Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 3 Manis Sengat Semut Asam Format : Chapter 9 - Tempat Terburuk


__ADS_3

Kami bertiga melanjutkan percakapan tentang cara menemukan si penyusup tersebut. Salah satu cara melakukan penelusuran jejak dari seorang pelaku adalah dengan berpikir layaknya pelaku. Aku bukan animus, pengalaman tentang sihirku juga tipis, cukup sulit untukku bisa mengerti cara berpikir orang-orang di pihak Pero.


Penyelesaian masalah, hambatan yang dihadapi, waktu yang dikejar, sesuatu yang diraih, pilihan yang ada, risiko dari sebuah keputusan. Berbagai faktor tersebut ditentukan ketika mencoba memposisikan diri sebagai pelaku. Bukan untuk melakukan tindak serupa, tapi lebih ke arah mendeteksi langkah apa lagi yang si pelaku akan lakukan.


Menjadi seorang detektif tidak mudah. Orang-orang yang memikiki jabatan tersebut harus punya pengetahuan luas tentang banyak hal, dari mulai ilmu sosial, hukum, dan berbagai ilmu lain yang mendorong mereka bisa mendeteksi jejak si pelaku.


Untuk kasus ini, hanya Pero yang bisa memberikan petunjuk besar. Dia adalah makhluk yang bisa dikategorikan sebagai astral, punya kemampuan sihir, memahami setiap aturan, dan tentu punya sudut pandang sebagai makhluk itu sendiri.


“Kemungkinan pertama ... alasan keamanan,” ucap Pero sambil mengangkat satu telunjuk.


“Keamanan ...? Apa ini seperti si korban bisa berontak dan melawan balik?”


“Un,hmn,” jawab Pero sambil menggeleng. “Sekali ritual sihir dimulai, manusia akan dalam pengaruh kekuatan keras hingga dia terkunci dan sulit melawan. Jika hanya demi menghindari perlawanan, animus yang menggunakan cara itu hanya perlu melakukan serangan sembunyi.”


“Hmn ....”


Oh, begitu ....


Aku jadi ingat lagi tentang kejadian pertama kali menemukan Amalia melakukan ritual sihir di aula sekolah. Dia menggunakan sebuah efek sihir di mana si orang yang dikenai ritual tidak sadarkan diri, diikat kuat, dan begitu terus sampai mana benar-benar terisap.


“Maksudku tentang keamanan, dia sebagai animus juga ingin menyembunyikan diri sendiri. Mereka memanfaatkan orang yang sekarat untuk menyamarkan penyebab kematian. Ini akan membiaskan semua kasus, kehati-hatiannya mungkin semakin tinggi di zaman modern dengan teknologi komunikasi tinggi.”


“Bersembunyi? Jadi, si penyusup ini takut?” tanyaku memastikan dan sedikit penasaran.


“Kamu masih ingat tentang percakapan kita sebelumnya? Animus pada dasarnya hewan penakut, dia pasti meminimalkan kemungkinan untuk melawan seluruh umat manusia. Walaupun dengan pengaruh partner penyihir, cukup wajar dia tetap sembunyi tangan di tindakan berani seperti pembunuhan.”


Amalia di sana sedikit tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan, rasa mengambang mulai terasa ketika kalimat dari Pero mulai panjang dan sulit ditangkap. Tapi, salah satu hal utama dari kebingungannya adalah melihat kejanggalan karena aku dan Pero terlihat lebih dekat dari perkiraannya.


“...”


Aku sedikit melamun mendengar hal tersebut. Jika kemungkinan itu benar dari beberapa aspek, maka akan ada kemungkinan lain yang semakin membuat liar kepalaku.


“Pero,” panggilku dengan nada dalam. “Apa itu artinya, kasus ini bisa terjadi jauh sebelum satu bulan terakhir?”


“Hmn ... tidak ada yang tidak mungkin.”


“Jadi, kamu setuju kalau kemungkinan si penyusup sudah melakukan aksinya jauh-jauh hari. Bisa saja si penyusup sudah mendapat banyak korban, hanya kebetulan saja sebulan ini jejak korbannya terlihat.”


“Aku tidak bisa bilang kalau kemungkinan itu mustahil terjadi,” kata Pero dengan sedikit memutar. “Iya, bisa saja. Kehati-hatiannya mungkin mengizinkan dia berlari sejak lama. Bukan hal yang baru ketika sebuah kejahatan punya waktu lama sebelum akhirnya tersidik.”


“...”


Pengetahuan Pero sangat luas. Dari cara berpikir hingga dasar-dasar tentang apa yang terjadi setidaknya selama satu abad ini. Ini membuatku terkadang lupa kalau dia adalah makhluk lain berjiwa siluman gagak. Apa yang keluar dimulutnya terkadang begitu jelas menggambarkan dirinya bagian dari manusia.


“Tapi, baiklah ... itu mungkin hanya pemikiranku saja. Daripada alasan rumit, mungkin apa yang terjadi jauh lebih sederhana,” lanjut kata Pero memotong penjelasan sebelum atmosfer jatuh semakin berat.


“Hmn ... lebih sederhana? Seperti apa?”

__ADS_1


“Kita sampai sekarang tidak tahu bagaimana detail sihir yang penyusup itu lakukan. Aku mungkin tahu beberapa dasar, tapi tetap setiap individu punya keistimewaannya sendiri. Jadi ....”


“Jadi?”


“Jadi, kemungkinan keduanya adalah ... si penyusup mengincar korban orang sakit karena syarat ritual sihir itu sendiri.”


Ah ... aku mulai mengerti.


Dari awal Pero juga punya syarat dari ritual sihir yang dipakai oleh Amalia ketika mengisap mana. Untuk kasusnya, kami perlu mencari orang yang punya lonjakan emosi kebahagiaan.


Ketika hatinya dalam kondisi terpuruk, dan di satu kondisi dia berhasil melewatinya, maka orang tersebut akan mengalami suatu perasaan bahagia yang khas. Bisa karena cinta, bisa karena sembuh dari penyakit, bisa karena lolos dari tekanan, atau apapun yang mungkin bisa membuat orang tersebut bebas. Kebahagiaan sejati, bertahan cukup lama, dan luapan emosi menyebabkan mana meluber hingga Amalia bisa mengambilnya.


“Oke, kalau gitu, sekarang kita mau apa? Tunda misi ini sampai minggu depan dan datang ke sini lagi?” tanyaku yang berharap jawaban tidak.


“Tentu tidak,” jawab tegas Pero.


Ah, syukurlah.


Dalam hatiku lega menarik napas kecil.


“Kita sudah ibaratkan kalau penyusup itu benar-benar berpengaruh terhadap kasus tadi. Jadi, sekarang kita sudah tahu ke mana dia berjalan, di mana tempat dia muncul, dan apa yang dia cari. Sekarang pencarian kita akan lebih sempit.”


“Lebih sempit? Memangnya kita mau ke mana lagi?”


“Cukup mudah, tempat di mana orang sakit berkumpul hanya ada satu ... dan tempat itu juga tidak terlalu banyak berkumpul di kota ini.”


“Woi, jangan bilang—”


“...”


Aku sebenarnya benar-benar berharap untuk tidak mengunjungi tempat tersebut.


“Rumah sakit ....”


Tempat orang sakit berkumpul di mana banyak sekali emosi negatif bertebaran. Bukan hanya sedih, dan takut, tapi juga rasa sakit dari sang penderita, dab rasa kesal tidak mendapat pelayanan cepat. Semakin banyak penderita, semakin banyak emosi negatif, semakin menyiksa pula hal tersebut bagiku.


Aku pernah satu kali ke sana, dan tidak sengaja mendapat gelombang emosi dari wanita yang ingin melahirkan.


Sakit ... dan kala itu aku tidak ingin merasakannya lagi.


“Huft ... hah ...,” helaku mengeluh bahkan setelah mendengar kata rumah sakit dari mulut siluman gagak tersebut. “Baiklah, terserah. Kamu bisa membawaku ke sana, Pero.”


“Ah ... aku senang pembicaraan ini berakhir dengan kecepatan tanggapmu.”


“Aku mungkin setuju, tapi kalau bisa aku gak mau masuk ke dalam,” ucapku sedikit kesal. “Kalian mau investigasi, setidaknya tinggalkan aku di luar.”


“Tentu saja. Tapi, aku tidak ingin kejadian semalam yang bikin kamu menghilang berjam-jam itu diulang lagi.”

__ADS_1


“Iya,” jawabku dengan nada malas.


Pertemuan pun berakhir, kami juga harus segera keluar dari untuk batas waktu menginap yang dibayar. Pada saat itu, posisiku masih ada di kasur, sangat jauh berbeda dengan Amalia yang bahkan sudah siap membereskan segala barang miliknya.


Aku tahu, ini mungkin membuatku terlihat seperti pemalas. Tapi, sebenarnya itu juga terjadi karena selisih waktu tidur kami yang besar. Aku tidur jauh lebih terlambat dengan waktu bangun yang juga mengikuti sama jauhnya.


Rasa misterius kembali datang, aku yang sedang membereskan barang-barang sedang ditunggu oleh dua orang perempuan yang sebelumnya tidur bersamaku di ruang yang sama.


Pero dan Amalia sudah menunggu di luar kamar, aku masih bersiap di dalam membersihkan diri. Tapi, di sana aku sedikit sadar ... akan sebuah aroma yang sebelumnya tidak kuketahui.


“Huft ... hah ....”


Aku menarik napas panjang. Bukan untuk mengeluh, bukan menunjukkan ekspresi lelah, bukan juga menghina keadaan di mana biasanya sangat merepotkan ke arahku. Tapi, kali ini lebih seperti merangsang kembali seluruh indra penciumanku.


Hmn ... aroma ... aroma manis. Hmn ... sedikit manis tercampur asam.


Selama ini aku selalu di kamar dengan kondisi ruangan penuh oleh gelombang emosi. Rasanya tidak terlalu menyakitkan, lebih ke arah mengganggu berbagai indra hingga tubuhku menjadi tidak peka.


Jadi, apa yang telah masuk ke dalam hidungku benar-benar terdeteksi sekarang. Aroma gadis ... mungkin juga tercampur oleh aroma Pero dalam bentuk manusianya. Mereka berdua saling menumpukkan aroma masing-masing di kamar mandi hotel tersebut. Jeda pemakaian yang tidak lama membuat sisa bau tersebut masih tersisa.


Aku biasanya membenci aroma kamar mandi yang habis dipakai, uap-uap air bercampur di ruangan sempit menyebabkan segak yang tidak sedap bercampur bau badan si pengguna sebelumnya. Namun, ternyata aroma tersebut bisa sedikit lebih baik ketika si pengguna adalah perempuan.


Entahlah, mungkin pikiranku saja yang terlalu mesum, mungkin indra penciumanku saja yang merindukan aroma normal lewat merangsang saraf. Selama ini banyak perasaan yang membunuhku secara fisik, membunuh kepekaanku terhadap berbagai rangsangan lembut di panca indra. Bisa jadi ini hanya reaksi berlebihan.


Iya, berlebihan.


Aku mencium dan menikmati bau kamar mandi adalah hal yang terlalu berlebihan untuk dituntut kesalahannya. Kalau hanya ini, mungkin aku akan selamat. Lagi pula, aku baru saja tidur satu ruangan bersama dua perempuan tanpa melakukan apapun. Walaupun lebih banyak waktu dipakai oleh tidur dan menjauh dari kamar, tapi fakta tetap tidak berubah.


Bukankah kejadian ini adalah sebuah prestasi?


Menahan nafsu dan hasrat binatang di dalam diri itu tidak mudah, terlebih untukku punya sedikit ujian tambahan dengan rasa sakit gelombang emosi. Oleh sebab itu, setidaknya ada satu hal yang ingin kudapat sebagai hadiah prestasi tersebut.


“Huft ... hah ....”


Kembali tarik napasku yang panjang, membuat seluruh saraf di ujung hidung mendeteksi setiap senti volume udara yang memiliki aroma.


“...”


Aku menatap langit, menatap ujung sudut kamar mandi, sedikit mengamati detail-detail yang tersisa di ruangan tersebut. Sampai akhirnya diriku sadar dengan tindakan tersebut ....


Baiklah ... aku mungkin orang yang aneh.


 


 


****

__ADS_1


 


 


__ADS_2