Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 1 Sampah Organik : Chapter 22 - Kenapa Kamu Di Sini


__ADS_3

Setelah kejadian itu, mereka meninggalkanku sendiri. Walaupun aku sadar penyebab marahnya Amalia waktu itu, tapi aku tetap tidak mengerti kenapa Azarin dan Imarine memukulku.


Ketika sampai di rumah sore itu, kakakku sedikit terkejut melihat penampilanku yg cukup berantakan dengan baju kotor dan memar di wajah.


"Ivan ... kamu kenapa? Nabrak tiang? Duh, kamu harusnya hati-hati kalau jalan."


"Kenapa kakak mengira kalau aku mengalami kecelakaan bodoh."


"Kalau begitu kenapa? Kamu disengat lebah?"


Itu tidak lebih baik dari dugaan pertama.


"Bukan, aku dipukul ...."


"Oh ... jadi kamu berantem." Wajah gadis itu mendadak berubah seakan tidak tertarik. "Yah, jangan malu kalau kamu kalah."


Kenapa dia tidak khawatir ketika aku mengatakan sesuatu yang lebih mengkhawatirkan dari tertabrak tiang.


"..."


Tapi, baiklah ... aku juga tidak ingin menceritakannya kalau luka ini berasal dari perempuan.


Keesokan harinya adalah hari minggu. Pada libur waktu itu, aku baru menyadari rasa sakit dari pukulan Azarin, terutama yang dia ukir di pipiku. Memar tersebut bertambah besar dan sakit. Akibatnya, kegiatan mengunyah makanan yang menggunakan otot rahang menjadi mengerikan.


Sekarang sudah hari Senin, pipiku mendapat perban layaknya orang yang sakit gigi. Kelemahanku yang tidak bisa dekat dengan keramaian pun bertambah, kini aku tidak bisa banyak bicara. Walaupun sebenarnya dari awal aku tidak banyak bicara.


Kring ... kring ....


Bel istirahat berbunyi, aku tidak berniat mendekati Azarin maupun Imarine demi keselamatan. Jadi, hari ini aku libur dan ingin menikmati makan sendiri di spot favoritku dekat kamar mandi.


Spot kamar mandi yang dipakai makan istirahat adalah tempat yang dekat dengan gedung kelasku. Gedung bagian barat, kamar mandi laki-laki yang cukup sepi karena memang tempat ini tidak cukup nyaman dipakai. Aku sekarang hanya menggunakan bagian luarnya, tidak masuk ke kamar mandi dan hanya dapat melihat pintunya.


Berbeda dengan kamar mandi yang sering kupakai, tempat itu ada di dekat kantin. Tempat di mana pertama kali aku menemukan gelombang depresi milik Imarine.


Untuk tempat di gedung tak terpakai yang sebelumnya menjadi tempat berdua dengan Imarine. Itu adalah tempat yang kupakai waktu aku kelas satu. Di sana memang lebih sepi, bahkan hampir tidak ada orang yang lewat. Tapi, letaknya yang terlalu jauh hingga membuat waktu makan siangku habis untuk berjalan. Oleh sebab itu, aku pindah ke sini dan membawa satu kursi bekas dari sana untuk kupakai sekarang.


Bekal makan sudah habis, sekarang yang tersisa hanyalah diam menghabiskan waktu dengan Handphone. Kesibukan dan keramaian yang kurasakan belakangan ini membuat istirahat terasa begitu sunyi.


"..."


Aku sudah mengirim pesan pada Amalia kalau aku tidak akan menemui mereka berdua hari ini. Tapi, sampai sekarang gadis bisu itu tidak membalas pesanku.


Apa dia masih marah padaku?


Entahlah, aku mungkin memang keterlaluan. Tapi, keadaan darurat mengharuskan melakukannya. *** dadanya adalah bentuk keharusan, itu semua demi memancing ledakan emosi yang menggantikan kemarahan dan membuatnya tersadar. Sama halnya seperti yang kulihat ketika kejadian di aula pertama kami bertemu.


Hoawn ....


Aku menguap cukup besar, merenggangkan tanganku dan refleks menutup mata. Rasanya nikmat ketika kegiatan itu memberi efek relaksasi pada tubuhku.


Hmn?


Ketika aku selesai menguap dan membuka mata, tepat di depanku muncul seorang gadis. Wajahnya lebih berseri, rambutnya lebih rapi, dan pose tubuhnya yang lebih ramah. Untuk sesaat aku tidak sadar kalau mereka orang yang sama. Bukan karena penampilannya, tapi juga karena gelombang emosinya.


"Kenapa kamu di sini ... Ima?" tanyaku.


Namun, tentu saja aku bisa menyadarinya. Wajah gadis itu secara garis besar masih sama, sedikit perubahan tidak akan membuatku tertipu.


"Maaf, tapi itu pertanyaanku. Kenapa kamu di sini ..., Ivan?"


Rasanya sedikit aneh. Rasa nostalgia yang lewat menimbulkan kesan kalau hal ini sudah terjalin begitu lama, padahal kami baru berbicara belakangan ini.

__ADS_1


“Enggak, enggak ... itu jelas pertanyaanku. Ini WC cowok, lho.”


“Terus kenapa? Aku gak mau dengar alasan itu dari cowok yang dengan santainya masuk ke WC cewek.”


“Waktu itu keadaan darurat. Apa kamu membenci dokter kandungan yang melihat kelamin kamu waktu periksa kehamilan?”


“Dari awal aku gak akan pergi ke dokter kandungan yang cowok.”


“Hoho ... ternyata pembenci laki-laki juga masih punya keinginan berumah tangga.”


*Whoush ....


Hh!?


Secepat kilat aku mengangkat tanganku melindungi area kepala. Perubahan gelombang emosi itu adalah tanda dari serangannya—


Hn?


Beberapa detik aku menunggu, tapi tidak ada hantaman yang kurasakan hingga sekarang. Karena penasaran dengan apa yang terjadi, aku kemudian mengintip melihat Imarine.


“...”


Dia tengah mengangkat tangannya, tapi ayunan tinju itu terhenti sebelum benar-benar mengenaiku. Imarine yang barusan berhasil menahan lonjakan emosinya.


“Kenapa? Kamu gak jadi mukulnya?”


“Apa lebih baik aku mukul kamu sekarang?”


“Aku sih yes dengan kedua pilihan itu.”


Memang terasa sedikit sakit ketika menahan pukulannya, tapi aku juga menerima luka lain jika dia tidak melakukannya. Seperti perasaan malu saat melakukan pertahanan tanpa adanya serangan.


“Huft ... hah ...,” tarik nafas panjang Imarine sambil menaruh kembali tinjunya. “Kenapa kamu gak datang ke tempat itu?”


“Hmn ... kamu gak suka kebohongan tapi ternyata orang yang suka melanggar janji.”


Rasa bersalah muncul ketika Imarine mengatakan hal itu padaku. Gadis itu bahkan ingat tentang aku yang berkata tidak suka kebohongan.


“Aku masih ingat kok, tapi bukannya kamu bakal senang kalau aku gak datang ke sana? Kamu benci laki-laki, ‘kan?”


“Yah, aku benci laki-laki ... terutama laki-laki yang pintar ngomong kayak kamu. Biasanya orang kayak gitu suka mainin perasaan cewek.”


Ck, aku juga pintar bicara bukan karena kemauanku. Kekuatan deteksi emosi seperti memberiku sedikit contekan saat berkomunikasi. Semakin lama aku bicara dengan orang lain, maka kemampuan untuk menjaga gelombang emosi lawanku juga ikut meningkat. Bagiku itu adalah kemampuan bertahan hidup dalam arti sebenarnya.


“Kalau gitu bagus, ‘kan? Aku sekarang gak bakal ganggu kamu lagi.”


“Kalau kamu sih gak apa-apa ... aku benci kamu, tapi bukan berarti aku gak mau ketemu kamu,” ucapnya sambil menggeleng-geleng kepala melihat sekitar. “Di sini gak ada kursi lagi?”


Aku tidak merasakan emosi negatif padanya. Tumpukan rasa sakit dan kengerian yang biasa dia pancarkan tidak kurasakan. Sampai sekarang juga aku tidak mendeteksi kebohongan darinya. Timbul sedikit kebingungan dari kalimatnya yang sedikit kontradiksi.


“Cuman ada satu kursi, ini pun aku yang bawa dari gudang kursi kemarin. Kalau kamu mau duduk, pahaku masih kosong.”


“Kalau kamu terus ngomong sesuatu yang kayak gitu, aku beneran bakal mukul.”


“Kamu sudah sering mukul aku, tambahan satu lagi juga gak akan ngaruh. Lagian, tujuan awal kamu ke sini juga buat mukul, ‘kan?”


“Memangnya kamu pikir aku ini apa? Hatiku masih baik buat gak mukul orang sakit.”


“...”


Kalau begitu kenapa tidak menjadi lebih baik dengan tidak memukulku dalam keadaan normal.

__ADS_1


“...”


Hn?


Kami saling bertatapan. Cukup lama layaknya kami berkomunikasi lewat telepati. Gadis ini memberi ancaman dengan cara yang berbeda. Tanpa tatapan tajam, tanpa gelombang emosi menusuk, Imarine seolah memerintahkanku lewat sesuatu yang lain.


“...”


“...”


Pada akhirnya kami bertukar posisi. Kini Imarine duduk di kursi yang awalnya kupakai, dan aku mengambil tempat di lantai yang setidaknya cukup bersih untuk diduduki. Ancamannya untuk mengusirku dari kursi itu layaknya ratu yang ingin menginjak harga diriku.


“Oke, Kaivan. Kamu mungkin sudah dengar sebagian dari Arin kemarin. Jadi, sekarang aku bakal cerita sisanya.”


“Apa ini tentang alasan kalian berantem? Bukannya kemarin-kemarin kamu gak mau cerita.”


“Sekarang 'kan beda, kamu sudah tahu intinya, buat apa aku sembunyiin lagi sekarang.”


Ada benarnya. Lagi pula aku juga mulai mengerti kenapa dia tidak ingin menceritakannya. Masalah yang dia alami termasuk dalam aib besar. Keluarganya telah menghancurkan keluarga orang lain, dan itu juga berlaku sebaliknya pada Azarin.


“...”


Itu membuatku mengingat sesuatu.


“Baiklah ... sekarang aku harus cerita dari mana, ya,” ucap Imarine dengan jari di dagu dan pandangan ke atas.


“Sebelumnya ... aku mau tanya. Bagaimana kabar Azarin sekarang?”


“Menanyakan cewek lain waktu ngobrol sama cewek, itu tuh perilaku jelek.”


“Aku gak nanya kondisi kamu karena aku bisa lihat kamu di depan mataku sekarang.”


Imarine tidak langsung menjawab pertanyaanku sebelumnya. Dia beberapa kali memainkan rambutnya sambil melihat ke sana ke mari. Aku tidak tahu apa maksud dari tindakannya, entah kenapa gelombang emosinya hari ini juga terasa bias.


“Arin baik-baik saja. Dia sekarang sudah bisa bebas. Ibunya dipulangin ke kampung, sedangkan dia dititipin ke paman bibinya.”


“...”


Jadi, mereka berpisah, yah. Apa aku mengatakan hal yang terlalu kejam? Apa seharusnya aku tidak mengusulkan itu? Sekarang keluarga Azarin jadi berpencar lebih jauh.


“Ah, mereka berpisah bukan berarti Arin benci sama Ibunya. Ibunya sendiri yang pilih kayak gitu. Aku dengar cerita kalau Arin bisa yakinin dan tenangin Ibunya.” terus Imarine menjelaskan.


“Kalau begitu syukurlah.”


Aku memang bisa membaca emosi, memahami arti setiap respons dari tindakan yang kulakukan padanya. Tapi, untuk perasaan dalam hati tentang apa yang dipikirkannya aku benar-benar tidak tahu. Tidak ada bayangan seperti apa tindakan yang Azarin ambil setelah kejadian itu. Oleh sebab itu, mendengar penjelasan Imarine sedikit membuatku lega.


“Oh, sebagai tambahan. Kamu dilarang deketin Arin lagi mulai sekarang.”


Hmn?


Apa maksudnya? Apa tindakanku waktu itu membuatnya jijik terhadapku?


“Oke, aku ngerti. Jadi, sekarang tolong mulai penjelasan kamu. Tentang kisah kalian berdua.”


“Un,” jawabnya sambil tersenyum.


“...”


Senyum yang indah.


 

__ADS_1


 


__ADS_2