Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 5 - Creation Of Adam


__ADS_3

Waktu makan pun berakhir, sisa percakapan setelah kejadian itu hanya berupa ucap salam dan sapaan singkat. Jadi, aku sekarang keluar dari rumah menuju sekolah dengan perasaan yang masih menggantung.


Selama perjalanan, aku tetap tidak bisa menghilangkan pikiran tentang kak Dina. Beberapa kali di setiap langkah aku terus kembali ingat dengan kejadian kemarin dan penasaran dengan kabar terkininya.


Rasa khawatirku sebagai bagian keluarga masih ada. Tapi, penolakannya di mana dia tidak mengizinkanku masuk membuatku serasa bukan orang terpercaya. Bukan aku tidak percaya, tapi dia sendiri yang tidak mengizinkanku untuk tidak mempercayainya.


Penjelasannya terlalu bias, seluruh jawaban mendukung untuk dicurigai kebenarannya. Padahal, jika dia menjawab dengan tegas dan bersikap layaknya dia biasa, aku tidak akan terpikirkan sampai seperti ini.


“Ah ... kalau sudah gini aku jadi mau lihat langsung,” kataku bicara sendiri yang tidak sengaja keluar di mulut.


“Hmn ... kalau kau ingin melakukannya, kenapa tidak melakukannya?”


“Hh!?”


Bahu tergidik mendengar ucapan tersebut. Aku yang sedang jalan sendiri menjauh dari keramaian tidak merasakan hawa keberadaan dari siapapun. Karenanya, mendengar suatu perkataan dalam jangkauanku tersebut membuatku terkejut. Suara itu terdengar keras dan dekat, tepat di belakang telinga kanan di kala aku tidak siap.


Sontak saja aku refleks berbalik, mencari sumber suara secepat mungkin dan melakukan satu langkah menjauh sebagai bentuk pertahanan diri. Lalu, sesuatu yang kutemukan kala itu adalah ....


“Hanz ...?”


“Kaivan ... iya, sudah berapa lama kau dan diriku tidak bertemu? Aku sedikit ragu karena yang kutemukan sekarang adalah manusia yang terikat tangannya.”


Di belakangku ternyata ada Hanz. Dia adalah orang yang kukenal belakangan ini dengan kekuatan sihirnya yang dapat menghilang. Tapi, berbeda dengan kekuatan milik Amalia, dia entah kenapa bisa menghilang bersamaan dengan gelombang emosinya. Sampai saat ini, aku tidak pernah merasakan gelombang emosi keluar dari orang ini. Itu yang menyebabkanku tidak pernah sembuh dari respons terkejut ketika dia datang.


Penampilannya kali ini sedikit berubah, jubah kotor yang biasa dipakai olehnya telah terganti. Walaupun pakaiannya masih berbentuk jubah, setidaknya kain yang menyelimutinya kali ini tidak bersatu dengan debu.


“Huft ... hah ... iya, kamu lihat aku terluka, seharusnya kamu memilih untuk datang dari depan dan berhenti bikin aku kaget.”


“Aku tidak bermaksud demikian, karena sebelumnya aku ingin menyapamu dari depan. Tapi, kata-kataku keluar ketika kata-kata milik kau keluar.”


“Heh, apa itu artinya kamu sudah ada di belakangku dari tadi?”


“Tepat sekali.”


Kalau gitu aku juga ingin kamu berhenti melakukannya.


Itulah yang mungkin normalnya orang katakan. Dibuntuti dari belakang bagi banyak orang merupakan sebuah pelanggaran privasi dan telah dijadikan tindak kejahatan di salah satu negara. Tapi, sebenarnya aku tidak pernah merasa keberatan dengan hal tersebut.


Kebanyakan orang merasa terancam karena kemungkinan buruk yang muncul di pikirannya tentang apa yang sedang direncanakan orang yang sedang membuntuti. Untuk kasusku, kejadian itu tidak berlaku dengan kekuatan deteksi emosi.


“Kau masih belum menjawab pertanyaanku. Tapi, aku tidak memaksa, cukup ceritakan saja kabarmu dan berita kapan kau bisa sembuh.”


“Enggak, enggak apa-apa, aku bisa ceritain lukaku dari awal sampai akhir. Cuman, aku sedikit berat karena ceritanya bakal panjang.”


“Kalau begitu jangan, kita lewati saja cerita panjang kau. Ketertarikanku tidak begitu kuat untuk mengorbankan banyak waktu.”


“...”


Apa ini? Padahal aku yang bilang kalau ceritanya panjang dan memberi pilihan untuk tidak Hanz mundur tidak bertanya. Tapi, mendengarnya yang menerima tawaran tersebut malah membuatku sedikit kesepian.


“Dari pada itu, aku lebih tertarik dengan perkataan kau sebelumnya.”


“Perkataanku?” tanyaku pada diri sendiri berusaha mengingat apa yang dimaksud Hanz. “Ah ... yang itu, iya.”


“Tepat sekali, yang itu.”


“Huh? Yang mana, iya?” tanyaku sedikit memancing.


“Hmn ...? Bukannya respons barusan berarti kau sudah mengingatnya?”


“Ahaha, aku tahu,” jawabku dengan deham tawa yang singkat. “Aku cuman sedikit canda. Tapi, kayaknya kamu gak dapat joke-nya.”


“Hmn ... bercanda, iya. Apa aku harus tertawa sekarang?”

__ADS_1


“Gak, jangan. Aku merasa rendah kalau kamu tertawa pakai izin kayak gitu.”


“...”


“...”


Aku sendiri tidak mengerti kenapa menggunakan candaan itu sekarang. Aku tidak menganggap kalau Hanz tipe yang bisa diajak bercanda, tapi aku sendiri juga tidak menganggap diriku adalah seseorang yang humoris untuk membawa tawa pada dia dan diriku. Entah kenapa semua itu keluar begitu saja, seperti aku kehilangan karakterku sendiri untuk sesaat.


“Hmn ... jadi begitu, iya. Kondisi kau begitu kacau sampai mengeluarkan candaan gagal,” kata Hanz menaruh tangan di dagu dengan wajah serius layaknya ilmuwan dengan hipotesisnya.


“Woi, lukaku masih bisa bertambah dari perkataan itu.”


“Baiklah, kita kembali lagi,” ucap Hanz yang mengangkat wajah dan kembali menghadap padaku. “Kau sebelumnya bicara tentang kakak, ‘kan? Jika kau ingin mengawasinya, kenapa tidak kau lakukan?”


Uh ... rasanya masih sedikit ganjal ketika dia melewatkan percakapan barusan dan ingin melompati ke topik penting. Tapi, baiklah, terus bertele-tele juga sebenarnya bukan karakterku. Tidak ada gunanya terus menuruti perasaan yang sejak awal tidak jelas dasarnya.


Itulah yang kembali lewat di pikiranku dan ingin segera kuutarakan langsung permasalahan utama. Tapi ....


“Entahlah, aku pikir kayaknya topik barusan gak penting. Mungkin kamu juga sama gak tertariknya kayak alasanku terluka sekarang.”


Ini adalah masalah pribadi, pribadi bagi kak Dina sendiri. Aku yang ikut memikirkannya bisa dibilang keluar jalur. Ketika aku menceritakannya pada seseorang, dia lebih tidak ada hubungannya dengan masalah tersebut.


“Penting atau tidak, setidaknya aku juga berhak menentukannya. Jika kau mau menceritakannya, aku di sini juga meminta agar dipersilahkan menjadi pendengar.”


“Hmn ... kamu tahu, kamu yang punya logat formal kadang aneh didengar. Apa cara ngomongmu memang dari sananya kayak gitu?”


Sebenarnya Pero juga punya logat formal ketika bicara. Tapi, dia sedikit lebih natural yang mungkin dipengaruhi oleh keberadaan Amalia. Untuk kasus Hanz, rasanya aku sedang bicara dengan tokoh bisnis untuk hal yang bersifat sosial. Itu sebabnya timbul perasaan geli, terutama karena dia adalah seorang laki-laki.


“Aku tidak punya guru untuk mengubah cara bicaraku. Selama ini tidak banyak orang yang kuajak bicara. Jadi, secara bertahap aku melupakan sesuatu seperti logat bicara.”


“Ah, benar juga. Kamu punya kekuatan sihir, iya.”


“Sesuatu tentangku lewatkan saja. Bukankah kau masih belum bercerita? Apa barusan itu kau juga sengaja mengulur waktu?”


“Huft ... hah ...,” napasku mengeluh dengan percakapan tersebut. “Kamu juga yang dikte semua kelakuanku malah jadi bikin malu.”


“Oke, oke, barusan tentang perkataanku, ‘kan?” ucapku layaknya seorang yang tengah mengalah dari pertengkaran. “Iya, itu tentang kakakku. Dari mana aku mau jelasin kondisinya aku juga bingung. Tapi, sekarang aku ada di posisi mau lihat langsung keadaan dia sekarang.”


“Itu cukup tersampaikan. Tapi, pertanyaanku yang paling pertama masih tidak terjawab. Kalau kau ingin melakukannya, kenapa tidak kau lakukan?”


“Heh, kamu bilang kayak gitu karena kamu punya sihir menghilang. Itu memang kunci utamanya.”


“Aku mengatakan itu juga karena berpikir kau bisa menggunakannya juga, Kaivan.”


“Enggak, Amalia mungkin bisa membuatku menghilang pakai sihirnya. Tapi, sihirnya terbatas, punya batas waktu dan beberapa syarat. Jadi, risikonya tinggi. Lagian ....”


“Hmn ...? Kau masih punya hambatan lain?”


“Iya, ini soal perasaan pribadi saja. Aku gak mau bawa Amalia ke kasusku yang sebenarnya aku juga sudah termasuk orang asing.”


Melakukan tindakan tanpa sepengetahuan Amalia mungkin sedikit bersalah. Tapi, secara teknis aku bukan pembantu resminya. Dalam hal ini, aku juga masih punya hak bergerak sendiri, walaupun mungkin gadis itu tidak akan setuju dengan keputusanku yang diam tanpa bercerita kejanggalan pikiranku sekarang.


“Hmn ... dari tadi diriku masih tidak melihat keinginan kau yang sebenarnya,” ucap Hanz dengan nada khasnya.


“Keinginanku? Apa maksudnya?”


“Dalam hatimu, jika semua hambatan itu hilang, apa kau ingin melakukannya?”


“Iya, kalau bisa aku lakukan.”


“Bagus, itu sudah cukup kudengar. Niat itu sudah cukup untuk benar-benar melakukannya sekarang.”


“Hn?” responsku menaikkan alis sedikit bingung. “Oke, Hanz. Sekarang aku yang gak ngerti kamu ngomong apa.”

__ADS_1


“Dari awal kau hanya perlu kekuatan untuk mengendap-endap, ‘kan? Kau sudah tahu jawabannya tapi kau tetap melewatkannya. Ahaha, cukup lucu aku mengingatnya.”


“Jadi, maksudmu kamu bisa bantu aku? Bukannya kekuatanmu itu berlaku cuman buat kamu sendiri?”


“Tidak juga, sebenarnya kekuatanku berlaku bagi setiap benda yang kusentuh dan kukehendaki untuk menghilang bersama. Jadi, jika kau menginginkannya, diriku di sini siap membantu untuk mengatasi kekhawatiranmu pada kakakmu sekarang.”


Woah ... tawaran ini terlalu hebat untuk dianggap kebetulan. Iya, ini pasti takdir.


Sedari awal aku tidak menganggap Hanz sebagai individu yang bisa membantuku. Keberadaannya saja masih misterius untuk seseorang yang bisa dipercaya. Tapi, di mataku sekarang dirinya sama halnya seperti para perantau yang tidak punya arah tuju yang pasti.


“Oke, Hanz. Sebenarnya aku mau terima. Tapi, aku punya kebiasaan untuk bikin pikiran negatif. Sebelum aku setuju, bisa aku tahu tujuanmu bantu aku sekarang?”


Kewaspadaan tetap harus dijaga. Kekuatan deteksi gelombang emosi tidak berlaku untuknya, aku tidak bisa mengetahui apa dia memanfaatkanku atau tulus ingin membantu. Dari semua pengalamanku, lebih banyak orang yang membantu karena mereka juga punya satu hal yang dipercaya sebagai timbal baliknya.


“Tujuanku? Hmn ... apa kau percaya jika aku mengatakannya secara langsung?” tanya Hanz dengan nada senyap.


“Tergantung, sampai sekarang aku tidak melihat alasanmu mau bohong sekarang.”


“Ahaha, tidak ... aku tidak punya alasan untuk berbohong. Tapi, kau juga punya alasan untuk percaya padaku, bukan?”


“Enggak, aku bisa percaya padamu sekarang karena aku tidak melihat ada alasanmu untuk berbohong.”


“Aha, ahaha ....”


“...”


Baru kali ini aku melihat Hanz tertawa. Dia punya logat misterius dengan rasa dingin di setiap kata formal yang terucap. Oleh sebab itu, aku tidak bisa membayangkan di keadaan apa dan bagaimana dia tertawa.


Tawa Hanz sekarang juga tidak lepas, dia selayaknya berdeham pelan beberapa kali dengan khas nada tekan lembutnya. Persis masuk pada karakter orang dewasa berkepribadian cool.


“Bagus ... bagus, Kaivan. Aku suka caramu menjawab pertanyaanku itu. Ahaha, aku bahkan tidak keberatan membayarmu sebagai teman bicaraku sekarang.”


Teman ... bayaran ...?


“Jadi?” tanyaku dengan ekspresi bingung.


“Kamu tidak mengerti? Aku di sini untuk kesenanganku sendiri. Harga yang kau beri adalah penghilang kebosanan. Kau dan masalahmu sudah cukup untuk dinilai menarik olehku.”


“...”


Aku terdiam melihat senyum bahagia hangat dari Hanz. Dia yang bicara di sana selayaknya memujiku dan melakukan sebuah pernyataan ketersediaannya sebagai sukarelawan Cuma-Cuma. Mungkin apa yang diucapnya adalah pujian, mungkin kata menarik di sana adalah positif memandang orang sebagai pribadi yang tidak membosankan. Tapi, ketika dia menggunakan masalahku sebagai penghilang kebosanan, itu sedikit menyakitkan.


“Jadi, bagaimana, Kaivan? Aku bisa membawamu kapan saja.”


Hanz mengatakan itu sambil memberikan tangannya, telapak tangan yang menengadah ke atas itu layaknya mengajakku untuk ikut bersamanya.


Jujur saja aku sedikit geli ketika melihat seorang laki-laki melakukan hal tersebut. Tapi, rasanya tidak sopan jika aku tidak menanggapinya sekarang. Pada dasarnya, dia adalah orang yang dengan keramahan menawarkan bantuan.


“Oke,” jawabku yang menerima tangan tersebut dengan tangan kiriku.


“...”


“...”


Tangan kami bersentuhan, kedua tangan tersebut ada di posisi yang sedikit meleset. Tapi, entah kenapa rasanya aku ada di lukisan creation of adam milik Michelangelo yang berhasil berjabat tangan.


“Sepertinya kontak fisik sesama lelaki terasa tidak nyaman, untuk diriku dan untuk kau juga, Kaivan,” ucap Hanz yang mengungkapkan kejanggalan tersebut.


“Heh, sebenarnya aku sudah sadar sebelum hal ini benar-benar terjadi. Tapi, rasanya gak enak kalau tolak kamu sekarang.”


“Baiklah, kalau begitu tidak perlu berpegangan tangan. Kau hanya perlu menyentuh bahuku agar sihirnya bekerja nanti.”


“Ah, itu mungkin lebih baik.”

__ADS_1


 


 


__ADS_2