Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 48 - Orang Mati


__ADS_3

Orang-orang di sini memang sebagian besar manusia biasa. Bahkan, untuk aku yang termasuk manusia biasa punya tim baik dapat diandalkan seperti Farrel saja masih kesulitan menghadapi tantangan tersebut. Hal yang paling wajar untuk memenangkan game ini adalah memakai sihir Amalia untuk bersama. Tapi, sayangnya Octa tidak membiarkan hal tersebut, dan membagi kami menjadi kelompok kecil.


Imarine dan Azarin termasuk yang beruntung, mereka tidak bertemu dengan monster raksasa tersebut saat di hutan. Namun, apa yang terjadi pada kak Dina adalah hal yang wajar untuk manusia biasa dengan tim berisi satu pasang manusia saja.


Jadi, bukan berarti hal ini adalah salah satu orang. Aku tidak bilang mereka payah, hanya saja aku ingat kembali bagaimana diriku mengajak mereka ke dalam game mematikan milik Octa. Perasaan bersalah di mana beban tersebut menjadi sangat sakit ketika kak Dina bercerita.


Verdian ternyata orang yang cukup bertanggung jawab. Entah dia sial atau tidak, tapi kenyataan kalau kak Dina selamat dibawa kembali adalah sebuah bukti dia tidak lari sendirian. Menurut cerita, mereka berdua bertemu monster itu di tengah malam. Lalu, ketika lari, Verdian tertangkap lebih dulu.


Bukan karena laki-laki itu lemah, tapi justru karena Verdian selalu menjaga posisi kak Dina selalu di depan agar tidak tertinggal. Itu sebuah tindakan yang cukup berani mengingat kondisi kritis dapat membuat orang menjadi egois.


Namun, ternyata hal tersebutlah yang membuatnya mati. Verdian tertangkap, dan dengan tangan besar si monster, tubuh lelaki itu ditarik memisah dengan kepalanya. Aku merasakannya, gelombang emosi rasa takut dan kengerian dicampur rasa menjijikkan dari kak Dina. Jadi, di detik dia ingin berkata, aku juga menghentikannya agar tidak memaksakan diri.


Memang keadaan saat itu malam. Tapi, bukan berarti kak Dina tidak dapat melihat seutuhnya. Verdian yang tertangkap masih di hadapannya. Jadi, detik-detik ketika kepala diputus dan darah menyembur layaknya hewan yang disembelih dapat terlihat jelas oleh kak Dina. Wanita itu dengan jelas bisa melihat sosok pekat darah berwarna merah dan bau amis campur zat besi dari tubuh Verdian. Sensasi luar biasa ketika cipratan darah mengotori beberapa sudut di wajah.


Itulah ingatan terakhirnya.


Entah sebuah kutukan atau berkah. Kak Dina dengan segera dibawa ke tempat ini. Tidak sempat monster itu menggenggam korban selanjutnya. Wanita tersebut dibawa layaknya seorang pemenang ke kamar, sama seperti yang dialami olehku.


Biarpun begitu, kak Dina tidak menang. Dia lolos karena tidak sengaja menjadikan orang lain sebagai batu loncatannya. Sempat aku ingin menghibur, tapi di waktu yang sama kak Dina bersikap kuat dan menolak itu semua. Dia masih punya harga diri seorang kakak, tidak ingin merepotkan dan terlihat lemah di depanku.


Keadaan mulai tenang, kak Dina berusaha untuk tidak terlihat sedih lagi dan membuang seluruh emosinya barusan. Dia menunjukkan wajah positif, mengarah ke depan dan terus menopang dirinya dengan semangat. Aku tidak tahu itu kebohongan yang benar-benar bohong, dia memang berusaha sepenuh hati untuk tidak menimbulkan masalah baru. Tapi, aku yakin apa yang dirasakannya juga bukanlah kebohongan, rasa sakit dari kematian seseorang memang tidak bisa dihindari begitu saja.


Kami berkumpul di tengah, semuanya kecuali Hanz yang masih duduk di pojokkan. Bukan karena dia tidak ingin, melainkan memang sebagian dari orang-orangku masih menaruh curiga dan kewaspadaan padanya. Hal yang wajar ketika dia memperlihatkan kelihaian tangan dan darah dinginnya membunuh tiga orang sekaligus.


Sebenarnya kami sendiri tidak mengerti apa yang menjadi perintah sekarang. Berjalan ke tengah dan entah kenapa semua orang mengikuti.


Di sana orang-orang memikirkan hal yang sama. Aku melihat ke sekeliling dengan acak untuk mencari informasi baru dan berkata, "Sekarang kita harus apa?"


*Whosuh ....


"Hh!?"


Gelombang emosi.


Kali ini hambar, tidak berasa, karena apa yang kurasakan adalah ingatan, ilmu pengetahuan yang mengalir ke kepala. Ini adalah pesan dari Octa lagi, sesuatu yang dia pasang menjadi aturan di dunia tersebut.


Seluruh pandanganku sempat dipaksa menjadi gelap, entah memang satu ruangan yang dibuat begitu, aku memang hanya penglihatanku saja yang dibatas. Aku di sana berusaha memperbaikinya, mengedip beberapa kali, dan secara bertahap mengusap mataku.


Lalu, sampai pada akhirnya aku juga kembali dibawa ke tempat lain. Ketika semua orang berkumpul, dunia buatan tersebut sangat lembut memindahkan kami layaknya teleportasi yang bersifat diam-diam. Tanpa cahaya, tanpa getaran, dan tanpa gangguan fisik lainnya, aku hanya seperti mengedip dan tiba-tiba pandanganku sudah berubah di tempat yang berbeda.

__ADS_1


Aula yang awalnya didasari warna gelap seperti karpet bioskop, kali ini aku melihat ruangan berbeda dengan penerangan yang lebih baik. Warna dasarnya masih didominasi oleh merah dan cokelat, tapi sumber cahaya sekarang berasal dari lampu terang besar yang menggantung dengan hiasan pernak-pernik. Ini adalah aula desain penginapan, aku bisa melihat ada ruang resepsionis, tangga besar ke lantai dua yang kemudian membagi dua ke kanan dan kiri, lalu pintu terbuka di lantai satu yang mengarah ke ruang makan besar.


Penginapan ini punya nuansa tradisional, aku tidak melihat ada sebuah benda futuristik. Namun, bukan berarti tua itu buruk, terlihat jelas kalau keseluruhan gedung ini punya nilai antik yang tinggi dan masih indah dipandang.


*Whoush, whoush, whoush ....


"Gkhth!?"


Gelombang emosi.


Rasanya menjijikkan, selayaknya bangkai ikan yang dijejalkan ke mulut. Ini perasaan khusus, rasa dingin dari ketakutan, pahit dari kebencian, dan campuran beberapa emosi campuran seperti kesal dan sedih.


Aku sempat memegang tubuhku agar tidak roboh dan menstabilkan diri. Karena di sana aku masih tidak mengerti tempat dan tidak bisa menjauh dari sumber, maka untuk sementara responsku hanya sebatas mencari.


Posisiku ada di sisi terdepan dari aula, dekat dengan pintu keluar yang awalnya menatap tangga besar menuju lantai dua. Namun, sumber suara tersebut berasal dari samping, tepat di balik ruang tempat makan.


Aku pun berjalan ke arah sana, mencari tahu apa yang terjadi di sana. Lalu, ternyata dengan cepat aku menemukan kumpulan orang. Mereka yang terus mengeluarkan gelombang emosi negatif ternyata mengarahkan pandangan ke arah yang sama, satu sudut di sisi ruang makan yang awalnya tertutupi kerumunan tersebut.


Aku berjalan ke sana, membuka jalan sendiri dan melihat dengan kepalaku.


*Whoush ....


Sebelum menganalisis mayat, aku lebih dulu melihat ke sekeliling. Orang-orang yang berkumpul ternyata adalah semua pemain dari pihakku.


Amalia, Imarine, Azarin, dan Farel berdiri sedikit jauh dari mayat, mereka berada di jarak di mana cukup untuk melihat tapi tidak cukup untuk menjangkau sentuhan fisik. Mungkin karena sebagai kebiasaan kami yang sebagai pelajar sekolah, di sana layaknya mengalir berlima membuat setengah lingkaran bersama mengelilingi pusat perhatian.


Lalu, ada kak Dina. Dia menjadi orang yang paling dekat tindakannya yang dengan bijak menutup wajah menjadi titik perhatian sekarang. Di sana dia terlihat sangat anggun layaknya wanita tangguh. Namun, aku tahu kalau dirinya sedang menyimpan emosi luar biasa, semua perasaan negatifnya mengalir langsung ke mulutku.


*Ceklek


Dari ruang makan, terdapat pintu menuju dapur. Pintu tersebut terbuka dan muncul dua sosok orang di dalam. Dia adalah Hanz dan anak kecil yang bersamanya.


Pria yang memiliki pandangan khas yang kosong layaknya orang buta itu berjalan dan melihat ke arah kami. Mungkin ada hal lain yang ingin aku bahas. Tapi, entah kenapa penampakannya menggunakan pakaian koki membuatku tidak dapat lepas darinya.


*Step, step, step ....


Lalu, kembali muncul suara langkah, kali ini berasal dari belakang. Getar khas di mana lantai kayu beradu menjadi sesuatu yang langka. Nuansa dari bangunan antiknya semakin kental.


Aku di sana berbalik sebentar, lalu aku temukan Pero, dia memakai baju kemeja berdesain tumbuhan. Siluman gagak itu masuk dan melihat sekeliling untuk mencari tahu apa yang terjadi.

__ADS_1


*Whoush ....


Kemudian, langkah pion terakhir pun telah diambil.


Di saat gelombang emosi negatif ini membumbung, ternyata ingatan tentang aturan game muncul kembali. Dari jumlah yang sebelumnya datang, kali ini sudah lengkap seluruh pesan dan tugas yang harus dilakukan.


Inti dari apa yang sedang kami hadapi adalah pertunjukan lagi. Sekarang, kami semua di sini berperan sebagai detektif dan aktor secara bersamaan.


Aku, dan empat orang lain, Amalia, Imarine, Azarin, dan Farrel, memakai pakaian sekolah yang berbeda dengan sekolah kami. Octa membawaku ke sebuah tempat di mana kami memakai seragam yang lebih unik dengan setelan jas almamater berwarna biru tua.


Lalu, di depan kami, kak Dina. Wanita itu berperan sebagai guru pembimbing. Itu ingatan persis ingatan yang kudapat. Dia dengan pakaian kasual yang bernilai sopan sekaligus modis menjadi pembeda. Bajunya yang berselimut jaket parka modis tersebut masih berkesan dilema, wajahnya yang tentu masih muda dapat berkesan kalau dia adalah bagian dari murid juga.


Dari arah dapur, Hanz yang masih melihat kami. Dia sekarang memakai pakaian bebas dengan celemek putih dan topi koki. Untuk sesaat dia yang berwajah seperti muda juga menimbulkan kejanggalan. Pasalnya, aku sendiri cukup jarang melihat set koki dengan celemek dan topi tinggi di dunia nyata.


Anak kecil yang bersama Hanz sendiri hanya memakai pakaian kasual biasa. Dia yang bertubuh pendek terkesan lucu ketika memakai celana yang punya tali menyambung ke pundak. Ingatan yang aku dapat tidak memberikan informasi apa pun tentang pekerjaan dia, hanya anak kecil yang anak dari si koki yang selalu berkeliaran.


Kemudian terakhir adalah Pero, dia masuk dari pintu menyambung ke aula. Kali ini dia sebagai pemilik penginapan, semua diurus olehnya kecuali pelayanan makan. Penampilannya dengan baju batik modern cukup masuk dengan nuansa gedung antik ini.


Kami semua sekarang berlatar belakang menjadi siswa kelompok belajar yang sedang melakukan wisata alam khusus ke penginapan terpencil jauh di atas gunung. Tempat yang tidak terjangkau oleh orang-orang, bahkan untuk suplai makanan pun dibutuhkan orang khusus untuk melakukan belanja besar.


Di sini tidak akan ada siapa-siapa selain kami pelaku anggota wisata dan para staf penginapan.


"..."


Aku terdiam, memasang raut kesedihan dan memandang ke bawah secara kosong. Untuk sesaat ada hal penting yang kusadari. Aku tarik kembali, bukan Pero pemain terakhir di ruangan ini. Tapi, masih ada satu lagi, di mana dia menjadi pusat perhatian.


Verdian.


Aku sempat melihat bentuk dagu dan model rambutnya ketika kain penutup tidak tertutup secara sempurna. Sekarang, lelaki itu terkapar dengan kepala dan badan yang terpisah sejauh tiga puluh senti. Badannya terbaring dengan posisi tengkurap dengan dua puluh tusukan di dada belakang. Lalu, cipratan darah yang hebat mengalir dan membekas penuh seakan membentuk bekas di tiga puluh senti jarak badan dan kepalanya.


Verdian sekarang berperan sebagai orang mati. Dia adalah seorang guru yang setara dengan kak Dina dan menjadi korban pembunuhan. Tugas kali ini adalah menentukan siapa pelaku di sandiwara yang dibuat.


*Clench


Tanganku dikepal, melihat semua awal dari pertunjukan kedua yang dibuat oleh Octa. Rasanya begitu kesal ketika dipermainkan. Tapi, kali ini aku sudah merasa apa yang dilakukannya kelewat batas mempermainkan perasaan orang-orang di sini.


Kenapa, kenapa dia pakai Verdian di sini? Sengaja dipajang mengabaikan harga diri dari orang yang telah mati.


 

__ADS_1


 


__ADS_2