, melihat ke langit-langit menerima pelukan, tangisan, dan kalimat memelas itu tanpa tahu artinya apa. Sempat aku meminta bantuan pada Imarine.
*Close
Tapi, di kesempatan kali ini dia benar-benar menyerah. Gadis berdada besar itu mundur dari kamar dan menutup pelan pintu kamarku agar meninggalkan kami berdua. Di titik ini, sepertinya Imarine lebih berpikir kalau pergi adalah pilihan bijak. Kehadiran dia dari awal juga tidak benar-benar menenangkan Amalia.
Huft ... hah ....
Sungguh, ada apa dengan perempuan di sekelilingku? Ada dengan Amalia?
__ADS_1