
“Kaivan ... tumben kamu datang duluan,” tanyanya dengan wajah senang ....
Bukh.
Yang berbanding terbalik dengan tindakannya.
“...”
Aku menahan pukulannya, gadis tersebut mencoba mengarahkan tinju keras ke arah perutku. Tapi, tentu saja aku yang bisa merasakan gelombang emosinya bisa bergerak lebih cepat.
“Ivan ... bisa lepasin tangan aku.”
“Kalau kamu janji gak bakal mukul.”
“Kalau gitu maafin aku kalau aku paksa buat lepasin.”
*Whoush ....
Kenaikan kedua.
“Hmngkh!!”
Imarine menarik tangan kanannya tinggi-tinggi, membentuk kepalan dan menggeramkannya untuk membuat pukulan keras menukik.
Sial.
Aku menahan tangan kiri Imarine dengan tangan kanan sekarang. Kami berdua bukan kidal, jadi tentu saja aku akan kalah jika harus menepis pukulan terbaiknya dengan tangan kiri.
Fush.
Getaran udara yang kurasakan dari pukulannya.
Aku mundur satu langkah dan terpaksa melepas cengkeramanku barusan. Menghindar jauh lebih penting daripada mempertahankan pegangan tersebut. Lagipula, jika dia ingin menyerang lagi, aku selalu bisa merasakannya.
“Aaa ... kalian lagi apa?”
“Hng!?”
Ah.
Septian masih ada di samping, untuk sesaat aku melupakan keberadaannya karena konsentrasi dengan serangan Imarine. Laki-laki itu bertanya memandang bingung dengan tindakanku dan Imarine yang mungkin terlihat seperti anak kecil.
“Kalau kalian mau mesra-mesraan, bisa simpan nanti saja waktu aku sudah pergi?” lanjut Septian bicara.
Aku dan Imarine terhenti dari tekanan barusan, hancur karena ucapan tersebut dan secara bersamaan melirik Septian.
“Si-siapa yang mesra-mesraan!? Aku cuman kesal sama dia kemarin. Jadi, aku mau pukul dia sekarang.”
“Oh ... begitu, yah ...?” ucap Septian yang masih bingung dengan wajah konyolnya. “Tapi, kalian gak kelihatan lagi marahan.”
“Enggak ... dia barusan beneran marah, kok,” kataku yang menengahkan dari jarak agak jauh. “Kemarin aku telepon dia dan ngomongin telanjang.”
“Eh!? Telanjang!?” teriak Septian padaku.
*Whoush ....
__ADS_1
Imarine kembali tersulut, dia berusaha memukulku dengan gerakan tinju lain. Tapi, pukulannya terdeteksi dengan jelas, aku bisa kembali menghindar dengan mundur mempermainkan posisi dan kekacauan emosinya.
“Ima, kenapa kamu mau pukul aku lagi? Bukannya itu kenyataan?”
“Enggak, sudah kubilang aku enggak telanjang waktu itu.”
“Yah, bener, kamu masih pakai handuk. Dan lagi, siapa yang bilang kamu telanjang, aku cuman bilang kalau kita ngomongin topik telanjang.”
“Bisa gak gak usah ulang-ulang terus?”
“Oke, oke ... maaf.”
Entah kenapa terkadang melihat emosinya yang berlebihan itu membuatku terhibur. Sebelumnya aku tidak pernah melakukan kejahilan pada seseorang, tentu saja itu semua untuk menghindari luapan emosi negatif dari sang korban. Tapi, Imarine yang telah lepas dari beban masalah punya ekspresi yang mulus. Ini membuatku tidak merasakan sakit dari perubahan emosinya.
Heh.
Malah, aku menikmati setiap perubahan emosinya yang mengarah pada malu dan marah secara terus bergantian. Walaupun terkadang aku harus menerima pukulannya yang cukup sakit.
Aku kembali berjalan mendekati Septian. Akibat gerakan mundur menghindar barusan, jarak aku dan dia terpisah cukup jauh.
“Oke, Septian ... sekarang bicara tentang kamu. Ima bilang kalau kamu mau ketemu aku lagi. Sekarang kamu punya perlu apa?” tanyaku pada laki-laki itu.
“...”
Saat kemarin aku melanjutkan pesan dengan Imarine dan mengetahui kalau sebenarnya Septian juga balik mencariku, aku meminta gadis itu untuk tidak membocorkan keperluanku. Ini seperti teknik politik, di mana yang terlihat paling membutuhkan adalah orang yang paling tidak diuntungkan.
Aku membiarkan Septian berpikir kalau aku tidak punya niat bertemu dengannya hari ini. Jadi, pertemuan ini terlihat seperti permohonan Septian kepadaku.
“Aku tahu kalau waktu itu aku sudah salah .... Jadi, Kaivan ... bisa aku ketemu Fany lagi sekarang?” ucapnya dengan nada merendah.
Dan benar. Aku sudah menduganya.
*****
Kepalanya sudah dingin, waktu sehari ternyata cukup untuk membuat Septian berpikir ulang tentang apa yang dia lakukan. Kurasa itu termasuk dalam kedewasaannya yang sudah tumbuh.
“Hmn ...,” aktingku yang menunjukkan wajah berpikir. “Kenapa kamu tanya ke aku? Kalau kamu mau ketemu, tinggal tunggu saja di gerbang kayak biasa.”
*Whoush ....
Hnghk!?
Pahit.
“Ivan ... apa kamu barusan ngejek aku?” katanya dengan sedikit menyipitkan mata, membuat ekspresi tersinggung.
Aku tidak bermaksud demikian. Nada bicara dan arti dari perkataanku adalah agar dia mengingat kembali apa yang telah terjadi sebelumnya.
Tapi ..., ah ... memang benar, dari sudut pandangnya kalimat tersebut terdengar seperti sebuah hinaan.
“Maaf ..., sebenarnya aku gak ada niat buat ngejek kamu,” ucap maafku yang ingin meluruskan. “Tapi, kalau kamu kesinggung ... itu berarti kamu sudah ngerti kondisi waktu itu?”
Seperti orang dewasa yang mengetahui kebodohan atau kesalahannya di waktu dahulu, mereka akan merasa malu atau bahkan tersinggung ketika ada orang yang mengungkitnya kembali.
“Yah, aku ngerti. Jadi, untuk sekali lagi aku mau bicara sama Fany. Aku gak mau kalau hubunganku dengannya berakhir kayak gini. Setidaknya kata terakhir sebelum dia benar-benar membenciku.”
__ADS_1
Kata-katanya begitu dalam, dia meluapkan semua emosinya di sana. Wajahnya tidak menunjukkan sebuah kesedihan, melainkan sebuah ekspresi menyembunyikan rasa malu. Aku bisa merasakannya, rasa bersalah akibat tindakannya mengalir melalui mulutku.
Heh, Septian ... kamu bahkan bisa berubah secepat ini.
“Oke, aku coba hubungi dia sekarang ....”
“Humngh.” Jawabnya dengan mengangguk.
Aku mengambil Handphone dari saku, melakukan komunikasi dengan Amalia untuk membawa Fany ke tempat gedung tak terpakai.
“...”
Tentu saja apa yang kuketik dan dengan siapa aku bertukar pesan tidak diketahui Septian. Aku tidak berbohong tentang memawa Fany ke sini, tapi sebenarnya aku tidak memiliki kontaknya sama sekali.
Duut ... duut.
Pesan balasan akhirnya sampai.
“Woah ... gimana, gimana? Dia bakal datang?” tanya Septian sedikit semangat.
Laki-laki itu mendekatkan wajahnya ke arahku, berusaha menyamakan sudut pandang dan ingin melihat isi pesan yang kuterima.
“Wo-woah ....”
Aku menahan kepalanya dengan tangan agar dia tetap menjauh. Rasanya menyebalkan ketika seorang pria mendekatkan wajah seperti ini. Terlebih lagi aku juga benci jika di saat dekat seperti itu dia mengeluarkan gelombang emosi.
Tapi, tentu saja alasan utamanya karena isi pesan yang kuterima bukan dari Fany.
Amalia : Aku ngerti, aku bakal ke sana sama Fany.
Aku menyakukan kembali Handphone itu sehabis membaca pesan. Amalia dan Fany mungkin akan datang sekitar lima menit lagi.
Lokasi tentang keberadaanku yang berada di gedung tak terpakai dekat parkiran telah diketahui Amalia. Tapi, tentunya dia yang tidak pernah datang ke tempat ini tidak tahu detailnya di mana.
“Aku jemput mereka dulu, kalian tunggu di sini.” kataku sambil melangkah pergi menjauhi mereka. “Dan buat kamu, Ian. Siap-siap saja nanti buat bicara sama Fany, kalau kamu masih membuatnya takut, aku gak akan bantuin kamu lagi.”
Layaknya pengacara yang tidak sudah peduli dengan client-nya.
“Tenang, Van. Kalau soal itu aku sudah bikin catatannya,” jawab Septian yang mengeradah sakunya. “Lihat, nih ....” Lanjutnya sambil menunjukkan secarik kertas kecil padaku.
Aku sebenarnya sedikit jijik dengan tindakannya. Baru pertama juga aku melihat ada laki-laki yang mabuk cinta hingga membuat catatan untuk bicara di depan perempuan. Tapi, kali ini berbeda. Tindakannya itu sangat membantu untuk mengontrol tutur kata yang dia akan utarakan pada Fany nanti.
“Oke, bagus kalau gitu,” ucapku. “Kalau gitu, Ima ... coba periksa catatan dia.”
*Blink.
“He!?”
Dengan cepat Imarine mengambil secarik kertas tersebut. Tanpa suara dan tanpa hawa keberadaan, gadis itu berhasil menarik catatan tersebut dari tangan sebelum Septian sempat menyembunyikannya kembali.
“Tu-tunggu, Ima ... kamu jangan baca! Isinya mungkin jelek,” kata Septian yang mencoba meraih kembali kertas tersebut.
“Justru karena jelek aku harus baca dulu ... Kaivan gak mau kamu gagal lagi. Walaupun aku gak tahu sebenarnya kalian waktu itu kayak gimana, tapi kayaknya aku sudah bisa bayangin.” Jelas Imarine yang melihat isi catatan sambil jalan cepat dan sesekali menghindar dari serangan Septian.
Baiklah ... sekarang tugasku hanya menjemput dua gadis itu.
__ADS_1