Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 45 - Menolak Kalah


__ADS_3

Dalam kehidupan terkadang memang tidak ada cara untuk mendapatkan segalanya. Jika ingin satu hal, maka kita perlu mengorbankan hal lainnya. Itu cukup masuk akal, tidak semua situasi memungkinkan kita dapat mengambil seluruh keinginan tersebut. Pergi ke sungai mencari minum, atau berburu rusa di hutan. Ketika dua tempat tersebut berlawanan, kita harus mengorbankan salah satunya.


Monster itu sudah mendekat, dengan tangan kekarnya dia mengibas seluruh pohon dan berlari cepat. Getar di tanahnya sudah kurasakan semakin keras, suara rekahan pohon terus menghantui satu per satu.


"Fa-Farrel," panggilku dengan suara lirih. "Kamu pergi saja, aku sudah gak bisa selamat."


Kondisi itu masuk akal. Setengah badanku terjepit batang pohon, kaki tanganku tersangkut di cabang-cabangnya, dan bahkan ranting-ranting sekitar sudah menembus kulit membuat luka berdarah di setiap ruas tubuh.


Bergerak menambah rasa sakit, aku butuh seseorang untuk meloloskan diri. Tapi, dari tingkat kerumitan, aku juga tidak akan bisa lepas dari tumpukan pohon tersebut dengan mudah. Jadi, tidak ada cara lain, menyelamatkanku hanya tindakan bunuh diri bagi Farrel.


"Ivan," panggil Farrel padaku yang sedang di samping. "Gak usah cengeng."


Eh?


*Slash, slash, slash ....


Namun, di sana Farrel tidak mempedulikan hal tersebut, seluruh analisa logis dia bantah mengikuti gelombang emosinya. Dia tidak ingin meninggalkanku.


Satu persatu, ranting demi ranting dia potong menggunakan kapaknya. Di sana aku bisa merasakannya, setiap rasa sakit tubuh yang tertusuk, tertarik, dan tertimpa mulai meringan, aku bisa merasakan sendiku bebas sedikit demi sedikit.


"Wo-woi, Farrel, kamu gila!? Kita gak bakal selamat, kalau kamu lari, harusnya kamu bisa—"


"Berisik!"


*Slash


Potong Farrel dengan teriakan kuat yang tidak berhenti menggerakkan tangannya.


"Kamu, aku, mati? Aku gak peduli, kamu pikir aku mau selamat sendirian? Ha!?"


*Slash


Farrel tetap melanjutkan, padahal seharusnya dia bisa mendengar teriakan monster dan getar langkah kakinya yang sedang mendekat. Aku merasakannya, seluruh tubuhku merasakan hal tersebut dan tahu akan kengerian.


"Farrel, percuma, gak akan keburu. Kamu cuman bunuh diri—"


"Diam."


*Slash


Kembali potong Farrel sedikit kesal mengayunkan kapaknya.


"Dengar, aku gak bakal selamat. Kalaupun aku bisa keluar, kakiku gak gerak, aku gak bisa lari—"


"Diam! Ivan!"


*Slash


Tidak peduli apa yang kukatakan, Farrel masih membantah. Dia kembali kesal, menolak untuk mendengar alasan logis dan ketidakmungkinan itu, lalu membalasnya dengan ayunan kapak yang keras.


"Jaraknya dikit lagi, sisanya bisa aku urus."


Gerakannya terus tidak berhenti, dia begitu cepat memotong ranting-ranting di sekitar tanpa ragu. Batang keras yang seharusnya cukup tebal terlihat rapuh di hadapannya sekarang. Sampai saatnya tiba, semua cabang-cabang pohon yang menghalangi hilang dan tubuhku pun mulai muncul terlihat jelas.

__ADS_1


"..."


Kapak Farrel berhenti, dia melihatku dengan tatapan kosong karena mulai menerka sebuah tanjakan hebat di sana.


Memotong dahan dan cabang pohon mungkin bisa membebaskanku dari rasa sakit. Ranting-ranting yang menusuk kulitku memang menyiksa begitu hebat. Tapi, bukan berarti dia bisa membebaskanku sekarang. Karena, sebelah tubuhku masih tertimpa batang pohon.


"Heh, sudah kubilang, 'kan? Aku gak mungkin selamat."


Batang yang besar itu tentu tidak akan ditebang begitu mudah. Jarak monster yang sudah semakin dekat bahkan sudah menjawab kalau hal tersebut tidak mungkin. Semua yang ada di kondisi ini sadar akan hal tersebut, aku masih salut dengan lelaki di hadapanku yang masih bisa tenang dengan suara monster meraung mendekat dan menebas pepohonan.


"..."


Farrel melihatku, dia kali ini tidak menggerakkan kapaknya dan merenung beberapa detik.


"Tch."


Sampai akhirnya dia mendecakkan lidah dan menyakukan kapaknya.


Aku pikir dia akan segera lari. Walaupun monster tersebut sudah mendekat, bukan hal yang tidak mungkin jika dia lari sekarang.


Akan tetapi ....


*Grip


Hn!?


Aku kembali terkejut ....


*Lift


Keputusannya masih gigih untuk menyelamatkanku. Dia menaruh tangannya di batang pohon, mencengkeramnya dengan kuat dari bawah, mengangkatnya sekuat tenaga hingga keluar suara mengeramnya.


Memang benar, jika dihitung waktu, mengangkat batang pohon bisa menghasilkan penyelesaian yang jauh lebih cepat dibanding menebangnya dengan kapak. Tapi, tentu kembali ke faktor utama. Batang pohon tersebut masih termasuk berat walau punya diameter yang lebih kecil.


"Farrel, sudah, gak usah maksain—"


"Berisik— Hmn! Hah, hah! Kamu punya tangan harusnya bantuin juga!"


"..."


Farrel tetap menunjukkan semangatnya, dia sama sekali tidak menurunkan pilihan dan tetap memegang pilihannya. Aku di sana sedikit bersalah, ketika dia masih konsisten dan terus berusaha sampai akhir, aku malah menjadi beban dan memberinya pikiran negatif.


*Push


"Hgnm!"


Jadi, pada akhirnya aku juga ikut membantu. Sebelah tubuhku yang sedang terbebas masih bisa digerakkan, satu tangan di sana juga aku pakai untuk mendorong batang pohon menjauh.


Begitu berat, wajar untuk batang pohon yang panjang walaupun diameternya lebih kecil. Ketika aku dorong, tidak terasa sama sekali kalau batang tersebut bergeser.


Farrel sudah mengeluarkan urat-urat di tangan dan wajahnya, tapi dia tetap tidak dapat mengangkat naik batang pohon tersebut. Lalu, aku lebih tidak berguna, dorongan tangan sebelah tangan sebenarnya hanya memberikan pendarahan tambahan pada luka di tubuhku. Aku sendiri yakin tidak ada tambahan gaya besar yang dapat mempengaruhi hasilnya.


"RrrARrrgh!!"

__ADS_1


Monster itu sudah mendekat raungannya sudah di depan mata. Kami hanya berbatas satu batas pohon dan setelah itu tangan si monster sudah bisa menggapai kami. Walaupun aku tahu di sana sudah tidak ada harapan lagi, tapi aku tidak bisa menyerah ketika Farrel masih berdiri di dekatku.


"Hngm!!"


Farrel terus mengeram kuat, mengeluarkan tenaga hingga melebihi batas kapasitas tubuhnya sendiri. Jari tangannya sakit, memerah, dan lecet akibat paksa mengangkat beban di luar kemampuannya. Lalu, pada saat itu ....


*Whoush ...


Gelombang emosi.


*Dug, dug ... dug, dug ....


"Hh!?"


Kemarahan. Farrel yang tidak terima akan kegagalan berlanjut mengeluarkan emosi kemarahan. Sangat pekat, terasa ketika dia membenci kondisi ini dan membenci keadaan dirinya yang tidak bisa menyelamatkanku di detik-detik terakhir tersebut.


Heh, luar biasa.


*Push!


Namun, keadaan dapat berbalik.


Gelombang emosi adalah sumber kekuatan bagiku. Ketika dia mengeluarkannya, aku dapat merasakan detak jantungku terpacu. Di sana, secara tiba-tiba tubuhku menjadi ringan, setiap ruas tubuh mendapatkan kontrolnya kembali dan entah kenapa aku juga bisa mengeluarkan tenaga yang lebih besar.


Akibat dorong kekuatanku, batang pohon itu pun bergerak beberapa senti. Hal tersebut menjadi awal baik, karena secara bersamaan tanganku yang semula terjepit ikut membantu mendorong ke atas.


Farrel di sana juga sedikit kaget, tapi dia masih fokus mengangkat batang pohon itu sampai akhir. Di sana aku sudah mengendalikan posisi. Ketika bongkahan kayu berat itu terangkat lebih jauh lagi di titik di mana kakiku terbebas, dengan cepat pula aku menarik dan meloloskan diri darinya.


*Release


Bug!


Aku terbebas, dan batang kayu pun dilepas hingga terjatuh di posisi berbeda.


Namun, itu adalah tenaga terakhir, aku terkapar lemas setelah bebas dari jepitan itu. Tepat setelah berhasil mengangkat pohon, gelombang emosi Farrel meredup hingga aku juga ikut kehilangan sensasi adrenalin tersebut.


"Ivan!"


Farrel segera mengangkatku lagi, dia menaruh tanganku di bahunya untuk sesegara mungkin diangkat dan digendong di pundaknya.


Aku kala itu tidak dapat bergerak, benar-benar lemas dengan darah mengalir di sekujur tubuh. Ketika adrenalinku naik, detak jantung terpacu, semua luka-luka di tubuhku serentak menyemburkan darah keluar. Ini membuat kondisiku bercucuran darah, sangat banyak di berbagai tempat hingga membuatku pingsan karena anemia.


Tapi, Farrel tidak menyerah. Dia tetap melakukan apa yang sudah dia putuskan. Dengan cepat dia menaruhku di pundaknya agar bisa digendong.


"RraAWrrh!!"


Di satu titik, monster itu sudah datang, dia merobohkan batang kayu terakhir dan sampai di hadapanku. Detik ketika Farrel berusaha menggendong sama halnya ketika sang monster menaruh pukul tangannya pada kami.


Aku sudah lemas, tatapanku mulai buyar, kehilangan darah benar-benar membuat kelopak mataku menjadi berat. Begitu parah, aku bahkan tidak dapat bernapas dengan benar sekarang. Walaupun bisa lolos dari jepit batang pohon, ternyata aku lebih dulu dikalahkan oleh kondisi tubuh dibandingkan monster.


*****


 

__ADS_1


 


__ADS_2