
Fakta kalau Pero punya hubungan dengan manusia selain Amalia bisa kurasakan jejaknya. Rumah yang ditinggalinya terlalu khas untuk dikatakan kalau itu milik Pero. Jika dia adalah hewan yang masih polos untuk disebut manusia dewasa karena kehidupan sebelumnya, fakta kalau dia bisa tinggal di rumah layak tinggal adalah sebuah kontra.
Baiklah, aku mengira itu bisa dijadikan sebuah anomali, Pero adalah makhluk yang mempunyai kemampuan sihir. Dia bisa saya membangun tempat tinggalnya sendiri dengan keajaiban itu layaknya kisah dongeng zaman dulu tentang pembangun candi.
Tapi, aku tidak merasakan hal tersebut. Setidaknya akal sehat dan perasaanku tidak bisa mengizinkanku untuk berpikir demikian. Aku mungkin boleh punya kemampuan deteksi emosi, kemampuan yang membuatku punya bocoran khusus untuk memahami orang lain. Namun, fakta itu tidak menghalangi kalau sebenarnya sifatku sendiri yang cenderung memperhatikan banyak hal.
Rumah Pero di sana bukan rumah baru, ada sisa kehidupan di sana. Kehidupan yang bukan berasal dari Pero, melainkan sesuatu yang lebih tua dan yang lebih memaku tajam menggores setiap sudut bangunan.
Ketika aku datang ke rumahnya, hal yang paling utama adalah banyak darinya sebuah patung seni terbuat dari kayu, baik berbentuk binatang maupun sesuatu yang bertema sudut alam. Aku tidak bisa menduga Pero menyukainya, dia tidak pernah bicara sedikit pun tentang karya tersebut layaknya orang yang senang mengoleksi.
Di dalam rumah itu terdapat setidaknya satu atau dua foto orang tak dikenal. Bukan sebuah foto indah, tapi sebuah foto dengan kualitas buruk yang sudah berumur. Tentu jelas itu bukan milik Pero. Selain dari wajahnya, wajah yang ditunjukkan foto itu adalah seorang pria paruh baya.
Di dalam rumahnya juga masih ada benda lain, detail-detail kecil yang seharusnya tidak akan ada kalau Pero membuat rumahnya sendiri. Aku bisa menemukan pemasangan pintu yang tidak sempurna, miring mengikuti gravitasi hingga gesek dengan lantai menimbulkan decit.
Di dalam rumah, aku melihat banyak perabot yang rusak. Pasang meja dan kursi yang punya bekas tumbukkan benda tumpul, alat logam yang sudah penuh ditutup karat, ubin yang pecah hingga menimbulkan lubang di lantai, lemari dan beberapa perabot yang keropos termakan air dan serangga, dan banyak lagi kerusakan kecil lainnya.
Rumah Pero sama layaknya dengan rumah lain, tempat itu punya cerita, punya peninggalan, dan membekas kehidupan di dalamnya. Aku yang berkunjung bisa merasakan, layaknya seorang arkeolog yang berkunjung ke gua manusia purba. Di rumah itu, terpendam suasana yang hangat, sesuatu yang sedikit berlawanan dengan dekorasi mistis hobi si pemilik.
Iya ... lagi pula, fakta kalau ada orang yang memelihara gagak juga sudah asing bagiku. Tidak aneh kalau sisa dari pribadi orang tersebut juga ikut aneh.
“Kalau kamu mau tahu, aku bisa menceritakan sedikit kisah masa laluku dengan majikanku dulu.”
Pero menawarkanku demikian, dia membuka perasaannya untuk tidak segan memperkanalkan ulang latar belakangnya padaku lebih detail. Dari nada bicaranya, aku bisa merasakan ketulusan kalau dia mulai mempercayaiku dan ingin lebih dekat dalam satu faktor saling mengenal lebih dalam.
Tapi ....
“Enggak, enggak usah.”
Aku menolaknya.
“Oh ... apa itu artinya kamu sudah kehilangan ketertarikan pada latar belakangku?” tanya Pero yang menggunakan nada sedikit meninggi.
“Enggak, aku cuman gak suka kalau orang yang sudah gak ada malah dibahas lagi.”
Mungkin di suatu kondisi itu bisa jadi baik, mengenang orang terdahulu sambil mempelajari apa yang sudah ia tinggalkan. Tapi, aku dan Pero tidak punya hubungan untuk membentuk atmosfer seperti itu. Jika dia membahas terus masa lalunya, yang ada aku akan tenggelam di perasaan canggung.
“Aku tidak menyangka kalau kamu menggunakan norma kesopanan seperti itu padaku yang secara keturunan bukan manusia,” ucap Pero yang mungkin bisa kuanggap sebagai pujian.
“Simpan saja sisa cerita itu buat nanti, sekarang aku kasih tahu masalah yang bikin kamu harus cerita ulang tentang animus.”
Waktu tidak terasa sudah berjalan cukup lama, ternyata berpikir dan merenung bisa membuat diriku hanyut dalam suasana yang kosong tidak terikat. Ketika aku mengucapkan kalimat tersebut, pandanganku tidak sengaja mengarah ke jendela kamar di mana cahaya sore sudah memudar.
“Tujuanku adalah untuk tidak menanamkan perasaan benci padaku dan pada animus lain. Walaupun kami memang makhluk setengah jadi, tapi kami juga punya keinginan kuat untuk hidup.”
__ADS_1
“Benci?” kataku refleks mengulang dengan nada tanya meninggi. “Heh, sesuatu yang aku benci itu sudah jelas. Aku membenci tindakan buruk, bukan orang yang melakukannya.”
Aku dengan kemampuan deteksi emosi sudah melalui perjalanan panjang. Banyak orang yang memang melakukan kesalahan, tapi sebenarnya dia sendiri tidak benar-benar jahat—setidaknya itulah yang ingin kupercaya sampai sekarang. Setiap orang yang berbuat salah memiliki sebuah tekanan emosional tersendiri, dia memang punya alasan.
Jika pun memang dia tidak seperti itu, maka kemungkinan lain yang sering kutemui adalah karena dia lupa atau bahkan tidak tahu. Bagiku sendiri, ketidaktahuan adalah sebuah keadaan suci di mana kita harus membimbing mereka. Bukan menelantarkan mereka-mereka korban yang melakukan kesalahan akibat lingkungan pendidikan yang tidak memberi tahunya.
“Baiklah, mungkin itu yang kamu katakan sekarang. Tapi, aku benar-benar serius kali ini. Karena berbeda dengan kasus Geza, sebenarnya aku sudah tahu siapa pelakunya.”
“Hoo ... jadi, pelakunya kali ini animus, dan kamu gak mau aku hakimi semua animus karena si pelaku yang satu ini?”
“Tepat sekali.”
“...”
Aku sebenarnya sudah merasakan inti dari pembicaraan tersebut yang sebenarnya tidak terarah. Pero selayaknya menceritakan dongeng yang kebetulan adalah sebuah cerita indah dan bahkan cocok untuk dijadikan pengantar tidur anak kecil. Maksudku, kisah seorang hewan yang ingin menjadi manusia dan terus menembus keajaiban, tidak ada sisi buruk dari hal tersebut.
Sesuatu yang aku pikir akan sejalan dengan tujuannya adalah sebuah kisah buruk yang menghantam para animus hingga dia menjadi satu bagian dari kejahatan. Tapi, hmn ... memang benar kalau itu hanya satu dari kisah saja. Aku masih belum tahu bagaimana latar belakang makhluk yang kata Pero akan dihadapi ini. Setidaknya sisi terang dari latar belakang Pero yang menunjukkan kalau dirinya hidup dengan sebuah semangat tersampaikan padaku.
“Kalau begitu, aku anggap kamu setuju. Jadi, sekarang kita akan mulai untuk rencananya,” kata Pero yang menarik napas dan menajamkan suara ke mode serius.
“Ah, iya. Mulai saja sekarang,” jawabku sambil membenarkan posisi duduk untuk memperbaiki konsentrasi.
“Kita sekarang bertiga akan melakukan investigasi. Lokasinya sedikit jauh karena ada di kaki bukit jauh dari pemukiman komersil. Jadi, datang di siang hari pun tidak akan membuat banyak keributan.”
“Oh, tidak. Kita akan melakukannya malam hari. Selain karena sekolah, aku juga kembali merasakan kalau si pelaku itu lebih aktif pada malam hari.”
“Kasus hewan nokturnal lagi?” tanyaku sedikit memotong.
“Entah,” jawab Pero sedikit menggeleng. “Aku tidak tahu, aku tidak merasakan kalau animus kali ini punya sifat nokturnal. Dia seperti lebih paham kalau bergerak malam itu akan sedikit menarik perhatian manusia. Bersama dengan tempat sepi tersebut, sepertinya memang dia sudah merencanakannya sejak awal.”
“Hoo ... jadi gitu, iya.”
Memang sebenarnya tidak ada yang bodoh dari mereka. Pero juga sudah dapat sebuah kepintaran yang bisa kubilang dia cukup atas dibanding rata-rata manusia. Jika mereka punya rencana untuk hidup membaur dengan manusia, setidaknya mereka juga perlu mengasah kecerdasan yang cukup untuk bersaing.
“Hari ini aku baru mendapat kejanggalan dari gelombang sihir di tempat itu. Berbeda waktu kasus Geza, kali ini begitu kuat sampai aku sendiri cukup terkejut. Sihir yang kuat memancar ke luar bergelombang seperti gempa bagiku.”
“Tunggu sebentar,” kataku yang memotong kembali penjelasan Pero sambil membuat gesture ‘stop’. “Aku gak tahu, dan aku masih gak ngerti di mana sisi kejanggalannya. Bukannya animus memang punya sihir? Apa salahnya mereka punya efek samping semacam dentuman keras?”
“Apa kamu ingat perkataanku sebelumnya? Ketika animus melakukan kontrak dengan manusia, dia akan kehilangan sebagian besar kekuatannya untuk dibagi dengan penyihir.”
“Iya, aku ingat.”
Aku bisa ingat dan aku bisa merasakannya. Dari pertarungan Geza, Pero sangat percaya diri kalau Amalia bisa mengalahkan animus partner Geza tersebut cepat atau lambat. Lalu, hal itu terbukti dan dapat menyelamatkanku di saat-saat terakhir. Artinya, jika diadu dalam kekuatan, penyihir lebih kuat dari animus-nya sendiri jika sudah masuk dalam kontrak.
__ADS_1
“Kalau begitu langsung saja. Kekuatan yang aku rasakan waktu itu janggal karena ukurannya. Aku bisa bilang kalau kekuatan sihir yang begitu besar itu hanya dimiliki oleh animus murni,” jelas Pero yang kembali membuat suasana mengancam.
“Apa itu kabar buruk?”
“Sangat buruk jika dia benar-benar melangsungkan niatnya untuk kejahatan. Dalam nilai kekuatan sihir, kita bertiga seharusnya tidak akan bisa melawannya.”
“Huh? Kalau kamu tahu itu gak mungkin? Kenapa sekarang kamu datang padaku? Apa kamu mau ajak aku dalam kematianmu?” kataku sedikit menyolot curiga.
Pada kalimat tersebut, tentu ada sedikit keganjilan. Ini seperti ketika aku bermain permainan berbasis tim dan rekanku mengajakku bekerja sama yang notabenya tidak mungkin terlaksana. Itu sama seperti dia secara tidak langsung mengajakku jatuh dalam kekalahan bersama.
“Tidak, tidak, Kaivan. Aku tidak begitu. Itu sebabnya kita di sini menyusun rencana,” jawab Pero sambil menenangkan tuduhanku barusan. “Aku tahu tempat dia membangun suatu ritual sihir besarnya. Lalu, kita akan datang ke sana di saat tepat untuk mencoba melakukan negosiasi.”
“Negosiasi? Oh ... bagus, aku senang jika semua selesai tanpa kekerasan di kondisi tanganku yang masih patah,” kataku yang sedikit mengendurkan urat. “Kalau gitu artinya kamu sudah tahu cara bernegosiasi? Kamu tahu tujuan utama dia dan bagaimana dia bisa mengubah haluan itu?”
Negosiasi adalah tindakan yang cukup rumit, tapi sebenarnya bisa disederhanakan. Ketika dua belah pihak memutuskan untuk negosiasi, itu artinya mereka melakukan sebuah jalinan yang saling menguntungkan atau membagi keuntungan tersebut.
Kunci sukses bernegosiasi adalah tahu keinginan lawan kita, dan merahasiakan keuntungan untuk kita di mata musuh. Cara utama adalah dengan membuat lawan berpikir kalau negosiasi itu sangat menguntungkan bagi mereka, tapi tidak terlalu menguntungkan bagi kita. Mereka yang merasa superior tentu tidak akan segan menerima hal tersebut.
Jadi, langkah awal untuk melakukan negosiasi adalah mengetahui tujuan dari lawan—.
“Tidak, aku tidak tahu tujuan dia dan apa yang sedang dia lakukan.”
Eh?
“Tu-tunggu, kamu gak tahu?”
“Tentu saja aku tidak tahu. Aku baru merasakan gelombang sihir itu hari ini, dan sayangnya ancaman tersebut sudah sangat besar untuk diabaikan. Dengan informasi sekecil tersebut, bagaimana mungkin aku mengetahui tujuan si pelaku,” jelas Pero dengan lugas merurutkan semua fakta tersebut.
Jika yang dikatakan Pero itu benar, artinya ketidaktahuannya adalah hal yang wajar. Aku tidak bisa menyangkal hal tersebut karena memang beritanya terlalu tiba-tiba. Tapi, masih ada satu hal yang jadi masalah.
“Terus, kamu mau gimana soal negosiasi itu? Kamu gak bisa melakukan pendekatan tanpa rencana.”
“Apa maksud yang maksudmu, Kaivan? Yang melakukan negosiasi bukan aku, melainkan dirimu. Jadi, semua diserahkan padamu.”
“...”
“...”
“Eh?” responsku refleks menganga ketika mendengar hal tersebut.
Kalau begitu ... semua sama saja. Pada akhirnya hanya aku yang bekerja keras di sini.
__ADS_1