Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 3 Manis Sengat Semut Asam Format : Chapter 33 - Shade . 2


__ADS_3

Di tengah peristirahatan mereka, muncul suara bergelombang di seluruh udara selayaknya langit yang bicara. Tidak ada arah sumber suara, tidak ada arah dominan suara, hanya terdengar selayaknya pantulan selayaknya suara yang terpantul di dalam goa luas.


"... Aku tidak punya kewajiban untuk memperkenalkan diri padamu," balas kembali suara tersebut.


"Huh?" lalu respons Geza dengan kesal. "Sekarang aku dalam kondisi buruk, jika kamu datang untuk mengganggu, sebaiknya bersiap untuk kemungkinan terburuk."


Penyihir lobster itu mulai berdiri dari tempat duduknya. Dengan tubuh yang terluka, dia tetap mengangkat senjata melakukan persiapan tempur. Tombak yang dia pisahkan menjadi dua bagian masih bersisa, dua tangan kecil itu mengacungkan bilah pedang yang terwarnai darah. Tentu di samping pelayan Gosta juga melakukan persiapan, dia tidak banyak bicara dan ikut waspada melindungi tuannya.


"Aku siap dengan kemungkinan buruk, lalu bagaimana dengan kau?"


"..."


"..."


Di kalimat barusan masih terbentuk gelegar suara tanpa sumber. Tapi, untuk beberapa alasan kalimat yang terakhir tersebut terasa lebih besar dan dekat. Ini membuat insting bertahan hidup mereka berdua semakin tajam.


Lalu, pada saat yang sama, sesosok tubuh mulai muncul di depan mereka. Kumpulan-kumpulan cahaya yang awalnya tidak terlihat mulai muncul, transparansi seratus perlahan turun hingga dapat memantulkan cahaya, sosok yang awalnya hanya terlihat bayang perlahan menampakkan dirinya secara penuh.


"... Aku tidak bersikap sopan karena apa yang kau tahu sekarang tidak akan bertahan lama," lanjut bicara sosok tersebut pada pasangan Geza dan Gosta.



Sosok tersebut memakai jaket hitam kotor menyatu dengan alam dan kegelapan, mata birunya yang kosong seakan tidak bisa melihat apapun di depan, perban-perban yang dibalut di tangan seakan menggambarkan dia punya banyak luka. Dia dengan kekuatannya mampu membuat dirinya tidak terlihat dan muncul secara tiba-tiba layaknya hantu. Sesuatu yang berbeda dengannya kali ini adalah pedang pendek kodachi yang dipegang di satu tangan sambil menyambut Geza di sana.


"Menunjukkan senjata ... satu pelanggaran, aku tidak berpikir kalau kamu dipihakku."


"Kau tidak perlu berpikir, karena hal tersebut sudah sengaja kutunjukkan. Aku tidak berniat sedikit pun untuk mengelabui menjadi teman kau sekarang—"


*Stab


Geza benar-benar kesal, dia langsung menusuk orang asing tersebut dengan bilah senjata yang lebih panjang. Itu potongan senjata yang masih bisa digunakan sebagai tombak.


"Hh!?"

__ADS_1


Tapi, sayangnya bilah tersebut tidak menembus target, apa yang dia rasakan hanyalah udara kosong. Bukan karena dia meleset, bukan karena sosok tersebut menghindar, apa yang terjadi di depannya lebih mengejutkan lagi. Bilah pedang tersebut menembus tubuh orang asing itu layaknya angin.


Saat dia mencoba melihat ke depan dan memastikan wajah lawannya kembali, sosok tersebut langsung menghilang darinya. Apa yang dia serang bukan benar-benar tubuh, ini seperti sisa ilusi di mata yang sebenarnya sudah hilang sebelum bilah senjata dia tujukan.


"... Aku tidak menyangka kalau kau adalah sisa dari penjahat yang tidak kubunuh waktu itu," kembali suara menggelegar muncul, tanpa dominan arah, tanpa sumber, selayaknya mewakili langit.


"Apa lagi? Ha!?"


"... Aku adalah orang yang membunuh para pemberontak di zaman dulu, kriminal-kriminal dari mulai anggota, ketua, hingga tahanan-tahanan yang dididik cuci otak berpotensi juga menjadi kriminal."


"Oh ... jadi, kamu? Kamu yang membunuh orang-orang itu?"


"... Apa yang aku lakukan hanya tugas, dan itu adalah tindakan benar karena melindungi lebih banyak orang. Tapi, sayangnya aku melewatkan kau, basmi anggota pemberontak itu ternyata tidak seratus persen berhasil. Kau sebagai anak yang dididik mereka sebagai prajurit juga seharusnya menjadi targetku kala itu."


"Aku bukan mereka!!? Jangan samakan aku dengan mereka!!"


"... Tidak, kau sama. Secara tidak langsung kau masih mengidap beberapa ajaran mereka yang buta. Jadi, sekarang sudah saatnya kamu mati."


Geza kala itu merespons dengan sinis. Walaupun dia didera banyak luka, tapi dirinya tidak gentir sedikit pun untuk kabur kali ini. Tangannya sigap memegang senjata, tatapannya tajam penuh percaya diri, dan kuda-kuda siap layaknya sedang membentuk awalan tempur.


*Shine



Di saat tersebut, ada sebuah cahaya muncul, menyelimuti tubuh Geza yang awalnya berpakaian kasual menjadi berjubah kokoh layaknya pengembara. Di sana Gosta menghilang, bersatu dengan cahaya dan mungkin juga bersatu dengan Geza.


"Haha, jika kamu melihat pertarunganku barusan. Jangan harap kekuatanku sama seperti melawan Kaivan barusan," ucapnya meremehkan lawan dan meningkatkan nilai dirinya. "Sudah cukup lama aku tidak mengeluarkan baju sihirku. Selama lebih dari lima puluh tahun tidak ada yang bisa mengalahkanku dengan pakaian dan kekuatan maksimalku."


Luka-luka di tubuhnya lenyap bersamaan dengan pakaian kasualnya. Walaupun senjata tombaknya masih terbelah dua, tapi dengan kondisinya sekarang, dia hampir pulih seperti semula dalam keadaan sebelum pertempuran itu.


Tuan, aku tahu kalau keadaan ini darurat. Tapi, menggunakan mana di botol sihir untuk memberi regenerasi instan adalah tindakan pembrosan. Kita seharusnya bisa kabur untuk menghemat lebih banyak tenaga.


Kata Gosta dengan suara telepatinya pada Geza.

__ADS_1


"Gosta, dia tahu Kaivan," sentaknya cukup pelan masih bicara sendiri. "Jika aku tidak membereskannya sekarang, dia mungkin akan menggangguku nanti."


Mana yang dikumpulkan di botol sihir adalah sesuatu yang berharga. Itu sangat sulit ditemukan, dan punya fungsi luar biasa dengan kecocokan sihir animus. Tapi, tentu hal tersebut juga tidak boleh digunakan terus, pada akhirnya kontrak dengan animus adalah tentang mengumpulkan sihir tersebut. Jika terlalu bergantung, maka pada kontrak tidak akan selesai. Gosta tahu akan hal tersebut, dia sedikit menyayangkan keputusan Geza. Namun, Geza lebih memandang lurus dengan apa yang ada di hadapannya.


"... Tidak akan ada yang mengalahkan kau ...? Ho ... itu menarik, karena sepertinya penghargaan itu akan hilang hari ini."


Suara langit tersebut kembali terdengar, sosok yang dapat menghilang-hilang menyembunyikan tubuhnya itu punya efek bicara seperti echo.


"Lalu, kenapa kamu terus menghilang? Apa kamu takut menyerangku dari depan?"


"... Hanya sedikit bersenang-senang."


"Haha, jangan bodoh. Aku tahu kamu menjaga jarak. Aku punya tubuh keras, dan akan terus mengeras setiap mendapat serangan. Lobster tidak akan pernah mati, dia akan terus bertambah kuat dengan usianya."


"... Benar, lobster memang tidak akan menua .... Tapi, bukan berarti mereka tidak bisa mati ...."


"..."


*Shade



Sosok yang menghilang tersebut pun akhirnya menampakkan tubuhnya. Dengan satu tangan dia memegang pedang pendek mengibarkan bendera perang. Gesture tubuhnya tidak kalah dengan Geza, dia juga siap untuk bertarung.


Wajahnya dengan mata sayu dan tatapan kosong itu pun bicara, "Lobster secara alami bisa mati, ketika cangkangnya tumbuh semakin besar dan kuat, maka ada satu titik di mana dia akan mati karena terjepit cangkangnya sendiri. Jadi ...."


*Sheath


Ucap lelaki tersebut sambil menghunuskan pedang ke arah depan tepat menuju Geza.


"Kita lihat mana yang lebih keras, cangkang terakhir sebelum kau mati, atau pedang milikku ...."


*****

__ADS_1


__ADS_2