
Sudah satu bulan berlalu setelah kejadian menghisap mana milik Imarine dan Azarin. Dan selama satu bulan ini aku belum mendapat peran penting lagi untuk membantu Amalia. Kasus-kasus serta masalah seseorang yang ditemukan oleh kami selesai dengan mudah. Itu wajar, sangat mengerikan jika kasus sebesar pem-bully-an bertebaran di mana-mana. Jika begitu, tempat ini sudah bukan sekolah lagi, melainkan lebih mirip rumah tahanan.
Aku meminta Imarine untuk membantu mencari orang yang memiliki masalah. Larangan Imarine yang tidak boleh mendekati Azarin masih berlaku. Jadi, dia satu-satunya orang terdekat yang bisa membantu, menemani kami menemukan orang-orang yang terluka hatinya untuk disembuhkan dan dihisap mana-nya.
Tapi, baik yang ditemukan Amalia dan yang dibawa Imarine, semuanya hanya keluhan kecil. Sebuah masalah yang bisa diselesaikan dengan sedikit bicara dan berpikir.
Orang-orang seperti itu tidak memiliki luka hati yang cukup besar untuk menimbulkan kepuasan batin. Atau dengan kata lain, biarpun masalah mereka terselesaikan, sedikit kemungkinan mereka bisa dihisap mana-nya.
Hah ....
Aku berjalan di lorong sekolah ketika langit masih berwarna biru tua, lagi-lagi karena kekuatan tersebut aku harus mengorbankan waktu pribadiku. Demi menghindari keramaian, datang lebih awal menjadi solusi terbaik. Emosi negatif orang-orang dengan kecemasan tentang takut terlambat juga cukup menyiksa.
“Ushu ....”
*Gbruk, bgruk ....
Aku mendengar suara, pendapatku mengatakan kalau itu terdengar seperti seorang seseorang yang sedang menggeser-geser meja. Tanpa kebingungan, aku pun melanjutkan langkah kaki. Semua orang akan mengerti kalau suara yang terdengar barusan adalah orang yang sedang piket.
Hn!?
Namun, kali ini langkah kakiku terhenti. Tiba-tiba saja perasaan aneh terasa di mulut, kekuatan deteksi emosi kembali aktif.
Aku mencoba menutup hidung, melakukan pengecekan dan berusaha memastikan kebenaran tersebut.
Hmn ... tidak salah lagi.
Ini memang gelombang emosi seseorang, rasa aneh tersebut tidak hilang ketika menutup hidung. Berdasarkan posisi dan kondisi sekolah yang sepi, sumber emosi itu dapat dipastikan berasal dari salah satu orang yang piket.
"..."
Atau lebih tepatnya orang yang piket di kelasku, perasaan ini semakin menguat ketika sudah ada di depan kelas.
Apa ini? Stres? Bukan ... rasanya lebih mengarah ke asam.
Sedikit janggal, gelombang emosi tersebut bukan dihasilkan dari kebohongan maupun kekhawatiran. Asam yang ini lebih terasa seperti jejamuan. Tanaman akar-akar berbau khas dan menyengat, perasaan yang terkadang bisa membuatku terasa melayang.
Galau? Ah ... aku mengerti sekarang.
Gelisah yang dicampur dengan kebingungan dan dilema antara beberapa pilihan bisa memunculkan gelombang emosi seperti ini. Jarakku juga masih cukup jauh untuk radius normalnya, itu artinya perasaan dia memiliki kekuatan besar. Kurasa dia cukup tertekan dan bisa menjadi bahan untuk dihisap mana-nya.
Aku masuk ke kelas dan menyimpan barang di meja. Di sana bisa kulihat seluruh kursi sudah diangkat ke meja dengan posisi terbalik. Hal itu bertujuan agar lebih mudah membersihkan lantai.
Demi menghormati pekerjaan, aku tidak menurunkan kursi tempatku duduk. Daripada menerima emosi negatif lain, aku lebih memilih menaruh barang dan pergi ke luar.
__ADS_1
“Hukhnnnm ... hah ....”
“...”
Gadis piket itu sedang membersihkan papan tulis. Namun, karena tinggi badannya yang terbatas, dia tidak bisa menjangkau bagian atas papan tulis walau sudah berjinjit.
Terkadang gadis itu melompat-lompat, meraih tulisan tinggi dengan melakukan satu gerakan menghapus. Memang sekilas terlihat imut, tapi secara keseluruhan usaha tersebut tidaklah efisien.
Aku segera maju ke bagian depan kelas, mengambil satu penghapus lain dan langsung membantunya. Tinggiku yang di atas rata-rata membuat acungan tanganku jauh lebih panjang. Hal tersebut tentunya membuatku mudah menjangkau daerah yang tidak bisa dijangkau gadis tadi.
*Sek, sek, sek.
“Ah,” kagetnya gadis tersebut yang melihatku tiba-tiba membantu. “Makasih,” lalu lanjut mengucap terima kasih.
“Heh,” Napasku menghindar menjawab. “Bukannya piket dikerjain sama dua orang, satu lagi ke mana?” tanyaku yang masih menggosok papan tulis.
Sekolah kami memiliki sistem seperti itu. Secara bergiliran satu laki-laki dan satu perempuan ditunjuk berdasarkan urut absen setiap hari. Kami tidak membentuk kelompok besar untuk tugas ini karena lebih sedikit orang malah membuat pekerjaan lebih efisien. Selain itu, jumlah orang yang sedikit juga mempermudah pemberian sanksi pada murid yang meninggalkan tugasnya.
“Izin sakit,” jawabnya.
“Sakit? Siapa? Absen kemarin masuk semua, ‘kan?”
“Ersya ..., tapi bukan dia yang sakit, neneknya. Gara-gara gak ada yang jagain, jadi dia yang nginep di sana.”
“Terus kenapa gak cari orang lain buat gantiin dia? Ersya memang dapat kabar dadakan?”
“Dadakan juga iya ... soalnya dia kasih tahu aku waktu malam-malam. Karena gak enak, Ersya juga cariin pengganti. Waktu itu dia bilang dapat dan kasih tahu kalau Farrel bakal datang buat bantuin.”
“Tapi ternyata Farrel juga gak datang, yah.”
“Iya, kayaknya gitu.”
Karena mengira bantuan alternatif sudah disiapkan, gadis ini pun tidak mencari pengganti lagi. Tapi, sialnya si pengganti tersebut malah tidak datang.
Aku mengenal Farrel. Laki-laki itu bukan tipe orang yang suka terlambat, dia memiliki kekurangan yang berbeda jenisnya. Menurut data kepribadian yang kusimpan, hal yang mungkin terjadi adalah lupa dengan janji atau mungkin gagal untuk bangun pagi.
“Huft ... hah ...,” tarik nafasku menanggapi hal tersebut. “Kalau misalnya kamu dari awal minta aku buat datang, mungkin kerjaan ini sudah selesai dari tadi.”
“Ah, ahahaha ... aku gak punya nomor kamu, lagian itu juga sudah malam. Cuman tugas piket saja sebenarnya aku bisa sendiri, kok.”
“...”
Terserah apa yang kamu bilang. Tapi, kenyataan dengan apa yang kurasakan dari emosimu itu berbeda dengan ucapan barusan. Kamu sedang tidak baik, emosi negatif yang bermunculan juga membuatku sakit di sini.
__ADS_1
Baiklah, Kalau begitu ... apa boleh buat.
Daripada diam dan terus merasakan gelombang emosi kegalauannya, aku lebih baik membantu dan meringankan beban dia agar perasaannya juga membaik.
Mengikuti tekadku barusan, kali ini aku benar-benar turun tangan menjadi petugas piket. Sehabis menghapus papan tulis barusan, aku pun melanjutkannya dengan mengambil sapu.
“Kelasnya sudah disapu, kok.”
“...”
Tapi, gadis itu malah mencegahku, melarangku melakukan tindakan mubazir dengan bilang kalau tugas tersebut sudah dilakukan.
Yah ... dilihat dari kondisi kelas, seharusnya juga aku sadar kalau tempat ini sudah disapu.
Kembali berbalik menyimpan sapu, aku pergi untuk mengambil tongkat pel. Melakukan tindakan tingkat lanjut yang sepertinya dia belum lakukan—
“Eh ... kelasnya juga sudah dipel, Van. Memang gak kecium yah wanginya, yah?”
“...”
Tapi, gadis itu kembali mencegahku.
Memang benar kalau kondisi kelas sudah bersih. Tapi, aku yang melihat lantai kering berpikiran kalau kelas ini belum dipel.
Sekarang aku dalam kondisi khusus. Aroma gelombang emosi milik Fany menyelimuti kelas, mana mungkin aku bisa mengerti bau ruangan ini. Sampai sekarang yang kurasakan hanyalah asam dan bau akar jamu.
“Kalau begitu apa yang belum?” tanyaku yang pasrah melakukan inisiatif.
“Yang belum ,” ujarnya sambil menengadahkan kepala ke samping atas. “Paling cuman bersihin jendela sama rapihin kursi. Kamu mau yang mana?”
Menurunkan kursi pekerjaan yang menggunakan fisik, sedangkan membersihkan jendela butuh tinggi badan agar bisa dilakukan dengan cepat.
“Aku ambil dua-duanya, kamu duduk saja sekarang. Sisanya aku yang beresin.”
“Hn?” reaksi bingungnya menyipitkan mata. “Enggak, enggak ... pilih satu saja, Van. Biar satu lagi aku yang kerjain.”
“Kamu sudah ambil lebih dari setengah pekerjaan piket. Waktu masih banyak, mending kamu istirahat saja daripada nanti waktu pelajaran ngantuk.” ucapku sambil menurunkan kursi-kursi.
“Ehehe ...,” tawa kecilnya menyungging senyum menanggapiku. “Gak apa-apa, kok. Kalau kerjaannya cepat selesai, aku juga ‘kan jadi enak istirahatnya,” katanya yang membawa pembersih jendela ke luar kelas.
“...”
__ADS_1